F. Hancurnya Persatuan 
 
Persatuan umat Islam dalam bentuk ittihadul-ummah atau kuatnya persatuan dan 
kesatuan suatu bangsa adalah musuh utama kaum zionis.
 
Mereka tidak pernah membiarkan umat atau suatu bangsa bersatu, kecuali itu 
hanya 
sebagai bahan perimbangan kekuatan semata-mata. Beberapa bangsa dibiarkannya 
untuk 
stabil dan bersatu sepanjang dapat mereka kontrol demi kepentingan mereka. 
Karena 
dalam gerakan konspirasinya, kaum zionis menganggap pemimpin yang baik adalah 
yang 
mampu menciptakan konflik, mampu membuat musuh, tetapi semuanya itu harus dalam 
kerangka besar perencanaannya sehingga tetap terkontrol.
 
Memang benar bahwasanya umat Islam bukanlah pemalas. Mereka sama-sama bekerja, 
tetapi sayangnya tidak pernah mau bekerja sama. Satu sama lain asyik dengan 
kepentingan atau urusannya sendiri. Menutup sekat dari nilai esensial persatuan 
dan 
persaudaraan yang hanya sebatas pemanis retorika belaka. Jiwanya rapuh diterpa 
kecintaan yang sangat mendalam terhadap dunia, terperangkap dalam jaringan yang 
telah 
dipersiapkan kaum Dajal. Hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah saw dalam 
sabdanya:
 
"Akan datang suatu saat, kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain yang 
bagaikan orang-orang yang kelaparan memperebutkan makanan dalam mangkok. Para 
sahabat bertanya, 'Apakah karena jumlah kami waktu itu sedikit?' Beliau 
menjawab, 
'Tidak, bahkan jumlah kalian banyak sekali, tetapi bagaikan buih dan kalian 
ditimpa 
penyakit wahan.' Mereka bertanya, 'Apa yang dimaksud penyakit wahan, ya 
Rasulullah?' 
Beliau menjawab, 'Kalian sangat cinta kepada dunia dan takut mati'…" (HR Abu 
Daud).
 
Dengan hadits tersebut, seharusnya kita merasa digugah bahwa gerakan kaum Dajal 
itu 
sudah memperhitungkan pula kualitas umat Islam yang saat ini mulai kehilangan 
nilai, 
bobot kualitas, dan hidup hanya bagaikan gunungan buih, sehingga dengan sangat 
mudahnya Dajal dan para pengikutnya merambah dan merombak seluruh sistem 
kehidupan umat Islam seperti yang disebutkan dalam surat al-Baqarah:120. 
Sehingga, 
berbagai cara harus dilakukan agar umat Islam tidak sempat menjadi kuat dan 
menepuk 
dada sebagai satu bentuk negara yang baik. Pokoknya, tidak ada satu "lubang" 
pun yang 
luput dari pengawasan mereka. Dia pelihara benih-benih konflik agar pada waktu 
yang 
tepat dapat menjadi bahan akseleratif kekacauan yang menjadi sarana baginya, 
yaitu agar 
orang-orang yang dalam keadaan kacau (chaos) dan frustrasi itu datang menyembah 
kepadanya.
 
Cita-cita Dajal membangun satu dunia baru yang global, yaitu: satu 
pemerintahan, satu 
agama; satu kewarganegaraan, dan satu sistem perekonomian merupakan falsafah 
baru 
bagi para pengikutnya, kaum zionis. Mereka akan menghapuskan segala bentuk 
kebangsaan dan nasionalisme serta agama-agama yang ada. Dengan terang-terangan, 
mereka membuat gerakan unitarian-universalist dan menentang dengan sengit 
kekuatan 
gereja Katolik. 
 
Mereka menyebut dirinya sebagai anti-Kristus. Salah satu target mereka adalah 
menghancurkan kekuatan Kepausan yang menguasai dunia melalui gereja Katoliknya. 
Sejarah masa lalu serta terusirnya kaum Yahudi dan terbunuhnya Jaques de Molay 
merupakan satu cita-cita untuk membalas dendam. Maka dicarilah berbagai 
justifikasi 
(pengesahan hukum sepihak) diantaranya dengan membuat tafsir-tafsir Bible yang 
disesuaikan dengan kepentingan gerakan konspirasi mereka. 
 
Dengan sangat cantiknya mereka menafsirkan peristiwa Menara Babil, di mana pada 
saat 
itu seluruh manusia berbahasa satu, berkebangsaan satu, dan mempunyai tujuan 
yang 
satu. Sebab itu adalah cita-cita yang sangat suci bila mereka mengembalikan 
kedudukan 
Menara Babil tersebut, agar manusia mencapai kesejahteraan yang sebenarnya. 
Mereka 
sangat anti terhadap agama yang dianggapnya sebagai racun. Karena dengan dogma-
dogmanya, ia telah membius manusia sehingga terpenjara dan tidak mempunyai 
kebebasan berpikir kecuali harus sesuai dengan agama mereka. 
 
Generasi muda merupakan sasaran utama mereka, karena sifat para pemuda yang 
sangat 
senang dengan pemikiran-pemikiran baru atau menunjukkan sikap yang berbeda dan 
anti-
status quo. Di samping itu, pemikiran bebas (free-thinking) akan menjadikan 
satu mode 
pemberontakan terselubung untuk menghadapi sistem pemikiran yang diperkenalkan 
agama sebagai status quo dan membunuh kreativitas. Dajal dan para pengikutnya 
seakan-akan berteriak:
 
"Bebaskan dirimu dari segala 'penjara kuno' ini. Jadilah kaum pembaru. Lihatlah 
dunia 
semakin global. Janganlah terpuruk dalam tempat yang sempit. Lihatlah dunia, 
mengembaralah engkau sebagai manusia bebas. Jadilah seorang pembela demokrasi 
sejati, melepaskan segala belenggu dari tirani dogma agama. Berpalinglah kepada 
setan 
karena dia adalah 'bapak demokrasi' yang berani memprotes status quo dan 
mengambil 
risiko terusir dari surga sebagai 'malaikat diturunkan' (the fallen angels). 
Lihatlah 
kenyataannya, agama tidak lain hanyalah racun dan sumber konflik belaka."
 
Racun pemikirannya yang didasarkan pada rasionalisme, mengarahkan "mata 
pedangnya" 
kepada seluruh bangsa. Tentu saja, dalam situasi yang stabil dan tenang, 
gerakan 
mereka menghadapi kesulitan karena berperannya seluruh institusi untuk 
mengembangkan agama (dakwah). Oleh karenanya, hanya dengan membangun 
perpecahan diantara umat beragama maka dengan meminjam istilah Prof J.S. Malan 
yaitu, "Cita-cita 'era reformasi pembaruan' hanya dapat diwujudkan bila 
dogma-dogma 
agama konservatif sudah dapat dilumpuhkan."
 
Dalam beberapa dekade ini, kita menyaksikan satu panggung kehancuran suatu 
bangsa 
yang terkoyak dan berkeping-keping menjadi negara-negara kecil sehingga 
memudahkan 
kaum zionis melakukan kontrol. Negara Uni Soviet dan Rusia yang selama ini 
menjadi 
pesaing keras harus dijadikan contoh utama kemenangan zionis. Selanjutnya, 
mereka 
hancurkan pula Yugoslavia dengan memelihara kaum fanatik Serbia untuk menjadi 
ujung 
tombak atau budak zionis menghancurkan etnik muslim di Bosnia dan Kosovo 
Albania. Mata pedang selanjutnya di arahkan pula ke timur jauh, yaitu 
Indonesia. Isu suku, agama, 
dan antar golongan (SARA) harus dipelihara agar sewaktu-waktu menjadi bom yang 
memporak-porandakan negara kesatuan Republik Indonesia yang notabene 
penduduknya 
mayoritas umat Islam. 
    Dalam rencana konspirasi mereka, tentu saja tidak akan lama lagi 
terjadi huru-hara pertentangan atau konffik agama, antara Islam dan Kristen, 
khususnya 
Kristen Protestan --rumor beredar bahwa beberapa pulau di Indonesia yang 
penduduknya 
mayoritas Kristen Protestan bisa jadi target zionis-- karena diperkirakannya 
Katolik sudah 
cukup mendapatkan lahan di TimorTimur. Hal ini sangat penting bagi terwujudnya 
cita-cita 
zionisme, yaitu memecah satu bangsa menjadi satu negara kecil, lalu mereka 
meniupkan 
kebebasan, kemandirian, dan sebagainya sebagai kamuflase. Bahkan, bisa jadi 
Indonesia 
akan diarahkan menjadi negara-negara kecil dalam bentuk federasi, atau bahkan 
terlepas 
sama sekali. Isu seperti ini akan terus merebak, dan umat Islam 
berkelompok-kelompok 
dengan memakai simbol-simbol baru.
 
Untuk memecah-belah persatuan harus ada motivator atau provokatornya. Untuk 
itu, 
kebebasan pers yang benar-benar bebas harus ditumbuhkan, sehingga media massa 
dapat menjadi pembawa pesan sesuai dengan fungsinya yang mempunyai daya 
mendampaki beritanya kepada publik sehingga membentuk opini. Media massa bisa 
memprovokasi suatu bangsa dan provokasinya bersifat legal karena mereka 
berlindung di 
balik kebebasan pers. 
 
Amerika sebagai "rajanya demokrasi" telah memperkenalkan satu bentuk kebebasan 
pers 
tersebut melalui jaminan konstitusional berdasarkan: kebebasan untuk berbicara 
(the 
freedom of speech); kebebasan untuk berekspresi (the freedom of expression), 
kebebasan 
untuk mendapatkan dan memberikan informasi (the freedom of information), 
sehingga 
masyarakat Amerika dan dunia Barat lainnya adalah masyarakat yang sangat 
informatif. 
Hidup dalam limpahan informasi --harap diingat bahwa kecerdasan bangsa tersebut 
memungkinkan untuk memilih informasi sesuai dengan hati nuraninya. Pers yang 
kredibel 
dan profesional lebih banyak dibaca dibandingkan "pers kuning" --dalam dunia 
jurnalistik 
dikenal dengan yellow paper.
 
Untuk itu, kita hanya dapat berharap kepada insan pers islami yang mempunyai 
integritas 
tinggi dan mernpunyai komitmen atau keberpihakan kepada umat Islam serta 
persatuan 
bangsa untuk membantu perjuangan mempertahankan persatuan. Selebihnya, umat 
Islam 
hanya menjadi konsumen setia dari lembaga pers orang-orang kafir yang dikelola 
secara 
profesional, atau memilih "koran kuning" yang hanya mementingkan nilai-nilai 
komersial 
ketimbang keadilan dan moralitas bangsa dan agama.
 
Bagaikan tidak berdaya, umat Islam telah menjadi objek dan konsumen setia 
terhadap 
pers kaum kafir. Setiap detik, tayangan CNN, CNBS, ABC, dan sekian banyak lagi 
jaringan informasi "memasuki" rumah-rumah umat Islam melalui parabola tanpa 
mampu 
menolaknya. Kita tidak lagi menonton televisi, tetapi televisi menonton kita. 
Emosi dan 
keinginan kita disaksikan, dianalisis, kemudian dijadikan bahan untuk membuat 
kemasan 
iklan dan berita yang dapat memasuki syaraf kita dan tanpa kita sadari.
 
Cara berpikir dan cara berbudaya kita sudah sangat berbeda sama sekali dengan 
apa 
yang selama ini kita yakini. Benturan budaya dan pemikiran terus berlangsung, 
tanpa 
sedikit pun ada keinginan untuk membalas dengan kuantitas dan kualitas yang 
sama. Bila 
kita mengharapkan keadilan dunia pers internasional untuk membuat keseimbangan 
beritanya, tentulah itu hanyalah sebuah utopia belaka. Hal itu karena seluruh 
jaringan 
media telah mereka kuasai dan jadikan alat zionisme. Dengan kata lain, kita 
semua 
sedang berada dalam satu "turbulensi budaya" yang berada dalam posisi pasif. 
Kita hanya 
menjadi satu "noktah kecil" yang menjadi objek dari teleskop dunia. Seluruh 
gerak 
kehidupan kita bagaikan telanjang di hadapan mata Lucifer tuhannya para zionis, 
yang 
dengan tajam mengawasi seluruh bangsa di dunia.
 
Walaupun dalam kaitan ini ajakan untuk menyebarkan ide persatuan umat dan 
seruan itu 
bagaikan percikan air hujan di tengah padang pasir, tetapi setidaknya dapat 
menjadi 
catatan generasi yang akan datang bahwa masih ada seorang mahluk hamba Allah 
yang 
merindukan terwujudnya persatuan dan jami'atul-muslimin. Kita yakin hanya 
inilah kunci 
kemenangan umat Islam di muka bumi, sebagaimana Allah memberikan kuncinya, 
yaitu 
bersatu dan berpihak pada partai Allah (hizbullah). Selama umat Islam tetap 
membanggakan dirinya dengan golongan, mazhab, dan kelompoknya, selama itu pula 
pertolongan Allah tidak pernah akan datang. Hal ini merupakan aksioma Ilahiyah 
yang 
seharusnya dapat dipahami dan diyakini oleh para pemimpin umat. Bila umat Islam 
terpecah menjadi kelompok-kelompok, kekalahanlah yang akan kita terima.

 Bersambung ke bab 3.3.
 
Wassalam
 
St. Sinaro
 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke