Travel 
6 Mei 2011 | 15.52 WIB

KOMPAS.com - "Pria-pria Minang itu rela membeli anjing-anjing mahal untuk 
memburu babi yang kemudian dibuangnya begitu saja," begitu kata Faisal, pemuda 
Minang, kawan saya selama putar-putar di Bukittinggi, Sumatera Barat. Kami 
sedang berbicara tentang tradisi berburu babi yang menakjubkan itu. Dulu 
babi-babi itu diburu karena gemar merusak tanaman di kebun atau sawah. Tradisi 
berburu ini berkembang hingga sekarang menjadi kegiatan olah raga yang 
prestisius. Minggu pagi serombongan pria akan berkumpul, lengkap dengan 
anjing-anjing pemburu yang terlatih, lalu masuk hutan memburu babi.

Karena orang-orang Minang tidak makan babi, biasanya babi-babi yang mati akan 
dibiarkan begitu saja di tengah hutan. Belakangan ada pedagang-pedagang babi 
dari Nias yang sering ikut berburu atau membeli hasil buruan mereka. Dari 
kegiatan yang perlu, berburu babi menjadi hobi, bahkan tradisi turun temurun. 
Faisal sudah ikut berburu babi sejak masih kanak-kanak. Faisal kecil senang 
naik mobil dan jalan-jalan ke hutan. Karena masih kecil ia rela disuruh ini-itu 
asalkan bisa ikut naik pick up dan berjalan menembus hutan berburu babi.

Ranah Minang memang begitu kaya akan tradisi. Setiap aspek kehidupannya adalah 
tradisi yang terpelihara turun temurun. Dengan Faisal saya berbicara tentang 
bagaimana ia dibesarkan dengan tradisi yang begitu kuat. Termasuk saat ia 
beranjak dewasa dan diharuskan merantau. Setiap pemuda Minang, menjelang usia 
dewasa, haruslah pergi merantau ke luar wilayahnya untuk menimba pengalaman dan 
mengenal dunia luar. Pemuda Minang diharapkan untuk dapat menempa kegigihan, 
jiwa dan mental pantang menyerah dengan berada jauh dari keluarga dan 
menghadapi kehidupan yang keras.

Ini diharapkan menjadi bekal untuk mereka meningkatkan diri ke derajat 
kehidupan yang lebih baik. Bahkan dahulu pria Minang harus merantau dengan 
hanya berbekal  sebuah kain sarung dan sedikit uang. Sungguh sebuah tradisi 
yang terhormat. Sejak kecil Faisal dipanggil Aseng oleh orang tuanya, konon ini 
adalah singkatan dari "Anak Sengsara". Keluarganya memang dalam kondisi yang 
memprihatinkan saat ia dilahirkan.

Di usia delapan belas ia pergi meninggalkan kampungnya di Desa Matur dan pergi 
ke Jakarta melakukan apapun yang bisa dilakukan, bekerja di restoran Padang, 
berjualan di pasar Tanah Abang, dan banyak lagi. Sampai akhirnya ia kembali ke 
Bukittinggi dan memulai usaha sewa mobil bersama beberapa kawannya. Tradisi 
yang kuat yang menempa pemuda Minang untuk gigih dan tak kenal menyerah telah 
melahirkan begitu banyak pribadi terkuat yang pernah dimiliki republik ini.

Nama-nama besar pendiri Indonesia adalah putra-putra kebanggaan ranah Minang. 
Hatta, sang bapak ekonomi kerakyatan, Sjahrir sang demokrat, Haji Agus Salim 
yang bijak, atau Tan Malaka, tokoh misterius yang konon akhirnya harus tewas 
tertembak senapan tentara republik yang bantu didirikannya ini.  Ranah Minang 
juga adalah rumah dari pemuka-pemuka kesusastraan Indonesia. Ia adalah rumah 
bagi Marah Rusli, Hamka, sampai AA Navis. Chairil Anwar juga salah satu dari 
begitu banyak pujangga berdarah Minang. Karya-karya besar seperti “Siti 
Nurbaya”, atau “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”  mungkin terlahir dari 
lamunan-lamunan di tanah yang indah ini.

Beruntunglah saya yang sempat menghabiskan waktu berjalan di kota Bukittinggi 
yang sejuk dan berbukit-bukit. Selain menikmati indahnya pemandangan saat 
melamun di Ngarai Sianok, atau melihat keramba-keramba ikan di Danau Maninjau, 
ada perasaan lain saat berada di sebuah kota dengan catatan sejarah perjuangan 
yang panjang. Pada masa pendudukan Jepang ia adalah pusat pengendalian militer 
Jepang untuk kawasan Sumatera, pada masa mempertahankan kemerdekaan, 
Bukittinggi adalah ibu kota sementara RI saat Yogyakarta jatuh ke tangan 
Belanda. Kota ini juga adalah tempat Hatta menghabiskan masa kanak-kanaknya.

Saya sempat mampir ke rumah masa kecil Bung Hatta, melihat kamar tidur beliau, 
perabotan lama, atau memandangi foto Bung Hatta saat ia berusia tiga belas 
tahun. Siapa yang saat itu menyangka, wajah anak yang tenang itu adalah sosok 
yang jauh melampaui zamannya dan yang kemudian menjadi salah satu yang berdiri 
di depan saat Indonesia menyatakan kebebasannya.

Dari rumah Bung Hatta saya sempat mampir ke lubang Jepang yang misterius itu. 
Lubang sepanjang 1,4 km yang dibangun dengan darah penduduk republik periode 
1942-1945 dimaksudkan menjadi salah satu tempat persembunyian akhir pasukan 
Jepang. Konon keberadaan lubang ini begitu dirahasiakan Jepang sehinga ribuan 
tenaga pribumi yang dijebloskan untuk menggalinya tidak pernah keluar lagi. 
Ribuan penduduk republik dijebloskan dalam kerja paksa, untuk kemudian dibunuh 
dan dibuang dalam salah satu lorongnya yang teramat suram.

Di sanapun terdapat penjara tempat menahan tawanan-tawanan Jepang yang tak 
pernah keluar lagi. Tak seorang pun mengetahui keberadaan lubang ini pada 
periode 1942-1945 selain mereka yang dibawa ke sana. Bahkan tak seorang pun 
tahu siapa-siapa yang dulu pernah dijebloskan dalam kerja paksa dan dibunuh di 
sana. Tak seorang pun tahu kemana tanah sisa galian itu dulu dibuang. 
Keberadaannya pun baru diketahui orang luar tahun 1946 saat Jepang sudah pergi. 
Lubang itu ada di sana dan masih menyimpan misterinya.

Berjalan di Bukittinggi kita akan dibawa dalam sebuah perjalanan waktu. Banyak 
sudut  menjadi saksi dituliskannya  sejarah. Ada Jam Gadang yang kokoh, Fort de 
Kock yang tua, dan masih banyak lagi. Berkunjunglah ke Museum Adat Banjuang dan 
perhatikan bagaimana sebuah masyarakat dibentuk oleh tradisi yang panjang dan 
budaya yang kokoh.

Atau pergilah sedikit ke luar ke daerah Tanah Datar dan nikmati kopi kawa daun 
yang tak ada duanya. Kopi ini dibuat bukan dari biji kopi tapi dari daunnya. 
Diantara udara yang sejuk, kopi yang dihidangkan diatas batok kelapa ini 
sungguh membuat saya ketagihan. Dan tentunya, kota yang berbukit ini memiliki 
sudut-sudut dengan pemandangan nan indah, perbukitan nan cantik di sekitar 
Ngarai Sianok, atau pemandangan yang menakjubkan dari Puncak Lawang. Ah kawan, 
tak pernah bosan saya mengatakan, Indonesia masih memiliki banyak sekali 
kejutan. (I Gusti Ngurah Teddy Wijaya Kusuma)

http://m.kompas.com/news/read/2011/05/06/15525216/Bukittinggi--Rumah-Para-Pemberani


Wassalam
Nofend | 34+ | Cikasel

Sent from Pinggiran JABODETABEK®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke