“KTP Diminta, Kabarnya untuk Asuransi” Padang Ekspres • Minggu, 01/05/2011 09:48 WIB • (eka rianto) • 37 klik Bukan tidak mau bertani, tapi menurutnya, hasil dari pertanian itu tidak cukup untuk menafkahi dua anak dan istrinya. Sebab, lahan yang digarap bukan milik sendiri.
Pria berumur 35 tahun ini masih ingat, ide merantau ke tanah Andalas, berawal dari ajakan teman sekampungnya, yang berprofesi sebagai tukang bangunan. Temannya itu bercerita, di Sumbar, terutama di Padang, kekurangan pekerja bangunan pascagempa 30 September 2009 yang banyak memporak-porandakan banguanan fisik milik pemerintah, swasta, apalagi masyarakat. ”Saya perhatikan, teman saya tersebut mampu mengirimkan uang dengan jumlah cukup besar kepada istrinya, setelah beberapa bulan bertukang di Padang. Sebab itulah saya tertarik pula untuk mengikuti jejaknya,” tutur Rohim kepada Padang Ekspres, Kamis (28/4). Pertengahan Maret 2010, ia pun memberanikan diri untuk merantau. Merobohkan sebuah ruko di kawasan Pondok dengan upah Rp60 ribu merupakan pekerjaan pertamanya sebagai kuli bangunan di Padang. Setelah sebulan bekerja, dia sadar kalau gaji seorang tukang ternyata lebih besar. Sebab itulah, dia mulai belajar bertukang. Enam bulan bertukang dia telah bisa mengirimi uang pada istri dan anaknya. Memang tidaklah terlalu banyak, hanya Rp3 juta. Ceritanya tersebut sampai juga kepada beberapa laki-laki di kampung halamannya. Kini, 14 orang sekampung dengan Rohim, ikut pula mengadu nasib sebagai tukang atau kuli bangunan saja. Walau sudah satu tahun tidak pulang kampung, dia tetap ingin mencari nafkah di sini. ”Sedih juga Bang, kalau ingat anak istri, jadi pengen pulang. Tapi, saya ingin mencari modal dulu untuk membuka warung atau berdagang di kampung. Rencananya dua bulan lagi mau pulang sebentar dan balik lagi ke sini,” imbuhnya dengan logat Jawa yang medok. Sejak tiga bulan lalu, sebenarnya rohim tidak lagi menjadi buruh bangunan lepas. Ia sudah bergabung dengan salah satu perusahaan konstruksi. Meskipun demikian, kerjanya tidak jauh beda dengan yang ia lakoni sejak dari awal menginjakan kaki di Padang. Yang membedakan, setiap masuk lokasi kerja, ia harus memakai helm, selain itu dia harus menyerahkan fotocopy KTP pada mandor proyek. ”Saya tidak tahu benar, kenapa mandor meminta fotokopi KTP. Teman-teman mengatakan untuk mengisi biodata asuransi. Jadi kalau terjadi kecelakaan, kami akan mendapatkan biaya pengobatan. Tapi saya kurang yakin. Masa yang diminta hanya fotokopi KTP saja,” ungkapnya. Tapi, ia dan sejumlah teman-temannya berharap hal itu memang benar. Sehingga kalau terjadi kecelakaan kerja atau sakit, upah kerja mereka tak terpakai untuk biaya berobat. Meski mengaku upah yang dia terima itu sesuai dengan beban kerja yang mesti dilaksanakan, Rohim dan kawan-kawannya tetap mengencangkan ikat pinggang. Seperti memilih tinggal di bedeng proyek, dan memenuhi kebutuhan perut dengan cara memasak sendiri Hal senada juga disampaikan Yusuf Sepetiawan yang akrab disapa Asep. Pria asal Jawa Barat ini juga memiliki alasan yang tidak jauh beda dengan Rohim. ke Padang, karena diimingi pekerjaan yang banyak dan tidak akan berhenti-henti karena banyak bangunan yang akan dibangun. Dia mengaku mendapat upah Rp90 ribu per hari. Meskipun di kampung bayarannya sebagai tukang sama dengan di sini, tapi kata Asep, di Padang pekerjaan bangunan banyak menanti. ”Di sini bukan kita yang mencari pekerjaan tapi pekerjaan itu yang mencari kita,” sebutnya. Meskipun pekerjaan di sini hampir rampung, pekerjaan pembuatan bangunan di kawasan lain pun sudah menanti. Hal ini, ujar Asep, diketahui dari temanya, bahkan sudah ditawari untuk bekerja membuat bangunan di daerah Pariaman. Sedikit berbeda dengan Rohim, Asep mengaku, sejak mengadu nasib di Padang, belum sekalipun mandornya meminta KTP. Dan, dia tidak tahu, apakah ada diasuransikan atau tidak. Tapi pemakaian helm juga dilakukan setiap masuk dikawasan bangunan itu. Dia juga berharap adanya asuransi dari tempatnya bekerja. Hal itu akan lebih membantu jika musibah menimpa dirinya. ”Wah bagus juga kalau kita diasuranskan. Kalu sakit kan ada yang menanggung,” ujarnya diaminin teman-temannya yang lain, yang saat itu lagi sarapan di salah satu warung di kawasan Purus. (eka rianto) [ Red/Redaksi_ILS ] -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
