*Pada secangkir kopi : Dialog Imaginer dengan Roscoe Pound.*

Andiko Sutan Mancayo

*Pada dasarnya kondisi awal struktur suatu masyarakat selalu berada dalam
kondisi yang kurang imbang. Ada yang terlalu dominan, dan ada pula yang
terpinggirkan. Untuk menciptkan “dunia yang beradap”,
ketimpangan-ketimpangan structural itu perlu di tata ulang dengan pola
keseimbangan yang proporsional. Dalam konteks itu, hokum yang bersifat
logis-analitis dan serba abstrak (hokum murni) ataupun yang menggambarkan
realitas apa adanya (sosiologis), tidak mungkin diandalkan. Hukum dengan
tipe itu paling-paling hanya akan mengukuhkan apa yang ada. Ia tidak merubah
keadaan. Karena itu perlu langkah progresif yaitu memfungsikan hokum untuk
menata perubahan, karena itulah hokum itu, “law as a toll of social
engineering”.*

*(Teori Roscoe Pound tentang Hukum, dalam Bernard L. Tanya, 2010: 154-155)*



Pound, duduklah sejenak, tariklah kursi mendekat pada sisi jendela ketika
temaram cahaya membaluri tonggak-tonggak tua Harvard, biasnya jatuh dan
sedikit hangat tertolak dingin musim gugur, sebentar lagi tentunya salju
akan turun. Diseberang kaca itu, adalah aku, seperti cerita tentang gadis
kecil penjual korek api, begitulah ketika mata hendak menembus, secarik
hangat pada ruang-ruang yang bergengsi, ketika mungkin telah beribu sarjana
lepas dan melambai ketika memintas di kusen pintu dengan lambing bermerek
diatas tiga ikatan tangkai biji-bijian, mungkin gandum dan tentunya bukan
padi. Di bawah tameng Harvard itu, termasuk presidenmu telah memintas.

Nah mari kita rentang tali, agar ada kata terjembatani. Seperti yang aku
katakan, pada tiga ikat tangkai biji-bijian yang penuh itu, tentunya bukan
padi dan tentunya kau tak tahu apa itu padi. Ketidaktahuan itu kemudian
menghantuiku, ketika lahan-lahan pertanian disulap, seperti magic, teknologi
telah menyihir kesadaran, hingga lahan-lahan permai akan berubah dan
tumbuhan itu lambat atau cepat, tak lagi menguning emas seiring waktu, di
tanahku. Pada suatu masa, anak-anakku tahu tumbuhan itu pernah ada di sebuah
buku di rak, toko-toko megah di kota…ah sudahlah….

Marilah kita bercerita tentang rekayasa. Kalaulah rekayasa adalah penerapan
kaidah-kaidah ilmu dalam pelaksanaan dengan meletakkan pakem mekanik pada
setiap perancangan, pembuatan konstruksi, serta pengoperasian kerangka,
peralatan, dan sistem yang ekonomis dan efisien dan tentunya selalu
berlandaskan pada pencapaian kesejahteraan manusia, tetapi disisi yang
berbeda rekayasa dapat pula membawa kutukan makna sebuah rencana jahat atau
persekongkolan untuk merugikan orang lain.

Jikalah kau setuju kedua beban makna itu, maka akn aku tunjukkan ketika dua
arus berbenturan. Ditengahnya korban tersimpul. Percayakah kau ketika
perekayasa tak pernah menyadari beban makna sebaliknya, maka apa yang kita
rekayasa akan kehilangan makna. Dimana ketika kita memandang, yang berlarian
dihadapan hanyalah benda-benda dalam derajat deretan decimal ekonomi paling
naïf, symbol kemewahan mekanik yang tak berjiwa. Cobalah lekatkan pada
mahluk, apalagi mahluk yang terlahir seperti telah kutukan pelangkap dan
penderita, mereka hanya berarti sampai pada angka-angka statistic.

Pound, mungkin obrolan malam menjelang mendaki ini, teramat liar, maka
tambahlah secangkir kopimu lagi. Kuharap pahitnya akan menggetir, sepahit
ketika abad demi abad kopi tumbuh diladang-ladang perbudakan. Mungkin disitu
gelisahmu tentang sebuah rekayasa social mendapat tempat untuk kita cacah.

Marilah bicara hokum kawan. Jikalah memang hokum merekayasa social, mungkin
ia tegak pada posisi mekanik itu. Sebagai alat, maka hokum seperti apa yang
Bentham katakan sebagai perintah penguasa, maka ia tak berjiwa. Maka tak
guna kuceritakan keyakinan yang kadang mengsingkretik di tengah kami tentang
sebuah keadilan yang tak terceritakan, tetapi teramat dekat pada rasa.
Kadang ia jauh sehingga ia ada di batas horizon yang selalu bergerak menjauh
ketika kami berlari mengejar dan bahkan teramat jauh sejauh masa lalu dan
mimpi kawan.

Marilah kita mengayuh biduk-biduk kecil menyusuri sungai Siak dan batang
masang, marilah memintas di sepanjang Kapuas, sambas dan Kahayan. Dan
seperti katamu, marilah kita lihat bangunan keadilan yang dilahirkan oleh
sebuah rekayasa social yang menjadikan hokum sebagai algojonya, seperti yang
kau katakan. Kampung-kampung telah berguguran kawan.

Agar kau tahu kemana pendulum peradaban bergerak, marilah kita tanyakan pada
orang-orang yang kehilangan tanahnya atas nama hokum, ia telah ditinggal
pergi ibunya dan ia hanya termangu. Sampai suatu ketika, demikian banyaknya
hasil-hasil rekayasa yang termangu ditinggal ibunya, pada titik itu maka aku
minta kau memaknai lagi tentang itu.



Sobat, apakah etika dan nilai akan kita lekatkan pada rekayasa atau pada
hukumnya, hingga tak akan ada yang terjarah untuk menghadirkan apa itu
sejahtera. Pada kebingungan itu, akankah kan kita gali kubur Aristoteles,
Plato dan Sokrates hanya untuk bertanya kemana etika, sehingga keadilan
terus berlari, bahkan sampai hari ini.

Jakarta, 14 April 2011

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke