PESAWAT terbang Seulawah, yang diberi nomor resmi RI-001, atas sumbangan rakyat Aceh pada pertengahan 1948, dianggap sebagai pesawat terbang pertama yang dimiliki republik ini. Pesawat itu kemudian menjadi cikal bakal penerbangan nasional Garuda.
Namun, data sejarah menunjukkan, pembelian pesawat terbang pertama Republik Indonesia, berasal dari sumbangan kaum ibu di Sumatera Barat. Rencana pembelian pesawat terbang itu erat kaitannya dengan kebijakan ekonomi Hatta di Sumatera. Atas instruksi Wakil Presiden Bung Hatta di Bukittinggi, pada 27 September 1947, dibentuklah panitia yang diberi nama sesuai dengan tujuan dan maksudnya, yaitu Panitia Pusat Pengumpulan Emas untuk Membeli Sebuah Kapal Terbang. Hampir semua pengurusnya adalah tokoh-tokoh yang ikut dalam rombongan Hatta dari Yogyakarta beberapa bulan sebelumnya. Ketuanya ialah Mr. Abdoel Karim, Direktur Bank Negara, anggotanya Pak Suryo, bekas Bupati Jatim, R.S. Suria Atmaja diperkuat Mr. Mohammad Rasjid, Residen Sumbar. "Ribuan amai-amai dan ibu yang berasal dari nagari-nagari di sekitar Kota Bukittinggi, berkumpul di Lapangan Kantin Bukittinggi mengumpulkan apa saja jenis perhiasan emas. Sabelek ameh takumpuan," kata Abdul Samad, yang saat itu terlibat langsung menggalang massa. Panitia ini bertugas mengumpulkan sumbangan perhiasan emas dari rakyat Sumbar. Semua unsur kepemimpinan tradisional Minangkabau dilibatkan, terdiri dari tali tigo sapilin. Mereka dikerahkan untuk menggugah partisipasi masyarakat di kota dan nagari antara lain meminta kerelaan kaum ibu untuk melepaskan perhiasan mereka. Dalam tempo kurang dari dua bulan, emas sudah terkumpul sebanyak satu kaleng biscuit (belek). Diperkirakan beratnya sekitar 14-15 kg. Emas perhiasan yang diperoleh dari sumbangan kaum ibu Sumbar itu kemudian dilebur dan dijadikan lempengan emas batangan. Akhir November, Wakil Presiden Bung Hatta di Istananya, Gedung Agung (kini Istana Bung Hatta) di Bukittinggi, sudah menerima satu kaleng biskuit berisi emas batangan lewat Majelis Pertahanan Rakyat Daerah Sumbar yang diketuai Khatib Sulaiman. Persoalannya, siapa yang mengemudikan pesawat, pesawat apa yang diperlukan? Maka, dicarilah informasi ke Singapura. "Sebelum berangkat dari Bukittinggi diserahkan kepada saya satu kaleng biskuit berisi emas batangan," kenang Aboe Bakar Loebis, salah seorang yang dipercaya untuk membeli pesawat terbang. Pesawat yang akan dibeli dapat ditemukan berkat bantuan perwakilan RI Singapura. Dalam hal ini dua tokoh asal Minang, masing-masing Letnan Penb. Mohammad Sidik Tamimi alias Dick Tamimi, dan yang kedua Ferdy Salim, anak Haji Agus Salim, ketika itu adalah supply mission AURI di Singapura. Sebuah pesawat terbang Avro Anson milik Paul H. Keegan, seorang warga negara Australia, pernah menjadi penerbang RAF saat PD II ditawarkan lewat seorang 'broker' dari Burma, H. Savage. Keegan akhirnya langsung berhubungan dengan Dick Tamimi dan Aboe Bakar Loebis. Disepakati, transaksi diadakan di Bukittinggi di bawah kesaksian para pemimpin daerah itu. Pada awal Desember 1947, Anson diterbangkan ke lapangan terbang Gadut, Bukittinggi. Kesepakatan transaksi jual beli pesawat tercapai. Keegan bersedia menjual Anson, tapi pembayarannya dilakukan di Songkhla, Muangthai. Harganya setara dengan 12 kg emas batangan. Pada 9 Desember 1947, Anson itu bertolak dari Bukittinggi ke Songkhla, dengan penumpang Keegan, seorang broker dari Singapura, Dick Tamimi, Is Yasin dan Aboe Bakar Loebis. Avro Anson itu diterbangkan oleh Iswahyudi, sementara Halim Perdanakusumah ikut ke Thailand berharap dapat bertemu dengan Perwira Tinggi Angkatan Udara Thailand, yang dikenalnya selama dalam pendidikan bersama di Kanada semasa PD II untuk berusaha mendapat bantuan untuk AURI. Pesawat tiba di Songkhla sore hari, setelah mendarat di Pekanbaru mengisi bahan bakar. Sesampai di Thailand, nasib para pejuang Indonesia itu juga tidak mulus seperti yang dibayangkan karena ternyata mereka diusir oelh polisi negeri itu dengan tuduhan "penyelundup candu emas dan perhiasan". Aboe Bakar Loebis bersama beberapa orang anggota tim pembeli pesawat keluar dari Thailand dengan tujuan utama Penang, Malaysia, dan terus ke Singapura untuk pulang ke Bukittinggi. Sedangkan Halim Perdanakusumah dan Iswahyudi, hanya berdua, mendapat tugas menerbangkan pesawat itu ke Bukittinggi. Hanya sekitar satu jam sampai di Singapura dalam perjalanan dari Thailand, Abo Bakar Loebis tiba-tiba memperoleh telegram dari polisi Malacca, yang mengabarkan, bahwa sebuah pesawat terbang Avro Anson telah jatuh di pantai Selat Malaka, dekat Tanjong Hantu, Perak Malaysia. Hanya seorang jenazah Halim Perdanakusumah yang ditemukan sedangkan Iswahyudi tidak. Pesawat Avro Anson itu tidak pernah dioperasikan untuk kepentingan perjuangan sebagaimana dimaksudkan semula. Bangkainya terkubur dalam arus laut Selat Malaka, bersama sejarahnya yang tak pernah dipedulikan lagi. Sementara, kaum ibu Sumbar tidak pernah melihat hasil sumbangan perhiasan emas yang mereka serahkan untuk membeli pesawat itu. Bahkan sumbangan emas kaum ibu Minangkabau itu menelan korban berlipat ganda. Bukan hanya materi, tetapi juga sumber daya manusia pilihan, yang pada masa revolusi amat terbatas jumlahnya. (h/adk dan dari buku "Sumatera Barat di Panggung Sejarah") e-paper Harian Haluan SABTU, 9 APRIL 2011 Wassalam Nofend/34+/M-CKRG => MARI KITA RAMaIKAN PALANTA SESUAI DENGAN VISI-NYA!! Forum komunikasi, diskusi dan silaturahmi menggunakan email ini sangat dianjurkan selalu dalam koridor topik: yang berhubungan dengan Ranah Minang, Urang Awak di ranah dan rantau, Adat dan Budaya Minangkabau serta Provinsi Sumatera Barat. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
