Oleh : Marjohan Pemerhati Sosial-Keagamaan Padang Ekspres . Rabu, 06/04/2011
Atas inisiatif Tuanku Imam Bonjol, disokong Tuanku Nan Renceh dan Tuanku Mansiangan (1803)-pada 1807, basis Gerakan/Perang Paderi dialihkan dari Agam ke Bonjol, Pasaman-bersama Tuanku Tambusai dan Tuanku Rao, menegakkan tiang-pancang Benteng Paderi di Bukit Tajadi, Bonjol. Mengacu pada "Naskah Tuanku Imam Bonjol" yang dialihbahasakan dari tulisan Arab-Melayu, oleh Syafnir Aboe Nain (2007) dikatakan: "tegak-berdirinya Benteng Paderi, justru setelah gagalnya Perjanjian Masang pada 1824. Karena doktrin Paderi terutama dalam konteks tajdidu fi al-Islam (pembaruan pemikiran Islam) berkredo nasionalisme sentris, diaktualisasikan gigih oleh aktor/peletak kerangka dasar Paderi: Haji Miskin, Haji Soemanik dan Haji Piobang sejak 1803, masyarakat yang simpatik pada gerakan mereka pun bercucur-keringat merampungkan Benteng Paderi. Sebut saja dari Toba Mandailing, Tigo Lurah, Kampar Kiri dan Kampar Kanan, Mahek, Lubuk Ambalau. Yang membuat kita kini terkesima, konstruksi perbentengan sangat kukuh. Walau digempur bertubi-tubi pasukan Belanda sejak 1835, tapi baru roboh pada 16 Agustus 1837. Soalnya, bertumpu pada penelitian penulis Belanda JC Boulhouwer, dalam bukunya "Kenang-kenangan Sewaktu Saya di Sumatera Barat, 1831-1834" (terjemahan, Rusli Amran, 1981, Syahrial dan Syafnir Aboe Nain, 2008): konstruksi Benteng Paderi, dirancang-bangun persegi panjang. Berdiri penuh jumawa di lereng Bukit Tajadi. Dipisahkan sungai-tiga sisi di lapangan terbuka. Dikelilingi dua lapis dinding berketinggian 10-12 kaki (3-4 meter). Sebelah luar, tersusun apik batu air besar-besar yang dikeruk dari sungai. Dinding ditanami bambu berduri, sehingga nyaris bagai hutan yang rumit dilalui siapa pun. Tak hanya itu, Benteng Paderi dijaga ketat dengan sederet meriam kaliber 12 pond made in Inggris-Bandingkan dengan milik Belanda yang hanya kaliber 3-4 pond; onggokan batu-batu bulat pengganti peluru; dan Kereta Meriam yang dirakit dari papan bundar tanpa plang. Dengan begitu, tak heran kalau pasukan Belanda "bersitajik" meruntuhkannya. Meski menghadapi pasukan Belanda yang gadang badagok, terdiri 2403 personel, ditukuk pula 4703 serdadu Belanda yang didatangkan dari pelbagai daerah. Juga dipenuhi pasukan Melayu/Pucuk Adat Minangkabau yang anti-Paderi sejumlah 2.870 orang-semua di bawah aba-aba Jendral Cochius. Namun Benteng Paderi dan Bukit Tajadi tak kunjung goyah! Kenapa? Ketangguhan hulubalang yang diserahkan Imam Bonjol pada Tuanku Nan Gapuak secara bertanggung jawab, sesuai amanah yang diemban-benar-benar membekali barisan Paderi dengan silat tradisional lengkap dengan filosofinya. Secuil pun Tuanku Nan Gapuak tidak gamang, sebab berbilang tahun pula ilmu silat bernuansa fisikal intuitif itu, disauknya dari Tuanku Duo Baleh Koto, Palembayan, Agam. Makanya jangan kaget, kalau Jenderal Cochius, Jenderal Michiels dan Jenderal Cleerens (3 veteran perang Napoleon ketika melawan Rusia), yang ditugasi menghabisi Paderi, harus meggunakan Meriam Periuk Api guna meluluhkan Aurduri yang mengelilingi Benteng dan masjid Bonjol. Kenapa Periuk Api? Soalnya, dua tahun diintip, diintai serta dikepung, Benteng Paderi tak kunjung direbut Belanda. Bertelekan pada penelusuran pakar perbentengan, Dr Saleh (2006), belum pernah Belanda menjamah Periuk Api kala melumpuhkan pejuang di Jawa. Lagi pula, selama perang, Imam Bonjol mendulang sokongan moral plus material dari pendukung Paderi hampir dari seluruh Minangkabau. Misalnya mesiu, senapang, kain dan lain sebagainya. Soal logistik plus kebutuhan internal lain, pergerakan Paderi ditopang ekonomi berbasis kultural/kerakyatan. Misalnya penguasaan mereka terhadap tambang/produksi emas, kopi, lada dan casiavera. Christine Dobbin (1983) menuturkan: sejumlah pelabuhan strategis seperti di Tiku, Air Bangis, Natal dll, dalam hal transaksi serta impor-ekspor hasil bumi tadi-termasuk senjata, juga dikuasai elit-elit Paderi. Kecuali itu, hulubalang cadangan pun mengalir ke Bonjol dari pedalaman tanah Minang/Melayu sekalipun! Tercatat dalam sejarah, Imam Bonjol bersama hulubalang pilihan, tetap mempertahankan Benteng sampai detik-detik terakhir. Setelah Aurberduri, masjid dan rumah Imam Bonjol serta rumah-rumah penduduk dibumi-hanguskan Belanda, dalam upaya konsolidasi pasukan-sang Imam hijrah ke Koto Marapak. Sementara itu, Benteng Paderi di Bonjol bagian tenggara dirobohkan Belanda dengan mensiu yang dibenam ke perut bumi. Sambil berkacak-pinggang serta menyumpah-serapahi petinggi Paderi, Belanda beserta cecungguk yang tersisa melenggang ke puing-puing Benteng. Itu pun ditambah 16 orang hulubalang tangguh diinstruksikan Imam Bonjol agar bertahan di semak-semak Bukit Tajadi. Baru pada November 1851, Benteng Paderi betul-betul diratakan Belanda. Yang membuat petinggi Paderi menggerutu, pelenyapan sisa Benteng justru atas instruksi Van Swieten, Guberneur van Sumatra's Weskust. Malah si penghuni lembah Alahan Panjang Bonjol, Kumpulan dan Alahan Mati yang selama ini bangga dengan perjuangan anak nagari, dipaksa Van Swieten menjungkirbalikkan Benteng tersebut. Kini, di sana hanya dapat ditengok bekas reruntuhan. Banyak sejarawan haqqul yakin, Benteng Paderi, masih berpeluang untuk direkontruksi. Obsesinya? Tak lain menggeliatnya kembali sebingkah sense of nationalism masyarakat, tak terkecuali kawula muda. Sebab, selain sebagai simbol ketinggian teknologi Inggris (cenderung mencerdaskan tanah jajahan) ketimbang Belanda (hobi membodohi "anak jajahan")-seperti disinggung di muka, bekas Benteng juga menunjukkan kecanggihan teknologi Paderi beserta rakyat pendukung. Pertanyaan menggelitik, adakah upaya pihak tekait merekonstruksi Benteng Paderi yang sebenarnya bisa diposisikan sebagai objek wisata historis dan kulturalis itu? Sepertinya menyelinap fajar shidiq ke arah ini. Buktinya, pada 17-18 Desember 2008, Pemkab Pasaman-yang kini dinakhodai Beny Utama dan Dahniel Lubis, menggelar Seminar Nasional 200 Tahun Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Rao, di Lubuksikaping. Sebiji rumusan seminar yang di-narasumberi sejarawan bertaraf nasional, serta dimoderatori St Zaili Asril (wartawan senior & Dirut Utama Harian Padang Ekspres), dan sastrawan Darman Moenir itu berbunyi: "dalam ikhtiar mewariskan simpul-simpul sejarah yang ditorehkan arsitektur Paderi, diperlukan upaya rekonstruksi/renonovasi situs dan jejak perjuangan Imam Bonjol, dkk". Komponennya? Rekonstruksi Benteng Paderi; pembenahan Bukit Tajadi; renovasi Surau Tuanku Bandaro, sebagai tempat pencetusan (hukum) adat bersendi syara' oleh Imam Bonjol, Tuanku Tambusai dan Tuanku Rao, pada 1813; renovasi museum umum Imam Bonjol menjadi museum sejarah; dan menyoalisasikan equator dengan titik kulminasinya yang terjadi setahun dua kali. Bila kelak tata ruang pariwisata Bonjol mewujud ke ranah realita, tidak saja merupakan ikon pariwisata berorientasi sejarah dan budaya-lebih mencukam dari itu, mampu menumbuh-kembangkan kesadaran historis anak negeri. (*) [ Red/admin ] http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=119 Wassalam Nofend/34+/M-CKRG => MARI KITA RAMaIKAN PALANTA SESUAI DENGAN VISI-NYA!! Forum komunikasi, diskusi dan silaturahmi menggunakan email ini sangat dianjurkan selalu dalam koridor topik: yang berhubungan dengan Ranah Minang, Urang Awak di ranah dan rantau, Adat dan Budaya Minangkabau serta Provinsi Sumatera Barat. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
