Bab V Da'wah Persaudaraan (1) 

"Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu
untuk , menjadi saksi pembawa kabar 
gembira, dan pemberi peringatan. Dan untuk 
menjadi penyeru kepada agama Allah dengan
izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang 
menerangi." (al-Ahzab: 45). 
 
Menghadapi gerakan konspirasi Dajal yang bersifat global hanya dapat dilawan 
dengan 
kerinduan dan upaya kontinu kepada persatuan dan persaudaraan Islam yang 
sebenarnya. 
Dalam sebuah barisan yang kokoh bagaikan benteng yang kuat, umat Islam harus 
mampu 
menghimpun diri dan mewaspadai seluruh "jarum-jarum racun" serta "ranjau 
budaya" yang 
begitu halus menyelusup di setiap pori-pori tubuh manusia yang ditebarkan kaum 
Dajal. 
Mereka tidak hanya menyebarkan ideologi pemikiran bebas dan membongkar keimanan 
umat Islam dengan segala perangkatnya, tetapi mereka juga mengadu-domba dan 
memecah-belah diantara sesama kaum Muslimin melalui penyebaran fitnah.
 
Jaringan zionisme Dajal yang akan memecah-belah kesatuan dan persatuan umat 
harus 
dilawan dengan da'wah persaudaraan, yaitu seruan dan ajakan yang ditujukan 
kepada 
sesama Muslim dalam rangka menumbuhkan semangat persaudaraan sebagai salah satu 
tali perekat persatuan umat.
 
Dalam program ini, gerakan da'wah harus memprioritaskan pencerahan keilmuan, 
kecintaan terhadap agama, akhlak karimah, serta semangat ksatria (futuwah) atas 
dasar 
persaudaraan. Dengan kata lain, program da'wah yang disusun oleh jamaah 
sebaiknya 
berorientasikan pada satu tahapan (marhalah) yang sistematis untuk mewujudkan 
kualitas 
sumber daya insani yang mampu menghadapi racun-racun Dajal yang akan meracuni 
mentalitas, akhlak, serta arah perilaku generasi muda yang semakin dijauhkannya 
dari 
semangat jihad, dan cara berpikir berdasarkan Al-Qur'an.
 
Gerakan da'wah yang dikoordinasikan oleh satu lembaga koordinasikan da'wah 
Islamiyah atau lembaga yang kredibel harus diupayakan dengan sangat sungguh-
sungguh, karena inilah kunci keberhasilan melawan kaum Dajal zionis yang sangat 
kompak dan menguasai hampir setiap pelosok kehidupan.
 
Da'wah persaudaraan yang bersifat universal (rahmatan lil-alamin) harus mampu 
bersaing 
dengan propaganda Dajal. Dengan da'wah juga diupayakan merebut simpati semua 
golongan dalam tubuh umat Islam dan umat lainnya dalam rangka membangun citra 
dunia 
Da'wah yang memikat dan mengikat dalam satu pandangan yang utuh dan sempurna 
(syamil kamil) diupayakan agar jalan menuju pada persatuan umat menjadi lebih 
terbentang di hadapan kita. Setidak-tidaknya, dalam suasana penuh persaudaraan 
dan 
tidak teganggu oleh konflik-konflik diantara sesama saudara maka akan 
melahirkan 
suasana kondusif, sehingga melahirkan berbagai gagasan monumental sebagai 
warisan 
pencapaian keilmuan dan budaya bagi generasi yang akan datang. Sekaligus dapat 
membina kualitas umat agar mampu bersaing dengan umat yang lainnya.
 
Untuk itu, strategi da'wah persaudaraan jamaah harus menekankan kepada kerangka 
acuan yang mendasar dalam gerakannya, yaitu sebagai berikut:
 
1. Perbedaan paham diantara sesama muslim tidak menjadikan hambatan bagi 
dirinya 
untuk menyambung tali persaudaraan. Mereka sadar pada akhirnya hanya Allah 
jualah 
yang akan menentukan kata akhir dari perjalanan hidupnya. Mereka akan berbicara 
tentang hal-hal yang sama diantara sesama muslim. Cita-cita yang sama, gerakan 
atau 
program-program amaliah yang sama, dan berusaha terus untuk memperlebar 
kesamaan 
diantara mereka, serta tetap saling menghargai hal-hal operasional, yang secara 
prinsip 
tidak membedakan dirinya dengan yang lain. Kita semua telah terikat oleh satu 
semangat 
yang terus berkembang menuju pada pemahaman tauhid yang sama.
 
2. Ciri khas dari gerakan da'wah Islamiyah adalah perasaan cinta dan rasa 
tanggung 
jawab yang besar terhadap kemaslahatan umat Dia menyeru, mengimbau, melakukan 
persuasi, dan bukan menghakimi, menuding, mencaci-maki, apalagi memutuskan tali 
silaturahmi. Mereka sadar bahwa da'wah berdasarkan cinta telah mendorongnya 
untuk 
mendatangi dan menyelamatkan. Sebaliknya, da'wah yang disulut oleh rasa benci 
akan 
menjauhkan dirinya. dari objek da'wah dan membiarkan manusia berenang dalam 
kesesatan. Mereka sadar bahwa dirinya bukan panglima perang yang didoktrin 
dengan 
propaganda kebencian untuk melemahkan mental musuh agar mudahlah baginya 
membunuh lawan sebanyak-banyaknya untuk memenangkan pertempuran. Dirinya adalah 
mujahid da'wah yang bertugas untuk menundukkan paham, sikap, dan pandangan 
orang 
lain agar menjadi kawan, bahkan sahabat yang akan memperkuat barisan jamaahnya.
 
3. Rasa persaudaraannya yang sangat mendalam telah mendorong dirinya untuk ikut 
mempelajari segala hal yang ada dalam lingkungan budayanya. Sehingga, 
menjadikan 
dirinya sebagai sumber ilmu yang luas pandangannya dan karenanya tidak cepat 
terburu 
nafsu menjatuhkan vonis. Dia mengetahui di mana dan kapan harus berbicara dan 
mengambil keputusan. Hanya dengan kekuatan akhlak, ilmu, dan pandangan yang 
luas, 
kita akan mampu menggerakkan program da'wah. Sebaliknya, keringnya keilmuan dan 
sempitnya wawasan, akan mendorong kita mengambil keputusan atau memecahkan 
berbagai persoalan secara sepihak. Maka setiap anggota jamaah adalah tipikal 
manusia 
yang selalu haus dalam mereguk tinta keilmuan, menapaki seluruh pelosok 
kehidupan, 
dan membaur di dalam masyarakatnya. Mereka bukanlah manusia yang mengisolasi 
diri, 
membuat hijab, seakan-akan dirinyalah yang paling benar, seraya menafikan atau 
mencemoohkan golongan yang lain.
 
Dengan semangat persaudaraan, bergeraklah kita untuk menjalin tali ukhuwah yang 
konkret dan membekas. Mewujudkan seluruh ayat dan hadits tentang tema-tema 
persaudaraan, tentang perasaan empati yang diungkapkan lewat makna "bersatunya 
raga". Membuka rasa tanggung jawab dan rasa cinta, sebagaimana sabda Rasulullah 
saw:
 
"Tidaklah (sempurna) iman seseorang diantaramu sehingga ia mencintai saudaranya 
(sesama muslim), sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri." (HR Bukhari dan 
Muslim).
 
Lalu hal itu dilanjutkan dengan perasaan bahwa ada satu beban untuk terus 
mewujudkan 
satu program konkret dan membekas dalam diri jamaah muslim, yaitu makna dari 
ayat 
yang menjadi acuan kita bersama yaitu, "Sesungguhnya orang orang mukmin adalah 
bersaudara…" (al-Hujurat:10).
 
Perasaan ini menyebabkan para anggota jami'atul ikhwan dalam setiap gerakan 
da'wahnya, menghindari diri dari sikap menjatuhkan vonis, apalagi mengafirkan 
sesama 
muslim. Rasulullah saw memberikan peringatan yang sangat keras, seraya bersabda:
 
"Barangsiapa berkata kepada saudaranya, 'Hai kafir', maka berlakulah perkataan 
itu pada 
salah seorang dari keduanya." (al-Hadits).
 
Dalam hadits yang lain beliau bersabda, "Barangsiapa mengucapkan laailaha 
illallah, 
maka ia telah masuk Islam serta terpelihara jiwa dan hartanya. Kalaupun ia 
mengucapkan 
kalimat itu karena takut atau hendak berlindung dari tajamnya pedang, maka 
perhitungannya kepada Allah. Sedangkan bagi kita cukuplah dengan yang lahir 
(nyata)." (al-Hadits).
 
Bagi kita, cukuplah seseorang menjadi muslim dari apa yang tampak di 
permukaannya 
dan kewajiban kita adalah bersama-sama memberikan pencerahan dan jalan terang 
untuk 
membangun kualitas iman, akhlak, dan amaliahnya, sesuai dengan prinsip-prinsip 
yang 
telah ditetapkan oleh syariat. Karena itu pula, Nabi mengecam Usamah, ketika 
dia 
membunuh seseorang dalam suatu pertempuran, padahal orang yang dibunuh itu 
telah 
mengucapkan syahadat. Beliau bertanya, "Engkau membunuhnya, setelah ia 
mengucapkan lailaha illallah?" Usamah menjawab, "Ia hanya mengucapkan kalimat 
itu 
karena hendak berlindung dari pukulan pedang." Maka beliau pun bertanya 
kembali, 
"Mengapa tidak engkau belah dadanya?" Kemudian Usamah berujar terus-menerus 
bahwa 
Nabi tidak putus-putusnya mengucapkannya sehingga aku sangat ingin seandainya 
baru 
hari itu aku menjadi seorang muslim." (al Hadits) 
 
Tidak pelak lagi, persaudaraan adalah kuncinya persatuan, bahkan merupakan roh 
yang 
menghidupkan di dalam denyutan jantung kehidupan jamaah. Haru biru umat Islam, 
cerai-
berai, dan terpuruk dalam kenelangsaan perpecahan yang hampir-hampir membuat 
konflik 
diantara sesama umat, dikarenakan roh persaudaraan hanyalah menjadi pemanis 
bibir 
belaka. Indah dalam pernyataan, tetapi hampa dalam kenyataan. Ini semua 
dikarenakan 
kita semua hampir menjadikan ayat dan hadits hanya sekadar barisan huruf dan 
kalimat 
untuk konsumsi hafalan verbal, pelengkap skripsi, dan bumbu penyedap dalam 
pidato 
semata-mata.
 
Membina masyarakat muslim, di mana siar dan keteladanan kolektif (uswah jama') 
harus 
tumbuh dari dasar kehidupan masyarakat yang dewasa ini telah terkotak-kotak, 
karena 
pengaruh budaya antar bangsa sebagaimana kita pun tidak bisa mengisolasi diri 
dari 
pengaruh era globalisasi dan kemajuan teknologi yang tidak bisa dihindarkan 
oleh siapa 
pun makhluk manusia di muka bumi ini. Kehidupan kita adalah kehidupan yang 
penuh 
dengan segala informasi dan stimulasi yang diekspos melalui berbagai media 
elektronik 
yang setiap hari dirasakan bertambah maju. Antisipasi masyarakat atas pengaruh 
ini, 
tentu saja beragam dan penuh dengan goncangan.
 
Keagungan dan kesucian da'wah yang dibawakan oleh Rasulullah, ternyata mampu 
melahirkan satu generasi manusia, yaitu generasi para sahabat suatu generasi 
yang 
mempunyai ciri tersendiri dalam sejarah Islam dan dalam seluruh sejarah umat 
manusia. 
Kita mengenal berbagai tokoh dalam sejarah, tetapi sedikit sekali kisah dan 
keteladanan 
sejarah, sebagaimana dicontohkan oleh para pelopor dan para sahabat dalam 
kehidupan. 
Kenyataan ini harus menjadi pemikiran kita bersama, sebagai bahan renungan yang 
tajam 
dan saksama.
 
Ini Al-Qur'an, hadits, dan petuah serta tulisan para ulama berada di rak buku 
kita semua. 
Bertumpuk di perpustakaan dan dijajakan di toko-toko buku, tetapi mengapa 
generasi itu 
tidak terlahir kembali? Apakah karena kita berasumsi, generasi itu terlahir 
oleh karena ada 
Rasulullah. Kalau asumsi ini dijadikan pegangan, lantas apakah Al-Qur'an itu 
hanya 
sebatas waktu dan tempat, serta karena adanya Rasulullah sebagai tokoh utama 
atau 
figur sentral? Lantas di manakah keyakinan kita bahwa Al-Qur'an itu dapat 
berlaku 
sepanjang zaman?
 
Ketahuilah, sebenarnya bukanlah tokoh, waktu, dan tempat yang menjadikan 
kendala 
lahirnya generasi ini. Tetapi, kenyataannya justru sebaliknya bahwa sudah lama 
diantara 
kita tidak lagi bersikap konsekuen meniru perilaku dan gaya hidup serta metode 
Rasulullah. Padahal, ketika Siti Aisyah r.a. ditanya seperti apakah akhlak 
Rasulullah, ia 
menjawab, "Akhlak yang berdasarkan Al-Qur'an," (khuluquhul-Qur'an). Ini 
menandakan 
bahwa Al-Qur'an telah merasuk dan menjadi butir darah rasul dan diterima tanpa 
keraguan sedikit pun oleh para sahabat dengan penuh gairah dan kepatuhan yang 
mengagumkan. Mereka bersihkan jiwanya dengan Al-Qur'an. Mereka meluruskan shaf 
dan 
barisan masyarakatnya dengan Al-Qur'an. Hanya dengan Al-Qur'an, mereka 
merasakan 
hidupnya punya arti. Dalam kondisi apa pun hatinya tidak pernah kosong dari 
butiran Al-
Qur'an. Inilah kunci rahasianya. Apalagi pada zaman sekarang ini sedang terjadi 
"pertempuran ideologi" manusia melawan akidah, yaitu perang antara keyakinan 
iman 
yang dipertentangkan dengan alam pikir empiris.
 
Hari ini dan di masa yang akan datang, perang berkecamuk bukan dengan senjata 
konvensional. Tetapi, perang hanyalah merupakan akibat saja dari pertarungan 
iman 
melawan keserakahan. Konflik abadi antara partai Allah (Hizbullah) yang 
berhadapan 
dengan pasukan kafir setan, yang tampil dan bersembunyi di balik jubah 
kesombongan 
serba materil. Seharusnya, kita menyimak kembali sejarah, ketika para sahabat 
atau 
rombongan pelopor awal (assabiqunal-awalun), yaitu pada saat mereka masuk dan 
memeluk Islam, mereka meninggalkan seluruh masa lalunya. Pada waktu mereka 
memeluk Islam, mereka merasakan ada kehidupan baru dalam dirinya. Dia campakkan 
masa silamnya yang kotor, sehingga dirinya benar-benar merasa lahir kembali, 
pada saat 
mereka menghayati ikrar dua kalimat syahadat.
 
Kesadaran diri memeluk Islam membawa satu amanat bahwa mereka harus segera 
membuat garis yang tegas (al-furqan) antara yang hak dan yang batil. 
Memberanguskan 
perilaku jahiliah mereka yang lalu dan beralih menuju pada satu harapan manusia 
Qurani 
dengan berupaya untuk menjadikan seluruh ajaran Islam sebagai pedoman hidup 
(minhajud-hayat) secara total.
 
Setiap pribadi muslim harus menghayati amanat da'wah ini. Seruan suci ini 
adalah 
kewajiban setiap pribadi muslim yang melekat pada identitas dirinya. Amanat 
da'wah 
adalah tugas dan harga diri seorang muslim. Sebab tanpa misi ini, hal itu akan 
menjadi 
sia-sia nilai keislaman dirinya di hadapan Allah. Sudah saatnya, kita semua 
mengisi qalbu 
dengan satu keyakinan bahwa Islam akan tegak dan menampakkan cahayanya, selama 
umat Islam peduli atas misi da'wah. Seharusnya, setiap pribadi muslim menyadari 
bahwa 
salah satu harga dirinya sangat bergantung pada prinsip untuk menyebarkan 
da'wah ini 
(an-nasyrul mabaadid-da'wah).
 
Bentuk perjuangan paling awal yang dilakukan oleh para nabi, khususnya 
Rasulullah saw, 
adalah perjuangan menyeru manusia untuk hanya memperhambakan dirinya kepada 
Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah, "Hai orang yang berkemul (berselimut) 
bangunlah, 
lalu berilah peringatan dan Tuhanmu agungkanlah.." (al-Muddatstsir: 1-3).
 
Perintah Allah tersebut membahana di seluruh relung dada Rasul, menyeruak dan 
membangkitkan satu kekuatan yang maha dahsyat untuk segera melaksanakan amanat 
da'wah. Pribadinya telah larut dalam tali kebenaran, batinnya luluh dalam 
harapan, dan 
mata batinnya benderang untuk mencari sasaran, dan kemudian menaburkan benih 
benih 
kasih sayang yang penuh dengan butir hikmah.
 
Kemudian diberitahulah perintah itu kepada istri Rasul bahwa beliau telah 
mendapatkan 
satu amanat yang maha-akbar Didatanginya sahabat sejak kecilnya, Abu Bakar ash-
Shiddiq r a dan diusapnya kepala Ali bin Abu Thalib r a.. Dibinanya satu 
harakah 
pergerakan da'wah dari rumah ke rumah, yang dijadikannya sebagai "basis da'wah" 
paling awal untuk memupuk lezatnya tauhid dan tali persaudaraan dalam jamaah. 
Hal itu 
merupakan awal dari gerakan siar Islam yang sangat monumental.
 
Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah saw, "Islam pada awal perkenalannya 
dianggap 
asing, dan kelak akan datang suatu masa di mana Islam akan dianggap asing 
kembali, 
maka berbahagialah wahai orang-orang asing, yaitu mereka yang selalu 
menghidupkan 
Sunnahku…"
 
Kita sadar bahwa da'wah adalah Sunnah Rasul. Kita takut akan mengkhianati 
amanat 
Nya dan Rasul-Nya, di mana kita tidak bisa berpangku tangan membiarkan 
kemungkaran. 
Demikian pula, kita sadar bahwa sebagai umat Islam tidak mungkin menutup diri 
atau 
acuh berpangku tangan dengan problem umatnya sendiri. Maka seorang muslim 
adalah 
orang yang bahagia, karena di dalam kiprahnya ia mengupayakan untuk menegakkan 
Sunnah Rasulullah.
 
Akan tetapi; manakah tantangan yang lebih berat bila dibandingkan dengan para 
pelopor 
awal (assabquunal-awalun) ? Manakah yang paling menderita bila dibandingkan 
dengan 
para pengikut Rasul yang diboikot, diisolasi, bahkan disiksa di luar batas 
kemanusiaan? 
Manakah yang paling pahit, bila dibandingkan dengan dakwahnya pengikut Rasul 
yang 
compang-camping karena terusir dari kampung halamannya? Lantas, alasan apalagi 
bagi 
seorang muslim untuk menutup mata dan hidup dengan gaya penuh egoisme, seraya 
tidak peduli akan amanat da'wah? Lantas, hati dan iman yang mana lagi yang akan 
engkau pakai apabila persaudaraan sudah engkau putuskan?
 
Maka, ketahuilah wahai saudaraku para ikhwan, salah satu ciri khas kepribadian 
muslim 
adalah kentalnya rasa persaudaraan diantara sesama penegak syahadat. Yaitu, 
persaudaraan yang telah merobek segala fanatisme berlebihan (hisab ta'asub), 
nasionalisme yang berlebihan (chauvinisme ashabiyah), serta kebanggaan 
kelompok. 
Persaudaraan adalah rohnya Islam. Tanpa persaudaraan antara Muhajirin dan 
Anshar, 
sehingga kaum Anshar rela membagi hartanya, rela membagi kebahagiaannya tanpa 
meminta imbalan, hanya semata-mata roh tauhid yang mencengkeram dadanya.
 
Bersambung ke bab 5.1.2
 
Wassalam
 
St. Sinaro
 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke