Singgalang,Jumat, 15 April 2011

DERITA JANDA RISMAWATI 


Malang benar nasib Hendra, 20. 
Dari waktu ke waktu, hari-hari yang dijalani pemuda ini dihabiskan di gubuk 
reot. Ia dipasung. Air mata ibunya nyaris kering, melihat anak yang sebelumnya 
menjadi tulang punggung kini hidup merana.
Hendra anak dari Rismawati, 50, janda beranak empat warga Jorong Tampuniak, 
Kinali Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat. Hendra dipasung akibat mental 
dan jiwanya terganggu. Ia sering menganggu orang kampungnya.
Sejak setahun lalu derita itu mendera Hendra. Ia dipasung di gubuk 2 x 2 meter. 
Orangtua Hendra tak kuasa melihat anaknya terus-menerus dipasung, tapi kalau 
dilepas bisa membahayakan diri dan keluarga serta orang lain.
Penuturan Rismawati, Kamis (14/4), ayah Hendra sudah lama meninggal. 
Adik-adiknya membutuhkan biaya untuk bersekolah.
Sebelum sakit, Hendra bekerja di Pekanbaru. Tiap bulan ia berkirim uang untuk 
ibu dan adik-adiknya. Tapi nasib berkata lain, sejak 2009 jiwanya terganggu dan 
dibawa pulang.
Sesampai di kampung, kondisi kejiwaannya makin memburuk. Sering murung, dan 
juga marah-marah kepada ibun serta ketiga adiknya.
“Kalau penyakitnya sedang kumat, kami sekeluarga menjadi cemas dan takut. 
Apalagi saya pernah dipukulinya. Ketiga adiknya juga pernah mendapatkan 
perlakuan serupa,” cerita Rismawati serak.
Karena sudah sering mengganggu orang lain, dan karena ketiadaan biaya berobat, 
keluarga memutuskan untuk memasungnya. Meski hati bagai tersayat sembilu, 
memasung Hendra adalah jalan terakhir.
Atas bantuan masyarakat, Hendra dibuatkan satu gubuk di kebun kelapa sawit, di 
belakang rumah.
Sejak anaknya dipasung, Rismawati menjadi tulang punggung keluarga. Sekuat 
tenaga mencari uang untuk menghidupi anak-anaknya.
Rismawati yang sudah memasuki usia senja itu menjadi buruh tani. Upah yang 
didapat Rp30 ribu/hari. 
Apalah yang bisa didapat dengan jumlah uang sebanyak itu. Jangankan untuk 
membawa anaknya ke ke rumah sakit, untuk makan sehari-hari sekeluarga masih 
jauh dari cukup.
Suatu ketika hati Rismawati benar-benar luluh. Air matanya jatuh ketika anaknya 
sesekali sadar, bagaikan orang normal.
Lalu anaknya berkata “saya ingin membantu Mak serta adik-adik,” ucap Rismawati 
menirukan anaknya.
Rismawati menduga anaknya korban guna-guna, namun sulit dibuktikan.
Selain berdoa, Rismawati bersama adiknya, Apis, 35, kadangkala membawa Hendra 
berobat ke dukun kampung, tapi hingga kini belum ada tanda-tanda akan sembuh. 
Rismawati masih tetap optimis, suatu saat kelak anaknya akan sembuh. 
Adakah yang peduli dengan nasib yang menimpa Hendra? (*)



Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke