Sangat menarik cerita sanak Andiko di siang ini berkaitan dengan tukang pangkeh 
atau tukang  cukur , berikut ini saya forward kan sebuah cerpen  yang berjudul 
: Tukang Cukur , karangan Gus tf Sakai yang pernah dimuat di Kompas .

Zul Amry Piliang .


Tukang Cukur
Cerpen
Gus tf Sakai


Dimuat di Kompas (08/27/1995)

Barangkali memang ada perubahan dalam dirinya. Tapi entahlah. Sebagai
seorang tukang cukur, ia hanya berhadapan dengan kerutinan, melakukan hal yang
sama setiap hari sampai-sampai ia pernah berpikir hidup ini hanyalah perulangan
dan karenanya tak ada yang penting. Heran, bagaimana tiba-tiba dalam dirinya
muncul semacam harapan?
Barangkali itu bukan harapan. Barangkali hanya semacam perasaan senang,
perasaan suka, seperti yang selama ini selalu ia ciptakan untuk menghilangkan
kejemuan setiap tangannya bergerak meluncur turun-naik berulang-ulang menekan
kulit dengan pisau cukur yang dimiringkan. Ia nikmati luncuran pisau itu saat
tiba di pipi, di dahi, tapi ia akan lebih senang lagi ketika pisau cukur itu
tiba di dagu. Dagu yang kokoh. Dagu lelaki. Tak jarang ia tiba-tiba mengangkat
wajah, menatap ke cermin, membandingkan dagu yang tengah ia cukur dengan
dagunya yang tirus dan halus. Heran, kenapa bisa begitu berbeda?
Tapi itu tak penting. Tapi ia kembali memikirkan dagu itu. Dan lelaki.
Lelaki itu. Ia muncul di pintu biasa-biasa saja seperti orang-orang ingin
bercukur lainnya melayangkan pandang mencari-cari kursi yang kosong (artinya,
mencari tukang cukur yang menganggur) lalu mereka bertatapan dan tiba-tiba
dadanya berdebar. Mungkin ia panik. Tapi tidak. Sebagai tukang cukur
satu-satunya yang menganggur, ia ingat, saat itu, buru-buru ia tersenyum seraya
menggerakkan tangan mempersilakan lelaki itu duduk. Tapi, kapan ia pernah
tersenyum kepada seseorang yang ingin bercukur apalagi mempersilakannya duduk?
Ahh, apa salahnya. Setiap tukang cukur biasa ramah kepada orang-orang yang
dicukurnya. Tapi ia ingat setelah itu ia membeku, diam seperti batu. Tapi
tubuhnya berpeluh. Dingin. Ia berusaha membendungnya, bersikap biasa, tapi
tangannya gemetar ketika mulai mencukur muka.
“Anda sakit?”
“Aaa … tidak.”
Ia sumpahi dirinya ketika itu. Kembali ia usahakan untuk bersikap biasa.
Tapi celaka, tidak bisa. Ia bayangkan begitu selesai lelaki itu akan pergi
entah ke mana dan ia akan melupa­kannya, hidup hanya perulangan dan setiap
perulangan hanya akan begitu-begitu saja—memuakkan. Tapi, tapi, tangannya
menggigil ketika pisau cukurnya sampai di dagu.
“Anda pasti sakit.”
“Aaa … tidak. Tidak.”
***
Hanya begitu peristiwa awalnya. Dan ketika segalanya telah selesai, dan
ketika lelaki itu melangkah ke kasir dan membayar lalu lenyap di pintu,
tiba-tiba hidup menjadi sunyi. Ada
yang seperti terlepas dari raihan dan ternyata hidup bukanlah begitu-begitu
saja. Tapi tidak.Hidup ini hanyalah perulangan. Dan memang hanya kesunyian. Dan
kesendirian. Ia malah telah lama melupakan dan menyebut hubungan antara
seseorang dengan seorang lain hanyalah bohong besar, tak lebih dari “Hai!”
tertimpal “Hai!” seperti batu menimpa kaleng yang mesti bersuara, sekadar
menunjukkan bahwa mereka bukanlah terdiri dari daging yang bisu. Bahkan di
ruangan ini, di tempatnya bekerja, seorang tukang cukur dengan tukang cukur
lain berkomunikasi hanya dengan gumaman. Gumaman tak jelas, kosong, tak berarti
apa-apa, kecuali memperli­hatkan bahwa seseorang tengah berusaha keluar dari
kepungan kejemuan.
Tapi tidak. Debar di dadanya sering berulang. Setiap se­seorang masuk ingin
bercukur, serta-merta ia menoleh ke pintu, membayangkan bahwa lelaki itulah
yang datang. Setiap pisau cukur­nya meluncur di dagu, entah di dagu siapa, dagu
lelaki itulah yang olehnya selalu terbayang. Ahh, tidak. Lelaki itu telah
lenyap, telah lenyap, dan kini entah berada di mana. Mungkin saja di sebuah
tempat yang jauh di sebuah kota yang jauh, dan
tak mungkin lagi muncul—hanya untuk bercukur—di kota ini. Barangkali saja ia 
seorang pelaut,
dan kini telah berada di benua yang lain, dalam kehidupan yang lain. Di benua
yang lain itu, apakah ia juga tengah bercukur dengan seorang tukang cukur yang
lain? Tapi, tapi, rupanya tidak.
***
Tepat sebulan kemudian lelaki itu kembali muncul. Ia, saat itu, sebetulnya
tengah mencukur seseorang tapi rupanya lelaki itu sengaja menunggu. Ia ketahui
itu ketika si lelaki duduk di kursi tunggu, membolak-balik majalah dan koran
tapi sebetulnya lebih sering menatap ke arahnya dan setiap mereka bertatapan
dadanya gemuruh. Ia tak bisa berkonsentrasi, tak bisa tenang, sehingga lelaki
yang tengah ia cukur jadi selesai lebih lama dari yang diharapkannya. Lalu,
seperti sebulan yang lalu itu, ia kembali seperti batu. Batu yang dingin, tapi
berpeluh. Dan tangannya, tangannya kembali gemetar ketika akan mulai mencukur
muka.
“Anda masih sakit?”
“Aaa … tidak. Ma-maaf, Anda tidak akan luka.”
“Saya mengkhawatirkan Anda. Kelihatannya Anda sakit. Tangan Anda dingin dan
menggigil.”
Tidak hanya tangan. Tapi seluruh tubuhnya dan berpusat di dada. Saat itulah
ia tak lagi meragukan bahwa dalam dirinya, dalam hidupnya, memang telah ada
harapan. Harapan? Ia ingin melu­pakan tapi pipi lelaki itu, dagu lelaki itu,
sungguh melahirkan rasa kasih. Dan mata lelaki itu, dan hidungnya dan bibirnya
dan cara lelaki itu berbicara, sungguh menumbuhkan rasa cinta. Dan lalu:
pertemuan (tepatnya, saat-saat bercukur) selanjutnya, ia mulai membayangkan dan
merasa sayang kalau-kalau lelaki ini telah jatuh ke tangan wanita. Tapi siapa
tahu? Lelaki ini terlalu tampan untuk tak terjerat oleh bujuk rayu manis yang 
memualkan.
Atau … tidakkah lelaki ini telah beristri? Mendadak ia jadi cemburu.
Cemburu. Dan rindu. Tentu pula rasa gelisah karena akan lama mereka kembali
bertemu. Berhari-hari, berminggu-minggu. Dan tak ada yang bisa ia lakukan
kecuali menunggu, berharap, dan kemudian kecewa lalu malam-malamnya ia akan
keluar melangkahkan kaki entah ke mana. Mula-mula ia senang ke keramaian,
membayangkan bertemu dengan lelaki itu tak sengaja di tengah lalu-lalang orang,
tapi billboard dan lampu-lampu membuatnya sering pusing dan limbung. Ia tarik
tubuhnya ke kegelapan, menyuruk-nyuruk ke kedalaman kota dan lama-kelamaan jadi 
bagian dari
lorong-lorong tua yang dingin, lembab, dan bagai berasal dari suatu zaman di
masa lalu entah kapan dan di mana.
Ia pikir, dari hari ke hari, tubuhnya mengurus. Tapi ajaib, ia merasa
bergairah. Betulkah harapan bisa membakar?
***
Lebih dari membakar. Suatu hari ia kesiangan, terlambat sampai di toko cukur
karena perjalanan malamnya yang larut. Ia sorongkan anak kunci ke laci, memutar
lalu menariknya, menata alat-alat cukur seperti biasa, tapi tiba-tiba
perasaannya menga­takan agar menoleh ke samping. Dan ia terkejut. Lelaki itu
ada di sana.
Memejam-mejamkan mata tengah bercukur dengan kawannya. Ada beberapa detik ia 
terpana. Memperhatikan
bagaimana tangan dan pisau cukur rekannya bekerja, bermain di dagu, di pipi, di
dahi.
Serta-merta, sekejap mata, ia raup seluruh alat cukurnya. Ia kembalikan
semuanya ke laci secepat kilat lalu mengunci, mem­balikkan tubuh, lalu
melangkah secepat berlari. Di luar, barang­kali ia berteriak. Tapi entahlah.
Kesadarannya baru sempurna ketika dengan terengah ia telah berada di kamarnya.
Kenapa lelaki itu—lelakiku—tidak menunggu dirinya?
Berhari-hari ia seperti sakit. Bermalam-malam ia seperti gila. Tapi tidak.
Ia toh tahu hidup ini tak begitu penting. Hidup ini hanyalah perulangan.
Hanyalah kejemuan. Hidup ini hanyalah kesunyian. Hanyalah kesendirian. Heran,
kenapa ia pernah percaya kepada harapan?
Ia seorang tukang cukur dan kewajibannya hanyalah mencukur. Tak sengaja ia
kini punya malam dan lorong-lorong kota
yang samar, yang kelam, seperti melarutkan segenap kesedihan. Kegela­pan
seperti palung yang dalam, menyedot apa pun seperti menelan. Tandas. Kadang ia
berpikir, alangkah senang menjadi bagian dari kelenyapan.
Tapi tidak. Pekerjaan membuatnya harus muncul setiap pagi, sepanjang siang
sampai senja hari. Mencukur. Sejak kapankah ia jadi tukang cukur? Ah, entahlah.
Telah lama ia melupakan segala yang berkaitan dengan masa lalu dan asal-usul.
Bukankah keb­eradaan seseorang hanya dilihat pada hari ini dan kini? Dan lelaki
itu, telah empat kali dengan pagi ini, kembali ia dapatkan tengah bercukur
dengan kawannya.
Ada yang
tiba-tiba menyesak. Tapi tidak. Ia telah, telah tak peduli. Tapi tidak. Pipi
lelaki itu, dagu lelaki itu, sungguh melahirkan rasa kasih. Tapi tidak. Hidup
telah, telah tak lagi penting. Tapi tidak. Bibir lelaki itu, hidung lelaki itu
dan matanya yang sayu terpejam, sungguh menumbuhkan rasa cinta. Tapi tidak.
Tapi … tapi, tubuhnya menggigil.
Lelaki itu masih menutup mata ketika dengan begitu saja ia menggeser
rekannya. Rekannya seperti tersihir, memberikan tempat untuknya, membiarkan ia
begitu saja menggantikan pekerjaannya.
Tenang sekali tangannya meluncur. Mencukur dahi, mencukur pipi, mencukur
dagu. Seperti biasa, lembut. Halus. Lelaki itu seperti tertidur.
Tenang sekali pisau cukur itu turun ke leher. Sedetik. Dua detik. Pada detik
ketiga ia tiba-tiba menekan, lalu menariknya dengan satu sentakan.
Darah muncrat. Menyembur-nyembur. Dalam pandangannya begitu menakjubkan.
Amat indah.***
Padang, 6
Juli 1995


________________________________
Dari: andi ko <[email protected]>
Kepada: RantauNet <[email protected]>
Dikirim: Minggu, 22 Mei 2011 14:31
Judul: [R@ntau-Net] Tukang Pangkeh


Sanak Palanta

Sekedar curito palapeh hari libur. 

Tadi setelah berbulan-bulan indak sempat singgah ka "Tukang Pangkeh" di mungko 
rumah, singgahlah ambo kasinan. Nan menyenangkan singgah kasinan adolah service 
pijat setelah di pangkeh itu. Raso lapeh panek-panek dek inyo. Pijat jo 
pangkehsatu paket dan satu harga. Salah satu profesi tradisional urang 
Minangkabau di parantauan adolah manjadi tukang pangkeh ko, tapi zaman awal itu 
mungkin alun pakai uruik. Dulu ukatu ketek-ketek ambo selalu dibao kakek ka 
tukang cukua di pasa yang pisaunyo diasah cukuik jo potongan kulik se. Ado juo 
tukang cukua nan bajalan kuliliang kampuang, kalau ado nan ka bacukua, cukuik 
mambukak bangku lipek klasiknyo di pangka kayu. Beberapa waktu lalu ambo sempat 
batanyo ka tukang cukua langganan di Jakarta, dima di Jakarta ko masih ado 
tukang cukua keliling ko, keceknyo di pinggiran jakarta masih ado. Ambo batanyo 
pulo, kalau ingin mambali kursi 

Banyak kisah-kisah para "lelaki" lahir dari warung tukang pangkeh iko. Salah 
satu tempat para lelaki berkumpul dan membaca sobekan koran. Di film-film lua, 
Barber Shop adolah salah satu piranti penting kebudayaan maskulin, seperti 
Dunia Mafia. Ambo pernah membaca sebuah cerpen yang sangat bagus mengenai 
tukang pangkeh iko, settingnyo adolah komandan pasukan nan pai katukang pangkeh 
yang itu pendukung pemberontak. Komandan pasukan iko alah menyerahkan kapalo jo 
lihianyo ka tukang pangkeh nan mamakai pisau cukua nan tajam alahurabbi. Salamo 
proses mancukua itu, situkang pangkeh seolah barado pado kecamuk parang batin, 
kadibunuah atau indak si komandan pasukan iko. Tapi sampai bacukuai salasai, 
nan tukang pangkeh iko indak jadi mambunuah si komandan. Ukatu si komandan itu 
kalua Barber Shop itu, baliau mangecek "ternyata indak mudah membunuh orang, 
padahal ada informanku mengatakan kalau aku datang ke Barber Shop ini akan 
dibunuh oleh tukang pangkas".

Kisah-kisah tukang cukua dari masa ke masa adolah satu mozaik penting berbagai 
peristiwa budaya atau politik yang terjadi, bagian dari kisah-kisah penting 
yang membentuk curito sejarah.

Mungkin dunsanak juga punyo pengalaman jo tukang pangkeh 

Salam

andiko
-- 
.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke