Assalaamu'alaikum wa rahmatulaahi wa barakaatuhu

Tayang ulang Cerpen Shalat dan Mesjid


SHALAT DAN MESJID
 
Bahwa
shalat itu lebih utama dilakukan di awal waktu sudah lama aku dengar. Sudah
lama juga aku dengar bahwa shalat berjamaah itu lebih baik dari shalat
sendirian. Sudah lama pula aku dengar, sudah sejak masa-masa sekolah sampai
masa jadi mahasiswa, bahwa shalat berjamaah di mesjid itu adalah lebih baik
bagi laki-laki. Tapi untuk melaksanakan shalat dengan kondisi paling utama
seperti itu lain lagi ceritanya. Tidak selalu mudah.
 
Sampai pada suatu hari di awal tahun 1991. Aku mendengarkan ta’lim dari seorang 
ustad yang waktu
itu kami undang dari Dewan Dakwah Jakarta. Bahasan dalam ta’lim itu adalah
mengenai keutamaan-keutamaan shalat. Ustad itu menyampaikan beberapa hadits
Rasulullah SAW. Di antaranya tentang keutamaan yang nyaris merupakan kewajiban
untuk mengerjakan shalat berjamaah di mesjid. Dalam sebuah hadits, kata ustad
itu, yang diterima dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi jiwaku 
yang ada di tangan Nya,
sesungguhnya aku hendak rasanya menyuruh orang-orang membawa kayu, lalu
terkumpul, kemudian aku perintah supaya orang-orang shalat, lalu diadakan adzan
buatnya, kemudian aku perintah seorang mengimami orang ramai, kemudian aku
pergi kepada orang-orang yang tidak hadir buat shalat, lalu aku bakar
rumah-rumah mereka buat kerugian mereka. Dan demi (Tuhan) yang diriku di tangan
Nya, sekiranya seorang dari mereka mengetahui bahwasanya ia akan mendapat
tulang yang berdaging gemuk atau daging dua rusuk yang baik, niscaya ia hadir
di shalat isya.’ (Muttafaqun ‘alaihi).
 
Begitu
kerasnya anjuran Nabi SAW menyuruh pengikut beliau untuk mengerjakan shalat
berjamaah di mesjid, meski tidak pernah sampai beliau membakar rumah orang yang
tidak hadir shalat berjamaah.
 
Penyampaian
ustad dari Dewan Dakwah itu menyentuh dalam ke lubuk hatiku. Kami, empat orang
peserta pengajian yang tinggal dalam komplek perumahan kantor berunding, untuk
mendiskusikan bagaimana cara mengimplementasikan ilmu yang baru kami terima. 
Untuk
pergi ke mesjid terdekat dari komplek perumahan kami berjarak sekitar dua sampai
tiga kilometer. Kami mempunyai kendaraan. Harusnya tidak ada alasan untuk tidak
mendatangi mesjid terdekat.
 
Tapi
kami masih menawar. Kami bersepakat untuk mulai mengerjakan shalat berjamaah
berempat saja di sebuah mushala yang sudah tidak terpakai, yang diletakkan di
pinggir lapangan olah raga. Bangunan mushala (port a camp) yang tadinya
digunakan di lingkungan perkantoran kemudian dipindah sesudah sebuah mushala
baru dibangun.
 
Kami
yang empat orang ini, dengan segenap daya berusaha untuk istiqamah, untuk
selalu hadir berjamaah, terutama di waktu subuh, maghrib dan isya karena shalat
zhuhur dan asar kami lakukan di mushala kantor. Alhamdulillah, dengan segala
tantangan yang kami hadapi, untuk jangka waktu cukup lama kami berhasil. Sangat
jarang kami tidak berjamaah (berempat) di mushala mungil itu. Kadang-kadang
kami bawa serta istri-istri kami di waktu maghrib dan isya. Bahkan di hari-hari
libur ada satu dua orang rekan lain yang datang ikut berjamaah di waktu subuh.
Apa yang kami lakukan menjadi perhatian rekan-rekan sekantor yang lain. Umumnya
mereka hanya jadi penonton, meski ada juga  yang berkomentar dan bertanya. 
Bahkan ada yang berkomentar miring,
seolah-olah kami tiba-tiba berubah menjadi ekstrim di mata mereka.
 
Berjamaah
berempat di mushala di pinggir lapangan olah raga itu berlangsung selama lebih 
dari
satu tahun. Suatu saat, seorang di antara kami berangkat untuk bertugas di luar
negeri. Satu orang yang lain kelihatannya mulai  kecapek-an. Tinggallah hanya 
kami berdua orang saja. Nyaris berakhirlah kebiasaan
berjamaah yang sudah dijalankan lebih setahun. Untunglah, kebetulan di komplek
perumahan Pertamina dekat tempat kami tinggal, baru dibangun sebuah mesjid
kecil. Ke sanalah akhirnya aku bergabung. Jamaah mesjid itu tidak banyak. Di
waktu subuh hanya sekitar enam sampai delapan orang. Aku berusaha selalu hadir
untuk shalat subuh, maghrib dan isya di mesjid kecil itu. Jemaah mesjid itu
sedikit demi sedikit bertambah banyak. Terutama di waktu subuh. Beberapa teman
sekantor yang lain, yang tinggal di komplek perumahan ikut pula bergabung. Kami
latihan memberikan kuliah tujuh menit secara bergantian. Dan kami bergantian 
pula
menjadi imam. 
 
Aku
berusaha memelihara kebiasaan berjamaah ini walaupun aku pergi ke kota lain. 
Misalnya ketika
berada di kampung, di Bukit Tinggi atau di Pakan Baru di saat cuti. Atau kalau
sedang bertugas kantor dan menginap di hotel di Jakarta. Sekurang-kurangnya aku 
shalat di
mushala hotel.
 
Di
akhir tahun 1993 aku pindah dari Balikpapan
ke Jatibening Bekasi. Di komplek tempat tinggalku yang baru ada sebuah mesjid
swadaya penghuni komplek. Mesjid yang terletak di tengah-tengah komplek itu
sangat dekat dari rumahku. Aku selalu hadir untuk shalat berjamaah di mesjid
itu. Jamaah subuhnya hanya sekitar delapan orang. Empat orang adalah tukang
bangunan yang menompang menginap di mesjid. Sebagai pendatang baru, aku
diterima cukup baik pada awalnya. Pada suatu subuh, aku ditawarkan menjadi
imam. Aku menolak dengan alasan bahwa aku masih berstatus tamu. Bapak tua yang
menawariku jadi imam itu setengah mendesak. Aku masih menolak dengan mengatakan
bahwa aku tidak membaca qunut. Dia masih tetap menyuruhku maju dan mengatakan,
tidak ada masalah, tapi tolong i’tidal (berdiri sesudah rukuk) kedua agak
dipanjangkan. Akhirnya aku maju menjadi imam.
 
Bulan puasa di sekitar bulan Maret di tahun 1994.
Jamaah tarawih ternyata banyak sekali dan sebagian jamaah terpaksa shalat di
beranda mesjid. Aku segera menemui keganjilan pertama. Jamaah laki-laki dan
jamaah perempuan bersisian di dalam mesjid. Mesjid itu dibagi dua memanjang.
Jamaah laki-laki di sebelah kanan dan jamaah perempuan di sebelah kiri. Di
antaranya ada pembatas / sekeram dari kain.
 
Di
antara shalat tarawih dan witir ada kultum dari jamaah untuk jamaah. Aku
diminta pula untuk ikut memberikan kultum. Aku sampaikan hadits Rasulullah
tentang aturan saf laki-laki dan perempuan. Bahwa sebaik-baik saf untuk
laki-laki adalah yang paling depan, sementara sebaik-baik saf untuk wanita
adalah yang paling belakang. Aku jelaskan bahwa betapa beresikonya shalat
bersisian antara bapak-bapak dan ibu-ibu yang hanya dibatasi selembar kain,
padahal bapak dan ibu yang bersisian bukan mahram.
 
Orang yang dituakan di mesjid ini dapat menerima
yang aku sampaikan. Tapi tidak demikian halnya dengan beberapa orang jamaah
lain. Pada suatu kesempatan yang aku tidak hadir bertarawih, si pemberi kultum
menghujat dengan kata-kata pedas. Siapa itu orang baru yang sok sekali itu,
katanya. Baru datang sudah merobah-robah aturan dan mengatur-atur. Kebetulan 
ada adikku yang hadir mendengarkannya dan
menyampaikan isi kultum itu kepadaku. Maksudnya, agar aku jangan terlalu
frontal mengoreksi kebiasaan-kebiasaan masyarakat komplek.
 
Selama bulan puasa tahun pertama itu posisi jamaah
laki-laki dan perempuan bersisian tetap berlanjut. Barulah tahun berikutnya 
berubah menjadi laki-laki di
depan. 
 
Aku
selalu hadir shalat berjamaah di mesjid itu. Shalat yang manapun, selama aku
ada di rumah ketika masuk waktu shalat. Waktu akan shalat zhuhur dan asar di
hari Minggu seringkali pintu mesjid terkunci dan aku shalat di beranda
mesjid.  Aku ajak pemuka mesjid
mengadakan diskusi mingguan dengan menggunakan buku rujukan, misalnya kitab
hadits shahih untuk membahas hal-hal ringan dan perlu-perlu. Alhamdulillah,
orang yang paling dihormati di mesjid itu mau menerima ajakan tersebut.
Meskipun diskusi seperti itu segera saja jadi tidak disenangi, ketika beberapa
kali yang dibahas menyangkut hal-hal yang selama ini sudah dilakukan di mesjid
ini. Contohnya seperti pengaturan saf.
 
Aku
kritik pula kebiasaan melantunkan shalawat badar di antara azan dan iqamat,
pada hal orang sedang mengerjakan shalat sunat. Silahkan bershalawat, kataku,
tapi jangan sampai mengganggu urang yang sedang shalat (sunat). Orang yang
sedang shalat itu sedang berusaha khusyuk dalam shalatnya, akan terganggu oleh
lantunan shalawat badar yang menggunakan mikrofon. 
 
Meskipun
ada di antara jamaah itu yang terang-terangan menunjukkan ketidak-senangan
terhadapku, aku berusaha santai saja.  Tidak ada niatku untuk melayani dan 
mencari musuh. Bukankah mesjid
tempat beribadah yang utama?
 
Jamaah
shalat subuh tetap tidak lebih dari sepuluh orang dan sebagiannya adalah para
tukang. Penghuni komplek yang ikut berjamaah hanya  empat - lima
orang dan itupun tidak semuanya secara berkesinambungan. Ketika shalat maghrib
lumayan banyak yang ikut, bisa sampai belasan orang sementara shalat isya
jumlahnya kembali berkurang. Karena aku selalu hadir lebih awal, seringkali
akulah yang jadi imam.
 
Tanpa
kusadari, ada kecenderungan jamaah dari warga komplek bertambah satu demi satu.
Ini semata-mata karena hidayah Allah SWT. Aku tidak pernah sekalipun mengajak
orang perorangan untuk ikut berjamaah, kecuali pada kesempatan kultum, aku
sampaikan betapa baiknya seandainya kita bisa hadir berjamaah ke mesjid.
 
Pada
saat pergantian pengurus mesjid, aku dipilih dan diangkat untuk menjadi ketua
pengurus. Kami perbaiki sedikit demi sedikit kegiatan di lingkungan mesjid.
Taman Pendidikan Al Quran yang sebelumnya sudah ada lebih diintensifkan lagi.
Kegiatan-kegiatan sosial, kegiatan pengajian mingguan, majelis ta’lim ibu-ibu
lebih ditingkatkan. Aku ajak jamaah yang sudah mulai juga bertambah untuk
berdiskusi sekali seminggu.
 
Dari
salah satu diskusi (setiap diskusi selalu dengan menggunakan kitab rujukan) kami
sadari bahwa mesjid harus mempunyai imam shalat rawatib tetap. Jadi bukan imam
bergantian karena senioritas. Maka kami adakan pemilihan imam yang melibatkan
jamaah shalat tarawih (karena biasanya jumlahnya lebih banyak). Aku dipilih
menjadi imam tetap. Tentu saja ada juga imam pengganti, yang akan menjadi imam
kalau imam tetap berhalangan.
 
Alhamdulillah,
sekali lagi alhamdulillah. Jumlah jamaah itu selalu bertambah. Puncaknya,
pernah kami shalat subuh dengan 70 orang jamaah laki-laki dan tiga puluh orang
jamaah perempuan. Walaupun ada sedikit penurunan sesudah itu. Karena ada
beberapa dari mereka yang sudah meninggal dunia ataupun pindah ke tempat lain.
 
Ada-ada
saja kejutan bagiku menyaksikan pertambahan jumlah jamaah. Ada bapak-bapak yang 
sering berpapasan
denganku ketika aku pulang dari shalat subuh, beliau dalam pakaian olah raga,
berjalan kaki di pagi buta. Kami saling bertegur sapa. Suatu saat, tahu-tahu
beliau hadir di mesjid dan sejak itu jadi jamaah tetap mesjid. Ada yang 
berdiskusi
denganku di tempat jaga malam, ketika dulu, di tahun 1998 kami ikut ambil
bagian dalam pengamanan komplek. Dia bertanya bermacam-macam hal, seperti
bagaimana hukumnya main gaple meski tidak bertaruh. Dibumbuinya pula, bukankah
orang Padang
sangat hobi main domino alias main gaple. Aku jawab tidak ada apa-apa,
selama tidak terjadi apa-apa. Dia bingung dan bertanya apa maksudku. Aku suruh
dia membayangkan, bagaimana seandainya, jika Allah berkehendak, dia menemui
ajalnya di meja gaple itu? Mungkin
karena serangan jantung? Tidakkah dia berpikir, hal itu akan sangat memalukan
di hadapan Allah kelak?  Bapak itu
terdiam. Beberapa hari kemudian dia muncul di mesjid, ikut berjamaah.  Ada
yang baru diangkat jadi ketua RW, berpidato, menyampaikan ajakan kepada
pengurus mesjid untuk bahu membahu menjaga dan membangun komplek. Waktu aku
juga diminta mengucapkan pidato, aku hanya mengajak bapak ketua RW itu untuk
ikut berjamaah ke mesjid dan dengan cara itu insya Allah kerja sama itu akan
berjalan dengan sendirinya.  Dan diapun
ikut ke mesjid sejak itu.
 
Untuk
istiqamah menegakkan shalat berjamaah memang perlu tekad dan perjuangan
pribadi. Di antara penghuni komplek ada yang masih dalam taraf berusaha tapi
belum berhasil. Aku melihat mereka mencoba hadir untuk beberapa lama, lalu
kemudian kembali gagal. Mudah-mudahan saja suatu saat mereka berhasil.
 
Waktu
aku mula-mula datang di komplek ini aku pernah mendengar  ada anak-anak warga 
komplek yang terlibat
narkoba. Alhamdulillah sekarang sudah tidak ada lagi kegiatan seperti itu.
Mungkin juga karena remaja 15 tahun yang lalu sekarang sudah jadi bapak-bapak
pula. Tapi paling tidak mereka itupun, tidak ada lagi yang terlibat dengan
barang haram itu.
 
Dulu
ada rumah khusus tempat bapak-bapak bergadang main gaple sampai pagi. Sudah
lama kegiatan itu berhenti. Penghuni rumah khusus itu sudah pindah dan sebagian
besar pesertanya sekarang adalah jamaah tetap mesjid.
 
Aku sangat menikmati lingkungan tempat tinggalku
sekarang ini. Dengan rasa persaudaraan dan kekompakan yang tinggi di antara
sesama warga. Dan jamaah mesjid yang juga sangat bersemangat. Jumlah zakat maal
kami bertambah dari tahun ke tahun. Jumlah hewan kurban yang kami potong
bertambah setiap tahun. Kami berusaha untuk selalu perduli dalam masalah
sosial. Kami menyumbang dari kantong-kantong pribadi untuk mereka yang terkena
musibah di manapun mereka berada. Terakhir kamipun menghimpun sumbangan untuk
dikirimkan kepada kaum Muslimin di Gaza.
 
Mudah-mudahan Allah selalu menunjuki kami dan
menjadikan kami senantiasa mampu untuk tetap istiqamah.
 
 
                                                                        *****
 Wassalamu'alaikum


Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H, 
Jatibening - Bekasi


________________________________
From: Joesrinal <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]>
Sent: Thursday, May 5, 2011 7:18 PM
Subject: Re: [R@ntau-Net] Berita Dari Surau Kami

Subhanallah Mak Duta,syukur alhamdulillah kok sadononyo Surau di Nagari awak 
baitu yo..batambah nikmat Allah swt..seorg ahli medis sang penceramah tadi yo 
luar biasa..pndalam nya ttg islam..lbh dr cukup.wass 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke