Bab IV : Jamaah dan Essensi Persatuan Umat (2) 
 
A. Identitas Anggota Jamaah 
 
Ibarat pohon yang akarnya menghunjam kuat dan daunnya rimbun mencakar langit. 
Demikian pula dengan jamaah, akarnya adalah tauhid, batangnya adalah 
persaudaraan, 
daunnya adalah zikir, dakwah adalah bunganya yang semerbak penuh kasih, dan 
akhirnya 
bersiaplah memetik amal prestatif yang akan memberikan rahmat bagi alam 
sekitarnya 
(rahmatan lil 'alaamin). 
 
Ciri atau karakter orang mukmin yang berhimpun dalam jamaah tersimpulkan dalam 
sepuluh mutiara akhlak orang beriman yang akan diuraikan berikut sebagai bahan 
renungan bagi yang ingin mengembangkan kehidupan rohaninya dari seorang muslim 
menjadi mukmin. Sepuluh mutiara akhlak mukmin itu di antaranya sebagai berikut: 

1. Berpikir dan bertindak sesuai dengan petunjuk dan wawasan Al-Qur'an (Quranic 
Oriented). 
 
2. Melaksanakan hijrah dan jihad dengan penuh rasa tanggung jawab dan 
keikhlasan. 
 
3. Tampak semangat persaudaraannya diantara sesama mukmin yang sangat kental 
dan 
penuh kasih. 
 
4. Sangat menghargai keputusan musyawarah, selalu bertindak amanah menjaga 
keluhuran budi, indah akhlaknya, dan selalu ingin memberikan uswah atau 
keteladanan 
yang Qur'ani. 
 
5. Sangat tabah (istiqamah) dalam menghadapi setiap cobaan dan rintangan. 

6. Tawadhu dan rendah hati. Menjauhi sikap sombong, ta'asub (membanggakan 
diri). 
 
7. Selalu dilanda obsesi untuk menjadikan hidupnya penuh arti dan bermanfaat 
bagi 
lingkungannya. 
 
8. Isi dakwah dijadikannya sebagai salah satu panggilan jiwa, yang menunjukkan 
rasa 
tanggung-jawabnya yang besar akan kasih-sayangnya kepada sesama manusia dan 
sekaligus sebagai rasa cintanya kepada Risalatul Kurb. 
 
9. Selalu ingin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya.
 
10. Rindu untuk menjadikan dirinya sebagai jembatan penyambung tali ukhuwah 
diantara 
sesama saudara seiman dan selalu ingin akrab dengan kaum dhu'afa.
 
Sepuluh mutiara kaum mukminin ini terangkum dengan sangat indah dan sempurna 
dalam 
Al-Qur'an, sehingga sangat dianjurkan selalu membaca, menghayati, dan 
mentafakuri 
makna ayat demi ayat yang terkandung di dalamnya, agar kita memperoleh nyata, 
pergaulan dunia dengan segala tantangannya.
 
B. Berwawasan Al-Qur'an (Quranic Oriented) 

Anggota jamaah Rasulullah saw. bukan sekadar sekelompok manusia yang mengaku 
diri 
sebagai muslim, tetapi lebih jauh dari itu. Mereka adalah para mukminin, yaitu 
tipe 
manusia yang selalu merindukan agar sikap hidupnya, tarikan nafas, dan prestasi 
dunianya selalu sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
 
Mereka membaca dan menerima A1-Qur'an bukan untuk penghias bahan retorika atau 
sekadar referensi pengetahuan dirinya, tetapi bagi para anggota jami'atul 
mukminin ini, Al-
Qur'an dijadikannya sebagai sumber aspirasi untuk beramal secara konkret. 
Mereka 
menjadikan Al-Qur'an sebagai benih yang memberikan energi baru yang sangat 
kuat, 
kemudian menabur bunga dakwah, lalu memetik buah prestasi yang menjadi 
keteladanan 
bagi siapa pun yang menyaksikan jamaahnya.
 
Mereka bukan tidak percaya dengan kekuatan kata-kata, atau mengabaikan teori. 
Akan 
tetapi, bagi kelompok jamaah ini, kata-kata dan teori tidaklah cukup, karena 
puncak dari 
misi pengabdian seorang mukmin adalah mengajak manusia pada kalimat yang sama, 
yaitu menjadikan tauhid sebagai pangkal kehidupan manusia di mana pun mereka 
berada. 
Kata-kata dan teori hanyalah jembatan atau alat untuk mengantarkan ke puncak 
dakwah, 
yaitu sikap hidup atau tindakan yang dimanifestasikan dalam bentuk tindakan 
yang 
mempunyai ciri sebagai uswatun hasanah (keteladanan). Bagi mereka: "tindakan 
dan 
perbuatan itu lebih membekas ketimbang hanya kata-kata (action speak louder 
than 
words; lisaanul-haali afsahu min lisaanul maqaali)."
 
Bertebaran ayat-ayat Al-Qur'an tentang ciri dari orang mukmin, yaitu mereka 
yang telah 
menjadikan cangkir kalbunya penuh terisi oleh kesejukkan citra Qur'ani dan rasa 
cinta 
yang mendalam terhadap Rasulullah saw. Pokoknya, Al-Qur'an merupakan sumber 
aspirasi dan dasar pijakan mereka untuk berpikir dan bertindak. Sehingga 
pantaslah 
kepada mereka diberikan judul Qur'anic Thinker (berpikir berdasarkan 
Al-Qur'an). 
 
Seorang sahabat bertanya kepada Siti Aisyah r a., "Apakah akhlak Rasulullah 
itu." Siti 
Aisyah menjawab, "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an (khuluquhul Qur'an)." Maka 
ciri atau 
karakter yang paling dominan dari para pengikut Rasul tidak lain hanyalah 
meneladani Al-
Qur'an. Sehingga, kalau saja ditanyakan kepada mereka, apakah yang menjadi 
sumber 
hukum dan petunjuk hidup, dengan tangkas dan antusias, mereka akan menjawab: 
pertama Al-Qur'an, kedua Al-Qur'an, ketiga Al-Qur'an, dan seterusnya. Sehingga, 
mereka 
ini tipikal manusia yang berpikir berdasarkan Al-Qur'an dan bersikap dengan 
Sunnah 
Rasulullah saw. Dirinya terasa tidak berarti apabila ada satu hari luput dari 
"sorotan 
kamera" Al Qur'an. Rasanya tidak berharga apabila perbuatannya tidak 
mencerminkan 
tindakan yang Qur'ani.
 
Seruan berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat), tidaklah melulu 
hanya 
mendendangkan atau memperlombakan bacaan Al-Qur'an dan kemudian selesai. Bagi 
mereka memperlombakan esensi Al-Qur'an dalam akhlak dan prestasi amaliah yang 
nyata, justru merupakan aplikasi dari seruan fastabiqul-khairat tersebut. 
Mereka tidak 
pernah mempunyai motivasi untuk mendapatkan piala atau pujian manusia hanya 
karena 
membaca Al-Qur'an, tetapi dorongan yang paling menggebu di hati para anggota 
jamaah 
Rasul ini adalah kerinduannya untuk menyiarkan dan mengamalkan Al-Qur'an dalam 
bentuk yang membumi, nyata, dan ternikmati oleh manusia. Kalupun dia takzim, 
itu 
semua dikarenakan dorongan untuk memenuhi perintah agama. Karena hal tersebut 
merupakan salah satu perintah Rasulullah dalam metode dan pendekatan kita 
terhadap 
Kitab Suci.
 
Itulah sebabnya, salah satu program keluarga anggota jamaah, adalah menanamkan 
kecintaan putra-putrinya untuk menggemarkan membaca Al-Qur'an, menghafalkan 
surat-
suratnya, dan secara tertib mulai menggali, menghayati, dan mengikat 
keluarganya 
dengan semangat Qur'ani. Sehingga tidak jarang di kalangan keluarga tersebut, 
ada putra-
putrinya walaupun umurnya masih sangat muda, mampu menghafal puluhan surat, 
bahkan 
hafal Al-Qur'an.
 
Sayang sekali, dewasa ini pendidikan keluarga sudah sangat berorientasi ke 
dunia Barat 
dan tercabut dari akar fitrah diri seorang muslim. Dunia pendidikan keluarga 
dan sekolah 
menjadi gamang serta asing dengan ajaran agamanya sendiri, karena ada semacam 
"rekayasa kurikulum" yang justru menjebak para murid untuk menjadi manusia yang 
tumpul terhadap agama, otaknya encer, tetapi hatinya kering. Hardwarenya 
bertambah 
canggih, tetapi sayang software-nya terkena "virus" budaya Barat yang justru 
tidak pernah 
berangkat atau diniatkan sedikit pun untuk menjayakan siar Islam.
 
Sebab itu, janganlah terlalu kaget apabila ada sebuah keluarga muslim yang 
ternyata 
seluruh keluarganya tidak mampu membaca Al-Qur'an. Jangan pula heran apabila di 
rumah, ternyata pada rak bukunya tidak terdapat Kitab Suci Al-Qur'an. Bagi 
mereka 
bergengsi apabila rak buku yang dipajang di ruang tamu itu, penuh sesak dengan 
sederetan buku-buku tebal, dan mulai Encyclopedia Britanica, Americana, sampai 
National Geogyaphic. Jangan terlalu mengharapkan untuk melihat dinding kamar 
putra-
putri muslim, terpampang kaligrafi atau tulisan-tulisan tentang hadits atau 
nasihat, karena 
kamar seorang putra yang modern harus dihiasi dengan segudang penyanyi musik 
rock, 
pop, dan rap. Adakah masih tersisa secercah kebanggaan untuk menjadi seorang 
manusia Qur'ani?
 
Ada sebuah adat istiadat yang mulai pudar di kalangan kaum muslimin dewasa ini, 
yaitu 
menguji calon mantu dengan mendengarkan bacaan Al-Qur'annya, sehingga bapak 
mertua 
merasa bangga mempunyai calon menantu yang takzam, akrab, dan membaca Al-Qur'an 
dengan tartil sebagai jembatan menuju amaliah Qur'ani. Jangan-jangan apa yang 
digambarkan oleh Rasul bahwa kelak akan datang satu zaman di mana Al-Qur'an 
hanya 
tinggal bacaannya saja, walaupun pelan tapi pasti, sebenarnya sudah mulai 
datang dan 
menyelinap dalam kehidupan kita yang mengaku diri sebagai muslim.
 
Cobalah simak sesekali mengenai upacara-upacara keagamaan yang ternyata tidak 
jarang di dalamnya dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Akan tetapi sayangnya, 
para 
hadirinnya tidak pernah merasakan kesejukan dan terpesona dengan bacaan ayat 
suci 
tersebut, padahal salah satu tanda orang yang beriman apabila dibacakan kepada 
mereka 
ayat-ayat Allah, maka mereka tersengkur, terharu, dan meleleh air matanya, 
karena 
jiwanya diingatkan kepada Dia yang Maha Pencipta. Hal itu sebagaimana 
firman-Nya:
 
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut 
nama 
Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya 
bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal." 
(al-
Anfal: 2).
 
Mungkinkah Al-Qur'an hanya tinggal menjadi benda pusaka antik yang hanya pantas 
digelar sebagai maskawin (mahar) untuk pleengkap upacara ijab kabul pernikahan. 
Rumah 
dan masjid telah menjadi sepi dari gaung sahdu bacaan Al-Qur'an. Padahal, 
Rasulullah 
sering rindu untuk mendengarkan bacaan Al-Qur'an yang dibaca dengan suara yang 
merdu.
 
Bahkan, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah r.a. Rasulullah saw 
meminta Abdullah bin Mas'ud untuk membaca Al-Qur'an untuk beliau. Rasulullah 
saw. 
bersabda, "Bacakanlah untukku!" Aku (Abdullah bin Mas'ud) bertanya, "Aku 
bacakan 
kepadamu, padahal ia diturunkan kepadamu?" Beliau bersabda, "Aku ingin sekali 
mendengarkannya dari orang lain." Kemudian Aku membacakannya surat an-Nisa'

ketika sampai pada ayat 41 yaitu, "Maka bagaimanakah halnya orang kafir nanti 
apabila 
Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami 
mendatangkan 
kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)." Beliau 
bersabda, 
"Cukuplah dahulu." Aku melihat kedua air mata beliau berlinang. (HR Bukhari, 
Muslim, 
dan Ahmad)
 
Bersambung ke bab 4.2.2
 
Wassalam
 
St. Sinaro
 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke