Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

Sebuah protes senyap kepada istri dan ketiga anakku pemakai BB..... (yang 
kutulis sebelumnya di catatan FBku)

SAMPAI KAPAN KITA HANYA JADI KONSUMEN????

Apa yang anda bayangkan ketika melihat suatu iklan? Iklan apa saja? Dari barang 
tetek bengek sampai barang gembul besar? Sampai mobil wah dan rumah yang 
harganya hanya 2M dan besok harganya naik pula? Apakah anda segera tergiur 
untuk membeli dan lalu menghitung-hitung sekian DP lalu sekian cicilan yang 
harus dibayar tiap bulan sampai sekian lama? Apakah anda pernah terpikir 
(sebelum hanyut dengan mimpi kepingin sangat membeli itu) untuk mengingat-ingat 
apakah barang yang ditawarkan itu benar-benar perlu atau tidak? Atau anda tidak 
terlalu pusing dengan kegunaan atau manfaatnya tapi tetap ngotot saja mau 
membeli karena saking kagumnya dengan rayuan gombal sang iklan?

Jawabannya pastilah akan sangat beragam.

Aku hanya ingin sekedar terheran-heran dengan semangat atau lebih tepatnya 
nafsu konsumptif 'kita' bangsa Indonesia ini. Apa saja yang tidak dijual orang 
di sini. Rumah mewah, apartemen kondo, mobil seharga 3M, barang elektronik 
keluaran terakhir dari ukuran sebesar entah-entah apa sampai 
sekecil entah-entah apa. Dan semua laku. Semua dibeli orang, Semua dibeli orang 
baik tunai maupun mencicil.

Kan itu berarti orang-orang pada berduit. Orang-orang pada kaya. Selama dia 
mampu membeli dengan uangnya sendiri apa urusan kita? Begitu komentar seorang 
teman. Kalau itu sih, benar. Tidak ada urusan kita selama mereka, orang-orang 
berduit itu berbelanja dengan uang mereka. Dengan hasil keringat mereka 
sendiri. Iya kan?

Tidak. Kataku pelan-pelan dalam hati. Takut terdengar oleh teman yang memang 
agak pemburansang itu. Tidak, sekali lagi tidak. Bukan itu maksudnya. Cobalah 
tengok sebuah 'mode'. Sekarang ini 'mode' mempunyai BB. Sangat banyak manfaat 
dari memiliki BB. Banyak sekali. Dia lebih dari sekedar teka-teki 'dibuka 
selebar alam, ditutup selebar kuku'. Kata seorang professor, dunia tergenggam 
di tangan awak, kalau awak memiliki BB. Mau apa saja. Mau mencari informasi apa 
saja. Mau mengirim berita, foto, makalah, apa saja, kemana saja. Semua terletak 
di ujung jari. Cukuplah pencet-pencet apa yang mau dikirim, yang mau dicari, 
yang mau dibaca, yang mau didengar, yang mau ditonton. Semua ada.

Berapa harga sebuah BB? Ah tidak mahal-mahal sangat. Terjangkau. Hanya sekitar 
4 juta saja. Masak mau sempilit dengan uang 4 juta untuk manfaat sebegitu besar?

Di sinilah kita mulai coba berhitung kanti!. Jangan kau katakan uang 4 juta itu 
hanya sekian jam bekerja sudah dapat kau hasilkan. Tahukah kau berapa arti 4 
juta itu sebenarnya? Di negeri kita yang kita cintai ini? Kalau kau mau memakai 
takaran minyak bumi, karena minyak bumi ini masih tersedia di perut bumi negeri 
ini, maka uang itu lebih kurang setara dengan 4 barrel minyak mentah. Lho? 
Berapa itu? Satu barrel itu setara dengan 159 liter minyak. Berapa orang 
pemakai BB di Indonesia Raya ini sekarang? 5 juta? (Aku mana pula tahu). 
Seandainya sekian, maka ketahuilah wahai kanti, kita terpaksa menyerahkan 4 x 5 
juta barrel minyak mentah kita ke Kanada sana. Untuk BB yang akan dipakai 
setahun dua tahun. Karena sebentar lagi akan keluar lagi BB jenis lain yang 
lebih canggih. Kalau harganya mau dihitung dengan hasil beras atau padi (karena 
memang padi ini yang di antara lain bangsa kita mampu menanamnya), seandainya 
harga beras kita anggap 8000 rupiah
 sekilo, maka untuk sebuah BB perlu kita jual 500 kilo beras. Jadi berapa kilo 
beras untuk 5 juta buah BB? 2500 juta kilo. Hitunglah sendiri! Berapa besar 
sawah diperlukan untuk menghasilkan beras sebanyak itu.

Lha! Orang memang kita perlu. Memang ada manfaatnya. Situ aja yang sirik......

Bukan kawan. Bukan sirik. Lihatlah betapa kita ini tidak belajar dari 
pengalaman. Dari dulu sampai sekarang hanya bisa jadi konsumen. Jadi pembeli. 
Jadi penikmat. Kita tidak pernah berpikir untuk menutupi keperluan kita 
sendiri. Memproduksi sendiri barang keperluan kita, kalaulah tidak mungkin 
untuk menjualnya ke negeri orang. Dari dulu sampai sekarang. Dulu 40 tahun yang 
lalu kita sama-sama tarafnya dengan Korea. Sama-sama negara berkembang. Kini? 
Mereka sudah menjadi negara maju, kita masih negara kembang-kempis. Kita harus 
mendongak menengadah melihat kemandirian mereka. Contoh di atas baru sekedar 
BB. Padahal di segala aspek kita seperti itu. Ada betulpun iklan yang berbunyi, 
'cintailah produk-produk Eindonesia'. Kita tahu produk itu masih bermerek 
asing. Berlogo dan berlambang asing. Kita bahkan tidak tergugah ketika sebuah 
iklan berbunyi bahwa, dia (maskapai besar itu) 'inspire the next'. Kita masih 
berpikir, 'will buy the next when it comes'.

Jadi sampai kapan? Kita hanya akan jadi konsumen? Membeli sebuah produk orang 
dengan berjuta-juta kilo beras? Yang padahal bangsa kita kelaparan? Atau 
berjuta-juta barrel minyak? Yang padahal untuk dipakai sendiri saja sudah tidak 
mencukupi? Atau berton-ton kayu? Sementara hutan kita sudah semakin gundul......

Ah...... Sebegitu sajalah.....

***** 

Wassalamu'alaikum
 
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H, 
Jatibening - Bekasi


________________________________

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke