Hebaat dan tarimo kasih pak Patiah 2011/7/5 St Parapatiah <[email protected]>
> Assalamualikum WW**** > > Forward email berikut memberi motivasi bahwa dengan kemauan keras banyak > yang dapt dicapai. Mudahan berguna untuak anak kamanakan awak basamo.**** > > Salam**** > > Patiah 58 Jkt **** > ------------------------------ > > *From: *budiman siregar <[email protected]> **** > > *Sender: *[email protected] **** > > *Date: *Mon, 4 Jul 2011 02:35:04 -0700 (PDT)**** > > *To: *pelaut Moderator<[email protected]>**** > > *Subject: *Sebagai Motivasi**** > > ** ** > > Wanita Indonesia Sang Ahli Desain Kapal > > NAMANYA Henny Poerwanti. Gelarnya berderet-deret. Maklum, ia double sarjana > (mechanical engineer dan naval architect). Saat ini menetap di Singapura > dan > bergerak di bidang konsultan perkapalan. Sekarang dipercaya menjadi > engineering > manager di Modec (pemilik FPSO terbesar di dunia). Berikut pengalaman > Henny, > wanita Indonesia yang jago mendesain kapal. > > PERJALANAN karir saya di bidang Industri perkapalan dimulai sejak tahun > 1992 di > Kodja Bahari Jakarta. Pada waktu itu saya mendapat kehormatan dari Kampus > Politeknik untuk mensupport GTZ. > > GTZ adalah sebuah lembaga milik pemerintah Jerman yang bertugas membantu > negara-negara berkembang dalam memajukan negaranya. Apa hubungannya GTZ > dengan > dunai perkapalan? Ketika itu Kodja Bahari menjadi salah satu galangan kapal > terbesar kedua di Indonesia yang menerima project pembangunan kapal > penumpang > Gotland Vessel milik sebuah perusahaan Swedia. > > Awalnya, saya mulai bekerja sebagai designer perkapalan (specialis > machinery/kamar mesin). Padahal waktu itu saya belum lulus kuliah. > Seingat saya, mereka yang dikirim dari kampus jumlahnya mencapai lima orang > dan > saya satu-satunya perempuan. Kehidupan yang keras mulai dari mengerjakan > design, > hingga turun kelapangan untuk inspeksi, lalu memberi petunjuk kepada para > pekerja galangan sudah mulai saya rasakan sejak tahun 1992. > > Sebagai wanita yang bekerja di dunia yang keras dan bisa menaklukkan > kehebatan > kaum Adam sungguh merupakan kebanggan dan kepuasan tersendiri. Bukan > berarti > saya tidak menghargai mereka, tetapi kemampuan otak, kemampuan dalam hal > mengatur orang, bernegosisasi dan juga menyelesaikan berbagai macam problem > di > kantor maupun di lapangan merupakan tantangan tersendiri. > > Contoh sederhana saja, ketika kuliah dulu, saya satu-satunya wanita dari 40 > mahasiswa yang mengambil jurusan mesin kapal. Enggak heran kalau saya > selalu di > nomor kancilkan alias selalu mendapat giliran akhir setiap kali melakukan > praktek lapangan, praktek bengkel ataupun uji laboratorium. > Dari yang saya ceritakan, intinya adalah kita (kaum wanita) harus bermental > baja, pantang menyerah dan harus bisa berdiri sama tinggi dengan mereka > kaum > laki-laki. > > Pengalaman dari Kodja dengan begitu minim fasilitas membentuk mental saya > semakin bertambah satu lapis. Dari seorang yang pendiam dan feminim, > tiba-tiba > menjadi seorang yang sedikit agresif. Begitu kata ibu saya. > > Agresif dalam arti, saya tidak pernah merasa takut dan kepercayaan diri > otomatis > selalu bertambah. Kerasnya hidup dan bekerja di Jakarta tidak membuat saya > menjadi wanita yang gampang mengeluh dan juga putus asa. > Dan yang membuat saya sungguh bersyukur dapat bekerja ke Jakarta, waktu itu > saya > bekerja dengan insinyur dari Jerman dan saya mendapat banyak ilmu mengenai > pekerjaan lapangan mulai design, inspeksi kapal, hingga pekerjaan lapangan > (mengelas, memotong plat/ pipa, menyambung dan memasang ke kapal) menjadi > bagian > yang harus saya lakukan. > > Wuihh, betapa tidak pada waktu itu saya juga satu-satunya wanita di Kodja > Bahari > galangan empat yang menyandang gelar diploma (masih belum ada insinyur > wanita > pada waktu itu di bidang perkapalan). > *** > DARI Jakarta saya kembali ke kota di mana saya dilahirkan, Surabaya. Saya > melanjutkan karir di bidang yang sama. Di sini prestasi saya banyak di > belakang > meja. Lebih banyak ke design daripada ke lapangan. Sejak itu saya mulai > fokus > pada design kapal, mulai dari kapal untuk kepentingan militer, kapal > tanker, > kapal cargo (bulk carrier) hingga kapal penumpang. > > Ketika mengerjakan kapal cargo, saya mendapatkan kesempatan untuk berangkat > ke > negeri Belanda untuk mengikuti training. Kesempatan itu menjadi pintu kedua > bagi > saya untuk bisa melihat dunia luar. > > Tidak mudah untuk bisa berangkat ke Belanda, jika tidak karena kepala > bagian > saya yang pada waktu itu berjuang untuk membela hak saya. Mengapa? > Sebenarnya, > mereka yang akan dikirim adalah karyawan lain yang sama sekali tidak > mengerjakan > proyek ini. > > Kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa persaingan di dunia perkapalan > adalah > sangat kuat antara laki-laki dan wanita. Kami kaum hawa mungkin masih > dianggap > kurang mampu untuk menerima tugas atau tanggung jawab yang berat. Tetapi > tentu > saja Tuhan berkehendak lain dan itu patut saya syukuri. > > Penjalanan yant tidak pernah saya bayangkan dan impikan, tetapi menjadi > perjalanan karir saya adalah berangkat ke Jerman. Waktu itu sekitar tahun > 1997 > terjadi krisis di Indonesia dan dunia pekapalan mulai sepi. Saya memutuskan > untuk berangkat ke Jerman mengambil double degree di bidang design kapal. > Oh > iya, gelar insinyur saya selesikan di Surabaya di sebuah Universitas > swasta. > > Pertimbangan waktu itu adalah saya cenderung mengumpulkan pengalaman di > banding > konsentrasi melanjutkan kuliah ke universitas milik pemerintah. Itu juga > atas > anjuran ayah saya yang mensupport saya 100 persen agar saya bisa survive di > bidang saya, sebagai wanita bukan jalur akademis yang penting tetapi > pengalaman > dan kemampuan mendesign serta pengalaman membangun kapal lebih bisa > dihargai. > > Di Jerman saya tinggal di Kota Bremen dan di situ ada sebuah universitas > yang > dikenal sangat bagus di bidang perkapalan dan kelautan (marine & offhore). > Dengan modal tekad dan kemampuan bahasa Jerman, saya melanjutkan study > sembari > bekerja sebagai partimer di beberapa perusahaan dan galangan kapal. Selain > uang > yang menjadi tujuan saya, juga ilmu serta pengalaman yang menjadi incaran > saya. > > Yang unik adalah ketika saya mulai bekerja (tiga bulan setelah kedatangan > saya > di Jerman), semua itu terjadi atas bantuan bekas manager saya yang berhasil > saya > hubungi. Dan alhamdulillah saya diberi kesempatan bekerja selama tiga bulan > dengan fasilitas yang lumayan. > > Banyak rekan saya yang terheran-heran ketika saya mendapatkan mobil dari > perusahaan. Saya semakin percaya diri dan tidak takut sendiri hidup di > negeri > orang. Prinsip niat baik dan 'do the best' selalu menajdi pegangan saya. > Tiga bulan saya berada di Departement Engineering, tepatnya di bagian > Mechanical > Engineering. > > Di sana saya banyak belajar mengenai system, detail design dan bahkan DIN > (Standart Technik Jerman). Bayangkan saya belajar bagaimana satndart yang > diakui > oleh dunia internasional itu dibuat. Bangga juga dong jika saya mengerti > proses > dari pembuatan standarisasi. Selama tiga bulan, saya bekerja partime di > galangan > kapal Luerssen di Vegesack. > > Tahu tidak betapa galangan ini merupakan galangan kapal yang sangat > terkenal di > seluruh dunia dan membangun kapal-kapal militer. Sepertinya Tuhan sudah > mengatur > dan memberi saya persiapan sebelum berangkat ke Jerman. Betapa tidak, > ketika di > Jakarta saya bekerja di perusahaan Jerman, sehingga profesionalisme dan > sistem > kerja mereka saya sudah menguasainya. > Kemudian di Surabaya saya juga mengerjakan kapal-kapal militer dan bertemu > dengan bekas manager saya yang memberi kesempatan saya untuk bekerja juga > di > Jerman. Sepertinya semua itu bukanlah kebetulan, alhamdulillah. > > Pengalaman di Jerman, cukup meyakinkan profesor untuk bisa memulai kuliah > di > semester yang lebih tinggi. Dan akhirnya saya hanya mengulang di semester > empat, > tapi harus mengerjakan tugas design yang sudah diberikan sejak semester > satu > dengan waktu hanya tiga bulan. > > Sempat juga ada perasaan tidak yakin. Dan orang pertama yang saya hubungi > adalah > bapak saya dan kakek saya, karena motivator kebanggaan dan favorite saya. > Saya > telepon, "Pak doakan saya ya untuk bisa ke semester lima saya harus > menyelesaikan design ini dalam waktu tiga bulan." > > Padahal normalnya nih kalau yang namanya basic design itu dan main frame > design, > harusnya memakan waktu setahun. Ayah saya menimpali, "Iso, yakin iso... ojo > lali > ndungo (bisa, yakin bisa dan jangan lupa berdoa)." > > Saya lalu mulai mengerjakan tugas dengan telaten. Selama tiga bulan saya > selalu > pulang jam 04.00 pagi dari kampus. Padahal, jam 08.00 pagi saya sudah harus > di > kampus lagi untuk mengikuti kuliah. > > Perjuangan yang berat, apalagi tantangan musim sering menjadi hambatan > karena > badan saya suka masuk angin. Tiga bulan bulan berlalu dan semuanya berjalan > seperti yang saya harapkan yaitu design saya selesai dan diterima. > > Selama kuliah, saya tidak tinggal diam dan banyak menjalin hubungan dengan > orang-orang yang saya anggap bisa menjadi sumber referensi saya. > > Dan saya juga bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan konsultant > perkapalan, > mulai dari bagian kontrol dokumen (doc control) hingga mengerjakan design. > Kemudian saya juga banyak mengikuti seminar serta mendapat kesempatan > bekerja di > sebuah badan klasifikasi kapal milik Inggris yaitu Lloys Register yang > berada di > Kota Hamburg. Bremen ke Hamburg hanya satu jam perjalanan menggunakan > kereta. > > Di Hamburg atau tepatnya di LR, saya banyak belajar bagaimana sebuah design > disetujui oleh badan klasifikasi. Sebab tanpa design dan perhitungan yang > disetujui oleh badan klasifikasi kapal, maka kapal tidak akan pernah boleh > dibangun. > > Di Hamburg saya berkunjung ke perusahaan pemilik kapal yang terkenal yaitu > Komswroski. Perusahaan itu banyak mendanai kapal-kapal yang di bangun untuk > kepentingan negara kita. Saya mencoba menawarkan galangan-galangan kapal di > Indonesia yang lain selain PT.PAL yang mungkin bisa membantu > proyek-proyeknya. > > Yang saya temui tidak hanya perusahaan itu saja, tetapi juga pemilik kapal > yang > lain seperti Lauterjung. Tujuan saya adalah ingin mempromosikan galangan > kapal > di Indonesia yang ternyata mampu dan boleh disejajarkan dengan kemampuan > galangan-galangan kapal di Eropa. > > Suka dan dukanya tentu ada, terutama ketika saya harus duduk satu meja > dengan > mantan direktur saya. Dimana saya waktu itu berada di pihak owner/ pemilik > kapal > yang sedang dibangun di PT PAL. Saya tidak berkecil hati dengan pandangan > banyak > mata yang menatap sinis (ini kenyataan). Justru saya bangga karena manusia > kecil > seperti saya dan tidak sedang bermimpi menjadi begitu terhormat pada waktu > itu. > > Saya menyelesaikan sekolah tepat pada waktunya dan saya putuskan untuk > pulang ke > Indonesia (Mei 2006) dan menolak tawaran dari sebuah perusahaan untuk > bekerja di > Jerman. Saya tetap wanita dan seorang istri, dimana harus mengikuti kemana > suami > saya pergi dan anak-anak saya berada. > > *** > DI Indonesia saya hanya sempat enam bulan saja dan bekerja di sebuah > perusahaan > di Jakarta. Kemudian tahun 2007, tepatnya 6 Januari saya mendapatkan > kesempatan > untuk bekerja di Galangan Kapal Sembawang di Singapura. > > Di Singapura saya sudah bekerja di lima perusahaan dan dua diantaranya > adalah > galangan kapal Sembawang dan Keppelfels. Saya memulai bekerja di Sembawang > Shipyard, ikut berpartisipasi dalam dua proyek pentingnya membangun Pipe > Lying > Vessel dan Jack Up Rig. > > Dari Sembawang saya mendapat kesempatang bergabung dengan pembangunan rig > (rig > builder) terbesar di dunia yaitu Keppelfels dan ikut mengerjakan dua > proyeknya. > Dari galangan kapal hingga bekerja sebagai sebagai senior engineer di > perusahaan > pemilik kapal seperti Compas Energy dan Modec merupakan batu loncatan yang > luar > biasa. Melalui perjuangan yang keras untuk bisa meyakinkan mereka bahwa > saya > sebagai wanita juga mampu menjalankan pekerjaan ini. Terbayar sudah.... (*) > > Sumber: > > http://giant41.blogspot.com/2010/12/wanita-indonesia-sang-ahli-desain-kapal.html > **** > > __._,_.___**** > > __,_._,___**** > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
