Bab 1 : M. Perpecahan (Friction) 

Salah satu strategi yang paling mengerikan dari gerakan zionis adalah membangun 
satu 
friksi (perpecahan, ed.) di dalam dan antarpemeluk agama. Mereka menyebarkan 
berbagai 
"bola-bola salju" yang diharapkan dapat "melindas" kaum beragama agar diantara 
mereka 
terjadi konflik. Hal itu dimaksudkan sebagai justifikasi bahwa sumber konflik 
di muka bumi 
ini, dikarenakan manusia fanatik terhadap agamanya masing-masing. Sehingga 
solusi 
yang terbaik, manusia harus membebaskan dirinya dari jerat dogma agama dan 
memasuki satu abad baru, yaitu kehidupan yang bersifat universal, yang hanya 
bicara 
atas nama kesamaan dan kebebasan yang tidak membawa-bawa atau mengatasnamakan 
agama. Humanitas merupakan bahasa universal dan tanpa agama sekalipun, nilai 
kemanusiaan merupakan kata pengikat yang paling bebas kepentingan. 
 
Agama hanyalah sebuah budaya primitif, yang lambat laun harus punah diganti 
dengan 
abad baru dengan peradaban luhur, sebagaimana untuk pertama kalinya dibangun 
oleh 
The King of Nimrod (Raja Namrud) yang membangun Menara Babil, lambang unitarian 
universalist.
 
Friksi atau perpecahan adalah salah satu cara untuk menghapuskan segala 
rintangan 
menuju Kerajaan Namrud yang akan menguasai dunia global sejahtera. Maka 
disebarkannyalah segala macam isu, rumor, dan fitnah yang akan mengadu domba 
para 
pemimpin agama, baik di dalam tubuh agama ataupun di antara agama yang satu dan 
lainnya. Konflik agama maupun konflik pribadi harus dipelihara. Karena hanya 
dengan 
situasi konfiik serta perpecahan di antara para Juru dakwah agama, kaum zionis 
lebih 
mudah "menjajakan dagangannya". Sambil menyebarkan fitnah, mereka menawarkan 
rekonsiliasi agama-agama untuk bergabung dalam sebuah institusi yang bebas 
dogma. 
Dengan cara seperti ini, secara evolusif gradual, seluruh tatanan agama akan 
membaur 
dan samar-samar ditelan waktu.
 
Bila ada para pemimpin agama atau tokoh yang militan yang mengatas-namakan 
agama 
atau mempunyai motif agama, "pisau tajam" yang paling mengelupas kulitnya 
hanyalah 
dengan cara mengedarkan fitnah agar tokoh tersebut "layu sebelum berkembang". 
Menyingkir sendiri dari panggung sebelum merebut simpati masa. Seluruh "sarana" 
mata 
Lucifer harus mendukung strategi fitnah yang dilancarkan konspirasi zionis, 
dengan cara 
membuat selebaran bohong, menyebarkan berita palsu di internet, dan melakukan 
pemblokan segala bentuk pemberitaan. Hak manusia untuk berbicara dan 
menyebarkan 
informasi harus "dikebiri" karena dapat menghambat segala rencana global yang 
telah 
menjadi satu aksioma. Fitnah pulalah yang merupakan senjata zionis yang paling 
bertuah, 
karena tokoh yang dianggap berbahaya akan tersungkur "ditusuk" oleh sesama 
kawannya 
sendiri.
 
Dengan mayoritas penduduknya yang muslim, Indonesia adalah salah satu "target 
wajib" 
mereka untuk membuat kerusuhan atau kekacauan. Mitos bahwa agama minoritas akan 
selamat dalam naungan Islam yang mayoritas, harus diubah dengan wajah baru: 
"Islam 
agama kaum ekstrimis, tidak toleran. Agama pedang dan haus dengan darah" 
sebagaimana sering dipropagandakan oleh kaum orientalis Barat yang Komunistis. 
Logika 
sejarah dibalik menurut rencana mereka bahwa Islam mayoritas adalah sangat 
berbahaya 
dan menyebabkan agama lain yang minoritas akan ternista dan terampas hak asasi 
kemanusiaannya. Sebab itu, para zionis Iluminasi dan freemason ini menciptakan 
situasi 
yang membuat "wajah" Islam mayoritas di suatu negeri menjadi wajah yang membawa 
citra buruk. Tayangkan secara sekuensial adegan-adegan kekerasan melalui 
kekuasaan 
videocracy (penguasa media) yang dimilikinya untuk membangun opini buruk umat 
Islam 
di muka bumi.
 
Pada saat yang sama, ada dua kepentingan besar dalam menciptakan perang 
antaragama sebagai bagian dari "skenario licik" kaum zionis, yaitu sebagai 
berikut:
 
l. Menambah deretan daftar kebencian terhadap agama Islam yang disebarkan 
melalui 
berbagai media massa termasuk internet dan selebaran. Tentu saja, hal ini 
membuat porsi 
berita menjadi tidak seimbang dengan tujuan membangun kebencian.
 
2. Konflik antaragama berarti mengadu domba kedua musuh kaum zionis, yang 
sangat 
kental dengan semangat anti-Kristus. Sehingga dalam konfiik tersebut tidak ada 
satu pun 
yang diuntungkan, kecuali diri mereka sendiri yang menangguk di air keruh.
 
Friksi atau perpecahan antaragama tidak hanya berlaku melalui agama, tetapi 
dikembangkan pula konfiik antar-etnik, golongan, dan kepentingan, sehingga 
tidak ada 
satu negara pun yang mayoritasnya muslim hidup dalam situasi yang stabil. 
Karena 
stabilitas membuka peluang negara tersebut untuk membangun ekonomi serta emosi 
nasionalisme kebangsaannya Nasionalisme adalah "racun" yang meng hambat 
universalisme yang dicita-citakan kaum zionis.
 
Bersambung ke bab 1.14
 
Wassalam 
St. Sinaro 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke