Assalamualaikum wr wb
pak Andrinof Chaniago, sarato angku, mamak, bundo jo adi dunsanak Sapalanta RN
nan ambo muliakan,
Ambo kiro ado permasalahan mendasar dalam budidaya Keramba Jaring Apung (KJA)
di danau Maninjau nan ko.
Pertama-tama, indak ado salaruik salamo nan ko suatu danau menjadi milik suatu
kelompok, kaum atau suatu nagari saja. Manuruik ambo wilayah perairan danau
maninjau nan ko adolah ulayat bsamo nagari-nagari di salingka danau maninjau.
Ado 9 nagari yaitu :
1. Maninjau
2. Tanjung Sani
3. Koto Kaciak
4. Koto Gadang VI Koto
5. Koto Malintang
6. Duo Koto
7. Paninjauan
8. Sungai Batang
9. Bayua
Ado bara kolah kini kaum nan ado di 9 nagari mantun? Nan ambo ketahui di
Tanjuang Sani ado 52 kaum, baa ko lah di salapan nagari nan lain. Budidaya ikan
tawar maupun ikan laut selalu mengacu pada padat tebar. Umumnya antara 30-60
ekor per 1 meter persegi. Hal nan tajadi adolah overload kapasitas yang sangat
disesalkan oleh pak Adrinof Chaniago. Overload ini merugikan pariwisata Danau
Maminjau sebab merusak keindahan danau itu sendiri.
Ambo kiro, danau Maninjau bisa tetap dilakukan budidaya KJA, namun harus sesuai
kapasitas daya tampung, sehingga tetap bisa menghasilkan dengan cara budidaya
KJA maupun dengan pariwisata. Bahkan dengan adanya KJA yang terkendali,
pariwisata di danau Maninjau akan memberikan nilai tambah dengan agrowisatanya
yaitu KJA. Turis yang mengunjungi danau Maninjau bisa pula melakukan kegiatan
wisata memanen Keramba Jaring Apung & menikmati kuliner ikan dari budidaya KJA
tersebut.
Lalu apa kaitannya dengan jumlah kaum di 9 nagari yang ada? Saya kira, danau
Maninjau yang berukuran 16,5 km x 7 km dengan kedalaman 500 meter. Perlu ada
kajian mendetail tentang danau vulkanik ini, sebab dahulunya adalah gunung
terbesar yang ada di Ranah Minang yang saat ini merupakan caldera yang sangat
luas. Dari kajian yang komplek, bisa ditentukan berapa % luas perairan danau
Maninjau yang bisa dilakukan budidaya KJA. Dengan begitu bisa ditentukan jumlah
maksimal yang seharusnya bisa dibuat sejumlah unit KJA mantun.
Anggap saja, dari wilayah perairan danau maninjau ini hanya 8 % yang bisa
dilakukan budidaya atau sekitar 700 keramba. Kita anggap pula julah kaum di 9
nagari adalah 450 kaum, dengan begitu dalam setiap periode secara bergantian
kaum-kaum ini mengelola KJA secara bergiliran. Hal ini serupa dengan pergiliran
1 bidang lahan persawahan yang dimiliki oleh 3 keluarga. Tentunya ke 3 keluarga
itu secara bergantian membudidayakan sawah setiap musim tanam, sehingga
masing-masing keluarga bisa menggarap sekali dalam satahun pada bidang lahan
yang ada.
Pertanyaan yang perlu diajukan adalah :
1. Apakah selama ini ada komunikasi masing-masing Kerapatan Adat Nagari
untuk
bersama-sama mengusahakan keramba Jaring Apung Bersama? Sebab saat ini hanya
bermain sendiri-sendiri sesuai dengan kekuatan modal masing-masing. Bahan
permainan secara sendiri-sendiri ini ditambah pula investor dari luar, sehingga
terjadi ledakan unit usaha KJA yang ada, sehingga terjadi overload. Pak
Adrinof,
di mudiak kami tidak bisa memaksakan kandang ayam yang memiliki kapasitas 250
ekor ayam dengan memasukan bibit sebanyak 1000 ekor, sebab jangankan akan
untung, malah nan 1000 cako akan cilako kasadonyo.
2. Apakah ada kajian menyeluruh berapa kapasitas maksimal dari danau
Maninjau
dalam usaha KJA. Nan ambo danga, di Sumbar ko ado universitas Andalas nan
menjadi universitas tertua di pulau Sumatera. Apakah ada kajian menyeluruh
untuk
itu? Sehingga bisa diperoleh batasan makasimal unit KJA yang beroperasi.
3. Apakah ada upaya dari dinas perikanan ataupun pertanian untuk
mampasamoan
hal iko dengan pemerintahan nagari, pemilik ulayat yang diwakili oleh seluruh
KAN yanga da di Salingka Danau?
4. Mengapa hanya di Maninjau saja yang overload? Sedangkan di
Singkarak, Diateh
jo di Bawah sarato di Waduk Koto Panjang tidak terjadi overload? Padahal di
ketiga danau ini juga dilakukan budidaya KJA.
5. Ambo kiro, hal iko kembali dalam aplikasi babaliak banagari, sebab
masih
berjalan sendiri-sendiri, padahal seluruh kegiatan paralu bana di pasamoan,
baiak Pemda Agam, Cadiak Pandai dari universitas, Urang Ampek Jinih di 9 nagari
perlu duduk semeja untuk melakukan konsolidasi bersama mengelola potensi ini
pada batas yang wajar.
Lagi pula di Sumbar ada 7 Danau, yaitu :
1. Maninjau (Agam),
2. Singkarak (Tanah Datar & Solok),
3. Diateh,
4. Dibawah,
5. Talang (Solok),
6. Laut Tingga (Pasaman Barat) &
7. Waduk PLTA Koto Panjang.
Nan ambo sarankan adolah danau Diateh jo Waduk Koto Panjang, sabab ado alasan
teknisnyo pulo. Sasuai budaya di minangkabau, tantu usul indak dicucua papakan
saluruhnyo, manunggu tanggapan dari angku, mamak, bundo sarato adi dunsanak nan
lain.
Ambo kiro nan disampaikan pak Taufiq Rasjid satantang Waduk Koto Panjang alah
cukuik jaleh.
wasalam
AZ/lk/33th
Padang
________________________________
Dari: "[email protected]" <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sab, 30 April, 2011 16:54:52
Judul: Re: [R@ntau-Net] Unit Usaha YPRN - Keramba Air Tawar & Keramba Ikan
Kerapu/Lobster
Asslmlkm, Adinda Armen;
Ambi setuju dg sebagian besar ide usaha yg adinda kemukakan. Tapi, utk ide
keramba ikan air tawar tolong dijauhkan ide itu.
Maaf, ambo tegas sajo soal menolak ide nan ciek ko. Sebab, rasonyo alun ilang
latiah dan prihatin maliek kondisi Danau Maninjau yg hancur scr ekosistem,
estetikan ditambah kerusakan infrastruktur akibat bisnis terkait usaha keramba
apung. Termasuk jalanpun rusak akibat angkutan pelet, gas, dan hasil panen ikan
di sekeliling Maninjau.
Pariwisata Maninjau pun mati dan minat bertani hilang krn godaan keuntungan
besar dan mudah dr usaha keramba yg di sisi lain melupakan kewajiban pd pihak
lain dan masy luas serta generasi akan datang..
Karena prihatin yg mendalam atas dampak usaha keramba inilah, saya telah
meluangkan waktu secara khusus beberapa waktu utk bertemu Pak Bupati Agam, Pak
Indra Catri, Gubernur Irwan Prayitno, dan memberi advokasi ke masyarakat
Maninjau dlm sebuah kesempatan di Aula Kecamatan Tj Raya bbrp bulan lalu. Saya
juga telah memberikan paparan kpd rombongan DPRD Agam yg kebetulan singgah di
Jakarta usai kunker soal maslah tsb.
Krn prihatin mendalam itu juga saya akhirnya membuatkan proposal Festival 4
Danau yg sudah berdasarkan kajian atas data-data, sbg solusi ekonomi yg ramah
lingkungan sekaligus pro rakyat.
Pernyataan-pernyataan dan juga tulisan kolom jg terpaksa saya buat di media
Sumbar terkait keprihatinan atas hilangnya aneka fungsi Danau Maninjau dan
tumbuhnya ekonomi serakah pd sebagian masyarakat dan penetrasi pemodal luar.
Sekali lagi. Saya dukung sebagian besar ide yg dikemukakan adinda Armen, tp
saya
menolak keras menumbuhkan ekonomi budidaya keramba ikan di danau manapun di
Sumbar. Kalau ada yg keberatan atas penolakan ide usaha budidaya keramba ini,
silahkan siapkan forum utk bertukar pikiran scr akademik.
Mohon maaf kalau kurang berkenan.
Wass.,
Andrinof A Chaniago (48)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
________________________________
From: Armen Zulkarnain <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 1 May 2011 01:58:39 +0800 (SGT)
To: <[email protected]>
ReplyTo: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] Unit Usaha YPRN - Keramba Air Tawar & Keramba Ikan
Kerapu/Lobster
Assalamualaikum wr wb
Angku, mamak, bundo jo adi dunsanak sapalanta RN nan ambo muliakan,
Selain usul sebagai operator Minangkabau Youth Camp, Wisata Nagari &
Penggemukan
Sapi di nagari ALahan Panjang, mungkin unit usaha YPRN bisa pulo melakukan
investasi di nagari Tajuang Pauah kec. Pangkalan Koto Baru kab. 50 yang
berbatasan dengan provinsi Riau. Kebetulan ambo lai kenal jo Wali Nagari
Tanjuang Pauqh, mungkin bisa diteruskan untuak progres kedepan untuak menambah
kacio YPRN nan pabilo usaho keramba nan ko berjalan sasuai nan direncanakan
bisa
menghasilkan setiap 4 bulan sakali (3 kali dalam satahun).
Unit usaha Keramba Air Tawar nan ko selain berpotensi di Nagari Tanjuang Pauah
kab. 50 Koto, juo memiliki potensi di Danau Diateh nagari Alahan Panjang kec.
Lembah Gumanti & Nagari Simpang Tanjuang Nan IV kec. Danau Kembar kab. Solok.
Selain unit usaha keramba air tawar, lokasi perairan di Nagari Mandeh & Nagari
Sungai Nyalo kec. Tarusan juga memiliki potensi keramba Kerapu/Lobster. Sebab
kawasan perairan di kawasan Mandeh nan ko sabana laweh & perairannyo sangat
tanang walau tajadi badai sakalipus sabab sangat terlindung oleh gugusan pulau
nan ado dikawasan itu. Ambo kiro, hal iko bisa dilakukan penjajakan ka
pemerintahan nagari sahinggo YPRN bisa memperoleh beberapa pemasukan rutin dari
unit usaha nan ado sahinggo kegiatan sosial bisa taruih dijalankan dimaso-maso
nan akan datang.
Untuak YPRN insya Allah ambo akan bantu pabilo ado progres kamuko. Tantunyo iko
bisa sebagai penambah pemasukan kas bagi YPRN, nan masyarakat nagari bisa pulo
mendapatkan pemasukan tambahan sarato pemasukan ka kas pemerintahan nagari.
Mungkin itu sajo informasi nan bisa ambo barikan, mohon maaf pabilo kurang
berkenan.
wasalam
AZ/lk/33th
Padang
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/