Sdr Ambiar dkk,
 
     Berikut adalah tanggapan saya terhadap tulisan Anda 29 April sebelumnya.
 
     Orang Minang sekarang bukan hanya orang Minang. Tapi juga orang Indonesia. 
Sementara cara berfikir I dikendalikan oleh budaya J yang sinkretik yang tak 
sejalan dengan budaya M yang sintetik. Bagi sebagian mereka, mrk berpendapat, 
kalau ada pertentangan atr M dan I maka I yang dimenangkan, yakni dlm rangka 
keutuhan dan kesatuan NKRI, Pancasila dan  kebhinneka tunggal ikaan.  M hrs 
mengalah. Yg kecil hrs tunduk kepada yg lebih besar. 
     Karenanya, kendati orang M dan Melayu lainnya berfikir sintetik dan 
holistik, yang ujung2nya adalah sebuah negara berdasar agama dari penduduk I 
beragama Islam yang merupakan mayoritas terbesar, yakni agama yang tidak 
memisahkan atr negara dan agama, seperti yang juga tercermin dari filosofi 
ABS-SBK itu, tapi bg mrk, itu berbahaya dan akan memecah belah kesatuan NKRI. 
     Mrk sebagai orang Minang yang menganut filosofi ABS-SBK lalu berkelahi 
dengan diri sendiri dan budaya sendiri, di samping juga menciptakan konflik dan 
pertentangan dengan sesama sendiri yang sama2 penganut ABS-SBK.  Sebuah dilema 
kehidupan!
 
 

--- On Sun, 5/1/11, Evy Nizhamul <[email protected]> wrote:

From: Evy Nizhamul <[email protected]>
Subject: Bls: [R@ntau-Net] Mochtar Naim ttg NII dan NII
To: [email protected]
Date: Sunday, May 1, 2011, 9:54 PM







Waalaikum salam, wr.wb

Pak Ambiar yang ambo hormati,

Kito pernah berdiskusi di FB RantauNet. yang mana postingan ambo di group yang 
judulnya : 
" Setiap pagi minggu, saya menonton siraman rohani kristiani. Mereka memulai 
acara dalam sebuah kultur tertentu. Kedamaian masyarakat desa. Mereka 
memanfaatkan komunikasi visual sebagai media dakwah.... dstnya.
Disini Pak Ambiar memberikan pendapat, yang kemudian ambo simpulkan sbb :
Ada beberapa pendekatan yang dpt dilakukan untuk menghilangkan curiga 
mencurigai kita sesama Islam, sebagai upaya membangun persaudaraan Islamiyah - 
sebagai upaya mengantisipasi perpecahan antara lain; ... 1. taaruuf atau saling 
untk kenal mengenali antara yang satu dengan yang lain 
2. tafaahum, maksudnya saling menciptakan kesefahaman antara yg satu dg yg 
lain. 
3. takaaful ikut merasakan persoalan yang sedang dihadapi oleh satu oleh yang 
lain.

Kemudian ada pulo dusanak yang menitipkan pesan di halaman Bundokanduang dan 
sudah ambo tautankan pula di Group FB dalam tautan :
http://globalrecordings.net/id/program/C62553. 
http://www.youtube.com/watch?v=LQLRZKSKPpQ
apa komen Hanif Suleman di Group itu ..? 
Tarimo kasih pado Bundo-bundo kito yg lebih awal mengingatkan terutama pada yg 
muda-muda. memang ibuk-ibuk lebih cepat tanggap dari pada bapak bapak.

Nah ketika membaca tulisan Pak Mochtar Naim, ambo mengkaitkan permasalah di 
negara kita dengan situasi kekinian di Ranah Minang, yang terkait dengan 
adagium ABS - SBK. Maksudnya : Apakah ABS - SBK dapat menangkis atau bahkan 
menjadi pendukung NII ..???

Nah... kalau hal hal serupa ini tidak boleh diperbincangkan, maka tampaklah 
bagi ambo bahwa diantara kito memang ado nan berbeda. Silahkan dusanak 
menafsirkan arti perbedaan itu.

Sementara kami kami ini yang sudah tua atau dituakan ingin sekali berbagi. Malu 
rasanya kalo ndak peduli. Apalagi sebagai padusi minang kan sudah dijadikan 
simbol Limpapeh yang harus ikut menjaga akidah dan budaya...
 
Dalam rangka itulah mangko ambo nan manapi selama setahun masuk kembali di 
ruang RN ini.

Wassalam,

~ 3vy Nizhamul ~
(Kawasan Puspiptek, Kota Tangerang Selatan)






Dari: Ambiar Lani <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Cc: taufiq rasjid <[email protected]>; andi ko <[email protected]>; 
[email protected]; masdar saja <[email protected]>; farhan muin 
<[email protected]>; [email protected]
Terkirim: Jum, 29 April, 2011 17:26:15
Judul: Re: Bls: [R@ntau-Net] Mochtar Naim ttg NII dan NII



Assalamualaikum wr wb.
 
Bapak/Ibu dan Dunsanak yang terhormat,
 
Mencermati tuka pikiran nan di bawah tu dan beberapa postingan nan lain nan 
sabalunnyo, terbersit pertanyaan di hati ambo nan paling dalam, apakah kinin di 
kalangan urang Minang tu telah terjadi dikhotomi demikian besarnya tantang 
urusan ugamo jo dunia. Sabab kutiko ambo mangaji di surau doeloe urusan dunia 
jo ukhrawi adalah merupakan garis lurus yang bersambungan yang sesungguhnya 
tidak putus sekali.
 
Kalau ka mangecek masalah ugamo, bawolah ka surau. Bagi ambo cara bapikia 
sarupo iko agak aneh, karena dapat diartikan kalau lah kalua dari surau sama 
sekali menjadi steril dari kaidah atau-norma-norma ugamo. Sementara itu Islam 
sebagai agama wahyu adalah agama yang kaffah ~ yang paripurna, untuk menjawab 
semua persoalan kehidupan umat manusia dan menjadi petunjuk bagi orang-orang 
yang beriman.
 
Di Minangkabau atau urang Minangkabau terkenal filosofi hidupnya, Adaik basandi 
Syarak ~ Syarak basandi Kitabullah. Sapanjang pemahaman ambo nan dangkal bagi 
urang Islam sebagai aturan dunia dan akhirat dan adat sebagai sistem sosial dan 
peradabannya di dunia adalah laksana dua sisi yang bersebelah dari satu mata 
uang yang sama.
 
Maaf, perkenankan ambo mangutip sebuah tulisan Pak Mohammad Natsir, 
Allahuyarhamd; "Faham seculair, anak kandung dari materialisme, menuruti cara 
yang sebaiknya. Soal moral dianggapnya soal pribadi masing-masing orang. Soal 
"halal" dan "haram" adalah soal agama tok! Dan agama dalam masyarakat 
seculair, tempatnya di masjid atau di gereja, di kantor kawin, dan di taman 
pekuburan. Di luar itu daerah netral agama. Agama tidak ada di pasar-pasar, 
tidak ada di tempat-tempat pemandian umum, dan yang semacam itu." 
(Mohammad Natsir, Fiqhud Da'wah, halaman 67, Penerbit Media Dakwah, Jakarta 
2000)
 
Jadi dengan adanya sejumlah postingan yang menghendaki urusan ugamo ko indak 
dibawo-bawo atau cukup di surau sajo, kiro-kiro fenomena apa nan sadang trend 
atau nan anginnyo sadang barambuih di kalangan urang Minang kini?

Akhirul kalam, kepada Bapak/Ibu dan Dunsanak yang budiman, mohon maaf kalau 
kurang berkenan, dan mohon maaf juga tidak ada yang tersinggung karena sama 
sekali maksudnya jauah dari itu. Billahitaufiq walhidayah.
 
Wassalam.
Ambiar Lani,
(L/59/Jakarta-Bekasi)  




From:

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke