Tempointeraktif, 28 Juli 2003

 

http://www.tempo.co.id/harian/wawancara/waw-TariqRamadan01.html

 

SEOLAH sedang mengajar di depan kelas, itulah gaya Doktor Tariq Ramadan
ketika berbicara kepada wartawan Tempo. Dengan gaya bicara yang tenang
tetapi tegas, ia bertutur tentang pandangan dan kritiknya terhadap Islam.
Persis seperti sedang berbicara kepada mahasiswanya, ia sesekali "meledak"
saat menyinggung ketertindasan muslim di berbagai belahan dunia. Gaya serupa
menyertai dia saat berdiskusi di forum intelektual di Jakarta, Bandung, dan
Yogyakarta sepanjang pekan lalu.

 

Lahir di Swiss, 42 tahun silam, Tariq memang sosok yang unik. Dialah cucu
Hassan al-Banna, orang Mesir pendiri Ikhwanul Muslimin yang kerap disebut
sebagai organisasi pelopor Islam fundamentalis. Pada 1928, sang kakek aktif
menggalang kekuatan Islam untuk memerangi kolonial. Kini, cucunya yang
melanjutkan perjuangan, namun dengan cara yang sama sekali berbeda.

 

Sarjana filsafat (dengan tesis tentang Nietzsche) dan Sastra Prancis ini
meraih gelar Doktor dalam bidang Studi Islam di University of Geneva. Saat
ini, Tariq mengajar di dua universitas bergengsi di Eropa, Genevan College
dan University of Fribourg. Ia berperan aktif dalam diskusi tentang Islam di
Eropa dan berbagai negara lain. Di saat hubungan Islam dan Barat sedang
morat-marit, Tariq tampil sebagai jembatan. Melalui buku-bukunya, antara
lain To Be European Muslim (2000), Islam, the West, and the Challenge of
Modernity (2002) dan The Future of Islam in Europe (2003), ia berbicara
kepada dunia.

 

Ia tidak setuju dengan orang Islam yang mengisolasi diri. Ia juga menolak
orang Islam yang melebur dalam kehidupan bangsa Eropa sehingga meninggalkan
identitas keislamannya. Karenanya, ia meluncurkan konsep Jalan Tengah:
menjadi muslim sejati sekaligus orang Eropa. Karena pandangannya inilah ia
terpilih sebagai salah satu inovator oleh majalah Time edisi khusus awal
2000.

 

Jumat pekan lalu, ayah tiga anak yang fasih berbahasa Prancis, Inggris, dan
Arab ini menerima Andari Karina Anom dan Qaris Tajudin dari Tempo di sebuah
rumah mungil bergaya Eropa di Bona Indah Garden, Lebak Bulus, Jakarta
Selatan. Berikut petikannya.

 

Menurut Anda, apa sebenarnya problem utama hubungan Islam dengan Barat?

 

Problem utama umat Islam di Eropa karena mereka belum terintegrasi
sepenuhnya dengan masyarakat. Bagi orang Barat, hanya ada dua kelompok
Islam: moderat dan fundamentalis. Pemahaman yang buruk dan representasi
buruk kalangan Islam tertentu mengakibatkan orang Barat menerapkan hukum
secara bias dengan standar ganda. Karena itu, seorang muslim harus paham
dengan baik tentang agamanya dan bisa beradaptasi dengan lingkungan tempat
kita tinggal. Dengan begitu, Islam menjadi kontekstual. Sebagai muslim, kita
tak hanya dituntut memahami agama kita, tapi juga negara, hukum dan
masyarakat di tempat kita tinggal.

 

Anda menyebut orang Islam kerap disudutkan, misalnya dalam hal apa?

 

Ada kesalahpahaman dalam memandang Islam sehingga orang-orang Islam banyak
yang menjadi korban.

 

Orang-orang menyerang dan menyalahkan Islam. Karenanya harus ada gerakan
dari kalangan muslim untuk menjelaskan kesalahpahaman ini. Kita ada dalam
situasi ini karena ada orang-orang yang tak menyukai Islam dan menyalahkan
Islam. Kita harus mencegah upaya penyudutan ini dengan menjadi bagian dari
sistem, menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat.

 

Bagaimana menerapkan budaya suatu negara tanpa kehilangan nilai keislaman?

 

Dalam Islam, kita harus memajukan pendidikan yang setara untuk laki-laki dan
perempuan. Jika kita melihat di suatu negara, ada perbedaan antara lelaki
dan perempuan, maka itu bukan Islam, tapi budaya negara tertentu, misalnya
Maroko dan Turki. Sebagai muslim, kita harus membedakan antara budaya dan
agama.

 

Selain itu, juga harus tahu lebih banyak dan terlibat aktif di
masyarakatnya. Bukan sekadar menerima segala sesuatu, tapi juga aktif
menuntut hak. Ini yang disebut Revolusi Diam (Silence Revolution). Muslim di
Barat sekarang lebih sadar apa yang harus dilakukan untuk mengubah situasi
ini.

 

Itu sebabnya Anda menawarkan konsep Jalan Tengah, yaitu tetap menjadi muslim
dan menjadi warga negara yang baik?

 

Yang saya maksud sebagai Jalan Ketiga adalah in between, tetap menjadi
muslim yang baik, sekaligus warga negara Eropa yang baik. Saya menolak
muslim mengisolasi diri, tapi saya juga menolak muslim melebur dalam
kehidupan negaranya sehingga menghilangkan identitas kemusliman. Ini adalah
tradisi reformis, bukan modernis, karena sebenarnya konsep ini sudah cukup
tua, setua agama Islam sendiri. Banyak kalangan di Barat yang sejak lama
mengatakan muslim tak mungkin bisa dipersatukan. Namun, sekarang kita
membuktikan bahwa muslim bisa bersatu padu.

 

Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak sangat terpengaruh
pemikiran Barat yang menyudutkan Islam. Bagaimana menurut Anda?

 

Umat Islam di Indonesia memiliki masalah besar.

 

Ditinjau dari jumlah, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim

terbanyak. Namun, saya tidak yakin kalau muslim di Indonesia adalah muslim
by heart.

 

Mungkin hanya sebatas simbol dan identitas formal.

 

Kalangan Islam di Indonesia bahkan berani baku hantam hanya untuk
menunjukkan Anda muslim, tapi cuma di permukaan, tidak dalam pengertian yang
mendalam.

 

Dalam hal ini, Jalan Tengah apa?

 

Yang harus dilakukan di level akar rumput adalah pendidikan populer. Islam
membutuhkan orang-orang untuk menjelaskan apa sebenarnya Islam, apa
esensinya, sehingga bisa menerangi hati kaum muslim di tempatnya berada.
Hal-hal seperti ini ada di masyarakat bukan di universitas. Saya kira,
banyak kalangan Islam di Indonesia yang mempraktekkan agama secara formal
dan hanya di permukaan. Orang-orang Islam di Indonesia terlalu terpengaruh
budaya Barat sehingga kadang-kadang tak tahu siapa kita dan ke mana kita
berpihak. Kedua, Indonesia seharusnya memperkuat organisasi Islam yang
bekerja di level akar rumput, membantu orang-orang di masyarakat dan memberi
pemahaman yang dalam tentang Islam. 

 

Gerakan Islam yang populer itu misalnya apa?

 

Di Indonesia, tiap Jumat banyak orang datang ke masjid untuk salat Jumat.
Mereka menyadari pentingnya ibadah itu, namun kadang-kadang mereka tak
memahami Islam secara mendalam. Karena itu, harus ada pendidikan Islam bagi
masyarakat supaya kalangan muslim sendiri memahami agamanya, mengerti arti
muamalat dan aktif menjalankan prinsip-prinsip itu. Sebab, meski Anda
tinggal di negara berpenduduk muslim terbesar, Anda hidup di masyarakat yang
multiagama. Kita harus membantu orang memahami Islam secara betul. Banyak
kalangan di Indonesia yang menggunakan Islam sebagai senjata politik.

 

Majalah Time bulan lalu menurunkan laporan utama tentang misionaris yang
berusaha mengkristenkan orang Islam. Menurut Anda, bagaimana problem ini di
Indonesia?

 

Ini bukan hanya problem di Indonesia, tapi juga di Afrika. Orang-orang
Kristen menyiarkan agama mereka dan sebagian kalangan muslim bereaksi dengan
berlebihan, padahal mereka sendiri tak memahami Islam secara mendalam. Jika
Anda tak mau muslim berpindah ke Kristen, solusinya adalah kita harus
menjelaskan pada sesama muslim apa sebetulnya agama Islam. Anda tak bisa
memaksa mereka menjadi Islam, tapi Anda harus menjelaskan kepada mereka apa
sebetulnya Islam. Jika pendidikan Islam terhadap kalangan muslim sendiri
buruk, maka orang Kristen memiliki lahan terbuka untuk beraksi. Dan ini
bukan kesalahan mereka.

 

Bagaimana dengan konsep jihad?

 

Jihad adalah konsep dengan banyak aspek. Untuk memahami jihad, kita harus
kembali ke diri sendiri.

 

Dalam diri kita ada godaan untuk melakukan kekerasan, kemarahan, atau
pertengkaran. Itu adalah nafsu-nafsu alami manusia. Kita bisa melakukan
kekerasan, tapi dengan kesadaran penuh kita dapat mengontrol
dorongan-dorongan jahat itu.... Konsep jihad bukanlah perang, melainkan
perdamaian. Kalau kita bawa ke tingkat kolektif, sama saja. Jihad bukanlah
perang suci. Terminologi perang suci datang dari Perang Salib Kristen. Bagi
kita sekarang, jihad berarti usaha untuk melawan. Ketika ada penindasan
terhadap umat Islam secara tidak adil, kita punya hak untuk melawan.

 

Itulah jihad. Bukan perang melawan Yahudi, Amerika, atau Barat.

 

Berarti jihad mengandung konsep perlawanan?

 

Ya, namun konsep perlawanan yang ada sekarang sama sekali salah. Banyak
intelektual muslim yang menggunakan istilah perang suci untuk menjelaskan
jihad. Banyak muslim yang menggunakan konsep jihad secara salah. Jihad
adalah konsep perlawanan dengan cara damai. Namun, mesti diingat, tak akan
ada perlawanan tanpa keadilan. Tak ada perdamaian tanpa keadilan. Misalnya,
saya mencuri sepeda Anda. Dua hari kemudian saya mengaku mengambil sepeda
Anda dan saya ingin berdamai. Tentu saja Anda akan bilang, kembalikan dulu
sepeda saya baru kita bicara soal perdamaian. Hal inilah yang dialami
Palestina.

 

Pandangan negatif terhadap Islam kian menggila pasca-11 September dan bom
Bali di Indonesia. Bagaimana Anda memandang soal ini?

 

Perang melawan teroris adalah perang yang sulit dijelaskan. Soalnya, tidak
ada definisi resmi soal teroris di lembaga internasional seperti PBB, NATO,
dan lain-lain. Itu sebabnya teroris sulit dijelaskan, apalagi ditumpas. Dan
yang jadi korban adalah orang Islam. Padahal, jika definisi teroris adalah
membunuh orang tak bersalah, maka kita harus memerangi segala jenis teroris,
termasuk terorisme negara. 

 

Memang, kita tahu banyak kelompok muslim yang menyatakan jihad berarti sah
untuk memerangi Yahudi atau Amerika. Itu tidak benar. Kita harus melawan
pemikiran yang tak ada hubungannya dengan ajaran Islam.

 

Artinya, orang Islam harus melakukan reformasi besar-besaran untuk mengubah
pandangan negatif itu?

 

Betul. Namun pertanyaannya, reformasi seperti apa?

 

Banyak saudara-saudara kita yang mempromosikan Islam tanpa mengetahui Islam
sebenarnya. Mereka mengajarkan bahwa kita tak perlu salat, cukup berhubungan
dengan Allah 24 jam sehari. Ini bukan reformasi, tapi penghancuran. Jika ada
yang melakukan itu, mereka bukan reformis, tapi penghancur Islam.

 

Bagaimana dengan konsep negara Islam. Apakah memang itu suatu tujuan bagi
gerakan-gerakan Islam di dunia, termasuk Indonesia?

 

Yang sebetulnya dibutuhkan bukan negara Islam sebagai sebuah negara yang
melaksanakan prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan dan alternation
(pergantian kepemimpinan yang baik). Kita tidak punya model negara Islam
karena kita tinggal dalam masyarakat yang kompleks secara sosial, politik,
dan budaya. Namanya boleh apa saja, yang penting negara itu menjalankan
prinsip-prinsip universal seperti yang saya kemukakan tadi. Kita jangan
terobsesi oleh nama, tapi praktek-prakteknya.

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke