Sanak Palanta RN. Seharusnya kita bisa membangun sarupo iko kalau satu suaro


http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/05/18/09200262/Herman.Membangun.Mal.untuk.Para.PKL
Herman, Membangun Mal untuk Para PKL

Tinggal selangkah, Herman Malano mewujudkan mimpinya hampir 30 tahun ini,
yaitu mendirikan pusat perbelanjaan modern yang nyaman dan murah secara
mandiri sehingga terjangkau bagi para pedagang ”kasta” terendah alias
pedagang kaki lima .

Pembangunan mal Bambu Kuning Square (BKS) di depan Stasiun Kereta
Api Tanjungkarang, Bandar Lampung, Lampung, tidaklah terlepas
dari perjuangan Herman Malano.

Pusat perbelanjaan dengan luas bangunan 6.800 meter persegi itu merupakan
pasar modern pertama di Tanah Air yang dibangun untuk PKL. Pembangunannya
dilakukan mandiri oleh para pedagang, tanpa bantuan dana perbankan,
pemerintah, apalagi pengembang komersial.

”Sebagai mantan PKL, saya bisa merasakan pahitnya menjadi seorang PKL. Hidup
dalam kecemasan, takut lapaknya ditertibkan pemerintah, sementara pasar baru
yang dibangun pemerintah dari hasil penggusuran biasanya dihargai mahal.
Kalau begitu, sampai kapan pun PKL tidak mampu membelinya,” kata Herman.

Untuk meningkatkan taraf hidup PKL, harus mulai ada yang peduli membangunkan
pasar modern yang nyaman, murah, dan legal bagi mereka. Atas semangat inilah
Herman nekat membangun BKS dengan modal ”dengkul”, tanpa dukungan modal
finansial perbankan dan pemerintah pada awal 2009.

Pertama, untuk mendapatkan lokasi pembangunan mal, ia sibuk melobi petinggi
PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Bandung, Jawa Barat, sejak 2007. Izin
prinsip pemanfaatan tanah seluas 6.800 meter persegi milik PT KAI yang telah
sejak lama telantar akhirnya diperoleh. Padahal, saat itu baik pemerintah
daerah maupun sejumlah pengembang komersial sama-sama mengincar lokasi tanah
yang sangat strategis itu.

* Tidak berorientasi profit *

Herman pun kemudian membentuk sebuah perusahaan pengembang bernama PT Istana
Karya Mandiri (IKM) untuk mewujudkan cita-citanya membangun BKS. Perusahaan
ini, katanya, tidak berorientasi profit sehingga semangat membangun pasar
modern untuk kaum kecil dapat terjaga.

”Setelah 2 -3 tahun (BKS) berdiri, pengelolaan mal diserahkan
langsung kepada para pedagang, bisa lewat koperasi. Istana Karya
hanya mengawasi karena kami bukan seperti pengembang pada umumnya
yang mengambil keuntungan sebesar-besarnya,” kata Ketua Asosiasi
Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Wilayah Lampung itu.

Untuk mendanai pembangunan BKS, pada awalnya Herman mengharapkan bantuan
modal dari perbankan. Namun, apa daya, berkali-kali mengajukan kredit,
berkali-kali pula ditolak bank. Alasannya, pembangunan BKS belum dilengkapi
kerja sama operasi (KSO) dengan PT KAI.

Padahal, untuk KSO ini setidaknya dibutuhkan biaya Rp 4 miliar, baik Herman
maupun PT IKM tidak punya uang segar sebanyak itu. Namun, ia tidak patah
arang. Walau tanpa akta KSO, hingga saat ini pembangunan tetap dilaksanakan.
Ia sengaja menjual murah sebuah aset pribadinya senilai Rp 2 miliar untuk
dana awal pembangunan BKS.

Selanjutnya, dana pembangunan didapatkan dengan cara mengajak para
PKL mencicil uang pembelian toko dengan pola fleksibel. Khusus bagi pedagang
yang mampu, mereka didorong membeli secara tunai atau bertahap dengan sistem
pemesanan. Di BKS, khusus PKL mendapatkan subsidi sehingga harga per meter
persegi toko hanya Rp 8 juta, sementara untuk umum Rp 13 juta per meter
persegi.

Bahkan, ia memberanikan diri mengundang Ketua Umum APPSI Pusat
Prabowo Subianto untuk meletakkan batu pertama pembangunan BKS pada 22
Januari 2009 lalu. Idenya membangun pasar modern untuk pedagang
kecil mengundang simpati dan dukungan banyak pihak, termasuk para
pejabat. Ini dimanfaatkannya untuk mendapatkan material bangunan dengan
harga
murah atau diskon.

* Cibiran dan godaan*

Herman menambahkan, pada awalnya banyak pihak yang mencibir
dan menyangsikannya kemampuannya membangun BKS. ”Orang-orang bilang
saya gila. Tidak sedikit yang ngeledek seperti ini, ’gimana Pak
Herman, batunya sudah lumutan belum? atau 'kalau jadi, iris kuping
saya',”ucapnya menirukan pernyataan pihak-pihak yang mencemooh kerjanya.

Tantangan dan godaan pun tidak henti-hentinya datang. Di tengah pembangunan
BKS, dia mendapat tawaran dari sebuah pengembang komersial besar yang
berbasis di Jakarta. Pengembang itu meminta agar Herman menjual proyek BKS
itu dengan iming-iming sogokan Rp 4 miliar. Ia pun pernah diberitakan miring
bahwa PT IKM dianggap tidak mampu membangun BKS karena ketiadaan dana besar.

”Saya tidak akan pernah bisa dibeli. Tidak mungkin ada kesempatan dua kali
hidup dari Tuhan untuk mewujudkan mimpi semacam ini dan juga mimpi-mimpi
PKL,” ujar pria yang sangat mengidolakan Muhammad Yunus, penerima Nobel dan
pendiri Grameen Bank yang sangat inspiratif itu.

* Terlahir sebagai PKL*

Terlahir sebagai anak seorang PKL lalu menekuni profesi itu,
membuat semangatnya semakin kuat dan berkobar-kobar untuk membela para
PKL. ”Umur 3 bulan, saat masih bayi, saya sudah diajak ibu menunggu lapak di
pasar. Maka itu, saya sangat marah jika pemerintah tidak peduli terhadap
PKL,” katanya dengan nada meninggi dan mata berkaca-kaca.

Kini, bangunan BKS seluas 12.000 meter persegi tersebut sudah 80 persen
terbangun. Rencananya, gedung itu akan diresmikan akhir tahun ini. Herman
bercita-cita menduplikasi BKS ini ke-33 provinsi di Tanah Air. Dengan
demikian, akan makin banyak pedagang kecil di Indonesia yang berkesempatan
memperbaiki nasib.

Herman berharap pemerintah meningkatkan kepeduliannya pada kaum PKL dan UKM
(usaha kecil-menengah). Salah satunya, menyediakan fasilitas kredit UKM yang
betul-betul terjangkau, mudah prosesnya, dan bunga ringan. ”China dan
Malaysia bisa melakukannya, kenapa kita tidak?” ucap pria yang hanya
mengecap pendidikan hingga kelas I SMA itu.

Dalam kunjungannya ke BKS akhir April lalu, Deputi Menteri
Koordinator Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawadi
mengaku sangat terkesan dengan perjuangan Herman membangun BKS.

”Saya datang ke sini sebetulnya justru ingin belajar, bukan mengarahkan.
Saya sungguh kagum. Bagaimanapun BKS akan menjadi sebuah laboratorium,
percontohan, tentang bagaimana pedagang saling bersinergi dan mandiri
membangun pasarnya sendiri,” kata Edy.

(Yulvianus Harjono)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke