Bapak JB Yth. Ini tulisan hanifah dulu ttg amai rohana kudus. Berat jg
tantangan bapak JB. Hanifah ini orang yang sedang di lamun ombak.
Sayangnya para guru tinggalkan galanggang. Agak aneh siapa yg harus
memberikan pencerahan dan siapa yg mencegah. Siapa yg sekuler??? Wass.
Hanifah

On 12/19/10, Hanifah Damanhuri <[email protected]> wrote:
> Assalammualaikum Wr Wb bapak MM dan dunsanak sapalanta Ythy
>
> Waduh pak, mancabiak baju di dado .. kan aratino mambuek malu diri surang
> ??? Baa mangko ikom saran bapak ???
>
> Iko tulisan hanifah dulu tantang amai Rohana Kudus .. (maaf pakai bahaso
> Banuhampu )
>
> AMAI AWAK ROHANA KUDUS
>
>
>
> Bingik den katiko hari iko
>
> Diparingati oleh rakyat Indonesia
>
> Sabagai hari ibu kita Kartini
>
> Kan wakatu baliau lahia
>
> NKRI alun ado li
>
> Cukuiklah kebanggan kabaliau
>
> Dilakukan oleh dunsanak awak di Jawa dun
>
>
>
> Baa ndak ka bingik den
>
> Karano dakek kampuang den
>
> Ado amai Rohana Kudus
>
> Nan sausia jo Kartini
>
> Bakiprah saroman Kartni
>
> Bahkan labiah hebat dari Kartini
>
> Karano Kartni umuano singkek
>
> Samantaro amai Rohana gon umua no panjang
>
> Dan parjalanan dan pangalaman hiduikno no banyak
>
> Tapi indak banyak nan manyabuik namo amai dun
>
> Jan-jan rang kampuang den sen ndak tau doh
>
> Sia amai Rohana Kudus dun
>
>
>
> Oooiiii urang gadang Minangkabau
>
> Baano kalau awak gadangkan pulo amai awak gon
>
> Paringati pulo hari kalahiran baliau
>
> Minimal di Ranahminang sen menah
>
> Mantun nan takana di den kini
>
>
>
> Bengkulu, 21 April 2010
>
>
>
> Hanifah Damanhuri
>
> *Rohana Kudus* (lahir di Koto
> Gadang<http://id.wikipedia.org/wiki/Koto_Gadang>,
> Sumatera Barat <http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Barat>, 20
> Desember<http://id.wikipedia.org/wiki/20_Desember>
> 1884 <http://id.wikipedia.org/wiki/1884> – meninggal di
> Jakarta<http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta>,
> 17 Agustus <http://id.wikipedia.org/wiki/17_Agustus>
> 1972<http://id.wikipedia.org/wiki/1972>pada umur 87 tahun) adalah
> wartawan <http://id.wikipedia.org/wiki/Wartawan>
> Indonesia<http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia>.
> Ia lahir dari ayahnya yang bernama Rasjad Maharaja Soetan dan ibunya
> bernama
> Kiam. Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan
> Sjahrir<http://id.wikipedia.org/wiki/Soetan_Sjahrir>,
> Perdana Menteri <http://id.wikipedia.org/wiki/Perdana_Menteri>
> Indonesia<http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia>yang pertama dan juga
> *mak tuo* (bibi) dari penyair terkenal Chairil
> Anwar<http://id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar>.
> Ia pun adalah sepupu H. Agus Salim
> <http://id.wikipedia.org/wiki/Agus_Salim>.
> Rohana hidup di zaman yang sama dengan
> Kartini<http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini>,
> dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi.
> Ia adalah perdiri surat kabar perempuan pertama di
> Indonesia<http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia>
> .
>
> *Daftar isi*
>
> [sembunyikan]
>
>    - 1 Latar
> balakang<http://id.wikipedia.org/wiki/Rohana_Kudus#Latar_balakang>
>    - 2 Pendidikan dan
> wirausaha<http://id.wikipedia.org/wiki/Rohana_Kudus#Pendidikan_dan_wirausaha>
>    - 3 Pergerakan <http://id.wikipedia.org/wiki/Rohana_Kudus#Pergerakan>
>    - 4 Pranala luar
> <http://id.wikipedia.org/wiki/Rohana_Kudus#Pranala_luar>
>
>   *
> [sunting<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rohana_Kudus&action=edit&section=1>]
> Latar balakang*
>
> Rohana adalah seorang perempuan yang mempunyai komitmen yang kuat pada
> pendidikan terutama untuk kaum perempuan. Pada zamannya Rohana termasuk
> salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa diskriminasi
> terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah
> tindakan semena-semena dan harus dilawan. Dengan kecerdasan, keberanian,
> pengorbanan serta perjuangannya Rohana melawan ketidakadilan untuk
> perubahan
> nasib kaum perempuan.
>
> Walaupun Rohana tidak bisa mendapat pendidikan secara formal namun ia rajin
> belajar dengan ayahnya, seorang pegawai pemerintah
> Belanda<http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda>yang selalu membawakan
> Rohana bahan bacaan dari kantor. Keinginan dan
> semangat belajarnya yang tinggi membuat Rohana cepat menguasai materi yang
> diajarkan ayahnya. Dalam Umur yang masih sangat muda Rohana sudah bisa
> menulis dan membaca, dan berbahasa Belanda. Selain itu ia juga belajar
> abjad
> Arab <http://id.wikipedia.org/wiki/Arab>,
> Latin<http://id.wikipedia.org/wiki/Latin>,
> dan Arab-Melayu. Saat ayahnya ditugaskan ke Alahan
> Panjang<http://id.wikipedia.org/wiki/Alahan_Panjang>,
> Rohana bertetanga dengan pejabat Belanda atasan ayahnya. Dari istri pejabat
> Belanda itu Rohana belajar menyulam, menjahit, merenda, dan merajut yang
> merupakan keahlian perempuan Belanda. Disini ia juga banyak membaca majalah
> terbitan Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup, dan
> pendidikan di Eropa yang sangat digemari Rohana.
>
> *[sunting<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rohana_Kudus&action=edit&section=2>]
> Pendidikan dan wirausaha*
>
> Berbekal semangat dan pengetahuan yang dimilikinya setelah kembali ke
> kampung dan menikah pada usia 24 tahun dengan Abdul Kudus yang berprofesi
> sebagai notaris <http://id.wikipedia.org/wiki/Notaris>. Rohana mendirikan
> sekolah keterampilan khusus perempuan pada tanggal 11 Februari 1911 yang
> diberi nama Sekolah Kerajinan Amai Setia. Di sekolah ini diajarkan berbagai
> keterampilan untuk perempuan, keterampilan mengelola keuangan, tulis-baca,
> budi pekerti, pendidikan agama dan Bahasa Belanda. Banyak sekali rintangan
> yang dihadapi Rohana dalam mewujudkan cita-citanya. Jatuh bangun
> memperjuangkan nasib kaum perempuan penuh dengan benturan sosial menghadapi
> pemuka adat dan kebiasaan masyarakat Koto Gadang, bahkan fitnahan yang tak
> kunjung menderanya seiring dengan keinginannnya untuk memajukan kaum
> perempuan. Namun gejolak sosial yang dihadapinya justru membuatnya tegar
> dan
> semakin yakin dengan apa yang diperjuangkannya.
>
> Selain berkiprah di sekolahnya, Rohana juga menjalin kerjasama dengan
> pemerintah Belanda karena ia sering memesan peralatan dan kebutuhan
> jahit-menjahit untuk kepentingan sekolahnya. Disamping itu juga Rohana
> menjadi perantara untuk memasarkan hasil kerajinan muridnya ke Eropa yang
> memang memenuhi syarat ekspor. Ini menjadikan sekolah Rohana berbasis
> industri rumah tangga serta koperasi simpan pinjam dan jual beli yang
> anggotanya semua perempuan yang pertama di
> Minangkabau<http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Minangkabau>
> .
>
> Banyak petinggi Belanda yang kagum atas kemampuan dan kiprah Rohana. Selain
> menghasilkan berbagai kerajinan, Rohana juga menulis puisi dan artikel
> serta
> fasih berbahasa Belanda. Tutur katanya setara dengan orang yang
> berpendidikan tinggi, wawasannya juga luas. Kiprah Rohana menjadi topik
> pembicaraan di Belanda. Berita perjuangannya ditulis di surat kabar
> terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di
> Sumatera Barat.
>
> Keinginan untuk berbagi cerita tentang perjuangan memajukan pendidikan kaum
> perempuan di kampungnya ditunjang kebiasaannya menulis berujung dengan
> diterbitkannya surat kabar perempuan yang diberi nama Sunting
> Melayu<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sunting_Melayu&action=edit&redlink=1>pada
> tanggal 10 Juli 1912. Sunting Melayu merupakan surat kabar perempuan
> pertama di Indonesia yang pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya adalah
> perempuan.
>
> Kisah sukses Rohana di sekolah kerajinan Amai Setia tak berlangsung lama
> pada tanggal 22 Oktober 1916 seorang muridnya yang telah didiknya hingga
> pintar menjatuhkannya dari jabatan Direktris dan Peningmeester karena
> tuduhan penyelewengan penggunaan keuangan. Rohana harus menghadapi beberapa
> kali persidangan yang diadakan di Bukittinggi didampingi suaminya, seorang
> yang mengerti hukum dan dukungan seluruh keluarga. Setelah beberapa kali
> persidangan tuduhan pada Rohana tidak terbukti, jabatan di sekolah Amai
> Setia kembali diserahkan padanya, namun dengan halus ditolaknya karena dia
> berniat pindah ke Bukittinggi <http://id.wikipedia.org/wiki/Bukittinggi>.
>
> Di Bukittinggi Rohana mendirikan sekolah dengan nama “Rohana School”.
> Rohana
> mengelola sekolahnya sendiri tanpa minta bantuan siapa pun untuk
> menghindari
> permasalahan yang tak diinginkan terulang kembali. Rohana School sangat
> terkenal muritnya banyak, tidak hanya dari Bukittinggi tapi juga dari
> daerah
> lain. Hal ini disebabkan Rohana sudah cukup populer dengan hasil karyanya
> yang bermutu dan juga jabatannya sebagai Pemimpin Redaksi Sunting Melayu
> membuat eksistensinya tidak diragukan.
>
> Tak puas dengan ilmunya, di Bukittinggi Rohana memperkaya keterampilannya
> dengan belajar membordir pada orang Cina dengan menggunakan mesin jahit
> Singer. Karena jiwa bisnisnya juga kuat, selain belajar membordir Rohana
> juga menjadi agen mesin jahit untuk murid-murid di sekolahnya sendiri.
> Rohana adalah perempuan pertama di Bukittinggi yang menjadi agen mesin
> jahit<http://id.wikipedia.org/wiki/Mesin_jahit>Singer yang sebelumnya
> hanya dikuasai orang Tionghoa.
>
> Dengan kepandaian dan kepopulerannya Rohana mendapat tawaran mengajar di
> sekolah Dharma Putra. Di sekolah ini muridnya tidak hanya perempuan tapi
> ada
> juga laki-laki. Rohana diberi kepercayaan mengisi pelajaran keterampilan
> menyulam dan merenda. Semua guru di sini adalah lulusan sekolah guru
> kecuali
> Rohana yang tidak pernah menempuh pendidikan formal. Namun Rohana tidak
> hanya pintar mengajar menjahit dan menyulam melainkan juga mengajar mata
> pelajaran agama, budi pekerti, Bahasa Belanda, politik, sastra, dan teknik
> menulis jurnalistik.
>
> Rohana menghabiskan waktu sepanjang hidupnya dengan belajar dan mengajar.
> Mengubah paradigma dan pandangan masyarakat Koto Gadang terhadap pendidikan
> untuk kaum perempuan yang menuding perempuan tidak perlu menandingi
> laki-laki dengan bersekolah segala. Namun dengan bijak Rohana menjelaskan
> “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki.
> Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang
> harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan
> yang
> lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi
> pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan
> mempunyai ilmu pengetahuan”.
> Emansipasi<http://id.wikipedia.org/wiki/Emansipasi>yang ditawarkan dan
> dilakukan Rohana tidak menuntut persamaan hak perempuan
> dengan laki-laki namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu
> sendiri secara kodratnya. Untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati
> sebagaimana mestinya juga butuh ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk
> itulah diperlukannya pendidikan untuk perempuan.
>
> *[sunting<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rohana_Kudus&action=edit&section=3>]
> Pergerakan*
>
> Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi,
> Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang
> membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori berdirinya
> dapur
> umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan
> ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukittinggi
> melalui Ngarai Sianok <http://id.wikipedia.org/wiki/Ngarai_Sianok> dengan
> cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa
> ke
> Payakumbuh <http://id.wikipedia.org/wiki/Payakumbuh> dengan kereta
> api<http://id.wikipedia.org/wiki/Kereta_api>
> .
>
> Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika
> merantau
> ke Lubuk Pakam <http://id.wikipedia.org/wiki/Lubuk_Pakam> dan
> Medan<http://id.wikipedia.org/wiki/Medan>.
> Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar *Perempuan Bergerak*. Kembali
> ke Padang <http://id.wikipedia.org/wiki/Padang>, ia menjadi redaktur surat
> kabar *Radio* yang diterbitkan Tionghoa-Melayu di Padang dan surat
> kabar *Cahaya
> Sumatera*. Perempuan yang wafat pada 17 Agustus 1972 itu mengabdikan
> dirinya
> kepada bangsa dan negara, serta menjadi kebanggaan bagi kaum hawa yang
> diperjuangkannya.
>
> Demikianlah Rohana Kudus menghabiskan 88 tahun umurnya dengan beragam
> kegiatan yang berorientasi pada pendidikan, jurnalistik, bisnis dan bahkan
> politik. Kalau dicermati begitu banyak kiprah yang telah diusung Rohana.
> Selama hidupnya ia menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia
> (1974), pada Hari Pers
> Nasional<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hari_Pers_Nasional&action=edit&redlink=1>ke-3,
> 9
> Februari <http://id.wikipedia.org/wiki/Februari> 1987,
> Menteri<http://id.wikipedia.org/wiki/Menteri>Penerangan
> Harmoko <http://id.wikipedia.org/wiki/Harmoko> menganugerahinya sebagai
> Perintis Pers <http://id.wikipedia.org/wiki/Pers> Indonesia. Dan pada tahun
> 2008 pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa
> Utama<http://id.wikipedia.org/wiki/Bintang_Jasa_Utama>
> .
>
> --
>
>
> Pada 17 Desember 2010 22.26, muchwardi muchtar
> <[email protected]>menulis:
>
>> RANUNGAN AKHIE PAKAN UNTUAK 'SI PADANG' NAN TAPANGGIA  :
>>
>> Dinda Riri, dan Bundo Kami, JoDut, MakNgah, Pakguru Lambau, Da Saaf, Pak
>> MN, Ajo Suryadi...,  basarato Sanak komunitas r@ntau-net nan tacintoi nan
>> indak basabuik namo.
>> Izinkanlah si m.m nan di milis awak ko alah dicap dek babarapo urang "si
>> pamburansang nan mantiko bungo" (He he he......) untuak sato sakaki
>> mampajaleh topik soal H. Rangkayo Rasuna Said ko.
>>
>> 1)Soal panjang jalan nan mamakai namo pahlawan nasional asa Maninjau tu,
>> iyo indak "panjang-panjang amat", ambo liek via odometer mugarik tadi
>> hanyo
>> sakitar 1800 meter (jadi indak sampai duo kilo meter bagai doh).
>>
>> 2)Kalau Riri nan Akunting mangatokan panah bakarajo (samaso di BPKP) di
>> ujuang kawasan ko, mako ambo kutiko masih bakantua di subarang salatan
>> Monas
>> tempo hari, satiok pagi barangkek ka kantua (06.00-06.30) pasti lewaik
>> jalan
>> ko dan sore harinyo (17.00-17.30) pulangnyo lewaik jalan ko juo. Jadi
>> ambo
>> paralu koreksi saketek data (lua kapalo?) nan Riri barikan. Satahu ambo
>> jalan nan banamo Jl. H. R. Rasuna Said tu dimulai dari 'mudiak' simpang
>> ampek (perempatan) Jl. Gatot Subroto sampai ka 'hilie' perempatan Jl.
>> Diponegoro. Sahabih jalan Rasuna Said namo jalannyo adolah Jl. H. Oemar
>> Said
>> Tjokro Aminoto. Ambo indak baitu paham, a nan Riri mukasuik jo jalan
>> Padang
>> Baru tu.
>>
>> 3)Di Jakarta ko kalau awak manyabuik namo-namo jalan nan arek hubungannyo
>> jo namo kota-kota di Minangkabau, awak tantu paralu raun agak sabanta ka
>> daerah Pasa Minangkabau di Kelurahan Setiabudi, Jakarta Selatan. Di
>> sekitar
>> Pasa Minangkabau (nan kini hanyo tingga namo) nan basabalahan jo Pasa
>> Rumpuik (tampaik ambo panah tingga 1972-1979) memang ado jalan-jalan nan
>> banamo Jl. Padang; Jl. Bukiktinggi; Jl. Padangpanjang; Jl.Sawahlunto; Jl.
>> Pariaman. Jadi, kalau Jl.Padang Baru disabuik Riri ado di daerah
>> Kuniangan,
>> ambo kurang manangkok. Maafkan si m.m nan mungkin alah mulai palupo pulo?
>>
>> 4)Kalau kito sigi, baa mako Pemda DKI Jaya namuah bana mambari jalan
>> elite
>> di ibokota nan harago tanahnyo (daerah segitiga emas)  per meter tamaha
>> di
>> Indonesia, tantu indak lapeh dari "salero & kebijaksanaan" nan manjadi
>> urang
>> kuiak di ibukota Jakarta kutiko tu.
>>
>> Kalau sajo salah satu gubernur terbaik di Republik Indonesia ukatu tu,
>> Letjen (Purn) Ali Sadikin indak dikitari "Si Padang" kasado alahe kutiko
>> mamintak masukan dalam malangkah ka muko, ambo yakin indak ka ado bagai
>> doh
>> "urang pusek" ka takana ka Pahlawan Nasional nan diangkek tahun 1974 tu.
>> (Soalnyo namo-namo pahlawan nasional kutiko tu "sakaranjang buruak"
>> tasadio
>> di file Dinas Tata Kota DKI Jaya). Untuang kutiko tu, Ali Sadikin sangaik
>> dakek jo urang awak nan cadiak-cadiak di suok kidanyo, mulai dari
>> Alamsuddin
>> (Walkot JakTim 1967-1972) nan jadi Staf Ahlinyo; Syamsuddin Mangan (Se-
>> level jo Sekwilda di zaman kini); sampai ka Sutan Bachtiar (Kapalo Dinas
>> Kapanduduakan DKI Jaya) adolah putra Minangkabau nan banyak kontribusinyo
>> sabagai "penyeimbang" ketika ibukota Jakarta berangkek menuju kota
>> Metropolitan nan kini alah manjadi kota Megapolitan.
>>
>> 5)Kalau di parantauan Jawa, mukasuik ambo ibukota Jakarta, "urang lain"
>> baitu mahoromaiki jaso dan kurenah "Si Padang" dalam sagalo bantuaknyo,
>> sahinggo sampai-sampai DPRD DKI JAYA, sapakaik untuak mambari namo jalan
>> nan
>> ber-pretise di "pusat bisnis ibukota", baa pulo di nagari awak?
>>
>> Sajauah nan sanak katahui (kato Diak Miko & Nofent ado sakitar 742 urang
>> nan alah tadaftar di r@ntau-net) ko, adokoh Sanak mandanga di kota Padang
>> (Bukiktinggi, Pariaman, Solok, Padangpanjang; Batusangka, Solok;
>> Sijunjuang
>> dan...... Maninjau) jalan raya nan dibari namo Jl.H.R. Rasuna Said? Kalau
>> alun ado, apo koh kiro-kiro pamikiran Sanakmbo nan di r@ntau-net ko ateh
>> ironis nan tajadi nan salalu "awak pabiakan" bakambang biak di bumi
>> Minangkabau?
>>
>> 6)Malalui milis grup nan banamo r@ntau-net ko alah babarapo kali ambo
>> maimbau (mancikuih, mangetuk, maegang) para pemikir/ paruok/ pangkhayal/
>> pancimeeh nan mayoritasnyo urang Minangkabau untuak MAAMBIAK SARIPATI
>> RUOK
>> DEMI RUOK NAN TAJADI DI r@ntau-net KO. Ambo liek, banyak ide-ide
>> cemerlang
>> nan bakambang di palanta ko (demi pembangunan provinsi Minangkabau nan
>> berwawasan masa depan), sayangnyo INDAK PANAH ADO TINDAK LANJUIKNYO.
>> Kutiko
>> maruok (badebat adu pandai, adu literatur) ambo caliek indak ado doh nan
>> dapek dikatokan "urang dungu". Tapi, sahabih babusa maruok (kadang sampai
>> sapakan bagai mambahas ciek topik ceremene) kamudian hasil brain
>> stromingtu hilang indak babakeh.
>>
>> 7)Ambo indak baitu tahu, apo tujuan utamo diadokannyo web r@ntau-net ko
>> dek "seniors" kito tahun 2002 saisuak? Kalau hanyo sabagai tampek maruok
>> lapeh tanpa beban, tanpa goal nan bamanfaaik dari "Si Padang" di
>> parantauan buek kampuang halamannyo, ambo raso sabana disayangkan. Batua
>> juo
>> kecek samantaro "analis sok tahu", bahaso urang minang tu sulik untuak
>> diajak basatu, payah untuak diajak baiyo-iyo untuak kamajuan kampuang
>> halamannyo (Minangkabau). Kalau untuak "bagunjiang jo maruok" iyo nomor
>> wahid. Tapi.... kutiko diimplimentsikan kabantuak "karateh karajo"
>> sabagai
>> masukan  buek Pemda Sumbar di Minangkabau, "sorry la... yau" (pinjam
>> dielek Bety Bencong Slebor dalam sebuah filem nasional).
>>
>> 8)Batanyo ambo ka "forum pakar" di alam maya ko, samanjak ambo
>> didaftarkan
>> "adiakmbo" Dedy Yusmen di 2009 yll di r@ntau-net ko, ambo maliek ado
>> babarapo topik nan sabana santiang jiko "ado anak manusia r@ntau-net"
>> nan
>> mawujudkannyo manjadi KARATEH KARAJO RESMI r@ntau-net (atau GEBU
>> MINANG???????====>..mm) KA PEMDA SUMBAR, yaitu :
>>
>> a).Soal kakuih (WC umum) di saluruah tampek wisata di Bukiktinggi (nan
>> baun
>> malekaik mauik) apokoh alah dibari tahu Pemda Kodya Bukiktinggi SUPAYO
>> DIBUEK BARASIAH SARUPO JO WC DI SINGAPURA ATAU KUALALUMPUR?
>>
>> b).Rumah zina resmi nan dakek dari Kantua urang babaju hijau di Padang
>> (sarupo nan alah bakali-kali dibaritahukan Dinda A.Z) apokoh alah dibari
>> tahu ka MUI, Pemda Kodya Padang supayo ditutuik SACARO RESMI? Di ma
>> posisi
>> "tungku tigo sajarangan di Padang dalam soal ko?".
>>
>> c)Buku "Saratuih Tokoh Minangkabau" nan manggebu-gebu didiskusikan via
>> r@ntau-net ko, apokoh alah salasai ditabik-an?, ka sia ambo (si m.m) ko
>> bisa mamasan/mambali cash barang tigo eksemplaar untuak ambo hadiahi bake
>> surang jenderal, surang anggota DPR dan surang Dubes (urang jawa
>> kasadonyo)
>> nan salamo ko banyak parhatian ka daerah Minangkabau awak??
>>
>> Antahlah.............., antahlah......antahlah Sanak. Latiah rasonyo awak
>> satiok saaik hanyo mangantang-ngantang asok sajo di r@ntau-net ko. Atau
>> memang mantun ciri-ciri urang minangkabau era milenium
>> ko?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????!!!!
>>
>> Salam dari laptop ambo...................,
>>
>> mm***
>> Lk-2; >50th; Bks
>> Suku : Koto Dt. Tumangguang
>> Gala : Sutan Rangkayo Kaciek
>> ------------------------------
>> *From:* Riri Mairizal Chaidir <[email protected]>
>> *To:* Milis RantauNet <[email protected]>
>> *Sent:* Fri, December 17, 2010 2:16:56 PM
>> *Subject:* Re: [R@ntau-Net] Rangkayo Rasuna Said
>>
>> Bundo,
>>
>> Kalau ndak salah, 2X ambo pernah "mempertanyakan" (bukan batanyo), ba a
>> kok
>> di awak HR. Rasuna Said ndak tadanga.
>>
>> Labiah dulu Jakarta mengabadikan nama beliau sebagai nama jalan besar
>> (tidak tanggung2, sejajar Jl. Sudirman dan salah satu sisi segitiga
>> emas).
>>
>> Kalau di awak malah belakangan. Setahu ambi (CMIIW) namo Jalan Rasuna
>> Said
>> itu merupakan "potongan" dari Jl. Sudirman. Mulainyo dari no 69, itu
>> Kantua
>> BPKP, tampek ambo bakarajo tahun 85-87.
>>
>> Jl. Rasuna Said ko pendek, cuma sampai simpang Padang Baru (? Lupo ambo).
>>
>> Riri
>> Powered by Iuran Bulanan
>>
>> -----Original Message-----
>> From: Nismah Rumzy <[email protected]>
>> Sender: [email protected]
>> Date: Thu, 16 Dec 2010 23:02:33
>> To: <[email protected]>
>> Reply-To: [email protected]
>> Subject: [R@ntau-Net] Rangkayo Rasuna Said
>>
>> Assalamu Alaikum W. W.
>> Taringek dek bundo mak bundo pernah bacarito tetangan RASUNA SAID waktu
>> disebuah kongres Muhammadiah/Aisyiah di Padang Panjang (disekitar tahun
>> 1930).Tampil di podium seorang singa podium perempuan yang berpantun.
>>
>> Baparak kaparak urang
>> Indak buliah batanam dama
>> Pagaran dirunduakkannyo
>>
>> Bamamak kamamk urang
>> Indak buliah kato nan bana
>> Nan bukan ditujuakkannyo.
>>
>> Setelah habis kaliamt tersebut dia di stop berbicara dan dibelenggu
>> dibawa
>> keluar ruangan. Sekarang namanya tak terdengar lagi. Kenapa ya?
>> Kemungkinan waktu PRRI dia tak ikut tapi diperalat pemerintah Pusat untuk
>> memadamkan PRRI. Namanya menjadi jalan protolol terkenal. Dan kita di RN
>> ini tak pernah mengenangnya sama sekali.
>>
>> Hayatun Nismah Rumzy
>>
>>
>> Notes:
>> Dari Wikipedia
>> HR Rasuna Said (1910-1965)
>>
>>
>> Orator, Srikandi Kemerdekaan
>>
>> HR Rasuna Said (Hajjah Rangkayo Rasuna Said) seorang orator, pejuang
>> (srikandi) kemerdekaan Indonesia. Pahlawan nasional Indonesia ini lahir
>> di
>> Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 15 September 1910 dan wafat di Jakarta, 2
>> November 1965 dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Seorang puteri terbaik
>> bangsa yang tak hanya sekadar memperjuangkan adanya persamaan hak antara
>> pria dan wanita.
>>
>> HR Rasuna Said diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan
>> Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974. Selain itu,
>> sebagai penghormatan atas perjuangannya, namanya diabadikan sebagai salah
>> satu nama jalan protokol di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, termasuk
>> bagian segi tiga emas Jakarta.
>>
>> Dia pejuang yang berpandangan luas dan berkemauan keras. Sejak muda
>> berjuang melalui Sarekat Rakyat sebagai Sekretaris Cabang. Kemudian aktif
>> sebagai anggota Persatuan Muslim Indonesia (PERMI). Dia seorang orator
>> yang
>> sering kali mengecam tajam kekejaman dan ketidakadilan pemerintah
>> Belanda.
>> Dia tak gentar kendati akibatnya harus ditangkap ditangkap dan dipenjara
>> pada tahun 1932 di Semarang.
>>
>> Ketika pendudukan Jepang, Hajjah Rangkayo Rasuna Said ikut serta sebagai
>> pendiri organisasi pemuda Nippon Raya di Padang. Organisasi ini pun
>> kemudian
>> dibubarkan oleh Pemerintah Jepang.
>>
>> Setelah Proklamasi Kemerdekaan dia aktif sebagai anggota Dewan Perwakilan
>> Sumatera mewakili daerah Sumatera Barat. Kemudian terpilih sebagai
>> anggota
>> Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS). Tahun 1959,
>> kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung sampai akhir hayatnya
>> 1965. Dia meninggalkan seorang putri Auda Zaschkya Duski dan 6 cucu:
>> Kurnia
>> Tiara Agusta, Anugerah Mutia Rusda, Moh. Ibrahim, Moh. Yusuf, Rommel
>> Abdillah dan Natasha Quratul'Ain. ► ti/mlp
>>
>>
>>
>> *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh
>> Indonesia)<http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe>
>> .
>>
>>  --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain
>> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/~<http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E>
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>> - DILARANG:
>> 1. E-mail besar dari 200KB;
>> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. One Liner.
>> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
>> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke