Rang Lapau nan Basamo,

Kapada pada penderita longsor di Kampung Halaman, kita menyatakan simpati dan 
berdoa kepada Ilahi semoga penduduk dan daerah itu diselamatkan dan 
dilindungiNya

1. Sangat menjadi tanda tanya besar ada orang [oknum? tak tahu apa itu artinya] 
yang memain-mainkan jiwa manusia dengan pencabutan "Zona Merah" ini. Tindakan 
oknum itu perlu diusut. 

2. Sudah dua tahun sejak benfana semula, orang-orang mengungsi di shelter, 
namun janji-jandji dan usaha untuk translokasi kenapa masih terabai? Kalau 
transmigrasi diperintah oleh orang jauh dari sono, kita-kita di daerah ceoat 
malakukan, "Ya Tuan, Ya Tuan". Tetapi, tiba di perut sendiri, dikempiskan, 
sanak saudara yang memerlukan translokasi ini diabaikan. Kenapa mata 
terpicingkan?  ...

Kapankah mentalitas "Budaya Ya Tuan, Ya-Tuan" ini akan berakhir ?

Salam,
--Nyit Sungut
Sjamsir Sjarif
Di Tapi Riaka nan Badabua, April 30, 2011

Gemuruh Tiba, Warga Mengungsi
Sabtu, 30 April 2011 02:42

LONGSOR TANJUNG SANI

MANINJAU— Wajah-wajah sendu terlihat di Jorong Mu­ko Jalan, Nagari Tanjung 
Sani, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupa­ten Agam, Jumat (29/4), setelah bencana 
longsor yang terjadi Kamis (28/4) malam.
.................

Zona Merah

Jorong Muko Jalan berada di kawasan zona merah. Di zona itu sebenarnya tidak 
diperbolehkan menjadi kawasan pemukiman. Na­mun kenyataannya masih banyak warga 
yang bertahan menempati kawasan hunian berbahaya itu.

Bahkan ada oknum yang meng­a­tas­namakan warga di kawasan zona merah itu 
meminta Pemkab Agam mencabut status zona merah untuk kawasan berbahaya tersebut.

Beberapa warga, ketika ditemui Jumat (29/4), bahkan tidak menge­tahui kalau ada 
oknum yang meng­atasnamakan mereka, untuk meminta pemerintah mencabut status 
zona merah bagi kampung halaman mereka.

" Kalau kenyataannya memang sudah berbahaya untuk ditempati, mengapa pula harus 
meminta peme­rintah mencabut status zona merah? ujar salah seorang pemuka 
setempat, St. Sati. Yang termasuk zona merah adalah Jorong Pandan, 
Galapung,Batu Nanggai, dan Muko Jalan. Seluruh­nya dalam Nagari Tanjung Sani.

Transmigrasi

Warga menyayangkan lambannya proses pemindahan mereka ke lokasi transmigrasi. 
Bila terlalu lama tinggal di shelter, tidak sehat untuk keluarga dan ekonomi 
mereka. "Sebaiknya pemerintah memper­cepat proses pemindahan korban gempa ke 
lokasi transmigrasi, agar penderitaan korban gempa 2009 tidak semakin parah," 
ujar beberapa warga.

Menurut data yang diperoleh di BPBD Agam, kini tercatat 178 pengungsi korban 
bencana yang masih tinggal di shelter Sungai Batang. Mereka mulai jenuh tinggal 
di sana, makanya jumlahnya jauh menusut dari sebelumnya, yang mencapai jumlah 
sekitar 400 KK.

Karena itu, Wali Nagari Tanjung Sani Jefri Sutan Sari Alam minta Pemprov 
Sumbar, untuk memberi kepastian pada warganya yang berada di daerah rawan 
bencana atau zona merah. Kepastian itu menyangkut rencana pemindahan atau 
relokasi warga, dari daerah rawan bencana ke daerah yang lebih representatif. 
Relokasi tersebut dikemas dalam program transmigrasi lokal (translok) oleh 
Dinas Transmigasi dan Tenaga Kerja Sumbar.

Translok tersebut digagas sejak kejadian gempa 2009, dan sampai saat ini belum 
juga terealisasi. Sementara bencana longsor kerap terjadi di daerah tersebut. 
Bahkan tiap tahun selalu terjadi dan menim­bulkan kerugian pada masyarakat di 
sana.

"Janjinya sudah diucapkan sejak tahun 2009, sekarang tahun 2011, artinya sudah 
dua tahun. Bagi masyarakat kami adanya kepastian, apakah betul akan dipindahkan 
atau tidak," katanya via telepon, Jumat (29/4). "Jumlah kepala keluarga yang 
mau ikut, terakhir itu mencapai 609 orang. Kami berharap, pemerintah dapat 
memperhatikan warga lebih serius," katanya.

Sementara anggota Komisi III DPRD Sumbar Nofrizon menga­takan, bencana longsor 
sudah sering terjadi dan belum ada upaya anti­sipasi yang dilakukan. Kalaupun 
ada program translok, namun sampai saat ini tidak juga dilaksanakan. 
"Perta­nyaannya kenapa tidak juga dilak­sanakan, karena dinas terkait memang 
kurang serius," katanya.

Soal kesiapan warga pindah, katanya dari dulu warga sudah siap. Namun kesiapan 
itu tidak ditanggapi secara cepat. Ketika warga ditampung di shelter, mereka 
dibiarkan dan tidak terpenuhi secara ekonomi. Akibatnya mereka berbalik ke 
daerah atau ke rumahnya, walaupun berbahaya. "Masalah itu harus ditangani 
secara serius. Jika tidak, tetap saja masya­rakat yang rugi," tuturnya.

Seperti yang pernbah diberitakan, pihak Disnakertrans Sumbar tak mempunya cukup 
dana untuk mem­biayai translok bagi warga Tanjung Sani. (h/msm/rud/ks)

http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=4194:gemuruh-tiba-warga-mengungsi-&catid=2:sumatera-barat&Itemid=71


--- In [email protected], Armen Zulkarnain <emeneschoobie@...> wrote:
>
> 
> 
> Mak Duta, memang alah 2 hari nan ko hujan cukuik labek disaratoi badai. Tadi 
> subuah masih hujan juo sajak jam 3 sore kapatang. Alhamdulillah pagi nan ko 
> lai 
> agak mulai rancak hari. Mudah-mudah indak banyak tajadi musibah di 
> nagari-nagari 
> ranah minang.
> 
> wasalam
> 
> AZ/lk/33th
> Padang 
> 
> Februari yang lalu kanagarian Tanjuang Sani kanai galodo pulo, berita bisa 
> dicaliak pado website nagari Tanjuang Sani
> http://tanjungsani.wordpress.com/2011/02/27/galodo-sungai-rangeh/
> 
> galodo di Jorong Sungai Rangeh 1
> 
> 
> galodo di Jorong Sungai Rangeh 1


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke