http://www.indrapiliang.com/2011/05/09/tan-malaka-memang-bukan-opera/

Haluan, Senin, 09 May 2011 02:26 
Tan Malaka Memang Bukan Opera

PERSETUJUAN DENGAN INDRA J PILIANGRAUDAL TANJUNG BANUA
(Pengarang dan Alumnus Teater  ISI Yogyakarta)
Refleksi Indra J. Piliang, sejarawan dan De­wan Penasihat The Indonesian 
Institute, berjudul “Tan Malaka Bukan Opera” (Haluan, 3 Mei 2011) menarik 
disimak dan dihayati.
Berangkat
 dari pentas lakon tiga babak Opera Tan Malaka karya/sutradara Goenawan 
Mohamad di TIM Jakarta, 23-24 April 2011, Indra memang lebih banyak 
menyoroti unsur luar pementasan karena ia tak menonton pertunjukan 
di­maksud. Meski jika mau me­nonton langsung, saya yakin Indra sangat 
bisa, namun seperti ia katakan ia tak hendak me­nontonnya. Saya 
bayangkan, sebagai penonton yang kritis begitulah seharusnya 
bersikap—dan pe­nonton semacam ini tak banyak. Dari judul, pola dan 
ke­cen­derungan pengusung pen­tas, seorang penonton yang kritis bisa 
membayangkan apa yang bakal ia dapatkan. Judul, pola dan para pengusung 
pentas jelas bukan hanya urusan teknis, namun dapat mempresentasikan 
sesuatu yang lebih besar: pre­tensi, sasaran bahkan visi-misi.
Sikap
 tak mau menonton sebuah pertunjukan oleh se­bagian pihak boleh jadi 
akan dianggap pesimis, atau bahkan jumawa. Namun saya kira, sikap 
seperti itu mesti dimiliki oleh setiap (calon) penonton. Di tengah 
berjubelnya tawaran tontonan mengatasnamakan aktris selebritis, nama 
besar komunitas, akses media/publi­kasi, namun minim ca­paian estetik, 
tuna “ideologis”, bahkan ahistoris, (calon) penonton harus kritis. Sikap
 ini paralel dengan tuntutan kepada konsumen supaya kritis terhadap arus
 citra dan barang sejagad yang ber­sileweran tiap hari lewat iklan, mall
 dan swalayan, karena memang tontonan telah menjadi komoditi pula.
Sebagai
 “konsumen”, apa lagi yang kita miliki jika bukan sikap kritis? 
Bagaimanakah menghadapi fenomena masya­rakat berjouis Jakarta yang 
belakangan diharu-biru pentas-pentas kolosal dengan me­ngandalkan 
kerja-kerja in­dustri budaya itu? Bahkan lebih jauh, bisa diperluas, 
misalnya, apa lagi yang bisa kita harapkan dari Butet Kartaredjasa yang 
me­nempatkan kerja keaktoran bukan pada “tubuh aktor” melainkan “tubuh 
propertis”, lawak dan dagelan? Apa yang bersisa dari Teater Garasi yang 
berangkat dari kecenderungan teks-teks cultural studies yang longgar dan
 enjoy memandang manusia dan masalahnya?
Bukan tipe saya untuk
 pesimis, apalagi jumawa, jika pentas-pentas yang hiruk-pikuk publikatif
 sejenis itu tak me­rangsang minat. Lebih baik saya memutuskan untuk tak
 ikut sebagai saksi—ingat, dalam konsepsi teater, penonton adalah saksi.
 Sikap yang sama jauh-jauh hari sudah saya patrikan di dalam hati, 
ketika dengar-dengar Goenawan Mohamad menggarap Opera Tan Malaka, dengan
 sejumlah pemain dari Yogya. Seandainya pentas di­lanjutkan di Yogya dan
 gratis, saya tetap tak hendak me­nontonnya. Tugas dan posisi “saksi” di
 dalam teater sama pentingnya dengan unsur teater lainnya seperti aktor 
dan sutra­dara; mesti memilih dan me­milah. Seorang saksi bu­kanlah 
seorang yang pasif, apalagi mati kutu di hadapan kotak kemasan atau 
petikemas kebudayaan.
Proyek Pencairan
Sadar
 akan posisi saya yang tak menonton Opera Tan Ma­laka, maka sebagaimana 
Indra J. Piliang saya tak akan ber­bicara secara estetik. Saya hanya 
mencoba merefleksikan pentas itu dari sisi ekstrinsik seperti orientasi 
pengarang/sutradara, lingkungan masyarakatnya dan situasi saat karya itu
 disajikan. Jadi, persetujuan saya dengan Indra J. Piliang tak hanya 
dalam sikap dia yang “tak hendak menonton” sebagaimana alasan saya di 
atas, namun lebih penting menyangkut misi yang hendak diusung. Dari awal
 sudah terasa pretensi yang hendak dihadirkan kelewat besar: sesosok 
pejuang di belakang layar bernama Ibrahim gelar Sutan Malaka atau 
dikenal sebagai Tan Malaka. Jika ada yang mengatakan Tan Malaka adalah 
sosok “misterius” atau dalam istilah Goenawan “ada dan tiada” (lihat 
Kortem, 24 April), jelaslah itu cacat pertama yang membuat pentas sudah 
hilang makna.
Tan Malaka bukan tokoh misterius, namun ada, 
nyata, dan menjadi pelaku sejarah yang melintasi separoh bulatan bumi, 
dan kian mewujud di negerinya sendiri. Jika kemudian ia kadang 
menyembunyikan identitasnya, yang melatari sebutannya sebagai sosok 
misterius, itu tak lain untuk keselamatan per­juangan­nya karena tak 
sedikit musuh-musuh politik yang me­ngin­carnya, baik dari kalangan 
kolonial, feodal maupun bangsa sendiri yang berbeda ideologi. Jalan 
perjuangan di belakang layar sadar ia tempuh demi mencapai Indonesia 
Merdeka 100 % yang memperlihatkan bahwa ia jauh dari sosok haus jabatan,
 kekuasaan apalagi puji sanjung murahan. Memang pula kemudian ia jarang 
tersurat dalam sejarah resmi dan bahkan dalam beberapa hal berhadapan 
dengan anak bangsa sendiri, tapi itulah ironi hidup seorang anak manusia
 sebagai pejuang sejati.
Mengangkat Tan Malaka dalam sebuah 
fenoemena pentas kolosal yang mewabah di ka­langan sosialita Jakarta, 
jelaslah sebuah upaya, disadari atau tidak, mencairkan sosok Tan Malaka 
menjadi sosok yang instan, gampang dibaca dan dipahami dalam semalam. 
Padahal Tan Malaka sudah menjelma sebagai sosok yang membutuhkan 
pembacaan yang tidak sim salabim apalagi sebatas gaya hidup. Cukuplah 
Pramoedya Ananta Toer yang dicairkan sedemikian rupa, di mana 
buku-bukunya menjadi pajangan para selebritis dan pemuja gaya hidup. 
Jangan ada proyek berikutnya.
Memang, Tan Malaka se­bagaimana 
sosok penting lainnya adalah milik semua orang, milik anak bangsa, tapi 
justru dengan menyadari milik semua orang itulah seharusnya seseorang 
tak bisa semena-mena “men­cu­liknya” lalu hendak dijadikan sebagai 
tumpangan proyek pribadi atau kelompoknya. Dia harus dijaga sebagai aset
 ber­sama, dalam memori kolektif yang sudah tertata dengan baik, tak 
boleh diutak-atik seenak udelnya oleh seseorang atau sekelompok orang, 
sekalipun mengatasnamakan kebebasan, ekspresi kesenian dan se­bagainya. 
Mesti ada tanggung jawab moral untuk tak men­cairkannya. Ia boleh masuk 
ke ruang publik, dan malah bagus, namun bukan dengan jalan serampangan, 
apalagi meniru trend dan fenomena  ke­ba­nyakan.
Merek DagangMungkin
 ada yang bertanya, apa bedanya kerja pementasan seorang Goenawan 
Mohamad dengan Wisran Hadi? Wisran kita tahu, juga pernah me­ngangkat 
naskah Imam Bonjol di TIM, 1995. Pentas yang disutradarainya itu cukup 
me­nghentak publik. Keberanian Wisran Hadi menggunakan simbol sejarah 
untuk me­nonjolkan konflik ke­pen­tingan, membuat sebagian masyarakat 
Minangkabau keberatan me­nerimanya (Sahrul N, 8:2005).
Saya 
katakan, keduanya berbeda. Ini sederet faktanya: WH adalah dramawan, 
yang punya kelompok teater dan menulis banyak naskah, GM sejak kapan 
menulis naskah dan jadi sutradara, kecuali pengamat teater? Lagi-lagi 
atas nama demokratisasi atau alasan untuk menjadi manusia 
“renaisans—serba bisa” akan ada yang membela: setiap orang bebas 
melakukan apa saja. Memang. Tetapi itu harus dengan segala resiko, 
konsistensi, proses dan mempertaruhkan segalanya, dalam arti kata: bukan
 ahistoris.
Justru, kebebasan untuk ulang-alik dengan mudah ke
 setiap bidang itulah kritik paling utama, di mana kehidupan gampang 
ditundukkan oleh modal-modal kapital-akumulatif yang dimiliki seseorang.
 Yang terjadi, jika bukan dominasi, ya, pendangkalan kerja-kerja 
ke­budayaan. Mentang-mentang punya akses, nama besar, modal dan 
sebagainya, seseorang yang tak pernah kita dengar ber­sentuhan dengan 
film mi­salnya, bisa tiba-tiba me­nyutradarai sebuah film. Dan beroleh 
tepuk-tangan pun liputan. Maka anda lihatlah film-film Indonesia kini. 
Walahualam. Begitu pula yang terjadi di genre/bidang kesenian lainnya. 
Akibatnya, terjadi aku­mulasi atribut pada se­seorang atau sekelompok 
orang, over-exspose, ya sebagai esais, prosais, sutradara, jurnalis, 
liberalis, pluralis, entah apa lagi. Di tengah latar itulah garapan 
semacam Opera Tan Malaka lahir.
Fakta berikutnya, 
Per­tun­jukan Imam Bonjol me­ngangkat fakta-fakta seputar Perang Padri 
yang penuh friksi. Sebagai fakta yang mungkin tak termaktub dalam 
sejarah resmi, memang ada soal-soal yang mengejutkan, misalnya sikap 
fundamentalis dan radikal pengikut Imam Bonjol. Ini kenyataan, meski 
mengejutkan, tapi itulah yang terjadi, yang menempatkan sosok Imam 
Bonjol bukan manusia yang sempurna.
Opera Tan Malaka berlaku 
sebaliknya. Ia hendak me­nempatkan sosok Tan Malaka yang berjuang di 
bawah tanah itu sebagai sosok yang “sem­purna” sesuai versi dan selera 
penggubahnya; jadi sosok yang cocok belaka dipajang di etalase. 
Indikasinya, ia bisa ditarok dalam segala kultur, tak peduli kultur itu 
penuh akseori dan properti, kultur yang jika Tan masih hidup niscaya 
akan dikritisinya. Sebab seorang Tan tak mungkin bisa hidup dalam kultur
 hampa makna semacam itu. Apalagi kultur itu bakal menempatkannya 
seperti Che Guevara yang proletar justru dieksploitasi kapitalisme 
sebagai merk dagang! Tak hanya baju kaos, pin dan buku-buku, juga 
sejarah yang “dicairkan”. Ada­lah bagus untuk keluar dari misti­fikasi 
sejarah, namun apa artinya jika upaya demistifikasi itu menciptakan 
histeria pada kultur dan kultus baru yang mengubah nilai populis jadi 
sekedar populer?
Memilih jenis opera untuk sosok Tan Malaka 
bukan saja salah arah, tapi secara teknis salah kotak. Secara bentuk, 
opera adalah pertunjukan de­ngan syair, musik, tari-tarian kolosal dan 
tata panggung yang “mewah”; bertolak-belakang dengan model-model teater 
kritis seperti alienasi Bertolt Brecht atau teater penyadaran Agusta 
Boal. Tak heran, setelah Perang Dunia I, gebyar teater musik semacam ini
 berkembang pesat di Amerika Serikat, bahkan Jakob Sumardjo menyebut 
itulah sumbangan negeri Paman Sam satu-satunya dalam ranah teater dunia 
(108: 1986). Tentu saja ini dapat dimaklumi, mengingat kecenderungan dan
 jalan apa yang ditempuh AS kemudian: lokomotif ka­pi­talisme, bukan?
Sementara
 Tan Malaka jelas bukan Ali Topan, yang bisa dikemas dalam kemewahan 
panggung semalam untuk ka­langan sosialita ibukota yang haus hiburan. 
Walahualam.

Indra J Piliang, The Indonesian Institute, Jln Wahid Hasyim No. 194, Jakarta 
Pusat. Twitter: @IndraJPiliang

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke