Sanak Andiko ST Mancayo sarato angku, mamak, bundo jo adi dunsanak sapalanta,

Asumsi ambo pribadi, mungkin banyak nan indak memperhatikan, sajak the grand 
old 
man ko berpulang ke rahmatullah, pasangan proklamator bangsa ini yaitu Soekarno 
& Hatta mulai renggang yang puncaknya terjadi pada pengunduran diri bung Hatta 
sebagai wakil presiden RI. H Agus Salim adolah rekan seperjuangan HOS 
Cokroaminoto nan mintuo dari Ir Soekarno serta Abdul Muis nan barasa dari 
nagari 
Sungai Pua. Inyiak Agus Salim nan ko terkenal & sangat piawai berdiplomasi & 
berargumen, dek sabab itu pulo Ir. Soekarno sangat sangan ka baliau.

wasalam

AZ/lk/33th
Padang      


________________________________
Dari: andi ko <[email protected]>
Kepada: RantauNet <[email protected]>
Terkirim: Jum, 3 Juni, 2011 10:31:01
Judul: [R@ntau-Net] Diplomat Minangkabau

Mamak JB jo Sanak Palanta

Entah mengapa, Gunuang Marapi jo Singgalang, Tandikek Jo Talak Mau, barikuik 
Sago jo Singgalang, telah melahirkan banyak putra-putra terbaik, salah satunyo 
di bidang diplomasi. Mungkin ado banyak nan jadi diplomat, sahinggo ambo pernah 
mandangan Pejambon hanyo dikuasoi oleh duo etnis yaitu Minangkabau jo Sunda, 
antahlah. Kalau di sisir pangalaman anak Minang di panggung diplomasi, tantu 
akan menimbulkan pertanyaan akademik, kenapa mereka berbakat dalam bidang itu. 
Apakah sudah bakat bawaan lahir atau justru situasi sosial, adat istiadat yang 
berkembang yang menjadikan mereka demikian. Salah satu adolah mamak JP Rajo 
Jambi yang jadi anggota palanta ko. Tantu banyak pangalaman humanis yang mamak 
temui di sepanjang karir. Jikoklah pangalaman itu ditulis, akan menjadi 
"trigger" bagi anak-anak mudo Minang manantang zaman.

Kami menunggu buku mamak sebelum hari sanjo barangkek ka malam. Di bawah ambo 
kutipkan stek tentang seorang putra terbaik Minangkabau yang melegenda :


Tokoh
14 Oktober 2008 | 19:26 wib
Diplomat Minang Berlidah Pedang  
Di panggung rapat Sarekat Islam itu, Muso –kelak menjadi  tokoh Partai Komunis 
Indonesia– berdiri, kokoh. Dia melihat para anggota  rapat, tersenyum.
“Saudara, saudara, seperti apa orang yang berjanggut itu,” tanyanya.
Para peserta seperti kaget. Tapi, mereka menjawab juga. “Kambing!”
“Lalu, seperti apa orang yang memasang kumis,” tanya Muso lagi.
“Kucing!”
“Terimakasih.” Muso tergelak, lalu turun dari podium.
Kemudian, seorang lelaki kecil, berjanggut panjang, berkumis, naik  podium. Dia 
tersenyum sebentar pada peserta rapat. Mengelus janggutnya,  berdehem, dan 
bertanya, “Tahukah Saudara, seperti apa orang yang tidak  berkumis dan 
berjanggut?”
Koor jawaban pun bergema. “Anjing!”
Lelaki berjanggut itu tersenyum. Kemudian meneruskan pidatonya,  menjelaskan 
agenda Sarekat Islam dalam menghadapi politik kolonialisasi  Belanda.
Lelaki berjanggut dan berkumis panjang itu adalah Haji Agus Salim,  pentolan 
Sarekat Islam. Sejak awal, dia memang agak berbeda sikap dengan  Muso. Tapi, 
Agus Salim selalu menanggapi semua perdebatan dengan Muso,  bahkan sampai 
menyentuh hal yang amat pribadi. Bagi Agus Salim, setiap  perdebatan harus ia 
hadapi, dan mesti ia menangi.
“Jarang ada yang mau menghadapi Agus Salim dalam berdebat. Ia amat  ahli 
berkelit, bernegosisi, dan lidahnya amat tajam kala mengecam,”  jelas Mohamad 
Roem, rekan Agus Salim semasa aktif di Jong Islamieten  Bond.
Menolak Bea Siswa
Agus Salim lahir di kota Gedang, Bukittinggi, Sumatera Barat, 8  Oktober 1884. 
Ia anak keempat dari Haji Moehammad Sali, jaksa di  pengadilan negeri setempat. 
Karena kedudukan ayahnya itu, Agus kecil  yang bernama asli Mashudul Haq, dapat 
bersekolah Belanda. Hebatnya,  lelaki yang memang sedari muda suka memelihara 
janggut ini, amat pintar.  Waktu lulus dari Hogere Burgerschool (HBS) di usia 
19 
tahun, ia meraih  predikat sebagai lulusan terbaik untuk wilayah tiga kota: 
Surabaya,  Semarang, dan Jakarta. Karena itu, Agus kemudian mengajukan 
permintaan  beasiswa pada pemerintaan Belanda. Tapi, permintaan itu ditampik. 
Agus  Salim patah arang.
Sementara itu, di Jawa, tepatnya di Jepara, Kartini yang mendapat  beasiswa 
tapi 
tak diizinkan orang tuanya, mendesak pemerintahan Belanda  untuk menghibahkan 
beasiswa itu pada Agus Salim. Pemerintah Belanda  menyanggupi. Tapi apa kata 
Agus Salim?
“Jika beasiswa itu diberikan kepadaku karena desakan Kartini, dan  bukan karena 
penghargaan atas diriku sendiri, lebih baik tidak akan  pernah kuterima,” 
kecamnya.
Sebagai sikap pembangkangan, Agus Salim bahkan hengkang ke Jeddah,  dan belajar 
pada ulama di sana, sambil bekerja di konsulat Belanda.
Karier politik Agus Salim bermula saat dia pulang ke Indonesia, dan  bergabung 
dengan HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis di Sarekat Islam.  Waktu kedua tokoh SI 
itu mundur dari Volksraad (dewan rakyat), Agus  menggantikannya. Tapi, karena 
Belanda tak juga mengubah kebijakanannya  pada Indonesia, Agus pun akhirnya 
mundur.
SI kemudian pecah, antara golongan Semaun dan Muso yang condong ke  garis kiri, 
dan Agus Salim-Tjokro yang tetap di jalur agama. SI  Semaun-Muso berkembang 
menjadi partai komunis, sedangkan Agus Salium  kemudian aktif di Jong 
Islamieten 
Bond.
Di organisasi baru ini, Agus pernah dituduh memecah belah pemuda  berdasarkan 
sentimen keagamaan. Tapi Agus menolak, dan mengajak  berdebat, dan dia menang.
Di lembaga ini Agus kemudian melakukan gebrakan. Dalam kongres Jong  Islamieten 
Bond di Yogyakarta 1925, peserta lelaki dan wanita duduk  terpisah dan berbatas 
tabir, sesuai syariah Islam. Tapi, dua tahun  kemudian, dalam kongres di Solo, 
Agus atas nama pengurus membuka tabir  itu, setelah menjelaskan penafsirannya. 
Semangat pembaruan Islam ini  terus berkembang.
“Ajaran dan semangat Islam, memelopori emansipasi perempuan. Itu  pasti,” 
ucapnya, berapi. Kisah ini sering diucapulangkan Seokarno dalam  tiap 
pidatonya, 
untuk menerangkan perlunya memandang Islam dan berbagai  agama dengan dada 
terbuka.
Tak Hirau Harta Dunia
Setelah Indonesia merdeka, bakat debat dan ketajaman lidah Agus Salim  
dimanfaatkan untuk menyokong politik luar negeri Indonesia. Agus  menjadi 
diplomat, yang bahkan atas lobinya, Mesir mau mengakui  kemerdekaan Indonesia 
pertama kali. Dalam perjanjian dengan Belanda dan  negara lain pun, Agus pasti 
disertakan. Tapi, sebagai pejabat negara,  hidup keseharian Agus tak ubahnya 
rakyat jelata.
Hidupnya berpindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lain.  Kadang, rumah 
itu hanya satu kamar, di gang becek, dan dia huni bersama 8  anaknya, serta 
ribuan buku koleksinya.
Tapi, menjadi miskin tak membuat keluarga itu murung. Penampikan Agus  pada 
harta tak membuat anaknya kehilangan kegairahan dan keceriaan  hidup. Mohamad 
Roem yang acap bertandang, menjadi saksi: “Kegembiraan  berada di tengah 
keluarga Agus Salim, membuat kita acap lupa, sungguh  betapa melaratnya 
keluarga 
ini,” katanya.
Agus Salim memang tak dendam pada kemiskinannya. Yang ia dendami  adalah 
perlakuan Belanda yang menolak beasiswa dia. Karena itu, sedari  lahir, tak 
pernah anaknya ia sekolahkan formal, kecuali yang bungsu.  Agus mendidik 
sendiri 
anaknya dengan cinta dan pengertian. Bermain bagi  Agus adalah belajar, belajar 
juga adalah permainan.
Hebatnya, sistem pendidikan informal ini cukup berhasil. Anak tertuanya, Jusuf 
Taufik, telah mampu membaca Mahabrata berbahasa Belanda di usia 13 tahun, dan 
yang lainnya, di usia belasan  telah mampu menghapal syair Belanda. Perlu 
diketahui, tata bahasa  Belanda amat sulit, sehingga butuh ketekunan yang luar 
biasa untuk bisa  menguasainya.
Bagi Agus Salim, keberhasilan dirinya dia ukur dengan kemampuannya  
mengantarkan 
jiwa merdeka dan mandiri bagi anak-anaknya, tak  menggantungkan hidup pada 
orang 
atau bangsa lain.
Jiwa yang merdeka ini, lidah yang amat tajam ini, dan otak yang luar  biasa 
cemerlang itu, akhirnya rebah, 4 November 1954, di usia 70 tahun,  sambil 
tersenyum. Dia tak pernah berhutang pada dunia.
(Aulia A Muhammad dari http://rumahputih.net)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke