I. Rumahtangga Muslim Adalah Benteng Pertama dan Utama Menghadapi budaya Dajal yang semakin menampakkan bentuknya, dengan mencabut jiwa anak-anak muda dari kerinduan dan kecintaannya kepada Allah. Budaya Dajal menawarkan berbagai kenikmatan dunia, dan kita pun harus menghadapinya dengan pola pendidikan dan kebiasaan rumah tangga yang Islami (usrah Islamiyah). Tayangan televisi menawarkan kehidupan hedonistik sekuler. Gerakan pemikiran bebas nilai (freethinking), okultisme sebagai ajaran mistik, tahayul yang menyesatkan, serta obat-obat setan yang ditebarkan di setiap kegiatan para anak-anak muda, merupakan bentuk yang sehari-hari sangat nyata kita saksikan. Salah satu usaha preventifnya, tidak lain seluruh keluarga muslim harus mampu membentengi putra-putrinya dari godaan mereka. Yaitu, dengan cara menghidupkan rumah tangga sebagai masyarakat Islam, yaitu miniatur yang di dalamnya ditumbuhkan sunnah dan kebiasaan Islami. Kebaikan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh upaya para keluarga untuk membina dan menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan keluarganya sendiri. Pada periode Rasulullah melaksanakan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi (sirriyah), sasaran dakwah yang pertama beliau lakukan adalah menuntun keluarga dan kerabatnya yang terdekat terlebih dahulu, untuk memenuhi perintah Allah. Hal itu sebagaimana firman-Nya: "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah, 'Sesungguhnya, aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan'…" (asy-Syu'ara: 214-216). Demikianlah metode awal dakwah Rasulullah yang disambut pertama kali oleh Khadijah binti Khuwalid yang beriman kepada Allah dan Rasulullah saw. Meyakini, membenarkan, bahkan membela dakwah Rasul dengan mengorbankan seluruh hartanya. Seruan dakwah kepada kerabatnya disambut oleh Ali bin Abi Thalib yang merupakan laki-laki pertama yang menerima seruan Rasulullah untuk memeluk Islam. Walaupun di zaman sekarang sasaran dakwah yang ditujukan kepada keluarga kadang- kadang lebih sulit dibandingkan dengan seruan kepada orang lain, tetapi para anggota jamaah tidak pernah patah hati. Dia sadar bahwa berbagai faktor psikologis yang berkaitan dengan keluarga dan kerabat terdekat, justru lebih besar tantangannya. Mereka tidak patah hati dengan tantangan keluarganya. Karena hal ini pun sudah menjadi suratan sejarah. Sebagaimana Nabi Nuh as. yang tidak mampu menolong anaknya, ummat Nabi Luth a.s. yang membangkang, bahkan paman Rasul sendiri tidak mampu mendapatkan hidayah dari Allah. Apalagi untuk kualitas manusia seperti kita, apakah karena tantangan keluarga atau ketidak-berhasilan membina keluarga menyebabkan kita surut dari dakwah? Maka di tengah-tengah badai tantangan dan akhlak para keluarga sendiri yang bisa jadi sangat bertentangan atau jauh dari Sunnah, para anggota jamaah akan tetap tegar menampilkan sosok dirinya sebagai mujahid. Mereka sadar bahwa pendidikan dan keteladanan orangtua, serta rasa hormat dan sikap berdisiplin dalam beragama sejak kanak-kanak --sebagai pewaris tauhid-- akan sangat jelas mewarnai seluruh perilaku anggota rumah-tangga tersebut. Sehingga, tidak ada alasan baginya untuk memalingkan muka dari tanggung-jawabnya sampai pada batas-batas tertentu, sesuai dengan kemampuannya masing masing. Hidup yang penuh dengan segala tantangan materiil, godaan kenikmatan sekularisme, serta budaya hedonisme, ternyata tidak saja didapatkan di luar pekarangan rumah, sekolah, atau budaya masyarakatnya, tetapi rangsangan itu telah pula memasuki sudut kehidupan yang sangat pribadi yaitu rumah. Kalau bukan karena pendidikan dan keteladanan yang istiqamah, niscaya rumah pun akan membusuk sebagai "tempat sampah duniawi" yang rakus. Laser disc, video tape, bahkan program televisi atau film yang jarang sekali, bahkan sama sekali tidak pernah sedikit pun memikirkan akhlak, tidak pelak lagi akan menggoda anggota masyarakat kita yang terkecil ini, yaitu rumah tangga. Membina rumah tangga muslim (binaa al-usrah al-muslimin), jelas bukan pekerjaan yang gampang. Apalagi kita sadari bahwa betapa pun hebatnya keteladanan orang tua, mereka tidak sepenuhnya dapat diawasi dua puluh empat jam oleh mata orang tuanya yang sangat terbatas, dan didera oleh kesibukan hidup yang padat. Hampir separo dari gerak dan wahana pikiran anak-anak kita menjadi objek dari budaya di luar rumah dengan segala konsekuensinya. Bacaan, pergaulan, peran guru, pengaruh teman, dan sahabat di sekolah atau klub permainan, semuanya kadang-kadang bagi anak-anak kita dianggap sebagai sesuatu yang membingungkan, terjadi satu benturan nilai. Antara sesuatu yang ideal (das sollen) dan kenyataan (das sein). Seakan antara teori dan praktek berbenturan, bahkan bertolak-belakang secara diametral antagonistik. Untuk menjadi anak yang Islami, rasanya dia harus terisolasi dari tatanan pergaulan. Untuk menjadi mahasiswa yang Islami, dia akan berhadapan dengan segala perangkat birokrat yang kadang-kadang bertentangan dengan hati nurani. Banyak lagi persoalan yang sangat kompleks dalam sebuah garis nilai yang seakan-akan saling berlawanan. Tetapi, bagi keluarga anggota jami'atul muslimin, kenyataan ini tidaklah membuat dirinya surut. Mereka sadar bahwa untuk menggapai surga dan janji kenikmatan yang abadi, bukanlah sebuah permainan tanpa perjuangan. Segala konsekuensi telah dia perhitungkan. Segala risiko sudah dia kalkulasi, sekali tauhid tetap tauhid, sekali menata keluarga Islami tidak pantang surut untuk berkompromi dengan budaya jahiliah. Semangat ini yang harus ditanamkan terlebih dahulu kepada seluruh anggota keluarga muslim. Bahwa dia mempunyai jati diri, serta mempunyai sesuatu yang memang berbeda dengan kaum jahiliah. Semangat dan kekuatan batin para anggota keluarga jamaah merupakan "filter'' atau alat penyaring utama keluarga jamaah yang harus ditanamkan kepada seluruh anggota keluarga jamaah. Mereka harus bangga bahwa mereka bukan tipe manusia yang gampang larut karena kebiasaan pergaulan. Mereka tidak merasa terpelanting, dari pergaulan, manakala pergaulan yang ditawarkannya justru bertentangan dengan keyakinannya. Setiap perbedaan bagi para anggota keluarga jamaah dianggapnya sebagai sasaran dakwah. Tidak mungkin dia dipengaruhi ajaran jahiliah, karena justru dirinya harus tampil ke depan mempengaruhi mereka dengan ajaran keselamatan yang akan meluhurkan martabat manusia yang tidak lain adalah al-Islam. J. Membiasakan Diri
Karena dahsyatnya tantangan di luar lingkungan jami'atul muslimin ini, maka prinsip jamaah mengajarkan kepada seluruh anggotanya agar mereka melatih dan selalu membiasakan diri dalam kebaikan melalui amal-amal jamaah. Misalnya, shalat berjamaah dengan seluruh anggota keluarganya merupakan salah satu ciri amalannya. Makan berjamaah yang diawali dengan doa, dan diakhiri pula dengan saling mendoakan. Sungguh itu adalah suatu kemesraan keluarga yang harus menjadi ciri dan citra keluarga muslim (usrah Islamiyah). Membiasakan diri mengajak anggota keluarga melakukan perjalanan silaturahmi kepada para kerabat, maupun keluarga sesama jamaah adalah merupakan satu program pembinaan keluarga muslim. Keluarga muslim tidak dibentuk menjadi manusia yang ekstrem atau eksklusif tetapi dilatih dan diajarkan untuk pandai memilih dalam tata pergaulan tanpa memberikan bekas kebencian. Kalau orang kebanyakan melakukan piknik, mereka pun bisa melakukannya, karena hal itu adalah fitrah manusia. Hanya saja keluarga muslim harus pandai memilih dan merencanakan jenis piknik (rihlah) tersebut, yang jusrtu akan menambah perekat tali kekeluargaannya. Dengan cara ini, mereka dilatih untuk hidup fungsional, tepat guna dan tidak terjebak pada kemubaziran apalagi mempertontonkan kemewahan. Hidup sebagai muslim adalah hidup yang mempunyai program dan arah yang jelas, karena mereka adalah tipe manusia yang dilahirkan sebagai makhluk yang memiliki jati diri, visi, dan misi llahiah, sebagaimana termaktub pada surat at-Taubah:33, al-Fath:28, dan al-Haqqah: 9. Beberapa kebiasaan yang sangat dominan dilakukan oleh anggota keluarga jamaah diantaranya sebagai berikut: 1. Selalu melaksanakan ibadah berjamaah. Bahkan, salah satu tanda- tanda atau ciri ibadah jamaah adalah mereka yang selalu merindukan shalat berjamaah. Begitu haus dan rindunya mereka akan shalat jamaah maka dia tidak segan-segan mengajak, atau menantikan orang lain agar mereka bisa shalat berjamaah. Apalagi rumah mereka dekat dengan masjid maka secara berombongan, mereka bagaikan lebah menuju sangkar madunya, mereka bergerak menuju masjid terdekat 2. Selalu ada waktu khusus untuk sarana pembinaan dan pengarahan bagi anggota keluarganya. Dalam pertemuan, orang tua memberikan arahan, sekaligus melakukan dialog dengan seluruh anggota keluarganya. 3. Para anggota keluarga dibiasakan untuk melakukan silaturahmi, dan saling mengenal diantara para ikhwan sesama anggota jamaah agar misi perjuangan serta tali persaudaraan dan kekerabatan tidak terputus, tetapi akan dilanjutkan oleh para putra- putrinya sebagai generasi Qur'ani yang akan meneruskan amanat al-Islam. 4. Bersama anggota keluarga ikut aktif melakukan perjalanan dakwah dengan sesama anggota jamaah (rihlah jama'iyah), sehingga bukan saja selalu terjalin hubungan (ittishal), tetapi juga akan mampu menumbuhkan ukhuwah yang lebih mendalam dalam menghayati semangat dan cita-cita jamaahnya. 5. Dengan menanamkan kebiasaan ini diantara sesama anggota keluarga sendiri maupun bersama dengan keluarga anggota jamaah lain, maka secara tidak sadar tumbuhlah pembinaan terhadap masyarakat muslim (bina'al-mujtama'al muslim) yang secara spesifik memberikan kesejukan bagi sekitarnya melalui dakwah amaliah yang simpatik. Kalau saja para anggota jami'atul muslimin melakukannya dengan konsekuen dan tetap dipimpin oleh niat dan semangat menjayakan agama dan umatnya, maka persatuan umat yang kita rindukan akan segera terwujud. Insya Allah. Bersambung ke bab 5 Wassalam St. Sinaro -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
