Ajo Sur dan para sanak sapalanta,
Kegiatan Malaysia dalam menyerap unsur-unsur kebudayaan Indonesia, dan 
mengklaimnya sbg 'kebudayaan Melayu' telah berlangsung lama, sistematis, dan 
berkelanjutan. Sekarang kebudayaan Kerinci. Sebelum ini reyog Ponorogo, sebelum
Itu naskah-naskah kuno Melayu di provinsi Riau, disusul oleh akuisisi 
naskah-naskah kuno Minangkabau di Sumatera Barat. Seluruhnya itu didukung oleh 
ketersediaan anggaran yg cukup.
Bagaimana reaksi kita orang Indonesia? Biasanya kaget, lalu marah-marah, yg 
kemudian melenyap begitu saja dengan cepat.  Adalah jelas bahwa kita tidak 
punya politik dan strategi kebudayaan, sedangkan kebudayaan itu sendiri kita 
kaitkan secara picik dengan pariwisata.
Jangan berharap banyak kepada Pemerintah, yg bukan saja  tidak mempunyai 
wawasan kenegarawanan berskala besar dan berjangka panjang, tetapi juga hanya 
asyik dengan dirinya sendiri: pencitraan, kenaikan gaji presiden,  KPK vs 
Polri, cicak dan buaya, travel check pemilihan DGS BI Miranda Goeltom,  Bank 
Century, reshuffle kabinet, koalisi, gedung baru DPR, dan hal-hal seperti itu.
Secara sinis kita malah bisa bersyukur bhw Malaysia telah 'turun tangan' 
menyelamatkan unsur-unsur kebudayaan kita, daripada berdebu dan melapuk tidak 
ada yg memperhatikan. 
Layak kita bertanya: kok kita menjadi bangsa yg berfikiran kerdil seperti ini, 
yg hanya berkutat dgn hal-hal remeh dan mengabaikan hal-hal yg agung dan 
mendasar ? Wallahualambissawab.
Wassalam,
Wassalam,

-------Original Email-------
Subject :[R@ntau-Net] Takicuah tagak (dek taruih maota babuiah2 juo): 
MuseumKerinci dibangun di Malaysia
>From  :mailto:[email protected]
Date  :Tue Apr 12 23:39:50 Asia/Bangkok 2011


Duh! Museum Kerinci Dibangun di Malaysia 

 
JAMBI, KOMPAS.com--Museum Kerinci yang dibangun di Kuala Lumpur dengan bantuan 
dana dari Pemerintah Malaysia akan diresmikan Bupati Kerinci Murasman, pekan 
depan. Dikhawatirkan, benda-benda bersejarah yang ada di Kabupaten Kerinci akan 
dibawa ke negeri jiran tersebut.
 
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, 
Arlis, Senin (11/4), mengatakan, Museum Kerinci dibangun di dalam kompleks 
Sekolah Kebangsaan di Kuala Lumpur. Pemerintah Kabupaten Kerinci telah 
mengirimkan sejumlah benda peninggalan budaya dan sejarah Kerinci untuk 
dipamerkan, seperti alat musik gong ketuk, rebana sikek, sandu (sejenis 
seruling), dan gendang kerinci dari kayu surian. 
Selain itu, juga beragam jenis alat pertanian, seperti tangkai beliung untuk 
menebang kayu, luka belut (alat menangkap belut di sungai) dari bambu, dan 
jangki dari rotan (untuk menyimpan benda bawaan). Pemerintah Kabupaten Kerinci 
juga menyiapkan sejumlah naskah beraksara kuno serta berbagai jenis pakaian 
adat. 
”Barang asli tetap disimpan di Kabupaten Kerinci, sedangkan di museum tersebut 
nantinya hanya duplikatnya,” kata Arlis. 
Menurut Arlis, dalam peresmian pembukaan Museum Kerinci pekan depan akan 
ditampilkan sejumlah tarian asli Kabupaten Kerinci, seperti tari Ranggut, tari 
Pengobatan, dan Ngaji Adat. Museum akan diresmikan Bupati Kerinci Murasman dan 
disaksikan sejumlah pejabat Pemerintah Malaysia, termasuk Menteri Kebudayaan 
Malaysia. 
Arlis menambahkan, keberadaan Museum Kerinci akan mempererat hubungan antara 
Kabupaten Kerinci dan Malaysia. Selama ini banyak warga Kerinci yang telah 
menjadi warga negara Malaysia rindu menyaksikan budaya khas Kerinci. ”Ada 
kedekatan budaya antara Kerinci dan Malaysia,” tuturnya. 

 
Disesalkan 
Ketua Harian Dewan Kesenian Jambi Naswan Iskandar menyayangkan tindakan Pemkab 
Kerinci yang sangat antusias menyiapkan Museum Kerinci di Malaysia. Padahal, 
hingga saat ini Kerinci belum memiliki museum di daerahnya sendiri. 
”Itu namanya pemkab ceroboh. Kenapa tidak membangun museum sendiri, malah 
membantu pembangunannya di Malaysia?” kata Naswan. 
Ia menduga keberadaan Museum Kerinci di Kuala Lumpur akan diikuti dengan 
diboyongnya benda-benda pusaka milik Kerinci. Ia juga mengkhawatirkan bakal 
adanya klaim budaya Kerinci oleh Malaysia. 
Padahal, Kerinci selama ini dikenal memiliki budaya tertua di Jambi, serta 
memiliki kekayaan peninggalan bersejarah yang cukup lengkap. Salah satu 
peninggalan tersebut adalah naskah Melayu tertua berupa Kitab Undang-Undang 
Tanjung Tanah yang membuktikan bahwa peradaban setempat telah memiliki aksara 
dan sistem hukum sendiri setidaknya mulai abad XIV. 
Selain itu, Kerinci juga memiliki bentuk budaya lainnya, seperti seni Tale 
(bersenandung) dan tradisi Kunoun (tutur). Ada juga pertunjukan seni budaya 
megalitik sastra mantra, pantun, seloko, penno, dan tambo. 
 
__._,_.___ 

Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke