Jepe , ciri khas dari coto ialah penyajian ketupat yang terpisah dari cotonya , 
jadi pelanggan  bs makan ketupat berapa yang di kehendaki . saya pernah juga 
disebuah kedai sate Padang di kota Padang kalau tak salah sate Mak Laweh 
ketupatnya dan satenya juga terpisah dari kuahnya . jadi yang  dihitung berapa 
tusuk kita makan sate maka segitu yang kita bayar . Dulu waktu saya ke BP ada 
di dekat tepatnya dibelakang Hotel Bahtera sebuah Rumah Makan namanya Bondis , 
apa sekarang masih ada , dan sering dipelesetkan oleh teman teman kepanjangan 
Bondis adalah bon disik alias utang dulu he..hee..!! 

Zul Amry Piliang ...



________________________________
Dari: jupardi andi <[email protected]>
Kepada: rantaunet rantaunet <[email protected]>
Cc: [email protected]
Dikirim: Kamis, 26 Mei 2011 15:36
Judul: [R@ntau-Net] Coto Makasar dan Ketupat , By : Jepe


 
Coto Makasar dan
Ketupat
By : Jepe

Dua bulan sudah saya  berada ditempat kerja yang baru tepatnya saya
berkantor (Head Office) Balikpapan tapi hari-hari saya melalui tugas  untuk 
saat ini banyak berada di Sendawar ibu
kota Kabupaten  Kutai Barat  sebuah Kabupaten baru hasil pemekaran
Kabupaten Kutai Kartanegara di Propinsi Kalimantan Timur. Sudah menjadi 
“makanan”
saya sehari-hari menempuh perjalanan yang cukup jauh dari Balikpapan ke
Sendawar melalui jalan darat yang ditempuh selama 8-9 Jam vi Samarinda,
Tenggarong, Kota Bangun, Camp Baru masuk  daerah Barong Tongkok (kantor 
perwakilan saya)
di dekat  pusat pemerintahan yang bernama
Kota Sendawar. Tentunya sepanjang perjalanan tersebut saya tidak lepas dalam
urusan “kampung tengah” atau “los lambung”

Bersyukur saya mempunyai sopir yang bernama Slamet, Selamat,
Selamet atau apa sajalah yang penting saya dibawahnya selamat sampai tujuan
dalam perjalanan yang panjang. bersyukurnya saya punya sopir yang bernama
Slamet orang jawa tapi lahir dan besar di Samarinda serta menetap di Balikpapan
ini adalah karena Slamet orangnya sangat mumpuni dan tahu seluk beluk setiap
sudut kota Balikpapan, Samarinda dan Tenggarong dalam urusan kuliner, Slamet
mengenal tempat-tempat atau rumah makan yang enak, murah, bercita rasa dan 
“nganeni
‘ (recommended) salah satunya Coto Makasar dipinggiran Kota Tenggarong yang
terletak ditepian sungai Mahakam yang membelah ibu Kota Kabupaten Kutai
Kartenegara ini.

Sebuah cerita ringan dan santai ketika saya menikmati
semangkok Coto Makasar yang “ngangeni” itu dengan Slamet di rumah makan
sederhana berdinding papan. Coto Makasar tentu tidak asing lagi para penikmat
kuliner sejati sebuah masakan khas suku Bugis sebagaimana layaknya soto-soto
didaerah lain yang pada intinya masakan ini berkuah apakah dari kuah kaldu
berasal dari rebusan air ayam atau daging sapi baik yang bersantan maupun tanpa
santan, coto makasar dengan rasa sedikit kuat dengan bumbu, gurih dan bersantan
cukup membuat lidah bergoyang ketika saya bersantap siang dengan Slamet.
Sepintas Coto Makasar hampir sama “genre” nya dengan soto Betawi  dengan isinya 
berupa potongan daging sapi
serta aneka jeroan sebut saja paru,usus,limpa dan hati dengan kuah santan yang
cukup kental ditaburi bawang goreng.

Lazimnya soto kebanyak di daerah lain yang dimakan bersama
nasi maka coto makasar di hidangkan dengan ketupat (buras). Saya lihat para
pelanggan Coto Makasar yang lagi makan siang di warung ini kebanyak mereka
memadu serasikan makan Coto dengan ketupat begitu juga dengan Slamet sopir saya
ketika  makan siang semangkok Coto
dimakannya dengan beberapa buah ketupat bukan dengan sepiring nasi sebagaimana
saya yang juga memesan semangkok Coto. Ketika kami lagi makan lalu Slamet 
“nyeletuk”
disamping saya
 
“Pak Jepe, biasanya jika saya dan teman-teman makan Coto
Makasar di Balikpapan siapa yang banyak menghabiskan ketupat maka akan gratis
yang bayar adalah yang paling sedikit makan ketupatnya” ujar Slamet sambil
membelah setiap ketupat yang diambilnya lalu merendamkan kedalam mangkok
cotonya
 
“ahh..gitu ya..ya deh..saya sama nasi saja, berarti saya yang
bayar dong Met” 
Slamet tidak menjawab hanya tersipu malu saja, selesai kami
makan Coto Makasar dan terakhir ditutup dengan semangkok Es Pisang Hijau yang
manis legit ketika saya hendak membayar lalu saya berkata kepada Slamet yang
menghabiskan semangkok Coto Makasar dengan 4 buah ketupat
 
“Met..met..seandainya saya bisa menghabiskan 5 ketupat, tetap
saya toh yang akan bayar”
“he he ya nggak dong Pak..saya siap membayar kok” Slamet
belagak konsisten dengan ucapannya
“Oke deh kalo gitu..ini uang tolong kamu bayar ke kasir  ya”
 
Salam Kuliner, Barong
Tongkok, 26 Mei 2011
 Saya dan Slamet di Coto Makasar-Tenggarong silahkan 
klikhttp://www.facebook.com/update_security_info.php?wizard=1#!/photo.php?fbid=10150186187245912&set=a.133783575911.108921.693775911&type=1&theater
 
 
-- 
.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke