Mungkin tulisan dibawah ko bisa juo mnggmbarkan kmunduran urang Minang.

http://suakakata.blogspot.com/2009/01/surat-terbuka-untuk-perantau-minang.html
Surat Terbuka Untuk Perantau Minang Yusriandi Pagarah*


Keratau madang di hulu, berbuah berbunga belum 
Meranrau bujang dahulu, di kampung berguna belum 

Demikian  bunyi sebuah pantun yang menjadi dasar konsep merantau bagi orang  
Minang. Kata merantau pada mulanya berarti keluar dari luhak, asal  tempat 
orang 
tua, sanak saudara dan kampung halaman menuju daerah  pesisir dengan kota 
Padang 
sebagai tujuan utama perantauan. Seiring  dengan perkembangan zaman dan 
pertukaran musim, konsep merantau juga  mengalami evolusi. Merantau tidak lagi 
berkisar dari satu nagari ke  nagari lain atau dari satu luhak ke luhak lainnya 
dalam lingkup bumi  Minang---merantau lokal, tapi juga meninggalkan ranah 
Minang 
sendiri.  (M..D. Mansur, 1970: 6-7)

Terjadinya evolusi dari merantau lokal  menjadi merantau nasional dan bahkan 
merantau regional—andai boleh  disebut demikian—seperti yang ditulis oleh 
sejumlah ahli, karena  terdapatnya daya dorong dan daya tarik. Ranah Minang 
sebagai kampung  halaman memiliki keterbatasan di segala bidang. Sebagai ranah 
Bundo yang  berpegang pada konsep matrilinial, ranah Minang hanya menyediakan 
bekal  diri sebaga modal untuk merantau. Karena keterbatasan tersebut,  
mendorong orang Minang untuk merantau mencari ranah yang lebih luas.  Sedangkan 
daya tarik “pulau seberang” adalah kemajuannya dengan segala  plus dan 
minusnya. 


Konsep merantau ini pula yang menjadikan  Minang sebagai daerah penghasil 
tokoh-tokoh yang memegang peranan  penting dalam kehidupan masyarakat 
Indonesia, 
yang jumlahnya melebihi  proporsi wilayah dan populasinya dibandingkan dengan 
daerah-daerah atau  suku bangsa-suku bangsa lain di Indonesia. Dalam rentang 
sejarah, ranah  Minang telah melahirkan tokoh-tokoh politik, budaya, sastra, 
wartawan,  diplomat dan pengusaha yang tak sedikit kontribusinya untuk kemajuan 
 
bangsa Indonesia. (Bakri Siregar, 1982: 76)

Kontur tragik 

Dalam  tulisan “Konstuksi Negatif yang Terus Dijalankan Orang-orang Minang  
dalam Sastra Indonesia”, Afrizal Malna (2005) memaparkan dengan begitu  baik 
dan 
detailnya persoalan krusial orang Minang yang membutuhkan  penyelesaian yang 
lekas dan bernas. Khazanah sastra sebagai salah satu  tempat berkaca diri yang 
absah, sebagamana yang sampai sekarang masih  diyakini oleh orang Minang dan 
terbukti terus bemunculannya  penulis-penulis sastra berbakat dari ranah ini.

Afrizal mencoba  melihat bagaimana geliat dan sepak tejang orang Minang dewasa 
ini  melalui karya yang ditulis oleh sastrawan asal Minang sendiri. Pendulum  
kritik tersebut diarahkan kepada masyarakat Minang, terutama kepada para  
perantau. Hasil pembacaan Afrizal yang reflektif dan kitis terhadap  sastra 
orang Minang tersebut sangat mengejutkan. Karena hasilnya  berbanding terbalik 
dengan anggapan orang Minang sendiri dan  berseberangan dengan pendapat orang 
tentang orang Minang selama ini,  terutama terhadap perantaunya. 


Dalam cerpen Kereta Itu  Terus Memanjang karya Raudal Tanjuang Banua, Afrizal 
melihat bagaimana  sesungguhnya orang Minang dilamun ombak dan dilibas tanpa 
ampun oleh  tanah rantaunya. Adakalanya karena tidak punya pertahanan diri yang 
kuat  berupa iman dan keyakinan yang teguh dari godaan tanah rantau yang  
memanng genit, dan adakalanya tidak punya modal memadai, baik modal  finansial 
maupun modal skill. Sehingga di rantau hanya menjad penonton  yang cemburu 
karena tidak mampu membeli “tiket pertandingan”. Kereta  yang terus memanjang 
merupakan personifikasi dari pencarian yang tak  kunjung didapat di perantauan.

Novel Abrar Yusra, Tanah Ombak,  merurut Afrizal memberi isyarat bahwa tanah 
rantau telah tumbuh di tanah  Minang sendiri. Apa yang tidak dapat dilihat di 
kampung halaman atau  hal-hal “tabu” yang hanya dapat dinikmati di perantauan 
yang notabene  tanah seberang saat ini telah tumbuh diam-diam di ranah Minang. 
Bahkan  perkembanganya sangat signifikan dari waktu ke waktu. Abrar Yusra  
menunjuk nighclub sebagai representasi dari tanah rantau. Saat ini,  meski 
secara sembunyi-sembunyi, telah tumbuh beberapa tempat hiburan dan  permainan 
yang selama ini hanya terdapat di rantau. 


Novel  Tanah Ombak mengingatkan penulis pada cerita teman, seorang pengusaha  
photo copy di Pekalongan. Teman ini beroleh kabar bahwa di kampungnya  yang 
masih tergolong udik dan terisolir itu telah dijumpai juga  pergaulan bebas 
seperti di rantau. Apa yang dapat dibeli di rantau dapat  juga dibeli di 
kampungnya, seperti ganja dan jajan perempuan. Pelakunya  bukan saja anak muda 
tapi juga orang yang telah berkeluarga dan bahkan  orang terkemuka seperti 
datuk 
dan ninik mamak. Sementara pelakunya ada  yang berasal dari nagarinya sendiri 
dan ada juga yang didatangkan dari  kampung sebelah. Tinggal SMS saja. 
Pengusaha 
muda ini beropini,  barangkali karena itulah kakaknya tidak mau lagi balik ke 
Pekalongan  karena apa yang ada di rantau sudah tersedia di kampung. 


Dari  investigasi Afrizal di atas dan juga dari cerita pengusaha muda  
tersebut, 
banyak hal sebenarnya yang patut direnungkankan dan  dipertimbangkan. Afrizal 
menemukan—berdasarkan pembacaan terhadap karya  sastra yang ditulis oleh 
sastrawan Minang sendiri—bahwa rantau dengan  segala derivasi dan polanya telah 
beralih haluan. Sayangnya perubahan  itu mengarah pada sesuatu yang tragis, 
sebagai Malinkundang-malinkundang  baru. Itulah peta rantau dan situasi 
mutakhir 
perantau Minang.

Awong  Surya Saluang (2007: 18-19) mencoba merinci apa yang telah dipantik  
oleh 
Afrizal. Sebagaimana yang diketahui, sastra sarat dengan dunia  simbol, 
perlambang, petanda dan ikon. Hal ini berkoreferensi dengan  dunia kontemporer 
yang digadang-gadang orang sebagai perang gerilya  semiosis, sebagaimana yang 
dipancangkan oleh Umberto Eco (2004). Dunia  ikon memegang kata kunci dalam 
percaturan dan pertarungan budaya dewasa  ini. Ada beberapa ikon yang sering 
muncul dari dalam bilik rumah sastra  orang Minang berkenaan dengan rantau, 
yaitu bis, truk, kereta, ombak,  terminal dan pasar. Seirama dengan hal 
tersebut 
adalah teriakan,  kebisingan, resiko, terik mentari, debu, puntung rokok dan 
pinggiran. 


Berdasarkan hal itu perantau Minang hari ini ternyata tidak berada pada  posisi 
atas dan terhormat. Bis, truk, kereta, pasar, terminal identik  dengan 
kesumpekan, ketidaknyamanan, kekerasan, kriminal dan  keterpinggilan. Sementara 
teriakan, terik mentari, debu, puntung rokok  identik dengan kaum pinggiran dan 
orang yang yang kalah. Bukan tipikal  orang terdidik dan berperadaban. Usaha 
photo copy identik dengan  penjiplakan dan duplikat. Jauh dari kesan intelek 
apalagi sebagai  penulis. Usaha rumah makan akrab dengan memenuhi urusan untuk 
perut  daripada urusan untuk kepala. Sedangkan Pedagang Kaki Lima (PKL) menjadi 
 
bulan-bulanan aparat tantib dan satpol PP, yang menjadi musuh  pemerintah di 
seluruh kota di Indonesia dengan dalih keindahan kota. 


Hingga  tak mengherankan perantau Minang jarang yang muncul ke permukaan  
sebagai tokoh nasional yang disegani. Karena kalah bersaing, banyak yang  
pulang 
kampung memperebutkan tanah ulayat yang kian sedikit dan gelar  datuk yang 
banyak diobral. Lebih banyak lagi yang memutuskan menetap dan  melarutkan diri 
di rantau berbekal petuah “daripada malu di bawa pulang  lebih baik rantau 
diperjauh”. Sehingga misi merantau untuk modernisasi  diri dan pengayaan tanah 
asal hanya mimpi di siang bolong. Karenanya,  sudah sepatutnya perantau Minang 
menata ulang pola rantaunya agar pantun  yang dikutip di awal tulisan ini 
benar-benar dapat dibuktikan. 


*Yusriandi Pagarah, Kulturalis, bergiat pada Komunitas Perairan Wacana 
Jogjakarta. 


Opini, Kedaulatan Rakyat, 12 November 2007

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke