Mereka berpendapat 
bahwa ada lima ide, 
gagasan atau kepercayaan 
yang berbahaya 
yang jika terjadi pada individu 
akan menyebabkan 
perasaan tidak senang, 
tidak percaya diri,
sampai gelisah dan 
gangguan neurosis, 
tetapi pada tingkat kelompok 
bisa memicu kekerasan antar kelompok.

Kelima ide itu adalah 
 
superioritas, 
ketidakadilan (injustice),
kerentanan (vulnerability), 
ketidakpercayaan (distrust), dan 
ketidakberdayaan (helplessness). 
-------
Cuplikan dari artikel oleh Prof Sarlito tsb di atas, dapat dijadikan bahan 
introspeksi, apakah kita sebagai orang tua, mengidap gagasan tsb.
 
Kalau kita sendiri yang mengidapnya, no problem. 
Paling-paling kita jadi pemurung.
 
Tapi kalau gagasan itu sampai terucap, dan terdengar oleh anak-anak kita, 
sebaiknya dampaknya tanyakan kepada ahlinya, yakni
para psikolog.
 
Anak-anak mendengar makian kita dengan patuh dan taat, walaupun makian kita 
tidak didukung oleh disiplin ilmu yang memadai, alias ngawur.
 
Makan malam sama keluarga, cuci mulutnya
hujatan dan makian terhadap lingkungan baik politik, ekonomi, hukum maupun  
masalah-masalah sosial lainnya.
 
Week end sama keluarga, nyamikannya makian terhadap kondisi negara.
 
Mungkinkah, pelaku "kebringasan sosial" dan pelaku "radikalisme" tumbuh dari 
lingkungan keluarga yang "kritis" tapi ngawur?
 
Entahlah.
Tanyakan saja kepada ahlinya, yakni para psikolog.
 
Siap salah, Prof.
Wassalam, Jacky M
=========
Harian Seputar Indonesia
Lima Ide Berbahaya 
Sunday, 03 July 2011

Di Indonesia,konflik Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada 1999–2004 
adalah konflik suku. Konflik Ambon dan Poso di sekitar tahun-tahun yang sama 
adalah konflik agama. 

Kerusuhan Jakarta Lautan Api 1998 berbau rasial dan tawuran antarsekolah, aksi 
unjuk rasa pilkada, dan rebutan kuburan antarbanjar di Bali adalah 
contoh-contoh konflik-konflik antargolongan. Semuanya meminta korban jiwa, 
harta, dan mental yang tidak sedikit. Pangkopkamtib era Suharto, Laksamana 
Sudomo, menamakan konflik-konflik itu dengan istilah SARA, kependekan dari 
suku,agama,ras dan antargolongan. 

Kalau kita meningkat ke sejarah dunia, faktor-faktor SARA sudah berbaur jadi 
satu. Konflik-konflik Palestina, India- Pakistan, Bosnia-Serbia, misalnya, 
adalah konflik agama dan antargolongan (nasionalisme). Pembunuhan jutaan Yahudi 
oleh Nazi Hitler adalah kombinasi antara ras dan agama. 

Konflik Tutsi-Hutu di Rwanda (Afrika Tengah) adalah kombinasi antara suku dan 
antargolongan. Konflik Nigeria adalah kombinasi antara agama dan suku. Bahkan 
Perang Salib yang berlangsung berabad-abad yang lalu, selama hampir 200 tahun 
(1095–1291), mengandung semua unsur SARA.

Berbagai teori sudah dikembangkan untuk menjelaskan mengapa konflik-konflik itu 
berulang-ulang terjadi. Sebagian pakar mengatakan bahwa sumber konflik-konflik 
itu adalah ambisi kekuasaan dari pemimpin sebuah kelompok. Paus Urbana, Hitler, 
Radovan Karadzic, dan Imam Samudra adalah biang keladi dari Perang Salib, 
Holocaust, pembasmian etnik Bosnia, dan bom bom jihad.

Sebagian lagi mengacu kepada perebutan lahan atau sumber ekonomi seperti 
konflik Timur Tengah dan Nigeria yang berebut ladang-ladang minyak atau konflik 
antara penggarap tanah liar dan perusahaan perkebunan yang berebut tanah 
garapan. Atau ideologi politik seperti PKI lawan golongan Islam di era Sukarno 
atau komunisme Rusia lawan kapitalisme Amerika. 

Namun belakangan ini timbul kecurigaan bahwa tidak selamanya ambisi kekuasaan, 
ideologi atau sumber ekonomi yang menjadi sumber utama konflik. Makassar 
misalnya sangat terkenal dengan sebagian mahasiswanya yang terus-menerus 
berkelahi,merusak kampus, unjuk rasa, membakar ban, dan sebagainya tanpa 
ketahuan ujung pangkalnya. 

Tidak ada sumber ekonomi yang diperebutkan atau ideologi yang diperjuangkan 
atau ambisi kekuasaan oleh seorang atau segolongan orang tertentu. Sebaliknya, 
konflik Ambon dan Poso yang sangat dahsyat dan terjadi selama beberapa tahun 
bisa berhenti, stop sama sekali, bagaikan mobil yang remnya pakem. 

Dalam hubungan ini menarik untuk disimak temuan penelitian dua psikolog dari 
Universitas Pennsylvania,AS,Roy J Eidelson dan Judy I Eidelson, yang artikelnya 
bertajuk “Dangerous Ideas” dimuat dalam jurnal American Psychologist, 2003, vol 
58, no 3, hal 182–192.

Mereka berpendapat bahwa ada lima ide, gagasan atau kepercayaan yang berbahaya 
yang jika terjadi pada individu akan menyebabkan 
perasaan tidak senang, 
tidak percaya diri,
sampai gelisah dan 
gangguan neurosis, 
 
tetapi pada tingkat kelompok bisa memicu kekerasan antarkelompok.

Kelima ide itu adalah 
 
superioritas, 
ketidakadilan (injustice),
kerentanan (vulnerability), 
ketidakpercayaan (distrust), dan ketidakberdayaan (helplessness). 
 
Lebih dari seabad yang lalu, Summer (1906) menamakan superioritas kelompok 
dengan istilah etnosentrisme.Tapi dalam perkembangannya muncul berbagai istilah 
seperti ethnocentric monocultures (Sue dkk, 1999). 

Intinya adalah bahwa suatu kelompok beranggapan 
bahwa hanya kelompoknya yang terpilih 
atau dipilih oleh yang mahakuasa 
 
sebagai kelompok yang paling unggul (biasanya terkait dengan keyakinan 
agama).Kelompok lain adalah inferior dan karenanya boleh diperangi atau dibunuh 
kalau dianggap mengancam eksistensi kelompok terpilih itu.

Contohnya keunggulan ras Arya yang dicanangkan Hitler. Di awal abad XXI ini, 
mungkin contoh yang terbaik adalah ajaran Osama bin Laden dan Imam Samudra yang 
mengklaim kelompoknya sebagai kelompok terpilih. 

Mati pun tidak apa-apa karena mati syahid sebagai syuhada, surga imbalannya, 
dan 72 bidadari cantik akan selalu mengawani syuhada itu selama di surga 
(catatan: konon bidadari-bidadari itu perawan semua dan keperawanannya bisa 
“diisi-ulang”). Anggota GPA (Aceh), anggota OPM (Papua), anggota MNLF (Moro, 
Filipina), dan para penghuni ilegal tanah sengketa yang sudah dikalahkan oleh 
MA sama-sama merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah. 

Orang JI menamakannya pemerintah thogut (Islam tetapi tidak membela Islam, 
malah menzalimi Islam). Karena itu mereka berontak, melawan.GPA (Aceh), OPM, 
MNLF, dan JI melawan dengan pemberontakan bersenjata, para penghuni ilegal 
menyusun barisan, bersenjata tajam atau pentungan, dan helm-sepeda-motor untuk 
menghadang pasukan Pol PP. 

Dorong-mendorong, lempar melempar, akhirnya korbankorban berjatuhan. 
Ketidakadilan ini bisa juga terhadap kelompok lain, tidak harus selalu terhadap 
pemerintah atau penguasa. Pengemudi angkot yang terdesak oleh bus-bus besar 
yang menjalani trayek yang sama memalangkan barisan angkot mereka untuk 
menghadang bus dan kalau perlu menghajar sopir-sopir bus itu (walaupun yang 
memberi izin trayek Dinas Angkutan Jalan Raya).

Bahkan rekan sesama sopir angkot bisa dikeroyok ramai-ramai kalau tidak mau 
ikut demo. Persepsi ketidakadilan ini tentu saja subjektif dan biasanya untuk 
mengipasi rasa ketidakadilan itu perlu ada provokator- provokator,yang mampu 
berpidato dengan retorika yang dahsyat untuk mengajak kelompok untuk beraksi.

Bung Karno adalah orator ulung yang mampu membakar semangat orang Indonesia 
seakanakan mereka dijajah oleh nekolim (neokolonialisme dan liberalisme), 
karena itu mari kita ganyang (arti harfiah: makan) Malaysia yang antek nekolim 
itu. 

Konflik Israel-Palestina yang berkelanjutan,menurut Eidelson & Eidelson, adalah 
contoh konkret dari rasa kerentanan kelompok yang biasanya berawal dari 
ketidakpastian akan nasib masa depan.Untuk memastikan masa depan, isunya 
berubah menjadi isu teritorial (wilayah Palestina, negara Palestina). 

Jadi isu Palestina, menurut teori ini, bukan isu politik (walau selalu bisa 
dipolitikkan), apalagi isu agama, melainkan isu survival (di era pra-Perang 
Dunia II, sebelum wilayah Palestina dibagi-bagi begitu saja ke kelompok Zionis 
oleh Inggris, tidak pernah ada masalah di Palestina). 

Jadi motivasi yang mendasari kurang-lebih sama dengan konflik antara dua 
organisasi anak Betawi yang pada dasarnya hanya berebut lahan parkir. Atau 
unjuk rasa para jukir (juru parkir) jalan Gadjah Mada setelah dibersihkan oleh 
Pemprov DKI. Intinya kekhawatiran akan masa depan, ngasih makan anak-istri, 
uang sekolah anak, dsb (untung kecemasan kelompok ini bisa diredam sebelum 
meletus jadi kerusuhan). 

Tentang ketidakpercayaan. Inilah yang sekarang mendominasi konflik-konflik di 
Indonesia. DPR tidak percaya kepada pemerintah, rakyat tidak percaya kepada 
Presiden. Pendukung calon bupati tidak percaya kepada KPU yang memenangkan 
calon bupati lawan. KPK dan MK pun sudah tidak dipercaya, apalagi polisi.

Masih lagi dikompori oleh media massa. Tambah panaslah konflik. Tawuran massal 
sudah pernah terjadi di DPR yang kemudian diadopsi menjadi tawuran massal antar 
kelompok pendukung calon kepala daerah. Akhirnya, ide yang kelima: perasaan 
tidak berdaya. Perasaan ini justru bisa dimanfaatkan untuk mendorong perjuangan 
kebangkitan kelompok. 

Kebangkitan Nasional Indonesia, dimulai dari perasaan tidak berdaya massal 
terhadap penjajah Belanda. Revolusi Nelson Mandela di Afrika Selatan juga 
merupakan perlawanan si lemah kulit hitam terhadap superioritas kulit putih. 
Orang Moro mengangkat senjata terhadap pemerintah Filipina yang merupakan 
pemerintah kelompok Kristen, mayoritas, dan berkuasa. 

Begitu juga orang Hutu terhadap etnik Tutsi. Di Kalimantan Barat, kelompok 
mayoritas berbagai etnik (Dayak, Melayu, Jawa, Bugis dll) merasa tidak berdaya 
melawan dominasi minoritas etnik Madura yang ditopang pemerintah Orde baru 
sehingga ketika pecah kerusuhan, etnik Madura jadi bulan-bulanan. 

Lima ide berbahaya.Kalau dipikir-pikir boleh jadi bukan barang baru,semua orang 
juga tahu.Tapi seperti telur Colombus, setelah ada pencerahan, orang jadi punya 
wawasan baru tentang kekerasan antarkelompok. 

Yang pasti semua pihak (pemerintah, aparat, pembuat kebijakan, pendidik, 
kelompok terkait, dan awam) sekarang bisa melihat permasalahan dari sudut 
pandang yang lain dan siapa tahu bisa mengubah atau minimal mencegah lahirnya 
ide-ide berbahaya itu seperti yang sudah dipraktikkan di Ambon, Poso, dan Aceh. 
 SARLITO WIRAWAN SARWONO Guru Besar Fakultas Psikologi UI 



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke