Meski berita lamo, menarik juo untuak menelusuri perjalanan hiduik papa ko
Salam andiko 75 Tahun Belum Cukup Rasanya…<http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1973:75-tahun-belum-cukup-rasanya&catid=11:opini&Itemid=83> [image: PDF]<http://www.harianhaluan.com/index.php?view=article&catid=11%3Aopini&id=1973%3A75-tahun-belum-cukup-rasanya&format=pdf&option=com_content&Itemid=83> [image: Cetak]<http://www.harianhaluan.com/index.php?view=article&catid=11%3Aopini&id=1973%3A75-tahun-belum-cukup-rasanya&tmpl=component&print=1&layout=default&page=&option=com_content&Itemid=83> [image: Surel]<http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_mailto&tmpl=component&link=aHR0cDovL3d3dy5oYXJpYW5oYWx1YW4uY29tL2luZGV4LnBocD9vcHRpb249Y29tX2NvbnRlbnQmdmlldz1hcnRpY2xlJmlkPTE5NzM6NzUtdGFodW4tYmVsdW0tY3VrdXAtcmFzYW55YSZjYXRpZD0xMTpvcGluaSZJdGVtaWQ9ODM=> Sabtu, 26 Februari 2011 01:29 *TRIBUTE TO RUSLI MARZUKI SARIA* *Namanya* Rusli Marzuki Saria. Hari ini, 26 Februari 2011, umurnya genap 75 tahun. Ia lahir di sebuahnya nagari yang terkenal dengan nilai heroiknya: Nagari Kamang Mudik, Tilatang Kamang, Agam, pada tanggal 26 Februari 1936. Saat kolonialisme, masyarakat Kamang terkenal dengan kegigihannya melawan penjajah Belanda. Ayahnya bernama Marzuki—seorang kepala nagari yang juga punya usaha bendi dan pembuatan sadah. Ibunya Sarianun. Marzuki mempunyai 23 orang istri, Sarianun, istri Marzuki yang ketujuh. Melewati usia 75 tahun, Papa, begitu setiap orang memanggil Rusli Marzuki Saria ini, sebuah sapaan yang sangat familiar dan akrab, bukan membuat dirinya merasa pikun dan lelah. Ia masih enerjik. Berapi-api jika bicara tentang novel *Ibunda* Marxim Gorky terjemahan Pramoedya Ananta Toer. “Novel *Ibunda* sangat menginspirasi saya. Saat bergolak semasa PRRI, buku ini selalu saya bawa. Buku ini harta saya yang sangat berharga,” kata Papa. Dan sangat romantik berbicara tentang puisi *Huesca *karya Rupert John Cornford terjemahan Chairil Anwar, puisi aslinya berjudul *To Margot Heinemann*. Ia fasih menceritakan sejarah puisi *Huesca *atau *To Margot Heinemann *yang ditulis ketika John Cornford ketika tergabung dengan Brigade Internasional dalam Perang Saudara Spanyol. Ada pula yang menyebut judul puisi itu *Heart of the Heartless World*. “John Cornford gugur sehari setelah ulang tahunnya yang kedua puluh satu di Front Cordoba pada 28 Desember 1936, di tahun yang sama saya lahir,” kisah Papa bersemangat.Kerena begitu berartinya baginya puisi John Cornford itu, ia pun memasukkannya dalam bukunya *Monolog dalam Renungan.* Hari ini, Taman Budaya Sumatera Barat merayakan hari jadinya Papa. Bersama-sama dengan rekan-rekan seniman dan komunitas seni, beragam acara akan digelar malam ini sebagai penghormatan terhadap dedikasinya kepada kebudayaan selama ini. Malam ini Papa menjelma seperti marapulai. Orang-orang merawat dan merayakan semua yang telah ia dedikasikan, lalu mengalirkannya di atas panggung berupa pembacaan puisi, musikalisasi dan dramatisasi. Selain itu, ada orasi budaya yang akan disampaikan oleh Prof Dr Harris Effendi Thahar berjudul “Keberadaan Rusli Marzuki Saria dalam Kepenyairan Sumatera Barat dan Indonesia,” penanyangan profil Rusli Marzuki Saria, tari “Sang Hawa”, Nan Jombang pimpinan Ery Mefri, dramatisasi puisi KSST Noktah, musikalisasi puisi Sanggar Dayung-Dayung Kayutanam, puisi Rusli Marzuki Saria dalam bakaba Musra Dahrizal, dan pembacaan puisi Leon Agusta dan Abrar Yusra. Saya mengenal Papa secara dekat entah kapan. Tak ingat dimana awalnya sosok yang cepat akrab dengan siapa saja ini. Tapi saya pernah diberikannya tanggung jawab untuk mengapresiasi ruang cerpen remaja minggu ini di *Haluan * Minggu selama satu tahun pada rentang 1997-1998. Sekali seminggu, saya menjemput ke Kantor *Haluan* di Jalan Damar berkas untuk diapresiasi. Jumlahnya cukup banyak. Lebih kurang 25 buah naskah sekali jemput. Jumlah ini menunjukkan betapa besar minat penulis muda Sumatera Barat saat itu. Padahal, cerpen yang akan diturunkan di *Haluan*Minggu cuma satu cerpen. Betapa ketatnya persaingan sesama penulis untuk bisa tembus di *Haluan* Minggu. Hal serupa juga terjadi di ruang sastra budaya *Haluan* yang terbit tiap Selasa. Puluhan naskah cerpen, puisi, dan esai yang mengalir ke meja Rusli Marzuki Saria dan hanya ada satu cerpen, satu kolom puisi, dan satu atau dua esai yang turun. Rubrik sastra budaya begitu berwibawanya saat itu. Kami pernah satu kantor selama 3 tahun ketika menjadi pengurus Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) 2001-2004. Saya dipercaya sebagai sekretaris, sedangkan Papa sebagai bendahara. Sesuatu yang paling sangat mengesankan ketika anggaran kegiatan DKSB cair sebesar Rp75 juta. Saat itu—setelah tetek bengek administrasi diselesaikan—tiba-tiba seorang oknum pegawai di Kantor Gubernur memberikan sinyal, jika dana lekas cairnya, DKSB harus “meninggalkan” uang “lelah” sebesar Rp5 juta tentu saja tanpa kuitansi. Orang ini mengatakan, “pertanggungjawabannya” terserah DKSB. Akhirnya saat juga, kami sepakat untuk tidak bisa meninggalkan uang sebesar itu dengan konsekuensi dana yang seyogyanya bisa digunakan untuk program DKSB, tak bisa dimanfaatkan dalam waktu dekat. Saat itu, Papa sebagai bendahara mengaku tak bisa mencarikan kuitansi kosong untuk menutupi dana yang diberikan kepada orang-orang Kantor Gubernur itu. Jika membuat laporan pertanggung jawaban keuangan, Papa terkenal sangat saklek dan disiplin. Lima rupiah saja, ia tak mau meleset dan harus ada bukti pengeluaran yang jelas. Maka, tak heran, setiap menyerahkan laporan keuangan Kantor Gubernur, laporan DKSB di tangan Papa tak pernah bermasalah, kendati bentuk laporannya sangat konvensional sekali. Papa yang memang cepat akrab dengan siapa saja. Nyaris semua orang yang bersentuhan dengan dunai sastra mengenal dia. Dia sosok yang bagi banyak orang sebagai “jembatan” untuk memasuki dunia “masa lalu” perkembangan sastra budaya di Sumatera Barat. Sekali berjumpa dengannya, saat itu juga kita seperti berada pada sebuah keluarga yang familiar. Dan dengan tawa khasnya, hi hi hi… pasri ia kerap akan mengajak untuk menulis…”Cobalah menulis apa saja yang dirasakan…jangan takut-takut…” demikian selalu ia sampaikan kepada orang-orang muda yang berkeinganan menulis. Suatu kali—sampai kini saya tak tahu penyebabnya—selama satu hari dalam kantor DKSB di Genta Budaya, kami berdua tak sekali pun berkomunikasi. Kami saling membisu. Dan asyik dengan kerja masing-masing. Memang suatu yang sangat aneh. Mungkin saja karena bosan setiap hari bertemu terus, maka kami memilih *basianiang* seharian. Lalu, yang menjadi khas Papa adalah bersiul. Siulnya menyanyikan lagu perjuangan yang hingga kini, ia pun tak tahu apa judulnya. Mungkin siul mengusir sepi saat *ijok* masa PRRI dulu. Sering juga Papa ini bertanya kepada saya: “Baa pacar, Bung? Lai jalan-jalan Bung ka kampuang e? Lai suko pacar Bung baco buku?” Pertanyaan ini seperti tak pernah berhenti. Memang, beberapa pacar saya, selalu saya kenalkan dengan Papa.Papa menikah dengan Hanizar Musa—gadis yang dikenalnya pada masa PRRI. Dari pernikahannya ini, Papa dikaruniai empat orang anak: Fitri Erlin Denai, Vitalitas Vitrat Sejati, Satyagraha dan Diogenes. Pada tahun 1987 Papa terpilih menjadi anggota DPRD Padang untuk periode 1987-1992 dan ia duduk di Komisi Pembangunan. Dalam menjalankan aktivitasnya sebagai anggota DPRD, Rusli tetap kelihatan sebagai seorang penyair. Dalam beberapa sidang ia kerap membaca puisi. Di antara pusi yang dibacakannya adalah *Rakyat* karya Hartono Andangjaya. Di tengah kesibukannya sebagai wakil rakyat, Papa tetap menulis puisi. Di antaranya, *Sang Waktu Berbisik Aku Mengangguk*, *Wang 100 Ribu Rupiah Per Desa* dan *Mentawai Bisa Tenggelam*. Kini, waktu terus berjalan. 75 tahun bukan waktu yang singkat. Tapi Papa, sepertinya masih terlihat bak 60 tahunan. Lari pagi sesudah salat Subut, tak pernah ia lupakan. Rutinitas lari pagi ini yang membuat tubuhnya sehat. Selama tiga tahun sekantor, setahu saya, Papa tak pernah sakit dan tetap masuk kantor. Selalu mengenakan celana Levies jenis jeans, dipadu dengan kemeja, tapi lebih sering kaus oblong. Klimis. Tapi suatu kali, pernah Papa memanjangkan jambangnya, katanya pengen seperti Fidel Castro, Presiden Kuba sejak 1976 hingga 2008. Terkait makanan, ia sangat menggemari goreng dan rendang belut. Terkadang, jika ke Bukittinggi, ia tak lupa memesan dadih. “Papa berhenti merokok tahun 1976. Menjaga kesehatan sangat multak. Berolahraga kuncinya,” kata Papa. Masa tujuh puluh lima tahun, bukan waktu yang singkat. Jalan panjang yang ditempuh terus membekas dengan jejak-jejaknya. Papa memang selalu meninggalkan jejak itu. Selamat ulang tahun, Papa. *NASRUL AZWAR* -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
