Negeri Sunyi

April 3rd, 2011 by admin



Kalaulah Amak tidak sering memintanya pulang, Bidin belum tentu pulang. 
Baginya, berburu di rantau lebih baik dari pada harus pulang kampung. Usaha 
yang sedang dilakoninya sedang berkembang dan lagi naik-naiknya. Jika 
ditinggal, Bidin kuatir. Ia tak ingin peristiwa enam tahun silam terulang lagi.

Ketika itu, hanya ditinggal dua hari saja, usaha yang susah-payah dirintisnya, 
lenyap begitu saja. Semua barang dagangannya dipindahkan entah ke mana oleh 
anak buahnya. Sembilan bulan Bidin bolak-balik ke kantor polisi, ternyata tak 
ada perkembangan terhadap penanganan kasus yang yang dilakukan anak buahnya 
tersebut. Anak buahnya tak pernah tertangkap.

Sejak kejadian itu, selain harus membayar tagihan barang yang belum dibayarnya, 
Bidin juga harus bolak-balik ke kantor polisi untuk mencari tahu perkembangan. 
Tabungannya pun ludes dalam sekejap. Keadaan berubah drastis. Ia jatuh 
bangkrut. Malahan kawan-kawannya sesama berdagang pun menduga bahwa Bidin bisa 
gila dibuatnya.

Dugaan itu meleset. Bidin memiliki bekal agama yang kuat sejak masih 
kanak-kanak. Abaknya yang guru mengaji dan ustadz di kampung, telah mewariskan 
bekal agama yang baik, seperti halnya anak-anak Minang lainnya. Kalau pun Bidin 
bangkrut, ia tetap tidak lupa pada Tuhan.

Beruntung seorang polisi berpangkat rendah, yang sering dijumpainya di kantor 
polisi setiap mencari tahu perkembangan penangganan kasusnya, memompa 
semangatnya untuk bangkit. Polisi itu pun kemudian membantu, mencarikan modal 
awal untuk berusaha kembali. Usahanya pun kemudian dimulai dengan langkah 
terseok-seok. Sampai setahun kemudian, hasil kerja kerasnya mulai terlihat.

Ketika Amak memintanya pulang, enam bulan lalu, Bidin tersentak. Ia tak ingin 
kejadian masa lalu terulang kembali. Makanya Bidin meminta agar pulang kampung 
ditunda dulu, sampai saat yang benar-benar memungkinkan.

Jalan keluar pun didapatkan, tanpa mengungkit masa lalu, Bidin meminta bantuan 
polisi yang membantunya untuk mencarikan orang yang bisa dipercaya untuk 
membantu usahanya. Setelah orang tersebut enam bulan bekerja dengannya, Bidin 
baru berani pulang kampung, memenuhi permintaan amak.

“Bisuak ciek lai, Ajo Anguih jo Uniang Nia ka mari, nyo ka mampatamuan waang jo 
si Upiak Kamek anak gadihnyo1),” Amak menjelaskan, setelah Bidin melahap 
lalidih tumih balado2), makanan kesukaannya.

Bidin sudah bisa menebak arah pembicaraan amak. Upiak Kamek akan dijodohkan 
dengannya. Bidin mencoba mencari wajah Upiak Kamek di masa lalu, tetapi sulit 
didapatkannya. Waktu yang cukup lama di perantauan, membuatnya tak bisa 
menghadirkan kembali bayangan Upiak Kamek. Padahal dari cerita Amak, ketika 
masih kanak-kanak, sekali pun Upiak Kamek sebaya dengan adiknya, namun semasa 
kecil pernah sama-sama bermain.

Bidin mencoba menelusuri masa lalu, namun bayangan itu tak bisa dijemputnya. 
Sudah terlalu lama ia meninggalkan kampung. Setelah putus sekolah di SMP, Bidin 
merantau ke Jawa. Mulanya ia hanya menjadi knek bus Padang-Jakarta. Lalu ia 
mencoba untuk mengubah nasib, dan berhenti menjadi knek untuk mencoba bertarung 
hidup di Jakarta. Ia baru pulang kampung setelah dua puluh lima tahun kemudian, 
setelah Amak sering mendesaknya. Usianya kini hampir kepala empat.

***

Setelah melepas rindu pada Amak, Bidin mendatangi lapau3) Sutan Mudo yang 
berada di ujung kampungnya. Dulu lapau itu tempat mangkalnya bersama 
teman-teman sebayanya. Setiap langkah, selalu diatur dari lapau itu.

Sesampai di ujung kampung, Bidin terdiam sejenak. Ia ragu. Ia tak menemukan 
lapau Sutan Mudo lagi. Dulu lapau Sutan Mudo hanya papan yang disusun dan 
beratapkan rumbia. Lapau yang ada di depannya sekarang sudah dibangun permanen. 
Bentuknya tak lagi seperti lapau yang ditinggalkannya dua puluh lima tahun 
silam.

Dalam keraguan, Bidin tersenyum. Ia yakin lapau yang kini di depannya pastilah 
lapau Sutan Mudo. Ia masih ingat pohon aru di sisi lapau yang masih ada. Dulu 
ia sering berteduh dan bergelantungan di pohon aru tersebut.

Ketika kakinya memasuki lapau, Bidin terkejut. Ia merasa tersanjung, ternyata 
Sutan Mudo masih mengenalinya. Ia disambut meriah oleh Sutan Mudo. Bidin 
merasakan kegembiraan yang luar biasa.  Kampung yang sudah ditinggalkannya dua 
puluh lima tahun silam, ternyata masih ramah padanya. Itu yang dirasakannya.

”Nan samo gadang jo waang, ndak ado lai di kampuang doh, lah kalua sadonyo4),” 
Sutan Mudo memulai pembicaraan, ketika menangkap keheranan pada diri Bidin 
setelah berkenalan dengan sejumlah anak muda yang duduk di lapau. Tak seorang 
pun yang dikenalnya, sebab yang ada di lapau tersebut sudah sangat jauh rentang 
usia dengannya.

Sutan Mudo pun kemudian memperkenalkan satu persatu yang duduk di lapau-nya. 
Ada cucu Pak Pono. Begitu menyebut nama Pak Pono, Bidin tersentak. Ia merasa 
bersalah pada orang tua itu. Ketika masa kanak-kanak, Bidin sering sembunyi di 
sawah Pak Pono saat padi menguning, sehingga padi di sawah garapan Pak Pono 
banyak yang rusak. Isi ladang Pak Pono, sayuran dan buah-buahan, terkadang 
ayam, juga sering dicurinya bersama kawan-kawan sepermainan.

Bidin pun hanya bisa tafakur ketika mendengar penjelasan bahwa Pak Pono sudah 
meninggal sembilan tahun lalu, dua bulan setelah Wan Ismail meninggal dunia. 
Bidin bagaikan disambar gledek. Baru kali ini ia merasakan darahnya mengalir 
begitu keras. 

Baginya, kedua orang tua ini memiliki kenangan tersendiri. Bidin merasa belum 
sempat mengaku dan minta maaf kepada Pak Pono atas gangguan dan kerusakan yang 
telah dilakukannya pada masa lalu. Teramat banyak kesalahan dan dosa yang 
diperbuatnya kepada lelaki tua itu.

Sedangkan Wan Ismail merupakan sosok orang yang diseganinya. Ketika masih 
kanak-kanak, Bidin sering bermain di rumah Wan Ismail. Anak lelakinya terpaut 
dua tahun usianya di bawah Bidin. Bidin dan anak Wan Ismail berteman akrab. 
Jika Wan Ismail membelikan sesuatu untuk anaknya, maka Bidin akan mendapatkan 
pula barang yang sama.

“Anta-kan ka kuburan Pak Pono jo Wan Ismail ciek, 5)” pinta Bidin kepada cucu 
Pak Pono.

Anak muda yang diminta pun menuruti. Tak hanya cucu Pak Pono, yang lain pun 
mengikuti langkah Bidin. Kuburan Pak Pono dan Wan Ismail berada di pandam 
pekuburan kaum di kampung tersebut. Keduanya tidak terlalu jauh. Lama Bidin 
berdoa di kedua makam tersebut.

Setelah dari makam Pak Pono dan Wan Ismail, Bidin dan anak-anak kampung 
tersebut kembali ke lapau Sutan Mudo, setelah sebelumnya menyusuri kampung yang 
sudah lama ditinggalkannya.

”Lah barubah sado alahnyo, Pak Sutan6),” jelasnya.

Wajah kampung tersebut memang telah berubah. Sutan Mudo membenarkan apa yang 
dirasakan Bidin. Semuanya berubah sangat cepat, malahan terhadap hal yang 
dilukiskan Bidin kepada anak-anak muda berusia belasan tahun yang mendampingi 
yang tersebut, mereka mengaku tak tahu dengan apa yang dibeberkan Bidin.

Bidin tak menemukan tapian mandinya. Pincuran air yang begitu besar dulu, kini 
sudah ditempati sebuah perusahaan penyulingan air minum. Lapangan bola yang 
dulu berkubang lumpur ketika hujan dan sawah yang menguning, tak ada lagi. 
Sudah berubah menjadi komplek perumahan. Secara fisik, kawasan tersebut 
terlihat ramai, namun terasa sepi di hati Bidin.

Ketika hendak meninggalkan lapau Sutan Mudo, seorang perempuan berambut sebahu 
masuk ke lapau tersebut. Bidin sempat menatapnya, gadis itu pun menatap Bidin.

Tatapan keduanya beradu. Gadis itu tersenyum, Bidin membalas senyum tersebut. 
Ada debar di dada Bidin. Makin menatap perempuan itu, debarnya kian terasa.

Perempuan itu hanya sesaat di lapau Sutan Mudo. Ia menjemput salah seorang yang 
menemani Bidin ke makam Pak Pono dan Wan Ismail. Ketika perempuan itu hendak 
balik kanan, ia masih sempat melemparkan kembali seulas senyuman kepada Bidin.

Bidin terkejut. Tak menduga senyuman dadakan itu. Dibalasnya senyum itu. 
Bersamaan dengan itu pula, Bidin seakan memikirkan sesuatu. Pikirannya 
menerawang, melayang mengingat sesuatu.

Seulas senyum perempuan itu seakan membawa Bidin untuk menembus lorong waktu 
yang cukup panjang. Keningnya berkerut. Ingatannya sampai pada masa sebelum 
dirinya bangkrut. Kemudian ia tersenyum kecut. Tangannya dan kakinya bergetar. 
Bidin ingat sesuatu, dan ia yakin dengan ingatannya tersebut. Padahal itu sudah 
mengubur masa itu dalam-dalam. Sudah membuang  jauh-jauh. Bidin yakin, 
perempuan itu pernah dibooking-nya tiga kali.

Bidin semakin tersentak. Dalam gigil yang kian membuatnya gemetar, ia merasa 
seakan nyawanya telah lepas dari raga. Ia melayang jauh entah ke mana ketika  
Sutan Mudo memberitahu bahwa gadis yang menjemput keponakannya tersebut adalah 
Upiak Kamek, anak Ajo Anguih yang pernah lama pula hidup dan bekerja di Jakarta.

Hari itu juga, Bidin balik ke Jakarta. Di Jakarta, ia pun kemudian mendapati 
tokonya sudah kosong.***

Padang, 17 Ramadhan 1341 H, 28 Agustus 2010.



Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke