Majalah The Economist, tahun lalu, menulis untuk ukuran dunia, Indonesia
produsen terbesar ketiga tembaga, kedua timah, keenam nikel, kedelapan emas,
keenam gas alam, dan kesembilan batubara. Tak ada negara yang kekayaan
alamnya seperti ini. Seharusnya kita sangat sejahtera. Untuk pertanian,
Indonesia urutan keenam untuk biji-bijian, ketiga beras, keenam teh, keempat
kopi, ketiga cokelat, pertama lada putih, ketiga lada hitam, kedua karet
alam, dan pertama minyak sawit. Sayangnya, dari 9,5 juta hektar kebun sawit,
50 persen dikuasai asing, oleh perusahaan dari Malaysia, Singapura, Inggris,
Belgia, Luksemburg, AS, dan Sri Lanka, dengan proporsi berbeda-beda. Negara
tidak saja membiarkan, tetapi memfasilitasi dikuasainya 2 juta ha lahan
sawit oleh perusahaan-perusahaan asing tanpa plasma. Padahal, plasma adalah
instrumen paling efektif menyejahterakan rakyat.

Siswono Yudo Husodo, Koreksi Politik Ekonomi Kabinet, Kompas, Kamis, 16 Juni
2011
http://cetak.kompas.com/read/2011/06/16/02222353/koreksi.politik.ekonomi.kab
inet.

Wassalam, HDB-SBK

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke