Kevin Fogg, Perang dan Grass Root

* Oleh: Zamris Habib*

*http://www.umj.ac.id/main/artikel/index.php?detail=20110404103354
*

Para Indonsianis seperti W. Lidle, Hefner dan lain-lain telah banyak menulis
berbagai perkembangan politik di Indonesia mulai dari awal kemerdekaan tahun
50an, masa Orde Lama di bawah Presiden Soekarno dengan Demokrasi
Terpimpinnya dan era Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto terutama
analisis tentang perkembangan partai-partai Islam sebelum dan setelah pemilu
pertama 1955. Akan tetapi analisis yang dikemukakan Kevin Fogg dalam suatu
diskusi di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) tanggal 25 November 2010
yang lalu dengan topic “Islamic Organization and Borders Politic in the
1950s”, Kevin Fogg yang sedang riset dalam persiapan studi PhD di bidang
Sejarah dari Yale University USA, mencoba mendalami pendapat masyarakat pada
level grassroot yang selama ini kurang disentuh oleh para Indonesianis.

Pada diskusi tersebut sebuah pertanyaan yang diajukan peserta apakah
perpecahan partai Islam seperti keluarnya NU, Perti dan lain-lain dari
Masyumi disebabkan oleh perbedaan mazhab yang dianut oleh pendukungnya atau
karena perbedaan strategi dalam mengimplementasikan Islam dalam hubungannya
dengan Negara Bangsa (Nation State), atau malah seperti ungkapan yang sering
kita dengar bahwa apapun yang terjadi di negara-negara berkembang termasuk
Indonesia tidak terlepas dari campur tangan Negara Adi Kuasa seperti
Amerika.

Fogg mengakui secara terbuka bahwa Masyumi waktu mendukung PRRI (Pemerintah
Revolusioner Republik Indonesia) yang berpusat di Sumatera Barat tahun 1958
menerima satu juta dolar dari Amerika, dan Fogg dengan yakin mengatakan ada
buktinya pemberian tersebut bertujuan agar Sumatera memisahkan diri dari
Indonesia. Terlepas apa yang diungkapkan Kevin itu benar atau salah tetapi
perlu dikritsi. Dalam wawancara dengan Vinche Samuel seorang tokoh
PRRI/Permesta (walaupun Vinche bukan orang Masyumi) pertengahan November
yang lalu di Metro TV mengatakan bahwa pemimpin PRRI dan Permesta tidak mau
menerima tawaran Amerika untuk memisahkan diri dari NKRI. Dengan demikian,
bagaimanapun juga pimpinan PRRI dan Permesta adalah Pancasila sejati.
Perlawanan PRRI/Permesta adalah suatu bentuk protes kepada Pemerintah Pusat
terutama Soekarno yang telah cenderung ke PKI dan tidak adanya keseimbangan
dalam pemerataan sumberdaya antara Jawa dan luar Jawa. Kita ingat sebuah
puisi yang ditulis oleh Prawoto Mangkusasmito yang diawali dengan kalimat
“Istana Tampak Siring, Demokrasi tampak miring” Prawoto seorang tokoh
Masyumi merasakan benar tekanan politik yang begitu “miring” di bawah
kepemimpinan Soekarno.
Seandainya waktu itu Pimpinan PRRI/Permesta yang di dalamnya ada tokoh
Masyumi seperti Syafruddin Prawiranegara, Natsir bersama militer Angkatan
Darat Ahmad Husen, Dahlan Djambek dan lain-lain mau menerima tawaran Amerika
untuk memisahkan diri maka Sumatera bisa menjadi Vietnam kedua atau
Indonesia juga seperti semenanjung Korea yang terpecah menjadi Korea Selatan
dan Korea Utara. Karena pada waktu itu dunia seolah-olah terbagi dalam Blok
Timur di bawah Uni Sovyet dan Blok Barat di bawah kendali Amerika.
Dari catatan ini kita melihat bahwa tokoh PRRI yang didukung oleh Masyumi,
PSI dan beberapa Perwira Angkatan Darat pada hakikatnya bagi mereka NKRI
adalah tetap harga mati walaupun di era Orde Baru di bawah kepemimpinan
Soeharto mereka dianggap sebagai pemberontak. Kekhawatiran mereka waktu itu
bahwa Soekarno sudah mulai dikendalikan oleh PKI yang pada akhirnya dan ini
menurut para tokoh Masyumi akan membahayakan bangsa Indonesia yang
berdasarkan Pancasila tidak diakui oleh Soekarno akan tetapi pada akhir 1965
dengan peristiwa pemberotakan G30S/PKI itu kekhawatiran tersebut terbukti.
Epilog
Sebuah perpecahan di tingkat elit politik apalagi ditumpangi kepentingan
beberapa perwira militer walaupun tujuannya baik akan tetapi sebuah konflik
yang berakibat terjadinya peperangan antar bangsa sendiri atau perang
saudara dampaknya sangat mengerikan sama seperti perang yang lain terutama
kepada anak-anak. Bagi rakyat Sumatera Barat tempat terjadi perang antara
PRRI dengan Pemerintah Pusat dengan kekalahan pada tentara PRRI sangat
memilukan. Setelah kekalahan PRRI jabatan-jabatan pemeritahan banyak diisi
oleh orang-orang PKI yang secara sistematis menghancurkan moral dan harga
diri anak Minangkabau yang sangat kuat berpegang dengan adat yang
bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah (Islam).

Hal tersebut diakui oleh Prof Harun Zain Gubernur Sumatera Barat diawal Orde
Baru mengatakan bahwa yang harus dibenahi di daerah Sumatera Barat bukan
hanya sarana dan prasarana akan tetapi yang paling penting adalah harga diri
anak Minang yang sudah hancur. Buktinya bisa kita lihat dari beberapa
ungkapan miris dari masyarakat Minang yang berada di Jakarta. Contoh kecil
pendapat Bapak Sofyan Hasan tinggal di Tanah Abang yang memberikan nama
kepada 5 di antara 6 putrinya dengan awalan SRI, nama yang biasa bagi putri
suku Jawa dan nama Sunardi dan Sunarto kepada dua orang putranya, nama yang
tidak biasa bagi anak Minang waktu itu. Kenapa memberi nama tersebut kepada
putra putrinya dengan tenang beliau menjawab agar gampang mencari kerja
nanti.

Banyak masyarakat Minang yang merantau ke Pulau Jawa terutama Jakarta tidak
pede (percaya diri) lagi memberikan nama kepada putra putrinya yang pada
umumnya bernuansa Minang dan Islam. Tentu saja contoh kecil tersebut tidak
bisa mewakili (perlu penelitian lebih lanjut) akan tetapi demikianlah
kenyataan yang banyak penulis jumpai. Contoh lain seorang pengusaha waktu
mendaftakan perusahaannya ke Notaris tahun 70’an dengan nama PT Trias
Andalas dianjurkan oleh notarisnya agar tidak memakai kata Andalas yang
berarti Sumatera, akibatnya bisa-bisa tidak dapat order nantinya.

Akhirnya, sebegitu jauh akibat yang ditanggung oleh lapisan bawah (grass
root) dari peperangan dengan dalih apapun yang disebabkan perpecahan
pimpinan partai, termasuk partai Islam dan pemerintah yang perlu menjadi
catatan bagi Kevin Fogg, sedangkan sebagian para elit banyak yang hidup
dengan tenang karena mendapat kompensasi. *Wallahu a’lam bissawab.*

*) Dosen FAI-UMJ

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke