Assalammualaikum wr wb

Angku, mamak, bundo jo adi dunsanak sapalanta RN nan ambo muliakan,

Ini lagu lama yang terus di putar ulang. Biasanya apabila terjadi kelangkaan 
pupuk di daerah, beberapa kenalan manelpon ambo mananyokan apokah punyo kawan 
nan manjua pupuk di Padang. Tantu sajo ambo jawek indak ado. Untunglah di 
beberapa nagari di Sumbar sudah melakukan pengandangan bersama taranak jawi 
sahinggo di sebagian kecil nagari-nagari pupuk kandang lebih banyak digunakan 
dari pada pupuk an organik yang diproduksi oleh industri skala besar ini.

Untuk kab. 50 Koto, kebutuhan pupuk bisa diambil dari limbah peternakan ayam 
potong & ayam petelur. Penggunaan pupuk an organik (terutama untuk pupuk buah 
pada tanaman hotikultura) hanya perlu dilakukan dengan pemupukan cair dengan 
cara penyemprotan menggunakan handsprayer. 

Tentunya kelangkaan pupuk ini menjadi bahan berita oleh media cetak & 
elektronik 
di Sumbar. Sayangnya para wartawan kita ini kelihatannya agak setengah hati 
membela kepentingan masyarakat di nagari-nagari ranah minang. Sebab, apabila 
media cetak & elektonik mau melewakan daftar distributor pupuk di setiap 
Kabupaten/Kota, tantunyo akan membuat efek jera bagi pelaku spekulasi komoditi 
pupuk di Sumatera Barat.

Mudah-mudahan ada perbaikan dimasa yang akan datang, amin ya Rabbal alamin

wasalam 

AZ/lk/33th
Padang

http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1343:pupuk-bersubsidi-menghilang-di-solok&catid=10:rubrik-daerah&Itemid=75


PUPUK BERSUBSIDI MENGHILANG DI SOLOK    
Selasa, 08 Februari 2011 01:42 
SOLOK, HALUAN– pupuk bersubsidi kembali “baulah” di Kabupaten Solok. Selain 
harganya yang melonjak mahal, pupuk itu sulit didapatkan di pengecer. Hal ini 
tentu saja membuat para petani “tapa­kiak” dan resah, apalagi petani saat ini 
memerlukan pupuk untuk tanaman padi.
Informasi yang dikum­pulkan Haluan menyebutkan, pupuk bersubsidi mulai 
meng­hilang di Kabupaten Solok sejak Desember 2010 lalu. “Kalaupun ada pengecer 
yang menjual satu atau dua karung, harganya sangat mencekik, berkisar antara 
Rp125.000 hingga Rp150.000 per karung. Sedang Harga Eceran Tertinggi (HET) 
hanya 
Rp 95 ribu per karung, kata Zainal, seorang petani di Cupak dan Yemrizal, 
seorang petani di Talang, Kecamatan Gunung Talang, Sabtu (5/1).
Menurut Zainal yang me­mer­lukan pupuk melebihi satu ton per musim tanam, untuk 
mendapatkan pupuk, petani harus jeli mencari dan berani membeli dengan harga 
mahal, kalau tidak maka kita harus rela padi tidak di pupuk.
Zainal mengakui, ia men­dapatkan pupuk sekarang ini dengan melakukan kerja 
keras 
mengumpulkan satu atau dua karung kepada pengecer di kota Padang. Meskipun 
harganya mahal terpaksa juga dibeli karena terdesak dengan umur padi yang perlu 
pemupukan.
Khusus untuk Nagari Cu­pak lanjut Zainal, jumlah pe­ngecer sudah ditambah dari 
2 
orang menjadi 5 orang, tapi setiap pengecer kita datangi, selalu pupuk tidak 
tersedia. “Buat apa jumlah pengecer ditambah, kalau pupuk yang akan dijual saja 
tidak ada” kata Zainal kesal.
Dua anggota DPRD Kabu­paten, Patris Chan,SH dari PPP dan Ahmad Rius dari PAN 
yang ditemui Haluan di Aro­suka mengakui sudah men­dengar keluhan para petani 
terkait masalah pupuk bersub­sidi tersebut.
Kedua politisi muda ini menyatakan kesal dan jengkel dengan tingkah laku para 
pengecer dan distributor pupuk bersubsidi saat ini. Mereka menilai bahwa 
distributor dan pengecer tidak punya hati nurani melihat derita yang dialami 
para petani saat ini.
Meskipun harga beras di pasaran saat ini cukup tinggi, tapi petani kita tidak 
meng­hasilkan padi yang maksimal lantaran kurang pupuk. Ditam­bah lagi dengan 
adanya sera­ngan hama tikus dan hama lainnya disana-sini. Bahkan akibat gagal 
panen, banyak petani kita yang ikut membeli beras mahal untuk kebutuhan 
keluarganya sehari-hari.
Patris Chan dan Ahmad Rius minta agar pemerintah pusat dan PT.Pusri dapat 
mengevaluasi kembali pendis­tribusian pupuk subsidi, karena pupuk merupakan 
kebutuhan pokok masyarakat petani.
Kalau distributornya dise­rah­kan kepada pedagang seperti yang terjadi saat 
ini, 
kita rasa persoalan pupuk ini akan terus menerus terjadi. Sebab yang na­manya 
pedagang sudah ba­rang tentu ingin mencari keuntungan yang sebesar-besarnya 
dengan menghalalkan segala cara.
Dalam waktu dekat, DPRD Kabupaten Solok akan me­manggil semua pihak yang 
terkait 
dengan peyaluran pu­puk bersubsidi, baik itu peme­rintah daerah, distributor, 
pengecer maupun PT. Pusri selaku produsen guna menca­rikan jalan keluar yang 
cukup baik dan tidak merugikan petani.
“Selagi pendistribusian dilakukan seorang pedagang, persoalan itu akan terus 
terjadi, karena yang namanya pedagang akan mencari keuntungan yang 
sebesar-besarnya meskipun harus melanggar keten­tuan,”kata Patris Chan dan 
Ahmad 
Rius.(h/sh)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke