Oleh : Yos Sandyaga, Ir.,MP


In: OPINI<
<http://rss.balita-anda.com/browse.php?u=Oi8va29yYW5zdW1lZGFuZy5jb20vY2F0ZWd
vcnkvb3Bpbmkv&b=9>
http://rss.balita-anda.com/browse.php?u=Oi8va29yYW5zdW1lZGFuZy5jb20vY2F0ZWdv
cnkvb3Bpbmkv&b=9>
*4* *Apr* *2011*

Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air
dari langit, maka diaturnya sumber-sumber air di bumi kemudian
ditumbuhkannya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya,
lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian
dijadikannya hancur berderai-derai, sesungguhnya pada yang dimikian itu
benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai
akal (Az-Zumar : 21)

Kabupaten Sumedang dengan luas areal 155.871,48 hektar merupakan daerah yang
dimanjakan dengan berbagai macam sumber daya alam di sana berdiri kokoh
Gunung Tampomas dan Gunung Kareumbi serta berpuluh-puluh gunung dan bukit
dimana di bawahnya mengalir sungai Cimanuk, Cipeles, Citarik, Cipunagara dan
Cilutung serta ada 214 anak sungai.

Air hujan yang turun di bumi Sumedang yang subur dengan hutan, kebun,
rerumputan dan tanaman pertanian mengalir dari permukaan yang poros meresap
dan mengalir melalui celah-celah bumi atau tersimpan dalam cadangan air di
tanah poros, atau membentuk sungai di bawah tanah. Air yang mengalir dalam
tanah tersebut dari arah puncak gunung ke lembah. Apabila air tanah
tersebut dihadang oleh lapisan kedap air, air akan berhenti dan mencari
celah bumi untuk keluar sebagai mata air. Jumlah total mata air se
Kabupaten Sumedang adalah ± 359 lokasi, ini perlu diselamatkan
keberadaannya.

Gunung Tampomas merupakan sumber mata air yang banyak keluar di daerah
Kecamatan Buahdua, Conggeang, Tanjungkerta, Paseh dan Cimalaka, dimana
sebagian airnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah Sumedang
khususnya sumber mata air Cipanteneun. Saat ini kondisi debit mata air
Cipanteneun sudah sangat mengkhawatirkan yaitu yang asalnya 60 liter/detik
sekarang menjadi 53 liter/detik bahkan mungkin lebih kecil lagi diwaktu
musim kemarau hanya cukup memenuhi kebutuhan air minum warga di wilayah
Kecamatan Sumedang Utara itu juga dilakukan secara bergilir.

Faktor penyebab diantaranya diindikasikan dengan semakin maraknya upaya
pengambilan pasir di kaki gunung tampomas yang sudah barang tentu bukan saja
pepohonan yang ada di atasnya tetapi sampai kedalaman tertentu pasir dan
bebatuan dirusak, sehingga memotong aliran sungai di bawah tanah yang
berakibat mata air yang menurut sejarah sejak tempo *doeloe* Cipanteneun ini
merupakan sumber mata air yang diandalkan oleh sebagian masyarakat kota
Sumedang.

Di dalam surat Az-Zumar ayat 21, Allah menurunkan air dari langit dan
mengatur sumber-sumbernya, pengaturan ini melalui proses gravitasi di mana
air yang turun dari langit masuk kedalam pori tanah membentuk cadangan dan
keluar sebagai mata air yang membentuk system tata air. Betapa agungnya
surat tersebut apabila ditinjau dari konservasi sumber daya tanah dan air.
Apabila daerah resapan disekeliling mata air tidak rusak, maka air hujan
yang jatuh ke bumi pertama-tama ia akan mengenai tajuk hutan, kemudian
mengalir lewat ranting, cabang dan batang masuk dan meresap ke bumi setelah
melalui seresah. Air itu akan membentuk cadangan yang tersedia di waktu
musim kemarau. Kerusakan terjadi karena konsumsi yang berlebihan, sehingga
mendorong penebangan kayu illegal, perusakkan hutan dan lahan, erosi dan
tanah longsor yang dibarengi banjir yang akan mengurangi daya tampung tanah.

Tidak seluruh air hujan dapat dinikmati sebagai air untuk makan dan minum.
Air yang jatuh menguap lagi untuk menjaga kelembaban udara dan kelangsungan
siklus air. Sebagian lagi untuk transfirasi tanaman, baik hutan, perkebunan
maupun tanaman pertanian, guna mengganti dan menambah sel-sel organnya,
kemudian air yang meresap ke bumi sebagai air tanah untuk menjadi mata air,
atau diambil sebagai air sumur. Sisanya mengalir dipermukaan tanah sebagai
*run off* yang mengalir ke sungai terus dibuang ke laut. Air yang mengalir
di sungai (*debit*) adalah jumlah yang tersedia, sebagai rezeki Allah untuk
dinikmati dengan bijaksana, tidak berlebihan, serakah dan juga sebagai
khalifah harus memeliharanya dengan tidak merusaknya.

Proses pengambilan pasir dan bebatuan baik yang berizin maupun yang tidak
berizin terus berlangsung di kaki Gunung Tampomas khususnya wilayah Cimalaka
dan Paseh dengan tanpa sadar bahwa aktivitas tersebut berpengaruh besar
terhadap keberadaan mata air Cipanteneun dan mata air lainnya. Saat ini
mungkin tidak terasa karena bulan basah mungkin lebih besar dari bulan
kering sehingga tidak menurunkan debit air, manakala datang musim kemarau
panjang maka semua akan menjerit dan menyalahkan intitusi yang
mengelolanya. Padahal kalau proses pemulihan galian berjalan sesuai
rencana, minimal bencana krisis air bersih di Kabupaten Sumedang kelak
tidak akan terjadi, karena air terdapat banyak di dunia namun tidak
terbagi sama rata dan tidak sama bentuknya, berdasarkan data perputaran air
secara global 95.000 kubik mil dipindahkan melalui proses evaporasi dan
presipitasi, hanya sekitar 15.000 kubik mil teruapkan dari daratan, telaga
dan sungai, sebagian terbesar kira-kira 80.000 mil kubik menguap dari laut.
Setiap tahun kira-kira 24.000 kubik mil dikembalikan ke darat sebagai hujan
dan salju, sisanya jatuh di laut. Perputaran ini tidak menciptakan air
baru, tetapi seakan-akan berupa sumber yang diperbaharui. Sehingga kita
tidak mengharapkan Sumber Mata Air Cipanteneun dan mata air yang bersumber
dari Gunung Tampomas hilang karena ulah kita sendiri yang tidak bisa menjaga
dan memeliharanya.

Pemerintah telah menetapkan empat baku mutu air ialah (1) Air yang dapat
digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih
dahulu, (2) Air yang dapat digunakan sebagai bahan baku air minum, (3) Air
yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian dan peternakan, (4) Air dapat
dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industry, pembangkit listrik tenaga air
dsb.

Pelanggaran Surat Ijin Usaha Penambangan (SIUP) di kaki Gunung Tampomas
mustahil tidak terjadi bahkan mungkin dilindungi, hal tersebut dicirikan
dengan penggalian pasir yang membentuk tebing tinggi dan curam tanpa
pengetrapan dan kedalaman pasirnya sudah jauh melebihi batas kedalaman
maksimal yang diperbolehkan di dalam SIUP. Berlindung di balik SIUP menjadi
modus para pengusaha nakal untuk terus menggali, padahal jelas izinnya untuk
penambangan daur ulang dan penataan dan kalaupun ada yang harus digali untuk
penataan diperbolehkan tidak lebih dari 3 (tiga) meter. Gertakan para
pengambil kebijakan dianggap angin lalu oleh para pengusaha nakal dan tidak
takut bencana terjadi di depan mata.

Contoh bagaimana mereklamasi lahan dengan upaya model pertanian yang
memperhatikan aspek konservasi tanah dan air terlihat jelas berada
disampingnya, seharusnya para pengusaha kaya tersebut malu dengan langkah
seorang UHA yang tetap mempertahankan dan bahkan memulihkan tanahnya dengan
tanpa berniat mengambil keutungan duniawi sesaat. Seorang UHA yang lugu
masih ingat anak cucunya untuk bisa hidup di tanah gersang bekas galian dan
ingat masyarakat disekitarnya yang lambat laun pasti akan kekurangan sumber
mata airnya. Wallohualam….

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke