Oleh: Nurcholish Madjid

Lagi-lagi, merupakan salah satu wujud nyata aliansi konstruktif Jawa-Minang,
Masyumi berkembang menjadi partai politik yang benar-benar berdimensi
nasional. Dari empat partai besar yang muncul sebagai hasil pemilihan umum
1955, Masyumi adalah satu-satunya partai politik yang masyarakat pemilihnya
menyebar hampir merata seluruh Indonesia, sementara tiga yang lain, yaitu
PNI, NU dan PKI, pada dasarnya adalah partai Jawa. Dan ke dalam Masyumi
tergabung gerakan sosial-keagamaan Muhammadiyah, yang sejak tahap-tahap awal
pertumbuhannya sudah merupakan hasil pertalian kerjasama Jawa-Minang yang
sukses. Setelah prakarsa-prakarsa pertamanya di Yogya, Muhammadiyah tumbuh
kuat karena dukungan dan partisipasi tokoh--tokoh Muslim modernis
Minangkabau.

Tetapi kembali kepada kenyataan dasar tentang Indonesia sebagai gabungan
--yang pertama dengan penuh niat dan kesadaran-antara unsur--unsur
masyarakat pola budaya Pesisir Nusantara dan pola budaya hirarkis bertingkat
Pedalaman, maka jaminan keberhasilan lebih lanjut dalam pembinaan dan
pengembangan kebangsaan Indonesia mutlak memerlukan pertalian konstruktif
antara kedua pola budaya itu. Ibarat mesin komputer, perangkat keras
Indonesia adalah budaya Jawa yang tersusun kuat, sehingga dapat mendukung
efisiensi dan efektifitas kerjanya, dan perangkat lunaknya adalah budaya
Pesisir Nusantara, yang melengkapinya dengan konsep-konsep dan
program-program kerja sosial-politik demokratis, bebas, terbuka, adil,
egaliter dan kosmopolitan.

Ancaman kegagalan perkembangan Indonesia lebih lanjut akan timbul jika kita
tidak mampu terus memupuk pertalian produktif kedua pola budaya itu, dengan
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hampir-hampir dapat dibuat
generalisasi bahwa krisis-krisis yang dialami bangsa kita selama ini adalah
akibat dinamika tarik-menarik yang tegang antara kedua pola budaya itu, yang
luput dari penanganan yang tepat. Hal serupa telah pernah terjadi pada
kerajaan besar Majapahit dengan akibat fatal, yaitu runtuhnya kerajaan itu
pada tahun 1478 (1400 saka, Sirna ilang kertaning bumi). Majapahit tidak
berhasil memberi respon yang tepat kepada perkembangan kegiatan ekonomi
perdagangan regional Nusantara, yang pada hakikatnya merupakan ekstensi pola
global perdagangan Islam sejak berabad-abad sebelumnya. Dalam bahasa Melayu
klasik, "orang dagang" adalah "orang pengembara", jadi dalam dirinya sudah
terkandung semangat kebebasan, keterbukaan, mobilitas tinggi dan
kosmopolitanisme. Majapahit yang sangat kuat terpaku pada masyarakat
pertalian tanah-tanah amat subur kawasan topografi vulkanis jawa menimbulkan
suasana kejiwaan masyarakat yang serba berkecukupan, swasembada dan sikap
tidak terlalu tergantung kepada masyarakat-masyarakat luar. Suasana kejiwaan
isolasionis, natifistik dan atafistik Majapahit itu membuatnya tidak siap
menghadapi gelombang dinamika globalisme perdagangan kota-kota pesisir, dan
show down yang tidak terelakkan antara keduanya itu harus dibayar amat mahal
oleh Majapahit dengan keruntuhan dirinya.

Jika ada optimisme bahwa malapetaka Majapahit tidak akan terulang, alasannya
ialah justru pertumbuhan keindonesiaan itu sendiri yang semakin mantap.
Dampak positif teknologi modern yang sejak semula telah diduga bakal
terjadi, khususnya teknologi komunikasi dan transportasi, telah secara
mantap membuat "Indonesia" semakin "Indonesia", dalam arti semakin mendekat
agregat keseluruhan jati diri kebangsaan Indonesia seperti dicita--citakan
para tokoh pendiri negara. Lagi-lagi peranan Bahasa Indonesia harus
disebutkan di sini. Penyebaran penggunaan bahasa nasional itu sampai ke
pelosok pedesaan kita --berkat antara lain satelit komunikasi-mungkin
mengakibatkan munculnya gejala kematian bahasa-bahasa daerah tertentu, suatu
hal yang amat merugikan. Tetapi penyebaran itu sendiri secara positif jelas
sekali semakin mengukuhkan pertalian kebangsaan yang meliputi seluruh warga
dan wilayah Indonesia. Kerugian akibat kematian suatu bahasa daerah harus
diatasi dengan politik kebudayaan yang lebih tepat, yang secara positif
mengakui peranan bahasa-bahasa daerah itu sebagai khazanah kekayaan budaya
nasional, lebih daripada khazanah fauna dan flora tropis kita, yang harus
dilindungi dan dicegah dari kemusnahan. Seperti halnya fungsi suatu kebon
botanik sebagai reservoir kekayaan flora yang sewaktu-waktu diperlukan untuk
memperkaya budi daya pangan, agrobisnis dan industri, pelestarian budaya
lokal dan bahasanya merupakan cadangan yang kaya untuk mengembangkan budaya
nasional Indonesia sebagai keseluruhan. Karena itu diperlukan otonomisasi
daerah yang lebih besar dan longgar daripada yang pernah ada selama ini,
guna memberi peluang yang cukup leluasa untuk tumbuhnya inisiatif-inisiatif
dari bawah.

Berdasarkan pandangan itu, pembicaraan kita tentang pola budaya Pesisir dan
Pedalaman, yang par excellence berturut-turut tercermin dalarn masyarakat
Minangkabau dan masyarakat Jawa, mungkin harus kita cukupkan sampai di sini,
dan kita sebaiknya kembali kepada ketokohan Bung Hatta sebagai representasi
manusia berkebangsaan modern Indonesia yang utuh dan integral.

Sedikit menelaah lagi pandangan metafisis-religius Bung Hatta dalam
mengembangkan wawasannya tentang negara kebangsaan modern: Bung Hatta
menjadi mirip dengan tokoh-tokoh pendiri Amerika, khususnya Thomas
Jefferson. Sebagai seorang penganut Deisme, Unitarianisme dan Universalisme,
Jefferson meletakkan dasar nilai-nilai kebangsaan Amerika yang berwatak
humanis universal dan serba inklusif. Keengganannya untuk secara formal
bergabung dengan suatu agama konvensional saat itu merupakan pilihan
pribadi, guna membebaskan diri dari berbagai pertentangan keagamaan yang
tidak masuk akal, kemudian mengkaji substansi asasi ajaran--ajaran agama itu
dan diangkatnya kepada tingkat generalisasi yang tinggi sehingga bebas dari
eksklusifisme dan parokialisme. Pandangan dasar yang serba universal dan
inklusif itu ia maksudkan untuk memenuhi tuntutan akan adanya pegangan
bersama bagi bangsa Amerika dalam wadah suatu modern nation state, yang
kemudian ia tuangkan dalam dokumen primer Amerika, Deklarasi Kemerdekaan.
Amerika memang dinyatakan sebagai negara sekular demokratis, yang acapkali
memberi kesan salah seolah-olah tidak ada suatu peran apapun bagi agama
dalam kehidupan kenegaraan. Tetapi Alexis de Tocqleville pada tahun 1830
menulis bahwa agama adalah lembaga pertama dalam demokrasi Amerika. Ia
melihat makna penting interaksi demokrasi dan agama, dan mengantisipasi
maraknya lembaga-iembaga keagamaan yang menjadi ciri kehidupan Amerika,
suatu ramalan yang sedikit banyak menjadi kenyataan.8

Jefferson telah menduga bahwa untuk sebuah negara yang demikian luas dan
aneka ragam barangkali tidak mungkin dibangun suatu konsensus moral, namun
masyarakat dapat menyertai wacana moral umum yang ia sebut "the great civil
conversation ". Dengan wacana itu setidaknya diharapkan dapat dipahami
hakikat perbedaan pandangan yang ada, dan disadari pentingnya memelihara
pranata-pranata bebas, tempat perbedaan-perbedaan dapat diungkapkan tanpa
menimbulkan polarisasi yang mengancam.

(bersambung)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke