Assalamualaikum Wr.Wb. Yth. Ibu2/Bapak2 sarato saluruah Sanak diPalanta.

Iko ado sakatek dari milist benua tetanggo.

Salamaik mambaco,
Wassalam,
Muljadi





-------- Original-Nachricht --------
Datum: Fri, 6 May 2011 08:01:36 +0700
Von: Anastasia Cakunani <[email protected]>
An: ppi giessen <[email protected]>
Betreff: [ppi_giessen] Dialog Pelajar Indonesia Australia dengan Komisi VIII 
DPR-RI di Melbourne‏


Forward dari milist tetangga dan lagi ramai di TV Indo.
Ayo kita kontrol terus DPR kita, 

Salam,
Anas

Check it out :
http://www.youtube.com/watch?v=8dEjGOPfAqA&feature=player_embedded

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Laporan Dialog Antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia dengan Komisi 
VIII DPR-RI di Melbourne



HL | 03 May 2011 | 06:148766 69  4 dari 5 Kompasianer menilai menarik





Tulisan
 ini ditulis oleh rekan saya, Teguh Iskanto ketika menghadiri dialog 
antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) dengan Komisi VIII
 DPR-RI di Ruang Bhinneka Konsulat Jenderal Republik Indonesia di 
Melbourne pada tanggal 30 April 2011, Pukul 20.00 waktu setempat.
Pembuka:
Setelah bertahun-tahun menjadi WNI akhirnya kesampaian juga saya 
mendapat kesempatan untuk dapat bertatap muka dan berdiskusi dengan para
 wakil rakyat. Terlebih tidak terasa sudah 9 tahun 10 bulan saya 
meninggalkan Indonesia, dan mungkin kesempatan ini adalah satu-satunya 
kesempatan bagi saya untuk bisa bertemu & bertatap muka langsung 
dengan para pejabat negara.
Setelah terburu-buru nyupir karena takut terlambat, akhirnya saya 
beserta istri sampai juga  di KJRI sekitar pukul 18:15 AEST, walhasil 
sesampainya di KJRI terlihat jelas pihak konsulat sudah mempersiapkan 
acara dengan matang. Makanan, kursi-kursi tamu beserta meja panelis 
untuk pembicara, semua sudah disiapkan dengan rapi.  Waktu sudah 
menunjukan pukul 18:19 tapi belum juga terlihat tanda-tanda kedatangan 
para tamu yang ‘terhormat’, padahal di dalam undangan tertulis acara 
akan dimulai pukul 18:00.
Menunggu sang tamu datang :
Sambil menunggu akhirnya saya menggunakan waktu yang ada untuk 
sholat maghrib, bercengkerama & beramah tamah dengan kawan-kawan. Di
 bagian depan terlihat banyak kamera & video dari beberapa media 
komunitas Indonesia di Melbourne. Berikut ada juga perwakilan Radio ABC 
Australia yang datang untuk meliput. Sementara beberapa kawan-kawan dari
 PPIA sudah siap dengan siaran internet radio langsung yang di sebarkan 
ke seluruh dunia via PPI Internasional, semua alat-alat sudah diset 
& disiapkan.
Seputar berita-berita negatif yang ada di Internet tentang rencana 
studi banding anggota dewan, saya sebelumnya juga sudah diingatkan oleh 
istri dan seorang kawan untuk tidak menghakimi para anggota dewan. “Berikan 
mereka kesempatan utk menjelaskan alasan mereka, dan jangan pojokan mereka, 
mungkin ada sesuatu yg kita tidak tahu” ,
 begitu saran yang saya dapatkan dan sayapun setuju untuk menjadi lebih 
netral dan objektif, lagi pula “who are we to judge people anyway …”

Suasana di Konsulat Jenderal RI sesaat sebelum dialog dimulai. Courtesy of 
Dirgayuza Setiawan.

Akhirnya sang tamu datang juga :
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya sang tamu yang di 
tunggu-tunggu datang juga, secara persis saya tidak melihat jam mungkin 
sekitar jam 18:50-19:00. Semua hadirin tampak antusias dan tidak terasa 
suasana ruangan Bhinneka di KJRI Melbourne menjadi tampak hidup karena 
semua orang mulai terlihat antusias. Beberapa anggota dewan bahkan ada 
yang mulai memperkenalkan diri secara pribadi & menyapa para hadirin
 satu persatu. Beberapa juga ada yang beramah tamah dengan staf KJRI. 
Setelah beramah tamah sekitar 5-10 menit, staff KJRI mengumumkan untuk 
memulai acara dengan hidangan makan malam terlebih dahulu. Pada 
mulanya saya sempat berpikir, wah ini sepertinya strategi dari KJRI 
untuk meredam pertanyaan pertanyaan dari para hadirin, dengan membuat 
mereka kenyang dan mengantuk setelah makan … :) he he he

Rombongan Anggota Komisi VIII DPR-RI di KBRi Canberra. Sumber: www.kemlu.go.id

Acara Dimulai :
Setelah menikmati santap malam, akhirnya acara dibuka oleh Acting Consul 
General, Bapak
 Hadisapto Pambrastoro mewakili KJRI Melbourne. Bapak Hadi mencoba 
memaparkan komposisi masyarakat Indonesia di Melbourne, yang lebih dari 
50% umumnya diisi oleh pelajar. Sebelumnya juga hadirin diingatkan bahwa
 acara tanya jawab hanya akan dibatasi sampai pukul 21:00 mengingat 
jadwal kesibukan anggota tim komisi VIII keesokan harinya (which is 
private dinner bersama staff Konsulat jenderal RI. Kayak gini dibilang 
sibuk?).
Sementara dari pihak komisi VIII diwakili oleh juru bicaranya Bapak
 Abdul Kadir Karding (PKB), beliau memperkenalkan anggota tim studi 
banding satu persatu dengan komposisi 7 orang anggota duduk di meja 
panelis yang terdiri dari perwakilan PDI-P (Ina Ammania), GOLKAR (Drs. 
H. Zulkarnaen Djabar), PKS (Ahmad Zainuddin, LC), PKB (H. Abdul Kadir 
Karding, SPI - Ketua Rombongan & Pembicara), GOLKAR (Dra. Hj. 
Chairun Nisa, MA), Hanura (Dra. Hj. Soemintarsih Muntoro, M.Si), dan 
Demokrat (Dra. Hj. Ratu Siti Romlah, M.Ag). Jumlah total  keseluruhan 
anggota komisi VIII yang datang pada studi banding kali ini sekitar 11 
orang.
Beliau juga mencoba memaparkan, bidang kerja komisi VIII yang umumnya 
berkonsentrasi di bidang :
Keagamaan ( mencakup didalamnya adalah : agama, pendidikan agama, masalah 
ahmadiyah, pluralisme & terorisme)Penanggulangan bencanaPemberdayaan perempuan 
& perlindungan anakKementerian sosial (diantaranya : masalah sosial, lansia, 
kemiskinan, orang cacat & anak jalanan)
Di salah satu kesempatan beliau juga menjelaskan tujuan kedatangan 
ke Australia adalah untuk belajar mengenai upaya penanggulangan 
kemiskinan, diantaranya adalah  menyusun konsep rancangan untuk :
RUU Fakir MiskinRUU Kebebasan & Perlindungan beragamaRUU ZIS (Zakat Infaq 
Shadaqah) - pengurangan pajak terhadap donasi/sumbanganRUU Jaminan produk 
halalRUU Keadilan dan kesetaraan genderRUU Pendidikan yang dikelola masyarakat 
swasta
Beliau juga menjelaskan mengapa Australia adalah negara yang dituju :
Lebih dekat dibanding negara-negara lain ( sehingga bisa mengurangi biaya 
)Australia memiliki sistem jaminan sosial yang terstruktur dan mapan 
kalau meminjam kata-katanya Bpk Karding : “Sistem yg luar biasa”Salah satu 
negara yang sukses menerapkan prinsip multikulturalisme sampai pada tingkat 
pendidikan anak-anak.
Ketua Rombongan Komisi VIII, Bapak Abdul Kadir Karding memperkenalkan diri dan 
rombongan. Courtesy of: Dirgayuza Setiawan.
Sesi Pertanyaan :
Setelah mendengar paparan tadi, saya cukup mengakui kalau Bapak 
Abdul Kadir Karding (PKB) , memiliki kemampuan komunikasi yang hebat, 
beliau mencoba ‘meredam’ suasana hadirin yang ada di ruang Bhinneka 
dengan ’lelucon-lelucon’ dan dengan paparan gaya bahasa yang lugas, 
tenang dan terstruktur. Mungkin inilah sebabnya beliau terpilih menjadi 
ketua rombongan, karena kalau dari apa yang saya lihat secara pribadi 
beliaulah yang  memiliki kemampuan ‘public speaking’ yang paling 
mencolok dibanding anggota-anggota yang lain. Karena kalau dilihat ada 
beberapa anggota yang hanya duduk di kursi panelis tanpa ada sepatah 
katapun yang keluar dari mulut mereka (selain memperkenalkan diri), ada 
yang hanya mencatat  dan ada pula yang hanya sesekali saja berkomentar. 
Kalau dilihat memang ‘all in all’, sepertinya memang sudah menjadi 
tugasnya Bapak Karding untuk ‘menjinakan’ para hadirin :)
Pada saat sesi tanya jawab dimulai,  ada 3 penanya pertama (dari beberapa yg 
berusaha secara antusias)  :
1. Bagus Nugroho (Mahasiswa Program S3 Bidang Aeronautics Melbourne University 
& Nano Tech dari Oxford University)
Mengenai dana yang dikeluarkan untuk 11 anggota komisi VIII yang 
pergi studi banding ke Australia, menurut perhitungan Bagus, jumlah dana
 yang di keluarkan adalah sekitar Rp. 811 juta untuk  selama 6 hari atau
 sekitar US$ 5000 per orang per minggu. pertanyaannya adalah mengapa 
sebesar itu? bukankah itu dana yang sangat besar untuk dikeluarkan, 
mengingat tingkat efektifitas yang rendah dari hasil studi banding?
2. Dirgayuza Setiawan (Wakil Ketua PPIA - Mahasiswa Jurusan Media )
Yuza, mencoba menyangkal argumen Bapak Karding, yang 
mempertanyakan mengapa surat terbuka PPIA dikirimkan terlebih dahulu ke 
media dibanding langsung ke beliau : menurut Yuza, karena semua channel 
yang ada telah dicoba berikut mengakses website pribadi Bapak Karding 
yang ternyata berstatus ’suspended’. Dari website DPR-RI pun, tidak ada 
keterangan nomor kontak & alamat email yang bisa dihubungi. Karena 
itu Yuza menghubungi media untuk meminta informasi.
Seperti telah diketahui sebelumnya dalam wawancara radio Australia 
di Canberra, Bapak Karding mengatakan bahwa alasan anggota Komisi VIII 
tidak mengunjungi daerah Northern Teritory (NT) adalah karena beliau 
menangkap adanya “sinyal-sinyal”  keengganan dari pemerintah Australia 
untuk membolehkan mereka pergi  ke NT. Dikarenakan menurut beliau issue 
penduduk miskin Aborigin di Australia adalah issue yang sensitif apalagi
 untuk kunjungan perlemen asing. Pada saat yang sama Yuza mengatakan, 
hal yang sama tidak terjadi terhadap beberapa mahasiswa 
Indonesia yang sedang mengadakan penilitian di NT untuk mensurvei 
penduduk miskin, pemerintah Australia justru membantu dengan sepenuh 
hati. Hal yang menjadi pertanyaan Yuza adalah, “sinyal-sinyal” seperti 
apakah dan bagaimana cara menginterpretasikan sinyal yang ditangkap 
Bapak Karding sehingga jatuh pada kesimpulan bahwa pemerintah Australia 
enggan
 mengizinkan anggota Komisi VIII DPR-RI pergi ke NT ? Terlebih daerah NT
 adalah daerah dengan konsentrasi penduduk miskin terbanyak di 
Australia.
Pertanyaan yang lain adalah, mengapa kunjungan yang dilakukan 
 hanya mampu menghubungi pejabat-pejabat setingkat negara bagian, tapi 
tidak sampai pada tingkat pemerintah federal?  DPR cenderung dianggap 
tidak siap dalam menyiapkan bahan-bahan dan memilih narasumber ( 
kurangnya koordinasi & tidak tepat sasaran )  dan kalaupun ini 
memang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, kenapa ada visa salah satu 
anggota tim Komisi VIII yang ditolak oleh pemerintah Australia ?
3. Penanya ke-3 (lupa namanya, beliau sedang mengambil study S-2 bidang 
sosiology di Melbourne University)
Beliau menanyakan tentang kerukunan hidup beragama terutama masalah perlakuan 
pemerintah terhadap pengikut Syi’ah di Indonesia.
Sesi  Komisi VIII Menjawab ( Hadirin Mulai Gelisah/Gusar )  :
Lagi-lagi saya harus akui kelihaian Bapak Abdul Kadir Karding untuk
 urusan ’skill’ public speaking, sepertinya beliau menguasai betul medan
 & trik untuk mengulur-ulur waktu, salah satunya adalah dengan 
melambatkan tempo bicara, dan berbicara hal-hal yang diluar konteks 
pembicaraan. Hal ini menyebabkan waktu yang tersisa tinggal sedikit. 
Beberapa kali Dirgayuza (Wakil Ketua PPIA) menginterupsi anggota komisi 
VIII untuk “straight to the point” pada pertanyaan yang ditanyakan.
Salah seorang anggota Komisi VIII dalam menjawab/menanggapi 
pertanyaan dari Bagus Nugroho bahkan membandingkan anggaran yang 
diterima oleh Komisi VIII dalam studi banding kali ini masih lebih kecil
 jika dibandingkan dengan salah satu staff kementerian Australia yang 
katanya bisa menerima 3 kali lipat dari apa yang diterima oleh Komisi 
VIII. Hello!!! Australia itu kan pendapatan per kapitanya lebih besar 
dari Indonesia, Kira-kira sekitar US$ 55590 per tahun. Indonesia sekitar
 US$ 3015 per tahun (sumber wikipedia). Apa mereka itu nggak mikir ya sebelum 
menjawab???
Beberapa anggota dewan yang diberi kesempatan untuk menjawab 
memulai dengan meminta kepada kawan-kawan PPIA untuk tidak terkesan 
menghakimi/mengadili mereka dalam dialog kali ini. Bahkan ada yang 
mengalami suasana “kebatinan” (mungkin maksudnya feeling so emotional)
 ketika mengunjungi Australia kali ini seraya bercerita tentang beberapa
 anaknya yang dulu pernah bersekolah di Melbourne, Australia dan 
suaminya yang pernah menjadi ketua perhimpunan pelajar pada saat itu. 
Secara pribadi menurut saya, jawaban-jawaban yang diberikan lebih 
bersifat normatif dan tidak pada inti permasalahan dan cenderung 
berputar-putar. Apakah ini suatu kesengajaan untuk mengulur waktu? 
Wallahualam…Hanya Tuhan yg tahu…
Karena jawaban tidak dirasakan mengena dan berputar-putar untuk 
hal-hal yang tidak penting sementara waktu semakin sempit, banyak 
hadirin yang mulai melakukan interupsi sehingga suasana ruang Bhinneka 
menjadi gaduh. Tidak hanya itu beberapa sesekali sudah mulai  terdengar 
suara cemoohan dan kata-kata “huuuu…kecewaaaaa!!!”  dari para hadirin.
Ketika mendekati pukul 21:00, pihak KJRI berusaha untuk menutup 
sesi tanya jawab, dengan alasan kesibukan anggota dewan pada keesokan 
harinya: which is Sunday of course ..:)  bukankah adalah hak kita 
sebagai rakyat untuk meminta / menanyakan hal-hal yang dirasa perlu ke 
wakil rakyat kita di parlemen? Pada saat ini suasana semakin riuh dan 
sudah ada hadirin yang berteriak-teriak langsung bertanya … tanpa 
moderator … :) terus terang suasana sudah sedikit agak kacau pada waktu 
itu. Bahkan ada beberapa yang langsung meninggalkan ruangan dan langsung
 pulang.


Salah
 satu anggota Komisi VIII DPR-RI mencoba untuk menjawab pertanyaan yang 
dilontarkan oleh Mahasiswa Indonesia di Melbourne. Courtesy of: 
Dirgayuza Setiawan.


Here comes the Bomb Shell …
Salah satu kawan saya (pas saat sesi kacau) sempat berteriak … 
“Kenapa nggak pakai teleconference aja sih Pak ?” pada saat itu, Bapak 
Karding menjawab : “Wah itu kan teknisnya terlalu rumit … “  sontak 
mendengar jawaban tadi hadirin yang umumnya mahasiswa langsung tertawa …
 lalu ada lagi yang nyeletuk “Pak mau dibikinin account Skype sama saya 
nggak Pak ?”
Trus ada beberapa anggota Komisi VIII, yg mengatakan, karena 
keterbatasan waktu  kawan2 bisa menghubungi kami lewat email. Tapi 
ketika serentak kami menanyakan apa alamat email beliau, yang keluar 
adalah … [email protected] :) .  Beberapa hadirin termasuk saya tampak 
kesal dengan jawaban tersebut, kemudian hadirin  menanyakan: “Kami ingin
 alamat resmi bapak!” , dan dibalas dengan: “nanti ….nanti akan 
diberikan …. ”  pada saat ini penyiar radio PPI Internasional 
menginterupsi “Tolong disebutkan saja pak disini , jadi semua orang bisa
 dengar …” , bahkan dengan tantangan itupun sepertinya mereka 
bapak-bapak/ibu-ibu anggota Komisi VIII itu tidak tahu …apa alamat email
 resmi mereka …  saya lihat ada 1 orang staff ahli yang mendampingi 
komisi VIII sibuk bolak balik mencoba membagikan kartu nama ( yang 
itupun dalam kartu nama tersebut tercantum alamat imel Gmail & Yahoo
 ) …
  ????
Karena suasana panik dan makin riuh, salah seorang ibu (staff 
anggota komisi VIII) berteriak, ”  KALAU ADA YANG PERLU DITANYAKAN… 
SILAKAN SAJA KIRIM KE ALAMAT EMAIL  : KOMISI DELAPAN AT YAHOO DOT COM.. 
!!!! ”  pada saat itu .. tawa hadirin langsung pecah  .. saya sendiri 
geleng-geleng kepala dan sudah tidak tahu mau bicara apa lagi … 
(selengkapnya lihat saja 
disini:http://www.youtube.com/watch?v=8dEjGOPfAqA&feature=youtu.be)
Ada teman yg bilang : Wah kalo gitu mah gak usah jadi anggota DPR, 
anak saya yg masih kecil juga udah bisa bikin email yahoo sendiri … :)
BTW: setelah acara selesai salah seorang kawan mencoba mengirim test mail (via 
BB) ke :
- [email protected]
- [email protected]
- [email protected]
- [email protected]
- [email protected]
- [email protected]
and guess what, none of them is working …!!! semua email test 
bouncing back ke sender , alias alamat yang diberikan tidak ada …!!!!
Lagi-lagi karena tidak puas, saya beserta istri & kawan-kawan 
mendekati ibu salah satu staff ahli pendamping anggota komisi VIII dalam
 kunjungan kerja ini, sambil menanyakan alamat resmi, saat itu beliau 
bilang : “Lihat aja di website DPR nanti kan ada daftar masing-masing 
komisi, nanti dari situ ada alamat imelnya “
Lagi lagi, kita cek via HP , dan …ternyata tidak ada (kalau tidak percaya 
silakan cek sendiri kewww.dpr.go.id)
 , kalau begini mana yang benar ? kalau yang bekerja di DPR saja  tidak 
tahu alamat kontak resmi yang bisa dihubungi, bagaimana dengan orang 
lain?? Dan jangan salah bahwa, 1 staff DPR memiliki 7 asisten (staf 
ahli), *Unfortunately* sepertinya tidak satupun dari ke-7  asisten 
beserta anggota DPR itu sendiri tahu alamat kontak resmi mereka 
 ??? Kalau untuk hal yang sangat mendasar saja mereka tidak kompeten, 
bagaimana mereka akan membela kepentingan rakyat yang akan mereka wakili
 ???
Bagaimana tidak, DPR RI, parlemen dari negara dengan jumlah 
penduduk ke-4 terbesar di dunia, parlemen dari negara anggota G-20 
(negara dengan salah satu kekuatan ekonomi & pangsa pasar terbesar 
di dunia) serta mempunyai anggaran ber-triliun2 rupiah utk gedung baru, 
lengkap dgn fasilitas & tunjangan lainnya ….  masih memakai alamat 
email gratis utk kontak terhadap rakyat yg di wakilinya   … ????
Tidakkah mereka berpikir, bahwa parlemen kita akan menjadi bahan 
olok-olok parlemen Australia begitu melihat kartu nama dengan alamat 
imel dari Yahoo / Gmail ???
Ketika ditanya alamat kontak mereka, umumnya mereka kebingungan 
menjawabnya, yang menurut saya sangat-sangat aneh bukan?? Bagaimana 
mereka mau mendengar aspirasi rakyat yang mereka wakili jika alamat 
kontak untuk dihubungipun mereka kebingungan menjawabnya ??
Setelah acara diskusi selesai, beberapa dari kami yang tidak puas, 
langsung menyerbu dan bertanya langsung ke anggota komisi VIII, ada 
dari beberapa diantara mereka tidak membawa kartu nama!!!  Bagaimana 
mereka ingin memperkenalkan diri di hadapan anggota parlemen Australia 
jika kartu nama saja mereka tidak bawa, dan kalaupun ada, mereka 
mencantumkan alamat imel gratis (yahoo/gmail) sebagai alamat kontak 
mereka !!!
Pada saat saya mencoba bertanya ke Bapak Karding tentang kunjungan 
studi banding,  saya tanyakan: “Pak bukankah menjadi paradoks bagi DPR 
bahwa kunjungan studi banding dalam rangka mengentaskan kemiskinan tapi 
di saat yang sama DPR menghambur-hamburkan uang rakyat yang akan 
dientaskan kemiskinannya ???”
Ironis sekali memang ternyata, dan syukur …kalau bukan karena 
kesempatan ini, saya mungkin hanya bisa mendengar dari media massa 
tentang perilaku anggota DPR, tapi untuk saat ini saya bisa melihat, 
mendengar & mengalaminya sendiri di depan mata.
Saat itu kami sempat bingung dan bertanya ke salah satu staff 
senior KJRI : ” Pak apa memang sudah separah inikah keadaan institusi di
 negara kita ? ”  beliau menjawab ( dan mencoba berdiplomasi ) : “Maaf 
dik saya sendiri belum berkecimpung di dunia politik, mengenai komentar,
 saya pikir, adik bisa lihat sendiri apa yg terjadi tadi” … ( kayaknya 
beliau juga shock )
Sebagai Penutup :
BTW: Beberapa kawan sebelum pulang kita sempat bercanda “kayaknya 
abis malem ini kita bakal susah tidur nih … ” dan banyak yang 
geleng-geleng kepala sampai keluar pintu KJRI, sepertinya kita masih 
belum percaya dengan apa yg kita lihat.
Entah mau dibawa kemana negara ini, jika para pemegang amanahnya saja tidak 
kompeten di bidangnya.
Dan memang ternyata benar, sampai sekarang pukul 6:30 pagi pun saya
 belum bisa tidur … :) bahkan hingga keesokan harinya, seorang kawan 
berkelakar di milis “Mungkin coba aja imel ini: [email protected] 
kali aja mereka ber-Alay ria…hehehe…”

Laporan oleh: Teguh Iskanto
Diedit oleh: Didi Rul

 Regards,
Ahmadi Hadibroto                                          
-- 
NEU: FreePhone - kostenlos mobil telefonieren und surfen!                       
Jetzt informieren: http://www.gmx.net/de/go/freephone

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke