Dek kabanyo Oesman Sapta urang Minang, tantu kamanakannyo iko urang Minang juo

Mungkin balancik-lancikan jo sia ghumah we-e ko ??

--TR
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Thu, 9 Jun 2011 11:37:41 
To: Milis RantauNet<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: Re : [R@ntau-Net] Kabupaten Termiskin di Kalimantan Menggratiskan 
Pendidikan

Salut untuak Kab. Kayong Utara.

Tapi setau ambo, Kota Padangpanjang alah labiah dulu menerapkannya, sayangnya 
mungkin tidak terekspos, bahkan di Palanta Rantau-Net :(

Kota Padangpanjang adalah daerah pertama di Indonesia yang memberikan asuransi 
kesehatan kepada seluruh penduduknya.

Tentang pendidikan, selain gratis tis tis SD-SMA, termasuk text-booknya, juga 
ada pemberian makanan tambahan (susu dan makanan sehat launnya) untuk siswa SD.

Riri




Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Tanjuang Heri <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 9 Jun 2011 11:29:55 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re : [R@ntau-Net] Kabupaten Termiskin di Kalimantan Menggratiskan 
Pendidikan

Salut dan takjub akan niat bupati ini. Sekiranya bisa ditiru oleh Ranah Minang, 
alangkah indahnya dunia ini.
Semoga sang bupati tetap disegani oleh semua pihak, karena yg iri dengki pasti 
banyak.
Smoga Yang Maha Kuasa melindung beliau. Amin.

Heri Tanjuang (47)

Paris

HP : +33614397758

--- En date de : Jeu 9.6.11, Darwin Chalidi <[email protected]> a écrit :

De: Darwin Chalidi <[email protected]>
Objet: [R@ntau-Net] Kabupaten Termiskin di Kalimantan Menggratiskan Pendidikan
À: "Rantau Net" <[email protected]>
Date: Jeudi 9 juin 2011, 11h48


http://nasional.kompas.com/read/2011/06/06/04231398/Kabupaten-Termiskin-Menggratiskan-Pendidikan


Kabupaten Termiskin Menggratiskan Pendidikan
Senin, 6 Juni 2011 | 04:23 WIB

Kebodohan telah melanggengkan kemelaratan dan kekuasaan kolonial Belanda. 
Pendidikan kemudian menjadi tema sentral dalam pergerakan nasional. Inilah yang 
mendorong Tan Malaka, Bung Karno, Sjahrir, Ki Hajar Dewantara, dan tokoh-tokoh 
lainnya mendirikan sekolah dan ikut

mengajar.

Bertolak dari perjalanan sejarah yang pahit, para pendiri Republik bercita-cita 
bahwa kemerdekaan akan mengantar rakyat Indonesia menjadi bangsa yang cerdas. 
Agar hal ini tidak dilupakan generasi penerus, ihwal mencerdaskan bangsa 
dicantumkan dalam pembukaan UUD 1945.


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berusaha melaksanakan amanat
 itu. Anggaran sektor pendidikan digenjot, terbesar dibandingkan sektor
lainnya. Pemerintah kemudian mengumumkan wajib belajar 9 tahun bagi anak-anak 
Indonesia.

Akan tetapi, dalam pelaksanaannya program mencerdaskan bangsa justru menjadi 
lahan baru untuk memperkaya diri kalangan pejabat. Aneka

tafsir kemudian muncul. Ada yang berpendapat, wajib belajar bukan berarti 
sekolah gratis. Karena itu, berbagai pungutan tetap marak.

Ada pula yang berpendapat, program itu hanya berlaku bagi siswa dari keluarga 
miskin. Yang dibebaskan pun hanya sumbangan menyelenggaraan pendidikan (SPP). 
Selebihnya harus tetap membayar, seperti uang masuk sekolah, seragam, uang 
buku, dan sumbangan investasi pembangunan gedung.


Alhasil, banyak anak yang putus sekolah karena orangtuanya tidak mampu. Lalu 
terjadi banyak kasus pelajar yang nekat melakukan percobaan bunuh diri bahkan 
bunuh diri karena orangtuanya tak
 mampu membayar tunggakan SPP.

Lantas, apa sesungguhnya yang terjadi pada pendidikan kita?

Kabupaten termiskin

Di Kalimantan Barat, Pemerintah Kabupaten Kayong Utara melangkah 
lebih progresif. Sejak terbentuknya kabupaten ini tahun 2007, sebagai pecahan 
Kabupaten Ketapang, wajib belajar dilaksanakan secara absolut dan tidak hanya 9 
tahun, tetapi 12 tahun. Selain itu, Pemkab juga menyiapkan pelayanan kesehatan 
24 jam berikut tenaga dokter, secara gratis.


Berbeda dengan konsep wajib belajar 9 tahun yang sasarannya lebih kepada 
keluarga tidak mampu, Pemkab Kayong Utara menetapkan semua murid sekolah—negeri 
maupun swasta, TK hingga SLTA—tidak dikenakan SPP dan pungutan lainnya.


Pemkab juga menyediakan dua setel seragam, termasuk batik, dan buku-buku 
pelajaran secara gratis. ”Dengan demikian, tidak ada alasan orangtua melarang 
anaknya sekolah. Dan pemerintah sudah
 melaksanakan kewajibannya dalam mencerdaskan bangsa,’’ kata Hildi Hamid, 
Bupati Kayong Utara.

Kayong Utara merupakan kabupaten termiskin di Kalbar. Mayoritas penduduknya 
adalah petani gurem dan nelayan tradisional, kecuali di Pulau Karimata dan 
pulau-pulau lain yang telah menggunakan alat tangkap modern.


Data Bappeda setempat tahun 2010 menunjukkan, kepadatan penduduk Kayong Utara 
berkisar 20 jiwa per kilometer persegi. Namun, dari 95.605 jiwa penduduk, 
sebanyak 39.408 jiwa dikategorikan miskin (sekitar 41 persen).


Menurut Hildi, akibat kemiskinan, angka putus sekolah sangat tinggi pada masa 
lalu. Bangku sekolah banyak yang kosong. Orangtua melihat anaknya lebih 
bermanfaat membantu di ladang atau menangkap ikan di laut. Sebagian lagi 
membiarkan anaknya berkeliaran. Data tahun 2009 menunjukkan, jumlah anak 
telantar 149 orang


”Setelah sekolah digratiskan, jumlah yang mendaftar
 membeludak.Bahkan, ada yang usianya di atas 15 tahun mendaftar di SLTP. 
Ini menunjukkan meningkatnya minat belajar,’’ kata Hildi.

Di kabupaten ini terdapat 13 TK, 101 SD dan 7 sekolah agama setingkat SD, 32 
SLTP dan 4 sekolah agama setingkatnya, 7 SLTA dan 2 sekolah agama setingkat, 
serta 3 SMK.


Menurut Hildi, pada awalnya Pemkab kesulitan mendatangkan tenaga pengajar. 
Mereka menganggap Kayong Utara sebagai daerah terpencil dan terbelakang. Namun, 
setelah Pemkab memutuskan mengutamakan guru dalam penerimaan calon pegawai 
negeri baru, yang mendaftar membeludak. Bahkan, ada yang dari Aceh.


Pelayanan kesehatan gratis

Bertolak dari gawatnya kemiskinan di Kayong Utara, Pemkab juga menggratiskan 
pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Memang, di daerah ini belum ada rumah 
sakit karena memang belum dirasakan mendesak, sementara biaya operasional rumah 
sakit cukup besar.


Sejauh ini puskesmas
 yang ada dimodifikasi dan dilengkapi peralatan kedokteran, ruang rawat inap, 
dan dokter jaga 24 jam. Dokter spesialis juga didatangkan pada hari tertentu.

Di daerah lain, seusai jam kerja di puskesmas, dokter umumnya membuka praktik 
di rumah dinasnya dengan tarif yang berlaku umum. Di Kayong Utara, agar pasien 
tidak dipungut bayaran, Pemkab memberi insentif kepada dokter sebesar Rp 
100.000 per pasien yang datang ke rumahnya di luar jam kerja.


Insentif bagi dokter kapal puskesmas jumlahnya lebih besar, Rp 2 juta untuk 
sekali perjalanan. Kapal puskesmas ini dilengkapi peralatan kedokteran untuk 
melayani penduduk di pulau-pulau. Sekali perjalanan membutuhkan waktu 7 hari.


”Walaupun saat ini hanya puskesmas, jika dokter berpendapat pasien harus 
dirujuk ke rumah sakit di kabupaten lain, Pemkab akan menanggung biaya ambulans 
dan rumah sakitnya. Jika dokter di rumah sakit mengatakan pasien harus
 dirujuk ke rumah sakit di Jakarta, Pemkab akan menanggung semua biayanya,’’ 
kata Hildi.

Kayong Utara jelas bukan daerah penghasil minyak bumi, melainkan kabupaten 
termiskin dan terbelakang di Kalbar. Lantas, bagaimana Pemkab membiayai semua 
pelayanan gratis tersebut?


Hanya beberapa miliar

Hildi terperanjat ketika ditanyakan hal itu. Ia mengatakan, pemerintah telah 
menyiapkan bantuan operasional sekolah (BOS) dan BOS daerah. Untuk kesehatan 
ada jamkesmas, askes, dan lain-lain. Pemkab hanya menambah beberapa miliar 
untuk menggratiskan pendidikan dan pelayanan kesehatan.


”APBD Kayong Utara ratusan miliar setiap tahun. Apalah artinya jika Rp 5 miliar 
atau Rp 10 miliar dialokasikan untuk menggratiskan pendidikan dan kesehatan,’’ 
kata Hildi.

Dengan menggratiskan pendidikan, masyarakat menjadi bergairah kembali.Anak-anak 
mereka tidak lagi memegang cangkul di ladang, menangkap
 ikan di laut, atau berkeliaran di pasar, tetapi kini duduk di bangku sekolah 
tanpa merasa rendah diri, membaca buku yang sama dan belajar bersama.

Agar progam pendidikan dan kesehatan gratis tersebut 
berkesinambungan, direncanakan akan ditetapkan dalam perda. Selama ini hanya  
berdasarkan keputusan bupati.


Bupati Hildi mengaku mendapat banyak masukan dari pamannya, pengusaha nasional 
Oesman Sapta, yang juga lahir dan besar di Kayong Utara, terutama agar 
mendahulukan kepentingan rakyat dan tidak membebaninya.

Terlepas dari semua itu, Kayong Utara layak menjadi contoh bahwa pendidikan dan 
pelayan kesehatan gratis bukanlah masalah yang membutuhkan dana besar. (Maruli 
Tobing)





-- 

.

* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~

* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.

===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. E-mail besar dari 200KB;

  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1

- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting

- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke