Reni bantu saketek yo mak....karno pas diklik link tu ndak langsuang ka alamat 
yg dimakasui

Amt Menuliskan gagasan karena ada realitas yang selalu menggayut di benak.

Kecemburuan Saya pada Orang MinangkabauREP | 27 February 2011 | 19:30 341 15  2 
dari 3 Kompasianer menilai inspiratif   

________________________________
 
 
Orientasi Pengurus DPD KNPI Sumbar, 2007
“Basasok bajarami, bapandam pakuburan, soko pusako kalau tadalami, mambayang 
cahayo diinggiran” 

 
Meski keseluruhan pernah saya baca  dalam beberapa edisi Edisi Khusus Majalah 
Mingguan Tempo, tapi ketika  diterbitkan bentuk buku (KPG, 2010), saya 
menghabiskan waktu sepekan  lagi menuntaskan bacaan ulang empat judul buku — 
serial “Bapak Bangsa” —  dimaksud. (1) Sukarno,“Paradoks Revolusi Indonesia”. 
(2) Hatta, “Jejak yang Melampaui Zaman”. (3) Sjahrir, “Peran Besar Bung Kecil”, 
dan (4) Tan Malaka, “Bapak Republik yang Dilupakan”.
 
Keempat “Bapak Bangsa” yang diulas  dalam empat judul buku itu, di negeri ini 
nyaris tak seorang pun tak  mengenal mereka. Soekarno dan Hatta, sang 
proklamator kemerdekaan,  Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama. Sutan 
Sjahrir, Perdana  Menteri RI, pertama. Dan satunya lagi, Tan Malaka, pendiri 
Partai MURBA,  orang yang pertama merumus konsep NKRI. Namun di negeri ini tak 
banyak  yang tahu, jika tiga nama terakhir, asal Minangkabau.
Pada saatnya, saya jujur  mengemukakan kecemburuan saya, yang sekian lama 
terpendam, sejak saya  kanak-kanak. Kecemburuan pada orang-orang Minangkabau, 
tak lain karena  kampung halaman saya, di tepi Pantai Lapandoso Bua, Kabupaten 
Luwu, pada  akhir abad ke-16, disitulah pertama kali berlabuh Datuk Sulaiman 
(Datuk  Ri Pattimang), satu diantara tiga “waliullah” — asal Minangkabau — 
pembawa ajaran Islam pertama di Sulawesi Selatan.
***
Selain tiga nama dari empat “Bapak  Bangsa”, serta tiga “waliullah pembawa 
ajaran Islam pertama di Sulsel,  saya tidak habis fikir, bagaimanakah cara 
orang 
Minangkabau melahirkan  orang hebat semisal Agus Salim (Agam, 1884), mantan 
Menteri Luar Negeri  RI, saat Kabinet Amir Sjarifuddin dan Kabinet Hatta, 
Perdana Menteri RI  kelima, M. Natsir (Alahan Panjang, 1908). Moh. Yamin 
(Sawahlunto, 1903),  perumus teks Sumpah Pemuda dan Pancasila. Juga Rasuna Said 
(Maninjau,  1910), pejuang persesamaan laki-laki dan perempuan.
Belum lagi menyebut ulama  terkemuka, Buya Hamka (Maninjau, 1908), Ketua Umum 
MUI, penulis novel  “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Juga ada Marah Roesli 
(Padang,  1889), sastrawan Angkatan balai Pustaka, penulis roman “Siti 
Nurbaya”.  
AA Navis (padang 1924), sastrawan penulis novel “Robohnya Surau Kami”.  Taufiq 
Ismail, penyair Angkatan 66, diantara kumpulan puisinya “Tirani  dan Bentang”. 
Serta banyak lagi lainnya.
Berdasar misal kesemua figur unggul  itu, jujur kita harus mengakui, sekaligus 
kecemburuan, bahwa  Minangkabau memang terlanjur menjadi sumber — “reproduksi” 
—  
produksi orang-orang cerdas dan maha penting di negeri ini.  “Bagaimanakah 
mungkin itu bisa terjadi?”. Demikian saya nyatakan pada  sejumlah tokoh muda 
Minangkabau, sewaktu saya memberi pembekalan  Orientasi Pengurus DPD KNPI 
Sumatera Barat, di Padang, tahun 2007, lalu.
***
Pernyataan yang saya kemukakan  secara terbuka di hadapan puluhan tokoh muda 
Minang “Bagaimanakah  mungkin itu bisa terjadi?” — mungkin diketahui pembicara 
sesudah saya,  Indra Jaya Piliang, seorang anak muda Minang yang belakangan 
menonjol  kecerdasannya — oleh tokoh muda Minang, juga tak paham  menjawabnya 
harus mulai dari sisi mana. Padahal saya ingin mereka harus  tahu, tak lain 
karena negeri ini merindukan tokoh sekaliber mereka.
Tertantang kenyataan demikian, saya  kemukakan tekad saya pada sejumlah tokoh 
muda Minang, jika kelak suatu  waktu saya punya duit, punya waktu dan punya 
kesehatan, saya ingin  berkelana di bumi bekas Kerajaan Pagaruyung ini. Saya 
ingin mencari  pengobat rindu atas kecemburuan itu. Saya berhasrat — meski saya 
bukan  peneliti — ingin tahu bagaimana cara orang-orang Minangkabau “mengerami” 
 
lahirnya anak-anak bangsa secerdas mereka.
Dan sebelum tekad saya terkabul  berkelana ke Nagari Minang, secara sederhana 
saya coba telusuri serpihan  dan kepingan tradisi budaya Minangkabau, saya 
temukan pijakan awal.  Pelecut utamanya tak lain karena di Minangkabau — satu 
etnis yang  mendiami wilayah Sumatera Barat sekitarnya — dianut sistem 
“matrilinial” (silsilah berdasar garis ibu). Ibu sedikit banyaknya memiliki 
otoritas mengasuh untuk melecut kedigjayaan seorang anak.
***
Faktor lain, karena dalam sistem “matrilinial”, ada disebut “Harta  Pusaka 
Tinggi”, harta milik keluarga yang diperoleh turun temurun  melalui garis ibu. 
Harta ini tidak boleh dijualbelikan, sangat  terkecuali karena ada empat hal. 
Satu diantaranya “mambangkik batang tarandam” (membongkar  kayu yang terendam). 
Maksudnya, hanya bisa jika biaya pesta tak ada  untuk pengangkatan penghulu 
(datuk) atau biaya sekolah anggota kaum ke  tingkat lebih tinggi.
Hal lain lagi, karena daerah  Minangkabau memiliki banyak “nagari” — daerah 
otonom yang memiliki  kekuasaan tertinggi — dipimpin sebuah dewan disebut 
“Karapatan Adat Nagari”.  Faktor inilah pendorong dinamika masyarakat Minang 
untuk berkompetisi  secara konstan untuk mendapatkan status dan prestise. 
Setiap 
kepala  “nagari” berlomba meningkatkan status dan prestise keluarga kaumnya.  
Mendapatkan harta dan sekolah setinggi-tingginya.
Mungkin sebab karena itu, tradisi  perantau membias bertumbuhkembang dalam 
kehidupan masyarakat Minang  untuk mengadu nasib di negeri orang. Selain 
berdagang, juga menuntut  ilmu. Itulah cara ideal mencipta kematangan sekaligus 
prestise akan  kehormatan individu di tengah lingkungan adat. Tradisi merantau 
ini,  pada motif hias Miang, dikenal istilah “itiak pulang patang”. Anjuran 
merantau, mengadu nasib, pulang petang hari bawa kesuksesan.
***
Satu lagi sisi paling spektakuler,  rumah gadang khas Minangkabau itu, ternyata 
hanya dihuni orangtua, anak  gadis dan anak balita. Sementara anak laki-laki, 
sejak akil baliq  bermukim di surau. Dari surau inilah awal mula pribadi dan 
karakter  orang Minangkabau dibentuk. Selain belajar  mengaji, bela diri 
randai, 
petitih Minangkabau, dan ilmu pengetahuan  lainnya, untuk ditempa menjadi 
pribadi tangguh yang siap menanggung  beban amanah di kemudian hari.
Saya memamahami sistem dan metode  pendidikan surau seperti ini, tidak lebih 
kurang tiga fase, secara  pribadi saya pernah mengalaminya. Pertamakali ketika 
ikut mengaji dan  kajian di kampung. Hal sama kedua kalinya, ketika masa remaja 
ikut  pendidikan “mondok” selama enam tahun di Makassar, dan ketiga kalinya  
masa mahasiswa saat terlibat di HMI Makassar. Sebab kaitan itu,  kecemburuan 
saya pada orang-orang Minangkabau, tak pudar dan surut.
Terlebih lagi, pesan disampaikan  seorang anak gadis Minangkabau ketika saya 
berkunjung ke Padang, tahun  2007 lalu — seperti saya tuliskan di awal catatan 
ringan ini — masih  lekat teringat dalam benak saya. “Kalaulah ajaran adat 
dapat  
didalami dan difahami dengan baik, serta diamalkan di tengah masyarakat,  maka 
masyarakat itu kelak akan tinggi mutunya”.
Makassar, 27 Pebruari 2011


Renny
Accounting & Finance
APX WORLDWIDE EXPRESS
[email protected]
021 88863360 ext. 214
081806966391  (gsm)
021 95578396 (cdma)








________________________________
From: ASLIM NURHASAN <[email protected]>
To: Milis M-RantauNet G <[email protected]>
Sent: Fri, May 13, 2011 8:39:39 AM
Subject: [R@ntau-Net] Kecemburuan Saya pada Orang Minangkabau

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke