Rabu, 06 April 2011 Khairul Jasmi Lewat tulisan ini, akan dibahas secara singkat dua hal. Pertama soal gelar pahlawan untuk Pak Syafruddin Prawiranegara dan kedua tentang gedung Tri Arga.
Gelar pahlawan untuk tokoh PDRI ini, terkendala, karena beliau terlibat PRRI 1958. Militer tidak mau merestui, setidaknya itulah yang terbaca dari seminar 1 abad tokoh ini, yang digelar di Tri Arga Bukittinggi, beberapa hari lalu. Sebagian besar sejarawan dan hampir seluruh rakyat Sumbar menyatakan, PRRI bukan pemberontakan. PRRI adalah koreksian atas penyimpangan yang terjadi di pusat. Pusat menjauh dari orbit, sehingga daerah terabaikan, politik mercu suar menjadi-jadi. Daerah luar biasa menderitanya, pusat hanyut dalam melodi anehnya. Bahkan merangkul PKI. Karena itu, PRRI mengingatkan sekaligus mengoreksi. Selesai. Itu kata kita. Kata pemerintah tidak demikian. Perlawanan bersenjata yang dilakukan daerah terhadap pusat adalah pemberontakan. Pemberontakan tak lain penolakan terhadap otoritas. Tunggu dulu, bukankah yang memulai kontak senjata bukan PRRI, melainkan APRI? Itu lagi-lagi kata kita. Rangkaian kegiatan sebelumnya, seperti dewan-dewan di Sumatra mengindikasikan pembangkangan terhadap pusat. Dalam peristiwa ini, lebih dari 22 ribu nyawa melayang. Kalau kita bersikeras dengan pendapat kita saja, takkan bertemu jalan penyelesaian. Buktinya, ketika peringatan seabad Pak Syafruddin di Jakarta, hadirlah Wapres Boediono. Ternyata Wapres tak menyinggung sedikitpun soal gelar pahlawan. Harap diingat, PRRI merupakan peristiwa paling terkenal dalam sejarah pemberontakan daerah di Indonesia. Karena itu, meyakinkan pengambil kekuasaan, tidak bisa dari mimbar juga tidak dengan seminar saja. Jika ingin tokoh PDRI ini jadi pahlawan, maka pengambil keputusan, sebutlah sekretaris militer presiden, atau Panglima TNI harus diajak berdialog, berdiskusi, bisa juga berdebat. Bahkan menemui presiden secara langsung. Namun jika menghardik-hardik dari jauh saja, tak ada gunanya. Kita harus meminta TNI mau mendengar suara rakyat, sebaliknya tokoh-tokoh yang mewakili rakyat, juga harus mau mendengar alasan TNI. Sebab, orang di Istana bukanlah kelompok orang bodoh. Mereka tahu banyak hal, juga tentang isi kepala kita di daerah. Sekian soal gelar pahlawan untuk tokoh yang berjasa besar bagi bangsa ini: Syafruddin Prawiranegara, penyelamat bangsa. Kedua tentang gedung negara Tri Arga di Bukittinggi, tempat seminar seabad Pak Syaf dilaksanakan. Dari ujung negeri ke ujung negeri, dari Aie Bangih ke Aie Haji, dari Kapua Sembilan ke Nareh, gedung itu disebut rakyat sejak dahulu kala sampai sekarang sebagai Tri Arga. Mulai dari rakyat kecil sampai Gubernur Irwan Prayitno, Mendagri Gamawan Fauzi dan para pendahulunya, menyebut gedung tersebut Tri Arga. Tapi oleh pemerintah yang hebat ini, diganti namanya dengan Gedung Bung Hatta. Nama lekat, panggilan tidak. Mereknya Bung Hatta, tapi rakyat tetap menyebutnya Tri Arga. Menurut saya pemerintah telah melakukan pelecehan terhadap Bung Hatta. Di sana didirikan pula patung Bung Hatta. Saya yakin Bung Hatta tak suka dibuatkan patung, kita saja yang berlebihan. Dengan permohonan maaf kepada Bung Hatta, saya menyarankan kembalikan nama gedung itu pada Tri Arga. Bung Hatta takkan marah. Ahli warisnya? Tak tahulah saya. (*) http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=5430 Wassalam Nofend/34+/M-CKRG => MARI KITA RAMaIKAN PALANTA SESUAI DENGAN VISI-NYA!! Forum komunikasi, diskusi dan silaturahmi menggunakan email ini sangat dianjurkan selalu dalam koridor topik: yang berhubungan dengan Ranah Minang, Urang Awak di ranah dan rantau, Adat dan Budaya Minangkabau serta Provinsi Sumatera Barat. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
