Partai-partai lain tak kurang bagian. Seorang kepala daerah bercerita, ketika 
berkumpul, para kepala daerah biasanya bertukar cerita tentang anggota Dewan 
yang bisa dititipi anggaran atau proyek. Kesimpulannya, para kepala daerah 
cenderung memanfaatkan jalur partai yang mendukungnya pada saat pemilihan.


intensnya pemberitaan yang negatif terhadap ulah aleg kita di senayan, 
menimbulkan kekhawatiran tersendiri yaitu makin rendahnya tingkat kepercayaan 
publik kepada partai, padahal dalam sistim demokrasi unsur partai sangatlah 
penting. 2014 nanti, bisa jadi capres independen yg oleh publik masih dikenal 
lurus dan baik akan lebih mendapatkan tempat dibanding calon2 dari partai.


wassalam,
harman st.idris


http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/05/16/LU/mbm.20110516.LU136702.id.html


16 MEI 2011
'Wakil Rakyat' Penjaja Anggaran
DUA pria itu bersua di satu restoran, lantai tiga Plaza Senayan, Jakarta. Pria 
pertama Jefferson Soleiman Montesqieu Rumajar, Wali Kota Tomohon, Sulawesi 
Utara. Lelaki lainnya Setya Novanto, Ketua Fraksi Partai Golkar Dewan 
Perwakilan Rakyat. Berjabat tangan, lalu saling menanyakan kabar, keduanya 
kemudian duduk di tempat kosong restoran itu.
Malam itu, Oktober 2009, menurut sumber yang mengetahui pertemuan tersebut, 
Setya bertanya, "Mau ikutan dengan grup kami?" Yang ditanya menjawab mantap, 
"Bisa, Pak." Dua pria memahami kosakata yang sama. Kalimat Setya itu merupakan 
kode ala Senayan untuk menawarkan jasa pengalokasian anggaran proyek 
infrastruktur di suatu daerah.
Setya mengangguk-angguk. Ia berpesan agar Jefferson melanjutkan urusan anggaran 
ini dengan stafnya di Dewan. Pertemuan di restoran tanpa jamuan itu usai dengan 
cepat. Pada saat itu, Tomohon membutuhkan dana segar Rp 50 miliar untuk 
pembangunan jalan dan jembatan. Jefferson berharap dana bisa masuk Anggaran 
Pendapatan dan Belanja Daerah Tomohon tahun berikutnya.
Sumber Tempo menyebutkan, setelah pertemuan tersebut, anggota staf wali kota 
termuda di Indonesia itu, ditemani seorang pengusaha asal Sulawesi Utara, 
beberapa kali menjalin kontak dengan Shely, anggota staf Setya. Dalam 
komunikasi disebutkan, Jefferson harus menyetor uang muka Rp 3 miliar, enam 
persen dari anggaran Rp 50 miliar yang akan dialokasikan. "Tak boleh kurang 
sedikit pun," kata sumber ini.
Menjelang tutup bulan, anggota staf Jefferson bersama pengusaha sponsor bertemu 
dengan Shely di ruang kerja Setya, lantai 12 Nusantara I Gedung DPR. Keduanya 
menenteng tas belanja berisi ratusan lembar dolar Amerika Serikat. Tak banyak 
cakap, tas itu berpindah tangan. Dan benar, belakangan Tomohon mendapat 
tambahan anggaran Rp 50 miliar dari pos dana percepatan pembangunan.
Jefferson, yang dua pekan lalu divonis sembilan tahun penjara dalam perkara 
korupsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan kini ditahan di Rumah 
Tahanan Cipinang, Jakarta Timur, tak membantah atau membenarkan informasi itu. 
"Kamu tahu dari mana? Saya tak mau berkomentar," katanya.
Dihubungi Tempo, Shely menyangkal pernah menerima uang dari pengusaha atau staf 
pemerintah Tomohon. "Saya tidak tahu soal itu. Di DPR memang banyak gosip yang 
tak jelas," ujarnya. -Setya juga membantah bertemu dengan Jefferson dan 
menawarkan bantuan penempatan anggaran. "Tidak ada itu," katanya seusai kuliah 
umum di Universitas Lampung, Jumat pekan lalu.
Seorang pengusaha yang pernah dekat dengan Setya Novanto mengatakan peran 
Bendahara Umum Partai Golkar dalam mengegolkan anggaran untuk daerah sangat 
besar. Bahkan -Setya menjadi pintu masuk utama bagi mereka yang ingin meraup 
dana anggaran melalui jalur Partai Beringin. Dimintai komentar, Setya kembali 
membantah. "Saya tak ikut-ikutan. Tudingan itu aneh," ujarnya sambil berlalu.
Dugaan praktek percaloan anggaran di Dewan kembali dibicarakan setelah 
terbongkarnya perkara suap untuk Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga 
Wafid Muharam. Pada 21 April lalu, Wafid ditangkap petugas Komisi Pemberantasan 
Korupsi karena menerima cek senilai Rp 3,2 miliar dari Direktur PT Duta Graha 
Indah Mohammad el-Idris, penggarap proyek wisma atlet SEA Games XXVI di 
Palembang. Mindo Rosalina Manulang, Direktur Marketing PT Anak Negeri yang 
mendampingi Mohammad el-Idris, juga ditangkap.
Setelah ditangkap, Rosalina, yang menjadi anak buah Muhammad Nazaruddin, 
pemilik Anak Negeri dan Bendahara Umum Partai Demokrat, menyebutkan uang untuk 
Wafid bakal dibagikan ke sejumlah anggota Komisi Olahraga Dewan. Belakangan, 
kepada Komisi Pemberantasan Korupsi, setelah berganti pengacara, Rosalina 
menyatakan tak mengenal Nazaruddin. Ia juga menyangkal dana bakal dibagikan ke 
Senayan.
Penyusunan anggaran memang merupakan lahan basah bagi anggota Dewan. Para 
"wakil rakyat" menggunakan proses persetujuan yang merupakan kewenangan mereka 
untuk memperoleh keuntungan. Berdasarkan penelusuran Tempo, banyak anggota 
Dewan menghubungi kepala-kepala daerah, menawari mereka anggaran tertentu, dan 
kemudian memotong 5-10 persen sebagai "fee". Uang ini harus dibayar di muka, 
tunai.
Proses serupa dilakukan dengan pengusaha untuk persetujuan anggaran pengadaan 
suatu barang. Tawar-menawar juga dilakukan untuk memutuskan pasal-pasal krusial 
dalam penyusunan suatu rancangan undang-undang (lihat "Bursa Pasal ala 
Senayan").
l l l
TRANSAKSI gelap dilakukan politikus dari hampir semua fraksi. Seorang pengusaha 
mengaku beberapa kali bertemu dengan anggota Dewan dari Partai Demokrat. 
Terakhir, pertemuan diadakan di sebuah restoran hotel bintang lima di Jakarta 
Pusat, sekitar tiga bulan lalu. Ia menyebutkan ditemui antara lain oleh 
Nazaruddin dan Sutan Bhatoegana, membicarakan alokasi anggaran untuk suatu pos 
pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan.
Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam di ruang privat, para 
politikus Demokrat menjelaskan setor-an yang perlu disiapkan. Sebagai 
ilustrasi, alokasi anggaran senilai Rp 50 miliar memerlukan "bantuan" satu 
anggota DPR dengan imbalan delapan persen atau Rp 4 miliar. Untuk alokasi 
anggaran Rp 500 miliar, dengan begitu, dibutuhkan peran sepuluh anggota Dewan 
dan sogokan Rp 40 miliar. "Pak Nazaruddin bilang jumlah itu kecil," kata 
pengusaha ini.
Sadar bakal mengeluarkan uang muka sangat besar untuk proyeknya, pengusaha ini 
mundur teratur. "Saya coba nawar, tapi enggak boleh kurang sepeser pun. Pelit 
bener mereka," ujarnya.
Seorang pengusaha tambang mengatakan Partai Demokrat merupakan pintu yang 
paling banyak diminati. Maklum, partai ini memiliki kursi mayoritas di DPR, 
sehingga peluang mengegolkan alokasi anggaran lebih besar. Lobi dengan Demokrat 
ini biasanya digelar di hotel mewah, seperti Ritz-Carlton, Bellagio, Sultan, 
atau Gran Melia. Menurut pengusaha ini, dalam setiap lobi yang dilakukan lewat 
Demokrat, hampir selalu ada Nazaruddin.
Nazaruddin ketika dihubungi Tempo memilih tak mau memberikan komentar sedikit 
pun. Ia mengatakan sejumlah hal, tapi menolak pernyataannya dipublikasikan. 
Sedangkan Sutan Bhatoegana tak bisa dimintai pendapat. Ia tak membalas pesan 
pendek dan panggilan yang dikirimkan ke telepon selulernya.
Sekretaris Fraksi Demokrat Saan Mustopa membantah kabar para kadernya sering 
"berjualan" dengan pihak yang ingin melancarkan proyek. Demokrat juga tak 
pernah memerintahkan kadernya mencari uang untuk partai. "Kalau sampai ada yang 
'buka warung' seperti itu, laporkan saja. Nanti kami usut," katanya.
Partai-partai lain tak kurang bagian. Seorang kepala daerah bercerita, ketika 
berkumpul, para kepala daerah biasanya bertukar cerita tentang anggota Dewan 
yang bisa dititipi anggaran atau proyek. Kesimpulannya, para kepala daerah 
cenderung memanfaatkan jalur partai yang mendukungnya pada saat pemilihan.
Seorang bekas anggota Panitia Anggaran mengatakan tiap partai biasanya memiliki 
sejumlah anggota yang giat menjala uang. Kader partai ini ditempatkan di Badan 
Anggaran, perangkat Dewan yang beranggotakan 85 orang dari pelbagai fraksi 
secara proporsional. Di sini proses pembahasan anggaran dimainkan agar proyek 
yang dikawal bisa mulus. Anggota Badan Anggaran yang tak produktif menyetor 
uang ke partai bakal dipindahkan ke alat kelengkapan Dewan lainnya.
Di Badan Anggaran kadang terjadi peleburan anggota lintas fraksi dan lintas 
komisi. "Pernah ada anggota Badan Anggaran dari Komisi Pertambangan ngotot 
meloloskan anggaran untuk proyek di komisi lain," katanya.
Laode Roy Salam, analis Indonesia Budget Center, lembaga nonpemerintah yang 
mengawasi anggaran, mengatakan Badan Anggaran merupakan tempat paling strategis 
untuk mengumpulkan pundi-pundi. Apalagi pembahasan detail sangat tertutup dan 
tak bisa disaksikan masyarakat. Adapun Uchok Sky Khadafi dari Sekretariat 
Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran mengatakan peluang 
memainkan penyusunan anggaran terjadi di semua lini-dari pembahasan di tingkat 
daerah atau kementerian hingga Dewan.
Permainan juga melibatkan mediator, yang datang ke Senayan dan melobi 
legislator agar meloloskan proyek di daerahnya. Seorang mediator dari salah 
satu daerah di Sulawesi mengakui perannya. "Kami harus rajin mengontak anggota 
DPR agar terus mengawal proyek di suatu daerah," katanya. Biasanya, anggota 
Dewan yang didekati berasal dari daerah pemilihan yang sama.
Para mediator datang membawa proposal dari daerah yang sudah disetujui bupati 
atau wali kota. Seorang kepala daerah yang memanfaatkan jasanya bahkan 
mengatakan di tiap wilayah biasanya ada mediator yang rajin menyambangi bupati 
atau wali kota untuk menembuskan anggaran. "Proposal itu tinggal ganti nama 
daerahnya, beres," ujarnya.
Anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Aria Bima, mengakui 
percaloan anggaran oleh para wakil rakyat bisa dicium dengan mudah. Tapi, ia 
mengingatkan, tak semua anggota DPR menjadi calo. Ada juga anggota DPR yang 
meminta proyek di daerah pemilihannya disetujui tapi bukan calo. "Yang salah 
itu kalau menerima komisi setelah anggaran disetujui," katanya.
l l l
SEORANG kepala daerah dari Indonesia bagian timur mengaku beberapa kali 
berurusan dengan calo anggota Dewan. Dari tahun ke tahun, so-gokan yang diminta 
kian meningkat. Tapi para kepala daerah mau tak mau harus menerima hal ini agar 
pembangunan di daerahnya tetap berjalan. Apalagi untuk mendapatkan dana segar 
seperti dana percepatan infrastruktur daerah. Banyak bupati atau wali kota 
kerap meninggalkan daerahnya, menginap di sejumlah hotel di Jakarta, "berburu" 
alokasi anggaran.
Tak mudah menyiapkan dana so-gokan. Lihatlah pengalaman seorang bupati satu 
daerah di Jawa Barat. Tahun lalu, ia menerima tawaran "bantuan" dari politikus 
Partai Keadilan Sejahtera, Andi Rahmat. Ini bukan pengalaman pertamanya. "Kami 
percaya dengan politikus dari Partai Keadilan Sejahtera: kalau janji bisa 
mengalokasikan Rp 10 miliar, pasti ditepati," kata orang dekat sang bupati, 
yang ditemui Tempo di Hotel Sultan, Jakarta, dua pekan lalu. "Mereka itu 
amanah."
Setelah sang bupati setuju menggunakan jasa, orang-orangnya kemudian 
berhubungan dengan Andi Rahmat. Kesepakatan tercapai, bupati harus membayar 10 
persen dari anggaran yang dijanjikan-jumlahnya tidak boleh disebut karena "akan 
mudah dilacak". Untuk membayar sogokan, bupati meminta para kepala dinas dan 
pejabat lainnya menyetor iuran. Seorang kepala bagian sampai harus meminjam 
deposito ibunya buat keperluan ini. Dengan tambahan dari kocek sang bupati, 
terkumpullah duit yang disepakati.
Tugas berikutnya: mengantar duit ke Andi Rahmat. Bupati menunjuk seorang 
anggota staf, yang saking ketakutan mengganti nomor teleponnya berkali-kali. 
"Ia takut tersadap KPK," kata sumber Tempo. Toh, ia sukses menjalankan misi. 
Dengan beberapa kali komunikasi, duit bisa diserahkan di sebuah mal di kawasan 
Cilandak, Jakarta Selatan.
Jasa Andi juga ditawarkan kepada seorang kepala daerah dari kawasan timur 
Indonesia. Menurut kepala daerah ini, tawaran Andi ditolak karena ia sudah 
menggunakan jalur partai lain. "Waktu itu saya dan Andi tak sengaja ketemu di 
satu mal. Eh, dia langsung menawarkan bantuan," ujarnya.
Walau enggan berkomentar banyak, Andi Rahmat membantah tegas kabar ini. Ia 
mengaku sebutan calo anggaran tak pas diarahkan untuk posisinya sebagai anggota 
Dewan. "Kewajiban saya menurut undang-undang mengadvokasi semua kepentingan 
publik yang terwujud dalam politik kebijakan anggaran," katanya.
Kewajiban memberi uang muka ini biasanya berekor panjang. Bupati umumnya telah 
mengikat kesepakatan dengan pengusaha sponsor yang kelak akan memperoleh 
proyek. Tender yang dilakukan pun hanya formalitas. Pengusaha itu pun mengikat 
kesepakatan: akan membagi sebagian keuntungan pengerjaan proyek untuk kepala 
daerah. Dari uang inilah utang kepada kepala dinas atau pejabat yang menyetor 
iuran ditutup. "Kami ini sebenarnya korban," kata seorang wali kota, 
menggambarkan posisinya berhadap-an dengan anggota Dewan.
Pramono, Fanny Febiana, Tito Sianipar (Jakarta), Nurochman Arrazie (Lampung)
________________________________

Kamus Gaul Bahasa Senayan
Layaknya operasi kejahatan, banyak kode buat menyembunyikan transaksi gelap di 
gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Kode ini umumnya hanya bisa dipahami sesama 
anggota Dewan-walau orang lain sebenarnya bisa menduga maknanya.
Kode antar anggota Dewan
Gini-gini aja nih?
-diucapkan kalau tak ada tanda bakal ada kucuran uang.
Lagunya apa, Bagimu Negeri?
-ditanyakan sebelum proyek: ada uang atau tidak. Bagimu Negeri merujuk pada 
proyek yang tak berduit karena bait dalam lagu itu berbunyi "Kami mengabdi...".
Kok puasa terus, kapan bukanya?
-diucapkan kalau tak ada tanda bakal ada kucuran uang.
Hitungannya jago, tambah-tambahan hebat, tapi membaginya kurang pintar...
-menyindir pejabat yang tak pernah membagi duit.
Mana nih air zamzam-nya?
-menanyakan kucuran uang.
Berapa meter kirimannya?
-meter dipakai menggantikan kata "miliar".
Kok kuenya pahit, kurang manis nih...
-protes karena jumlah duit yang dibagikan kurang.
Nah, begitu lho, makanannya enak-enak. Kami suka sekali dengan kiriman Anda 
kemarin...
-puas dengan kiriman duit.
Ada makan siang, mau ikut enggak?
-memberi tahu ada proyek yang akan digarap.
Lagi ketemu pasien
-anggota Dewan sedang bernegosiasi dengan pejabat atau pengusaha.
Kode dari penyetor uang (pengusaha/pejabat)
Kami sudah kirim lima bola, bisa untuk main sama teman-teman
-setoran duit Rp 500 juta.
Ada kiriman buku dari Amerika. Maaf, di dalamnya ada tiket nonton jazz 10 lembar
-ada kiriman amplop berisi US$ 10 ribu.
Alur Anggaran
Mei-Agustus
Pembicaraan pendahuluan tentang asumsi makroekonomi, pokok-pokok kebijakan 
fiskal, kebijakan umum, dan prioritas anggaran rencana kerja pemerintah.
Konsultasi penyusunan rencana kerja anggaran kementerian dan lembaga.
Agustus-Oktober
Pembahasan oleh Badan Anggaran

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke