Apakah Pagaruyung memang semasa Majapahit ? ------------------------------ Muara Takus, Bukti Kota Tertua di Indonesia
May 1st, 2011 by admin  Menyelusuri Jejak Sejarah Pulau Sumatera di Kampar  Bukti sejarah Kerajaan Sriwijaya di Desa Muara Takus Kabupaten Kampar. Dan ini membuktikan kalau Riau merupakan kota tua dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia.(Foto: ERWAN SANI/ RIAUPOS) Laporan ERWAN SANI, Muara Takus [email protected] Semua kalangan tidak bisa mempungkiri eksistensi Candi Muara Takus sebagai candi tertua di Sumatera. Dan ini merupakan bukti yang tidak bisa terbantahkan bahwa tanah Kampar sudah lama dihuni, dan memiliki peradaban, walau saat itu penduduknya masih beragama Budha. SETELAH melewati perjalanan selama kurang lebih tiga jam dan jalan yang berkelok-kelok, dengan jarak sekitar 135 KM dari kota Pekanbaru, akhirnya sampai juga di Kompleks Candi Muara Takus. Seperti namanya, candi ini terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau. Candi Muara Takus merupakan salah satu objek wisata Riau yang sangat terkenal. Hal ini dikarenakan candi ini terdokumentasikan ke dalam kurikulum pelajaran sejarah di Indonesia. Jika Anda mencari lewat situs pencari pun, akan terdapat banyak artikel yang memberikan penjelasan lengkap tentang candi ini. Candi Muara Takus merupakan sebuah candi agama Budha yang terletak di Provinsi Riau. Kompleks Candi ini tepatnya terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar atau jaraknya 65 kilometer dari ibukota Kabupaten Kampar, Bangkinang. Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 kilometer dan tak jauh dari pinggir Sungai Kampar Kanan. Candi Muara Takus menjadi suatu situs sejarah di Riau yang menggambarkan bahwa agama Budha pernah berkembang pesat di wilayah Sumatera Bagian Tengah, tepatnya di Riau. Kompleks candi Muara Takus dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter. Di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir Sungai Kampar Kanan. Bahan bangunan candi terdiri dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Menurut Tokoh Masyarakat Kampar, Abdul Latif Hasyim, batu bata untuk bangunan ini dibuat di Desa Pongkai, sebuah desa yang terletak di sebelah hilir kompleks candi. Bekas galian tanah untuk batu bata itu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang sangat dihormati penduduk. Untuk membawa batu bata ke tempat candi, dilakukan secara beranting dari tangan ke tangan. Cerita ini walaupun belum pasti kebenarannya memberikan gambaran bahwa pembangunan candi itu secara bergotong royong dan dilakukan oleh orang ramai. Candi Muara Takus termasuk candi agama Budha. Hal ini bisa dilihat dengan keberadaan stupa dalam arsitekturnya. Candi ini merupakan candi tertua yang pernah ditemukan di Sumatera dan merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang pernah mendominasi Indonesia dan menjadi pusat pengaruh agama Budha di Indonesia. Dikarenakan posisinya yang dekat dengan sungai Kampar Kanan, hal ini memungkinkan pelaut-pelaut kerajaan Sriwijaya melakukan kegiatan ritual di candi ini dahulu kala. Terdapat lima candi di kompleks Candi Muara Takus, yaitu: Candi Pengantin, Candi Tua, Candi Mahligai Stupa, Candi Bungsu, dan Candi Perangka. Di sekitar candi, terdapat tembok yang mengelilinginya. Untuk memasuki kompleks Candi Muara Takus ini, pengunjung diwajibkan membayar Rp3.000 / orang. Jika diperhatikan, maka akan ada perbedaan warna dari batu yang digunakan untuk membuat Candi Muara Takus ini. Hal ini memang dikarenakan Candi Muara Takus dibuat dengan tiga jenis batu yang berbeda, yaitu: batu pasir, sungai, dan bata. Semua kalangan tidak bisa mempungkiri eksistensi Candi Muara Takus sebagai candi tertua di Sumatera, kata Abdul Latif, dan ini merupakan bukti yang tidak bisa terbantahkan bahwa tanah Kampar sudah lama dihuni, dan memiliki peradaban, walau saat itu penduduknya masih beragama Budha. Bahkan candi ini menurut sejarahnya ada menyatakan abad ketiga dan adapula mengatakan dibangun pada abad ke lima. ‘’Candi Muara Takus ini membuktikan Kampar, lebih tua daripada Pagar Ruyung yang ada di Sumatera Barat,” kata Abdul Latif yang juga penggila seni lukis dan sejarah dan budaya ini. Menurut Kepala Sekolah SMAN 2 Bangkinang ini, aliran Sungai Kampar ini sudah lama menjadi sumber kehidupan bagi warga yang melaluinya. Alur sungai yang bermuara di Kuala Kampar, menuju Selat Melaka. Keunikan Sungai Kampar ini memiliki banyak kelok-kelok yang banyak seperti ular, sehingga warga di sepanjang alur sungai aman dari banjir. Hal ini yang menyebabkan sejak dulu kala Sungai Kampar menjadi tujuan sejumlah kerajaan untuk tempat singgah sana. Pilih Hulu Kampar Sebagai Kota Mengapa Kerajaan Sriwijaya memilih Muara Takus (hulu Sungai Kampar) sebagai pusat kerajaan? Salah satu alasan topografis, bahwa alur Sungai Kampar bermuara ke Selat Melaka dan dilindungi sejumlah pulau-pulau kecil seperti Pulau Mendol, Pulau Topang, Pulau Serapung, Pulau Kondur dan sejumlah pulau kecil lainnya, sehingga armada kerajaan aman dari ancaman ombak ganas Selat Melaka. ‘’Karena keistimewaan Sungai Kampar inilah membuat petinggi Sriwijaya memilih hulu Sungai Kampar sebagai pusat ibu kota. Dan buktinya sudah banyak ditemukan, mulai dari Candi Muara Takus, Dayung Sampan Besar, kemudian kompas dari Dinasti Ming dan benda-benda purbakala lainnya,” kata Abdul Latif lagi. Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
