Untuk sanak Rinal yang lagi menulis tentang Pak Natsir 

Tulisan ini juga sebagai ikut andilnya saya di Buku Bunga Rampai PRRI yang
rencananya akan diterbitkan. Semoga ada manfaatnya juga untuk dunsanak
palanta RN. 

 

KETIKA PAPA BERCERITA (1)

By : Ritrina

 

Gang Kenanga

 

Barangkali para pembaca akan merasa jika Gang Kenanga berada di sebuah kota
yang memiliki banyak perumahan. Di setiap perumahan ada jalan kecil yang
sering disebut dengan Gang. Namun Gang Kenanga yang akan saya ceritakan
disini adalah sebuah tempat di dalam kerimbunan rimba raya yang terletak di
daerah Sumatera Barat tepatnya daerah pinggiran kota Bukittinggi arah ke
Lubuk Sikaping tepatnya daerah itu bernama Kumpulan.  Gang Kenanga adalah
sebuah dataran diatas tebing yang tak jauh dari tempat itu mengalir sungai
yang lumayan lebar dan berarus deras bernama Batang Masang.  Ditempat inilah
berdiri dua buah pondok besar tempat persembunyian DR. Muhammad Natsir atau
lebih dikenal dengan panggilan Pak Imam dikalangan anggota Partai Masyumi
yang bersembunyi mengamankan diri sekeluarga beserta shahabat-shahabatnya di
tahun 1960 silam.

 

Nama Kenanga diambil dari sebatang pohon yang ditemukan ketika membuka hutan
di dataran diatas tebing itu. Pohon tersebut berbunga dan berbau harum
seperti halnya Bunga Kenanga. Namun tidak begitu persis Kenanga. Ditengah
sebidang tanah diatas tebing itu dibuat dua buah pondok yang cukup besar
dimana salah satu tiangnya dipakaikan pohon berbunga yang mirip dengan Bunga
Kenanga tadi. Lingkar batang pohon itu sekitar dua jengkal kita bila
ditemukan membentuk lingkaran. Sehingga sangat cocok untuk dijadikan salah
satu tiang dari pondok persembunyian itu.

 

Salah seorang rombongan ini adalah Papa yang bertugas sebagai kurir dan
anggota pasukan Teritorial Bonjol Pasaman. Awalnya ketika meletus perang
PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Sebuah gerakan yang
terbentuk dari kritikan gabungan beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia
ini terhadap pemerintahan pusat yang dipimpin Presiden Soekarno. Gerakan
kritik ini berubah jadi perang saudara yang memakan banyak sekali korban
rakyat sipil. Perang pecah ketika gerakan kritik ini dihantam dengan
pengiriman dan penghancuran Sumatera Tengah oleh hampir semua kekuatan
militer yang dipunyai oleh Pemerintahan Soekarno kala itu. Darat, Laut dan
Udara semuanya memecah-belah bumi Sumatera ini terutama di Sumatera Tengah
bagian Darek (istlah untuk daerah Kabupaten 50 Kota, Bukittinggi, Agam dan
sekitarnya). Papa waktu itu adalah seorang pelajar SMA B kelas 3 di Birugo
Bukittinggi kota, sehingga ketika bergabung dengan Tentara Luar (sebutan
untuk tentara PRRI) disebut dengan TP (Tentara Pelajar). Tentara dadakan
yang dilatih untuk keperluan menghadapi hantaman tentara pusat (APRI=
Angkatan Perang Republik Indonesia). 

 

Untuk mencapai Gang Kenanga sangatlah sulit sebab selain jauh juga penuh
dengan resiko. Perjalanan dimulai dari sekitar daerah Aia Kijang dekat
daerah Kumpulan berjalan kaki kearah kiri rimba selama kurang lebih 2 jam.
Setelah itu menyeberang Batang Aia Masang yang lumayan lebar dan deras.
Berjalan lagi arah Tenggara terus ketemu Batang Air kecil dimudiki sekitar
setengah jam lalu berjalan lagi agak mendaki menembus rimba. Seperempat jam
kemudian ketemu batang air berdiameter 2 meter lalu dimudiki sekitar
seperempat jam ketemu tebing yang tidak terlalu terjal maka didataran diatas
tebing itulah gang Kenanga berada. 

 

Kurir

 

Tugas sebagai kurir yang diemban Papa diawal tahun 1961 dimana dipenghujung
masa pergolakan PRRI yang berakhir diakhir tahun 1961. Tugas yang cukup
menyita kejelian supaya jejak yang ditinggalkan bila memasuki dan
meninggalkan tempat persembunyian itu tidak sampai terlihat meninggalkan
bekas. Bila berjalan di darat harus diusahakan tidak menginjak sesuatu yang
meninggalkan jejak. Seperti jalur pinggiran batang air yang mana harus
menyusuri air sungai dengan kaki harus tetap berada di dalam air, tidak
boleh menyibakkan air ke batu atau berjalan diatas batu yang banyak terdapat
didalam sungai.

 

Layaknya tugas kurir, Papa sering diberi tugas mengantarkan surat ke
Bukittinggi kota untuk diteruskan ke alamat yang dituliskan oleh Pak Imam
(panggilan Buya M Natsir diantara pejuang dan shahabatnya). Sering kali
alamat surat itu ditujukan ke negeri Paman Sam dan Jakarta selain ke tujuan
lainnya. Pernah juga kembali membawa senjata dan amunisi. Selain itu Ummi
(sebutan untuk istri buya DR. Muhammad Natsir) juga menyuruh untuk membeli
keperluan mereka di Rimba itu dengan menjual emas yang dipakai oleh Ummi
bila persediaan mulai menyusut. Tidak jarang ada banyak sumbangan yang
diterima Pak Imam dari daerah-daerah di sekitaran sana seperti dari daerah
Kamang. Yang dipergunakan sepenuhnya untuk perjuangan mereka disaat itu. 

 

Makan bersama

 

Bila ada orang kampung yang ingin berjumpa dengan Pak Imam untuk suatu
keperluan, maka orang itu dijamu layaknya seorang tamu. Walaupun dia hanya
seorang pesuruh dari kalangan orang kampung biasa, namun Pak Imam selalu
memperlakukan layaknya seperti saudara. Ummi dan seorang anak Pak Imam akan
sibuk mempersiapkan makanan untuk makan bersama-sama walaupun ala kadarnya.
Sebelum mereka makan bersama, belumlah boleh orang itu kembali pulang.
Tempat dudukpun diberikan disebelah duduknya Tokoh Besar itu. Ketika sedang
makanpun Pak Imam selalu mambasoi (menawarkan) supaya orang tersebut
menambahkan makanannya. Hal-hal sederhana seperti inilah yang membuat beliau
menjadi seorang Pimpinan yang tambah disegani , dicintai dan dihormati.

 

Pesta Kambing hutan

 

Seorang kawan Papa yang lihai menembak berhasil menembak seekor kambing
hutan yang lumayan gemuk. Kambing tersebut dimasak oleh Ummi dan anak
beliau, kalau tidak salah ingat namanya Lies kata Papa sambil berusaha
mengingat-ingat. Kambing yang digulai dan dipanggang itu dimakan
bersama-sama penuh kegembiaraan di tengah rimba itu. Mereka lupa sesaat akan
keberadaan mereka di tengah rimba itu untuk berjuang. Saking terkenangnya
masa makan besar tersebut, tidak sadar Papa sering sekali mengulang-ulang
cerita itu bila sudah terkenang masa-masa pergolakan dan masa hidup bersama
Pak Imam yang diidolakannya.  

 

Papa juga berkata, bila seseorang yang sudah bersama Pak Imam sama-sama
makan daun di rimba dulu tapi tingkah polahnya tidak sedikitpun menauladani
Pak Imam yang sederhana dan sholeh itu, sungguh dia adalah seorang yang
sangat sombong dan angkuh. Tidak pantas disebut sebagai pejuang. Sepertinya
Papa sambil berkata demikian ada yang mengganjal di hatinya, namun
sepertinya beliau tidak ingin menceritakannya.

 

Menyerah

 

Ketika keputusan telah disepakati untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi,
maka para pejuang PRRI secara berangsur-angsur kembali memasuki kota sebab
sebelumnya mereka melancarkan serangan gerilya dengan basis dari rimba ke
rimba. Menurut Papa waktunya sekitar bulan September tahun 1961. 

 

Penyerahan diri itu penuh dengan tanda tanya. PRRI yang kemudian
menggabungkan diri dengan RPI (Republik Persatuan Indonesia) mendapat banyak
dukungan terutama dari beberapa daerah pulau lain di negara ini. Sehingga
serangan tentara pusat (APRI) semakin gencar. Ditengah pergolakan itu banyak
tentara yang mulanya mendukung PRRI melemah dan menyerah bersama senjatanya.
Hal ini semakin buruk ketika Ketua Dewan Perjuangan PRRI Kolonel Ahmad
Husein menyerah tanpa berkompromi dengan para pimpinan sipil. 

 

Padahal di masa awal pembentukan gerakan kritik ini telah disarankan bentuk
gerakan ini berbentuk gerakan moral saja layaknya oposisi, namun pihak
Militer yang diwakili  oleh Kolonel Ahmad Husein telah duluan mengoarkan di
RRI dan berpidato di berbagai kota di Sumatera untuk bersikukuh melawan
kediktatoran Pusat dengan memberikan ultimatum untuk tidak setia ke
pemerintahan pusat bila kehendak mereka tidak dikabulkan. Pusat dengan
kekuatan penuh mejawab ultimatum itu dengan penyerangan besar-besaran ke
seluruh Sumatera. Sehingga sangat banyak korban yang jatuh di pihak sipil. 

 

Penyerahan ini diikuti oleh Kolonel Simbolon, Lubis dan Kawilarang.
Sedangkan Kol. Dahlan Djambek tidak mau menyerah. Akan tetapi seluruh
pasukannya disuruh menyerah. Akhirnya 17 Agustus 1961 Persiden Soekarno
memberikan amnesty kepada seluruh yang terkait dengan PRRI/Permesta. Maka
diputuskan semuanya untuk menyerah termasuk rombongan terakhir dari Rimbo
Masang ini.

 

Pak Imam sewaktu itu berjalan keluar dari persembunyian beliau kearah
Palembayan tepatnya kampung Tantaman lalu masuk ke Bukittinggi dimana ketika
di kampung itu telah dinanti oleh tentara Soekarno. Sedangkan Papa beserta
seorang kawan beliau yang lainnya pergi ke arah Lubuk Sikaping untuk melapor
penyerahan diri. Ummi yang tidak kuat untuk berjalan digendong oleh seorang
kawan Papa bernama Chan orang Gadut Tilatang Kamang Bukittinggi keluar rimba
bersama rombongan Pak Imam. 

 

 

Berkirim Surat

 

Setelah keadaan aman kembali, Papa melanjutkan sekolahnya dan akhirnya
bekerja sebagai seorang perawat di rumah sakit. Beberapa tahun setelah
menyerahnya PRRI itu Papa tetap mengingat Pak Imam sebagai pimpinannya.
Berkirim surat adalah salah satu yang sering dilakukan Papa dengan Pak Imam.
Salah satu surat yang diingat Papa sebagai balasan surat Papa yang
mengabarkan keadaannya, Pak Imam menyuruh Papa untuk membaca semua
literature yang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai perawat. Hanya saja
surat-surat tersebut saking ingin disimpan sampai Papa lupa menyimpannya
dimana. Yah..namanya juga orang tua J.

 

Bertemu Kembali 

 

Pertengahan 1968 Pak Imam pulang ke Padang untuk pertama kalinya. Disambut
dan dinanti oleh banyak orang yang bersimpati dengan Pak Imam setelah
bertahun-tahun berada di Jakarta dan terlepas dari Orde Lama. Sewaktu
pesawat yang membawa Pak Imam mendarat di Lapangan Terbang Tabing, Pak Imam
sudah terlihat lebih tua di mata Papa. Barangkali beratnya kehidupan di
penjara selama masa Orde Lama yang harus beliau jalani. Dimana ternyata
Amnesti yang diberikan Soekarno itu hanya isapan jempol belaka. Bersama para
shahabat dan bahkan anggota Partai Masyumi dan partai lainnya yang tidak
setuju dengan kedikatoran Soekarno juga dipenjarakan. Termasuk Buya Prof.
DR. Hamka. Di dalam penjarapun mereka disuruh mengakui yang tidak pernah
dilakukan ata siksaan berat menanti. 

 

Ummi yang terlihat lebih bugar mengiringi disamping beliau. Papa yang sangat
berharap bertemu dengan mereka telah menanti di dekat pintu kedatangan.
Hanya ingin sekedar melihat Pimpinannya yang diseganinya dulu. Saat itu Pak
Imam sudah tidak terlalu mengingat wajah Papa, hanya Ummi yang mengenali dan
menyapa Papa dengan ramah. Si Djas.begitu Ummi menyapa Papa ketika
bersalaman dengan para penyambut. Pertemuan yang mengharukan hati para
penyambut Pak Imam dan Ummi setelah sekian tahun berpisah. Penyambutan yang
sangat luar biasa setelah Orde Lama berkuasa.

 

Para Pejuang Senja

 

Walaupun Pak Imam adalah sosok yang dianggap sebagai tokoh pemberontak di
Negara ini oleh banyak orang, namun bagi seorang seperti Papa adalah tokoh
yang pantas untuk ditiru dan ditauladani. Pernyataan yang sama yang saya
temui dari seseorang yang juga dekat dengan Pak Imam ini. Dimana dahulunya
beliau juga sama-sama berjuang membantu PRRI di bagian penerangan dengan
menjadi penyiar radio PRRI dan juru tulis Pak Imam mulai dari masa awal
pergolakan PRRI tahun 1958 sampai dengan 1961. Nasib membawa pejuang satu
ini ke Negeri yang sangat jauh dari kampungnya yaitu ke Santa Cruz
California di tahun 1966. Di sebuah milis besar Urang Awak (Orang Minang)
yaitu Rantaunet, beliau biasa disapa dengan sapaan Mak Ngah atau Nyiak
Sunguik.

 

Sewaktu di masa pergolakan antara 1958-1961 Mak Ngah dan Papa tidaklah
saling kenal-mengenal. Perkenalan mereka diawali dengan bergabungnya saya
(putri Papa yang paling kecil) ke sebuah Milis Minang terbesar yaitu Milis
Rantaunet. Di milis ini seluruh persoalan dan pembahasan yang berkaitan
dengan keminangan dan hal-hal yang berguna untuk Si Minang kerap
dibicarakan. Entah itu guyonan Minang penghela nafas berat di tengah
kesibukan dalam bekerja bagi pembacanya, Kuliner MInang yang sungguh luar
biasa yang terkenal ke seluruh dunia, persoalan-persoalan kekinian yang
butuh keseriusan bagi pemuka-pemuka organisasi Minang dimanapun, dan hal
apapun yang diluar keminangan akan tetapi bermanfaat bagi masayarakat Minang
baik di ranah ataupun di Rantauan. 

Tidak ketinggalan kajian-kajian adat, sejarah dan syarak yang harus melekat
di diri si Minang supaya jelas bagaimana harus melangkah dan bersikap. Milis
yang sangat beragam personilnya ini mampu menyuguhkan bacaan yang kaya akan
pengetahuan dan bermanfaat bagi seseorang di perantauan. Kebetulan
sayasangat menyukai hal-hal yang berkaitan dengan kuliner, guyonan dan
sejarah terutama sejarah pergolakan yang memberi dampak besar bagi rakyat
Minangkabau pasca PRRI. Sungguh hebat ternyata Rantaunet diikuti oleh
beberapa tetua yang ikut langsung merasakan masa pergolakan yang penuh
dengan trauma sekaligus kebanggaan. Kebanggaan dimana berkuah darah dan
airmata menyelamatkan kampung dari amukan tentara yang pada dasarnya harus
menyelamatkan rakyat tapi karena kediktatoran pimpinanannya harus taat untuk
menghancurkan saudara sendiri. Sungguh memiriskan hati memang Kawan. 

 

Seorang tetua yang paling kukagumi adalah Mak Ngah, dimana Mak Ngah tidak
pernah ikut bakaruak arang (bertengkar) tentang sesuatu pembahasan di Milis.
Dimana hal ini kerap terjadi sebab kalian tahukan Kawan. Kepala sama hitam
bukan?, tetapi isinya toh kan beda-beda. Mak Ngah sangat tertarik ingin
mengenal lebih jauh keluargaku terutama Papa ketika di suatu pembahasan
mengenai cerita-cerita beliau tentang pengembaraan di sepanjang rimba
Sumatera yang harus dilakoni selama pergolakan kukomentari dengan menyatakan
Papaku dahulu juga dekat dengan seorang tokoh pergolakan yaitu Pak Imam.
Keingintahuan Mak Ngah sejak awal 2009 silam akhirnya berbuah dengan
pertemuan mereka saat ini. Sungguh dunia ini kecil sekali Kawan.

 

Di penghujung tahun 2010 tepatnya tanggal 19 Desember 2010 disebuah sore
yang teduh di Kota Bukittinggi Sumbar. Papa dan Mak Ngah ketemu setelah
beberapa kali berteleponan berkat jasa internet yang membuat bumi tidak
berjarak. Milis Rantaunet yang dibidani beliau juga berperan sangat besar
bertemunya dua abdi Pak Imam yang sama-sama mengagumi tokoh besar itu. 

 

Seorang tetangga yang ditemui oleh Mak Ngah, kebetulan melihat Mama yang
sedang berjalan menuju warung di dekat rumah kami di Bukittinggi. Mak Ngah
minta ditunjuki tempat kediaman kami. Si tetangga langsung memanggil Mama. 

"Bapak ini mau ketemu Papa Ma!" 

'Oh..Bapak yang berteleponan dengan Papa, yang dari Biaro? " tanya Mama
kurang yakin. 

"Iyo ambo (Iya saya)..!! Jawab Mak Ngah lega.

Beliau langsung diajak ke rumah oleh Mama untuk ketemu Papa. Sambil berjalan
orang tua yang tidak lain adalah Mak Ngah itu bercerita, kalo dia bisa
sampai ke daerah itu dengan berjalan kaki. Bayangkan Kawan, daerah pasar
Bukittinggi yang penuh jenjang pasar yang tinggi dan curam didaki dan
dituruni oleh Mak Ngah yang sudah memasuki umur 76 tahun.ck..ck..ck.ditambah
lagi dengan berjalan kaki beberapa kilo ke arah  Luak Anyia daerah Kantor
Walikota Bukittinggi. Sungguh seorang Kakek yang luar biasa.

 

Sesampai di rumah berlangsunglah pertemuan yang bersejarah itu, sayangnya
tidak ada yang merekam cerita dua orang ini supaya kita bisa dibagi
nostalgia mereka. Tapipun jika direkam barangkali mereka tidak bakalan mau,
sebab banyak hal yang akan mereka rahasiakan tentunya, khas Pejoeang. Dua
setengah  jam pertemuan itu segera berakhir sebab malam sudah mulai
melingkupi bumi Bukittinggi, akhirnya cerita  penuh nostalgia itupun harus
mereka akhiri. 

 

 

Andai saya juga bisa mendengar langsung cerita seru mereka dan tidak hanya
mendengar laporan melalui percakapan telepon, tentunya saya bisa menyajikan
tulisan ini lebih hidup dari apa yang sudah saya tuliskan ini.

 

 

Batam, 21 Desember 2010

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke