Kanda Saaf sarato Sanak Sa Palanta nan Ambo Hormati Menurut hemat saya ada hal-hal yang dapat dipelajari pada kasus-kasus seperti ini buat kita bercermin diri.
Di ranah sendiri pemekaran wilayah terakhir adalah ketika Pariaman yang sebelumnya merupakan ibu kota Kabupaten Padang Pariaman menjadi kota otonom dalam tahun 2002, sehingga kota otonom di Sumatra Barat bertambah menjadi menjadi tujuh, terbanyak di Sumatra bersama-sama Sumatra Utara. Bandingkan dengan Riau dan Kepri yang masing-masing hanya punya dua kota otonom. (Dulu saya sempat bangga terhadap fenomena ini, namun setelah menyadari bahwa ini mempercepat konversi pemerintahan nagari menjadi kelurahan, saya menjadi sedih). Kembali "ke laptop", Kota Tasikmalaya yang sebelumnya menjadi ibu kota Kabupaten Tasikmalaya dimekarkan menjadi kota otonom dalam tahun 2001 dan ibu kota lalu dipindahkan ke Singaparna. Menurut hemat saya, pembangunan kantor bupati dan gedung DPRD, dan Masjid Agung, kantor instansi dan dinas merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. Apa lagi pembangunannya baru dimulai tahun 2007. Dan seperti kita ketahui, kantor bupati, alun-alun dan Masjid Agung, merupakan tipikal kota-kota di Jawa. Jadi pertanyaan di sini bukan mengapa Tasikmalaya, tetapi pemekaran itu sendiri sebenarnya untuk apa? Apakah untuk lebih berhasil menggali potensi ekonomi daerah guna memakmurkan dan meningkatkan pelayanan kepada rakyat badarai atau kah (seperti yang banyak terjadi) hanya untuk kepentingan para elit semata (bertambah lowongan untuk menjadi kepala/wakil kepala daerah, kepala SKPD, direksi BUMD, anggota DPRD dan lain-lain yang hanya membebani anggaran yang sebagian besar bersumber dari DAU itu). Pada bulan Ramadan di tahun 2009 saya mengunjungi dan melakukan review terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) dan Laporan Keuangan PDAM di 5 kabupaten/kota di Jawa Timur. Ketika sampai pada Kabupaten Gresik dan Sidoarjo saya bertanya pada diri saya sendiri, untuk apa Pariaman menjadi kota otonom? Gresik dan Sidoarjo yang secara kasat mata saja jauh lebih pantas, tetapi tetap masih menjadi satu dengan kabupaten induknya. Realisasi APBD Kabupaten Sidoarjo dalam tahun 2007 misalnya mencapai Rp1,1 triliun, atau kurang lebih separuh APBD provinsi Sumatra Barat dalam tahun 2011 sebesar Rp2,2 triliun. Contoh lain: Purwokerto di Jawa Tengah yang punya Universitas Jenderal Soedirman pun masih menjadi satu dengan kabupaten induknya Banyumas (bukan begitu Pak Jacky?). Kembali lagi "ke laptop" membaca mengenai Kabupaten Tasikmalaya di Wikipedia, darah saya saya tasirok ketika sampai pada alinea di bawah ini: Tasikmalaya, terutama pada era sebelum 1980-an, dikenal sebagai basis perekonomian rakyat dan usaha kecil menengah seperti kerajinan dari bambu, batik, dan payung kertas. Selain itu, kota ini pun dikenal sebagai kota kredit akibat banyaknya pedagang dan perantau dari wilayah ini yang berprofesi sebagai pedagang yang menggunakan sistem kredit. Komoditas kreditan umumnya adalah barang-barang kelontong dan kebutuhan rumah tangga. Namun, sangat disayangkan, seiring dengan kebijakan investasi besar-besaran di era 1990-an, potensi ekonomi rakyat di daerah ini cenderung terpinggirkan, bahkan tidak diperhatikan. Wallahualam bissawab Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 68-), asal Padangpanjang, tinggal di Depok . <http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/146733;_ylc=X3oDMTJzc3Q2OTR jBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzExMjAxMjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzE0Njc zMwRzZWMDZG1zZwRzbGsDdm1zZwRzdGltZQMxMzA5NDk0OTg4> FW :[R@ntau-Net] Tasikmalaya Kehabisan Dana, Jual Aset --> Besar Pas Posted by: "Dr Saafroedin Bahar" <mailto:[email protected]?Subject=%20Re%3A%20FW%20%3A%5BR%40ntau-Net%5D%20 Tasikmalaya%20Kehabisan%20Dana%2C%20Jual%20Aset%20--%3E%20Besar%20Pas> [email protected] Thu Jun 30, 2011 5:57 pm (PDT) Assalamualaikum ww para sanak sapalanta, Kasus kabupaten Tasikmalaya yg kehabisan dana di pertengahan tahun jelas sekali merupakan kasus 'besar pasak dari tiang'. Perhatikanlah komposisi pengeluaran APBD-nya, termasuk pembangunan kantor bupati dan gedung DPRD, dan Masjid Agung, kantor instansi dan dinas. Untuk belanja selanjutnya, khususnya untuk pelayanan masyarakat, pemdakab ini akan jual aset ! Masyaallah. Tidak adakah prioritas dalam perencanaan RAPBD Tasikmalaya ? Apakah pemdakab ini ketularan penyakit DPR/DPD yg sedang getol-getolnya ingin membangun gedung mewah ? Mampukah kabupaten ini untuk mengelola otonominya dgn penggunaan anggaran seperti itu ? Kasihan Rakyat Indonesia krn pemimpinnya suka mementingkan diri mereka sendiri. Apa yg dapat diperbuat Rakyat utk mengubah keadaan ini? Wassalam,. -------Original Email------- Subject :[R@ntau-Net] Tasikmalaya Kehabisan Dana, Jual Aset >From :mailto: <mailto:dchalidi%40gmail.com> [email protected] Date :Fri Jul 01 06:10:58 Asia/Bangkok 2011 <http://m.kompas.com/news/read/2011/06/30/20352080/Tasikmalaya-Kehabisan-Dan a--Jual-Aset> http://m.kompas.com/news/read/2011/06/30/20352080/Tasikmalaya-Kehabisan-Dana --Jual-Aset Tasikmalaya Kehabisan Dana, Jual Aset TASIKMALAYA, KOMPAS.com - -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
