Adidunsanak ambo di Palanta,

Ass wr wb,
Ambo mambaco Harian KOMPAS terbitan Kamis, 16 Juni 2011 di halaman 1 kol 3
ado judul berita " PARIWISATA VERSUS BALAP SEPEDA " yang ditulis oleh Helena
Nababan
dan berita tersebut bersambung ke Hal 15 kol 1.
Mungkin adidunsanak ado nan alah mambaco, tapi indak ba a lah ambo cubo
lewakan baliak mungkin ado dunsanak awak nan alun mambaco, utamonyo PENGURUS
MAPPAS, karano iko bisa dijadikan PROGRAM KARAJO untuk TDs 2012 yang akan
datang dan bisa disiapkan dari kiniko babanah supayo TDs 2012 indak taulang
kelemahan TDs 2011 tu.

TOUR DE SINGKARAK

*Pariwisata Versus Balap Sepeda*

*Lomba balap sepeda Tour de Singkarak 2011 yang berlangsung selama sepekan
sudah berakhir, Minggu (12/6). Perhelatan yang sudah diselenggarakan dalam tiga
tahun terakhir ini sebenarnya ingin menjual pariwisata Sumatera Barat
melalui balap sepeda.*

*Oleh HELENA NABABAN*

0leh karena itu, cute yang dilalui para pebalap juga diarahkan ke
lokasi-lokasi wisata di Sumbar, antara lain Lembah Harau, Danau Manin­jau,
dan Danau Kembar atau lebih dikenal sebagai Danau di

Atas dan Danau di Bawah. Jika dibandingkan dengan Tour de France,
penyelenggaraan Tour de Singkarak (TdS) memang belum ada apa-apanya.

Mumin, sebagai upaya mem­perkenalkan sekaligus menjual obyek wisata di
Sumbar ke du­nia internasional, penyelengga­raan balap sepeda TdS yang su­dah
masuk kalender Persatuan Balap Sepeda Internasional (UCI) ini perlu
dilanjutkan.

Penyeleng;garaan agenda ba­lap sepeda tahunan ini masih banyak kekurangan di
sana-sini: Keruwetan, misalnya, sudah dijumpai pada hari pertama ba­lapan, 6
Juni lalu. Start lomba hari pertama sudah menyusah­kan ribuan warga Padang.

Mereka hams terjebak kema­cetan lalu lintas berjam-jam ka­rena sebelumnya
warga tidak mengetahui adanya lomba balap sepeda pada hari itu.

Ketua Umum Pengurus Pro­vinsi Ikatan Sport Sepeda In­donesia (ISSI) Sumbar
Afrizal bahkan mengaku tidak tahu-menahu dengan lomba balap sepeda itu. Ia
mengaku kecewa dengan pclaksanaan TdS 2011. "Scbagai tuan rumah, kami tidak
pernah dilibatkan. Saya bahkan tidak pernah tahu kapan lomba itu
dilaksanakan," katanya.

Keruwetan lain adalah keter­batasan penginapan di kota-kota tempat start dan
finis para pebalap, misalnya di etape VIB dengan titik finis di Padang
Panjang.

Para pebalap yang tidak men­dapat hotel di Padang Panjang hams kembali ke
Bukittinggi. Malamnya, mereka masih hares ke Padang Panjang untuk



*(Bersambung ke hal 15 kol 1-4)*



*Pariwisata Versus Balap Sepeda*

(Sambungan Bari halaman 1)



mengikuti jamuan makan .malam.

"Saya kira masalah penginap­an harus dijawab penyelenggara supaya balapan
TdS ke depan bisa lancar," ujar Chief Corn- • missaire TdS 2011 Leong Hong
Ian.

Dari 12 kota dan kabupaten yang menjadi rute balapan berkategori 2.2 ini,
hanya Padang dan Bukittinggi yang secara. penuh menampung semua tim.

Kota lain, seperti Padang Panjang, Pariaman, Sawahiunto, dan Solok, sama
sekali belum memiliki fasilitas penginapan memadai yang bisa dipakai tim untuk
menginap. Peserta terpaksa berpindah-pindah hotel.

Menjadi terkesan tanggung ketika pariwisatA yang akan di­jual belum
Melengkapi din de­ngan fasilitas penginapan yang standar. Juga terkesan
memak­sakan diri ketika titik finis etape IV dari Bukittinggi menuju Lembah
Harau ditempatkan di

dekat air terjun, sementara jalan begitu sempit.

"Jadi, seperti tidak ada per­siapan. Setiap tahun seperti terkaget-kaget
ketika TdS mau diadakan. Persiapan tidak dila­kukan sejak lama," kata
Wakil Ketua
Umum II KONI Sumbar Bidang Pembinaan Prestasi Handrianto.

Setelah tiga tahun TdS dige­lar, dampaknya bagi perkem­bangan industri
pariwisata Sum-bar juga masih dipertanyakan. Demikian pula dengan relatif masih
nihilnya industri kreatif yang terkait dengan kegiatan akbar yang menelan
dana

Rp 8 miliar itu.

Budayawan Minangkabau, Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto, menilai TdS
sebagai penyelenggaraan yang elitis. Itulah mengapa tidak tumbuh jenis-jenis
usaha kreatif sepan­jang lomba, seperti per­nak-pernik atau suvenir
balap sepeda
yang diperjualbelikan.

"Sekarang ini yang mengeta­hui TdS hanya mereka yang di­lewati rombongan di
pinggir ja­ lan. Orang lain di lokasi-lokasi ke dalam dari pinggir' jalan
tidak tahu apa-apa," kata Musra yang akrab disapa Mak Katik.

Penyelenggaraan lomba itu juga dilakukan tanpa menyapa masyarakat lokal.
Akibatnya, ke­pedulian dan perhatian warga relatif rendah.

Ia mencontohkan, rombong­an pebalap yang demikian besar itu tidak diarahkan
untuk mengunjungi sentra-sentra wi­sata tertentu. Pada sisi lain, Mak Katik
menganggap Ranah Mi­nang belum siap menerima ke­giatan seakbar TdS.

TdS 2011 diikuti 13 tim dari luar negeri dan 11 tim dari da­lam negeri.
Kepala Dinas Ke­budayaan dan Pariwisata Sum-bar Burhasman mengatakan, pe­ran
pemerintah kabupdten/kota sangat besar pada lomba balap sepeda TdS tahun
ini.

Sebanyak 12 kabupaten/kota di Sumbar menyumbang dana bersama Kementerian
Kebuda­yaan dan Pariwisata sehingga total dana penyelenggaraan TDS 2011
sekitar Rp 8 miliar.

Hal itu berbeda dengan pe­nyelenggaraan pada 2009 yang sepenuhnya ditanggung
oleh pemerintah pusat, sementara TdS 2010 diselenggarakan pe­merintah pusat
dan Pemerintah Provinsi Sumbar.

Ketua Umum PB ISSI Phanny Tanjung menyarankan agar TdS 2011 bisa
segera di­evaluasi.
Ia menilai kegiatan ini bagus dan perlu diteruskan, tetapi dalam setiap
pelaksanaan diperlukan koordinasi dan kerja sama yang baik antara
Kemen­terian Kebudayaan dan Pariwi­sata dengan Pemproir Sumbar serta
pemkab/pemkot dan ISSI.

"Tahun depan, start TdS tidak bisa lagi dilakukan di Pa­dang karena pasti
akan mere­potkan warga di sana," ujar Phanny.

Mengharapkan obyek pariwi­sata di Sumbar terkenal hingga ke mancanegara
melalui kegiat­an balap sepeda TdS memang masih perlu waktu.

(INGKI RINALDI/ TJAHJA GUNAWAN)



Kalau buliah ambo berkomentar dari tulisan diateh, ado beberapa kejanggalan
yang dikemukakan, yaitu :

- Apokah iyo masyarakat Kota padang TIDAK MENGETAHUI adanya LOMBA BALAP
SEPEDA pada tanggal 6 Juni 2011???

- Ketua Umum PENGPROV ISSI SUMBAR bapak Afrizal mengaku tidak tahu menahu
dengan lomba balap sepeda itu????

- Tidak tersedia nya HOTEL untuk para pembalap sehingga harus mondar mandir
hanya untuk menginap, sehingga terkesan PARIWISATA yang akan dijual itu
belum melengkapi diri dengan fasilitas PENGINAPAN YANG STANDAR??????

- Budayawan Minangkabau Bapak Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto menilai TDs
sebagai penyelengaraan yang ELITIS, sehingga tidak tumbuh jenis-jenis usaha
kreatif sepanjang lomba????

- Yang mengetahui TDs hanya mereka yang dilewati rombongan dipinggir jalan,
orang lain di lokasi-lokasi kedalam dari pinggir jalan tidak tahu
apa-apa????

Mungkin Adidunsanak yang mengikuti langsung TDs 2011 ini dapat memberikan
gambaran riel apakah betul seperti yang diberitakan tersebut???

kok nampaknyo sarupo papatah juo," MINYAK ABIH SAMBA TAK LAMAK "???

Wass wr wb


CDRSampono/62+snek/Tangsel

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke