Salam,Terima kasih Sdr Syofiardi,Saya yakin sekali mengenai satu poin dari 
Syofiardi yaitu membaca, dan ini dilakukan Hamka dan beberapa orang zaman 
pergerakan. Hamka cs mereka mencari bahan bacaan dimana-mana dan dari mana 
saja, sampai k dunia arab. Itulah sebabnya Hamka bisa menjadi Profesor. Akan 
lain ceritanya kalau Hamka hidup dalam dunia yang penuh buku dll.
memang bukan jaminan bahwa orang yang kuliah di pergurun tinggi yang lebih baik 
akan selalu lebih baik dari yang bukan kuliah, termasuk di perguruan tinggi 
"kampungan". Tetapi saya masih yakin, bibit yang baik ditanam pada tanah yang 
subur akan lebih baik daripada ditanam di tanah gersang. Kalau ada seorang yang 
berbakat akan cepat berkembang ditempatkan pada perguruantinggi yang baik 
labornya dan baik pustakanya. 
mengenai UT lihatlah realitasnya.mengenai PT swasta silakan diamati. Saya 
termasuk orang yang mendambakan PT yang membangun perpustakaan dengan bak, 
labornya dengan dan sistemnya dengan baik.  Mungkin dalam 1000 orang hanya satu 
Hamka.
Benar, bahwa kita bisa melahirkan ide dari dialog dibawah pohon atau di mana 
saja. tetapi apa yang akan kita dialogkan kalau kita miskin input bacaan?  
perhatikanlah PT yang baik, mereka "gila" di pustaka dan labor. Kalau input 
kurang mungkin kita akan banyak berdialog mengawang.
Khaidir anwar? ingat beliau banyak meghabiskan waktu di luar negeri,di PT yang 
baik. mengajar di London saja 9 tahun. Apa yang belia bawa ke Indonesia apa 
yang telah beliau serap sebelumnya.
Apakah kita yakin mahasiswa intar hanya dengan diktat dan catatan dosen?
Masalah serbuan mahasiswa bukanlah menunjukkan kwalitas. Ada sebuah STKIP di 
Padang, yang tenaga dosennya  banyak berasal dari mahasiswa saya yang baru 
tamat dan belum mendapatkan pekerjaan, ternyata mahasiswanya 4 kelas, tetapi di 
tempat saya mengajar hanya menerima  1 kelas. Ini bukan karena kualitas, Kini 
masyarakat Minang mau cepat dari pegawai negeri, mumpung sekarang guru makin 
baik gajinya dan pemerintah lagi membutuhkannya, sooo begitu pragmatis dan 
jalan pintas...bukan kualitas.Ini realitas lain dan mesti dijelaskan dengan hal 
lain juga.
TerimakasihwassalamWNS




--- On Thu, 6/2/11, Syofiardi BachyulJb <[email protected]> wrote:

From: Syofiardi BachyulJb <[email protected]>
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Kita tata  PT yang amburadul
To: [email protected]
Date: Thursday, June 2, 2011, 3:04 PM

Da Wannofri jo Sanak Palanta,
Menurut saya budaya akademis (termasuk dalamnya budaya membaca) itu tidak 
identik dengan fasitilas macam perpustakaan dan laboratorium. Budaya akademis 
muncul dari suasana yang dibangun terutama oleh dosen. Beberapa kampus memiliki 
universitas dan laboratorium yang lumayan, tapi apakah dibarengi dengan serbuan 
dosen dan mahasiswa? 

Kesempatan mereka menulis, meneliti, dan berdebat ilmiah banyak (baik fasilitas 
maupun waktu) tapi di Padang khususnya kampus-kampus jarang melakukan 
itu.Sebagai contoh, banyak kasus di Kota Padang dan Sumatera Barat yang 
membutuhkan studi orang kampus dari berbagai ilmu, tapi mana? Yang terlihat 
adalah masyarakat atau mahasiswa demo.

Maaf, banyak profesor dan doktor kita kerjanya seperti guru SMA. Maunya 
melakukan
 penelitian proyek, kalau nggak pemerintah ya asing. Kalau nggak ya nggak 
pernah ada hasil penelitian dari mereka. Sebagai contoh di bidang bahasa, 
bahasa kita amburadul, tapi tidak muncul studi dari pakarnya. Kedokteran kita 
memiliki doktor dan profesor, tapi lebih banyak jadi dokter praktek.

Di era online sekarang saya tidak begitu percaya apakah kuliah tatap muka akan 
lebih baik dari online atau seperti UT (ketemu beberapa kali, belajar sendiri 
selebihnya). Kuliah seperti UT bisa saja bagus jika budaya akademisnya bisa 
hidup, toh seseorang yang otodidak pun bisa lebih hebat secara akademis dari 
yang menempuh PT formal dari S1 hingga doktoral.

Budaya akademis (meneliti, mencari kebenaran) bisa tumbuh dari dialog di bawah 
pohon, dari membaca di halte, menulis di kamar sempit, dengan dana cekak. Siapa 
yang menumbuhkan? 

Saya masih ingat dengan Profesor Khaidir Anwar yang kami gelari mirip Plato. Ia 
mendatangi mahasiswa yang terlihat
 kumpul-kumpul di bawah pohon, lalu mengajak diskusi dan bercerita soal 
pengalamannya yang berkaitan dengan dunia akademis, terutama pengalamannya 
mengajar di salah satu PT di Inggris. Saya merasakan diskusi di bawah pohon 
lebih banyak mendatangkan informasi dibanding kuliah dengan beliau di kelas.

Jika seluruh dosen seperti dia. Masing-masing menjadi "tempat bertanya", 
terutama sesuai bidangnya. Masing-masing melecut mahasiswa agar membaca, 
membaca, membaca, diskusi, menulis, berpolemik, insya Allah dunia akademis kita 
di Sumbar akan hidup.

Wassalam,
Syofiardi (41/Padang)



From: wannofri samry <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, June 2, 2011 10:05:33
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Kita tata  PT yang amburadul

Salam,saya sangat setuju dengan kutipan defenisi Pak Armen. Kita melihat ke 
realitas Pak, perguruan tinggi seudah terlalu banyak di Sumbar, tetapi kualitas 
jauh dari memadai, dosennya asal comot. Kini Pak, banyak mahasiswa kami yang 
baru tamat langsung mengajar di FKIP dan SKIP di Sumbar, dan bebannya mandiri 
dan lebih besar dari senior yang sudah berengalaman. Sebahagian adalah 
pejabat-pejabat yang  bukan orang akademik, mereka bukan orang yang bergelut 
dengan buku. jadi banyak maota see di muka kelas.
Kemudian PT kita didirikan tanpa pustaka dan sarana labor, kalau ada sama 
dengan pustaka kantor lurah.
Kemudian, kalau defenisi dari kutipan Pak Armen adalah " Pendidikan adalah 
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan 
suasanabelajar danproses pembelajaran agar peserta didik secara aktif 
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, 
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan 
yang diperlukan dirinya dan masyarakat." 
Maka, pertanyannya apakah UT  yang ada selama ini bisa melaksanakan kegiatan 
pembelajaran aktif ini?  "
Menurut hemat kita, kalau
 perguruan tinggi hanya dikembangkan dengan modul, diktat  dan tatap muka 
sekali-sekali, maka proses  akademis dan suasana akademis itu tidak bisa 
membuat "proses pembelajaran aktif. Ini sama dengan workshop saja. Jadi
 konsep UT itu lebih cocok untuk kondisi darurat seperti dalam zaman perang, 
atau model di Palestina.  Tetapi ini pandangan saya, kalau menurut saya, bahkan 
PT ini di tata kembali, kapan perlu digabung sebahagian agar kokoh, sebab 
banyak yang berani menerima mahasiswa sebanyak-banyaknya sementara fasilitas 
seminimnya.Ini pandangan saya sebagai akademisi Pak, terima kasih, 
mudah-mudahan ada yang bisa mengambil manfaatnya. 

--- On Thu, 6/2/11, Armen Zulkarnain <[email protected]> wrote:

From: Armen Zulkarnain
 <[email protected]>
Subject: Bls: [R@ntau-Net] Universitas Terbuka Sebagai Salah Satu Solusi 
Pendidikan di Nagari-Nagari
To: [email protected]
Date: Thursday, June 2, 2011, 2:27 AM

waalaikumsalam wr wb,

pak Wannofri Samry sarato angku, mamak, bundo jo adi dunsanak sapalanta RN nan 
ambo muliakan,

Nan salamo ko ambo pahami mengenai pendidikan adalah sarana untuk merubah pola 
pikir seseorang ataupun kelompok masyarakat, baik secara formal maupun informal.

Mungkin bisa di lihat pada http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan, 

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan 
suasana belajar
 dan proses pembelajaran agar peserta
 didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki 
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, 
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan
 masyarakat.

Mengenai memperbanyak sertifikat (mungkin ijazah yang pak WNS maksud) saya kira 
lebih condong ditanyakan kepada universitas/institut yang membuka lembaga 
pendidikan sabtu minggu kebut seminggu yang banyak diikuti oleh masyarakat 
kita, terutama PNS di provinsi maupun di kabupaten & kota. Dimana mereka 
mengikuti perkuliahan di lembaga perguruan tinggi mantun selama 2 hari dalam 
sepekan, yaitu hari minggu & sabtu dari pagi hingga malam hari.

Saya kira UT seperti universitas umumnya, yang menjadi perbedaan adalah sistem 
tatap muka digantikan dengan modul-modul dimana mahasiswa lebih mandiri dari 
pada sistem pendidikan tinggi reguler lainnya.

Mungkin bisa
 ditinjau lebih jauh lagi pada link
 dibawah ini,
http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_terbuka
http://www.ut.ac.id/

wasalam

AZ/lk/33th
kantor pemerintahan nagari Tanjuang
kec. Sungayang, Tanah Datar
 
Universitas TerbukaUniversitas Terbuka adalah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) 
ke-45 di
 Indonesia yang menerapkan sistem belajar terbuka dan jarak jauh. Sistem
 belajar ini terbukti efektif untuk meningkatkan daya jangkau dan 
pemerataan kesempatan pendidikan tinggi yang berkualitas bagi semua 
warga negara Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di daerah-daerah 
terpencil, baik di seluruh nusantara maupun di berbagai belahan dunia.

Tanpa memandang kondisi mahasiswa, sistem belajar terbuka dan jarak 
jauh yang diterapkan UT membantu pencapain tujuan belajar karena:
tidak ada pembatasan jangka waktu penyelesaian studi dan tidak 
memberlakukan sistem drop out;tidak ada pembatasan, baik tahun kelulusan ijazah 
SLTA maupun umur;waktu pendaftaran (registrasi) leluasa sepanjang tahun;ruang, 
waktu, dan tempat belajar yang fleksibel sesuai dengan 
kondisi mahasiswa;penggunaan materi belajar multimedia, termasuk bahan belajar 
cetak 
baik yang dilengkapi dengan kaset audio dan video/CD, CD-ROM, siaran 
radio dan TV, maupun bahan belajar berbasis komputer dan internet.


Dari: wannofri samry <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rab, 1 Juni, 2011 00:19:22
Judul: Re: [R@ntau-Net] Universitas Terbuka Sebagai Salah Satu Solusi 
Pendidikan di Nagari-Nagari

salam,
batanyo ciek pak Armen, apokah UT untuak nagari ko tidak hanya untuk 
memperbanyak sertifikat sarjana. sebab yang bukan
 terbuka saja tidak benar apa lagi yang terbuka, yang selama ini hanya sekdar 
formalitas.
wassalamWNS

--- On Wed, 6/1/11, Armen Zulkarnain <[email protected]> wrote:

From: Armen Zulkarnain <[email protected]>
Subject: [R@ntau-Net] Universitas Terbuka Sebagai Salah Satu Solusi Pendidikan 
di Nagari-Nagari
To: [email protected]
Cc: "Saafroedin Bahar Kampuang Dalam" <[email protected]>, 
"Afrijon Ponggok Batipuah Baruah" <[email protected]>, "Abraham Ilyas 
Tanjuang"
 <[email protected]>
Date: Wednesday, June 1, 2011, 1:25 AM

Assalamualaikum wr wb
Angku, mamak, bundo sarato adi dunsanak sapalanta RN nan ambo muliakan,
seiring pendampingan pelatihan website nagari, di beberapa kesempatan ambo 
sering melewakan bahwa ke depan untuk nagari-nagari yang telah terdapat akses 
internet bisa memanfaatkan kemudahan koneksi dengan mengakses situs Universitas 
Terbuka (UT). Dengan begitu, guru SD, TPA, perangkat nagari bahkan anak 
kemanakan kita yang berada di nagari-nagari & ingin meneruskan pendidikannya ke 
strata 1 & magister bisa memilih UT sebagai solusi alternatif meneruskan 
jenjang pendidikan.
Untuk nagari Minangkabau, Sungayang &
 Tanjuang, kec. Sungayang kab. Tanah Datar, dimana NGO Marapalam sedang 
melakukan pendampingan
 pelatihan website & mailing list nagari nagari, sudah didapati kesepahaman 
secara lisan agar ke 3 pemerintahan nagari memberikan akses internet gratis 
kepada masyarakat nagari diluar jam kerja pemerintahan nagari.
Dengan begitu, paket sociality internet speedy yang merupa paket unlimited 
dengan biaya sebesar Rp 215.000,- per bulan (sudah termasuk ppn 10%), bisa 
dimanfaatkan secara maksimal oleh perangkat nagari bersama-sama masyarakat 
nagari.
Ke depan, pemuda nagari yang telah dilatih dalam pendampingan ini yaitu 
sejumlah 30 pemuda nagari di ke 3 pemerintahan nagari ini, bisa melakukan 
sharing ilmu yang sudah diperoleh selama pelatihan 3 minggu dengan 2 sesi 
setiap harinya (sesi I : jam 15.00 - 17.00 wib, sesi II : jam 20.15 - 23.00 
wib) selama 6 hari dalam sepekan (hari Jumat diliburkan) kepada masyarakat 
nagari dengan sasaran utama adalah pemuda nagari dari rentang usia pendidikan 
SMP hingga usia
 35 tahun.
Tentunya, hal ini perlu sokongan penuh dari kalangan perantau, terutama 
perantau nagari-nagari yang telah dilakukan pendampingan, yaitu nagari 
Minangkabau, Sungayang & Tanjuang. Setelah dirundingkan bersama, untuk nagari 
Sungai Patai & Andaleh Baruah Bukik yang berada dalam wilayah administrasi kec. 
Sungayang kab. Tanah Datar nantinya bisa memperlajari hal ini kepada 30 pemuda 
di ke 3 nagari yang telah dilakukan pendampingan.
Salah satu hal yang menarik darii kegiatan pendampingan ini adalah, selain 
mencoba merintis jembatan komunikasi dunia maya antara pemerintahan nagari 
dengan perantaunya, fasilitas internet di pemerintahan nagari yang bisa 
dipergunakan oleh masyarakat nagari diluar jam kerja bisa membantu masyarakat 
nagari yang kurang mampu secara materi untuk tetap meneruskan pendidikannya ke 
strata 1, dan tetap berdomisili di nagari sambil meneruskan produksi di 
nagari-nagari yang
 umumnya bergerak di bidang pertanian, peternakan & UKM.
Yang menjadi pertanyaan mendasar adalah, apakah ada jejaring urang minangkabau 
di UT ini, terutama sebagai guru besar, staf rektorat & dekanat yang mungkin 
bisa dihubungkan dengan persatuan wali nagari di 11 Kabupaten Sumbar? Mungkin 
ado dari angku, mamak, bundo ataupun adi dunsanak yang bisa memberikan 
informasi ataupun pencerahan seputar hal ini. Akhir kata, ambo mohon maaf 
pabilo ado nan kurang berkenan, mohon tukuak jo bilai pabilo ado nan kurang.
wasalam
AZ/lk/33thsurau Mandahiliang kanagarian Tanjuang, Tanah Datar   



 



-- 

.

* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~

* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.

===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. E-mail besar dari 200KB;

  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1

- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting

- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/





-- 

.

* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~

* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.

===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. E-mail besar dari 200KB;

  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1

- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting

- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/





 



-- 

.

* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~

* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.

===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. E-mail besar dari 200KB;

  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1

- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting

- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke