A. Perbedaan Metode Dakwah Seringkali kita tercengang oleh lahirnya berbagai harakah da'wah. Dan, tidak jarang rasa heran ini kemudian melembaga dalam sanubari kita menjadi satu rasa khawatir yang berlebih-lebihan, seakan-akan lahirnya gerakan-gerakan da'wah menunjukkan terjadinya pengelompokan (firqah) dalam tatanan perjuangan yang menjunjung Islam dan kaum muslimin (izzul Islam wal-muslimin). Di hampir pelosok dunia, di mana ada kehidupan kaum muslimin, pastilah akan selalu tumbuh lembaga atau organisasi da'wah. Hal ini dikarenakan perintah Allah: "Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung." (Ali Imran:104). Lafal ummatun pada ayat tersebut menunjukkan jumlah yang banyak. Karena itu pula memberikan peluang kepada berbagai harakah da'wah yang beragam metodenya. Lagi pula kalau diperhatikan secara saksama, sighat jamak yang dipakai pada kata ummatun tersebut menunjukkan adanya kebolehan untuk terbentuknya berbagai organisasi atau harakah da'wah di dalam masyarakat Islam. Dengan demikian, lahirnya berbagai harakah da'wah janganlah ditafsirkan sebagai indikasi adanya perpecahan di dalam umat Islam. Akan tetapi, dengan kaca mata berpikir positif (husnuzhan), kita harus memperkaya khasanah da'wah Islamiyah. Selama harakah da'wah itu mempunyai cita-cita untuk menjayakan umat, memperbaiki akhlak dan tetap dalam satu struktur keislaman secara menyeluruh. Justru, inilah yang bisa kita tangkap pengertiannya sebagai suatu rahmat dalam pengertian pemerkayaan berpikir dalam tubuh umat Islam secara mondial (mendunia). Orang yang menghakimi atau mengambil suatu kesimpulan bahwa dengan beragamnya gerakan da'wah tersebut adalah lahirnya firqah-firqah. Saya kira dikarenakan mereka dibayangi oleh obsesi persatuan umat manusia yang berlebih-lebihan, seakan-akan ingin umat manusia atau umat Islam pada khususnya bersatu dalam satu wadah harakah, bersatu dalam satu ummatan wahidah. Sebaliknya, harus kita pahami secara lebih bijaksana bahwa fenomena antropologis, sosiologis, dan kultural masyarakat yang beragam, membawa konsekuensi metode da'wah yang beragam pula. Bukankah Rasulullah sendiri telah bersabda, "Sampaikanlah da'wah ini sesuai dengan kadar akal mereka." (al-Hadits). Hadits tersebut memperkuat satu pemikiran bahwa umat manusia ini beragam dan kerangka serta kadar akalnya berbeda satu sama lain. Konsekuensinya akan melahirkan harakah da'wah yang beragam pula. Dengan demikian, munculnya berbagai harakah da'wah dengan memakai nama yang beragam pula, tidak serta-merta ditafsirkan sebagai firqah atau perpecahan dalam tubuh umat Islam. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT: "Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka..." (Hud: 118-119). "Dan jika Tuhanmu menghendaki; tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka beriman semuanya?" (Yunus: 99). Dengan firman tersebut, sadarlah bahwa tidak pernah kita akan menemukan satu masyarakat yang benar-benar mutlak bersatu secara "tatanan besar", tanpa di dalamnya ada perbedaan perbedaan. Kita harus menyadari bentang sejarah perkembangan da'wah Islamiyah bahwa sejak zaman Nabi sampai pada para sahabat Khulafa ar-Rasyidin, perbedaan itu selalu kita temukan dalam kuantitas dan kualitasnya sendiri-sendiri yang unik menurut zamannya. Moto "berbeda-beda namun tetap satu" (unity in diversity, e. pluribus unum, bhineka tunggal ika) seharusnya menjadi aspirasi bagi jamaah muslimin. Walaupun kita memiliki perbedaan-perbedaan kerangka metode atau fikih, tetapi seharusnya kita tetap bersatu dalam satu tatanan besar, yaitu akidah Islamiyah. Dengan cara berpikir ini, kewajiban para anggota jamaah itu harus selalu berupaya untuk memperlebar jaringan silaturahmi, dan memperkuat tali persaudaraan diantara anggota harakah dakwah. Membuang fanatisme buta atau rasa kebanggaan (ashabiyah) yang bertentangan dengan semangat persaudaraan dan mengikis habis kilasan perasaan, seakan-akan kelompoknyalah yang terbaik atau organisasinyalah yang paling benar. Sikap sempit seperti ini, justru akan membuat tali persaudaraan diantara sesama pejuang da'wah bertambah jauh. Sehingga, mereka akan bekerja secara sporadis parsial (setengah-setengah). Total harus dijadikan satu kerangka berpikir seluruh harakah yang mengabdikan dirinya dalam lapangan perjuangan da'wah. Mereka menghindari berbantahan dalam hal metode, atau perbedaan taktis, karena hal tersebut akan memperlemah kekuatan atau potensi umat. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT: "... janganlah kamu berbantah-bantahan selisih yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu...." (al-Anfal: 46) Salah satu kelemahan kita saat ini, justru kita sering berbantahan dalam hal-hal yang berkaitan dengan khilafiah atau kerangka penafsiran syariat. Kemudian perbedaan ini merembes ke dalam hati sanubari umat dalam bentuk pemasangan "barikade" untuk mengulurkan tali ukhuwah. Bentuk inilah yang diisyaratkan oleh Allah sebagai suatu sikap yang akan memperlemah kekuatan umat Islam di hadapan musuh-musuhnya. Kebanggaan kultural atau kebangsaan seringkali membuahkan pula silang sengketa, karena rasa nasionalisme, etnik lebih dominan dibandingkan dengan rasa keislamannya. Maka setiap anggota jamaah yang berhimpun dalam harakah da'wah, apa pun nama gerakannya, harus mempunyai sikap toleran yang sangat tinggi terhadap sesama saudaranya yang lain. Toh, mereka masih melaksanakan shalat, masih menghadap ke kiblat, dan masih melafalkan dua kalimat syahadat Pokoknya, siapa pun yang telah bersyahadat, dia adalah saudara kita. Kalau ada diantara Anda membantah, "Ya, dia mengaku Islam, tetapi perilakunya justru bertentangan dengan Islam." Maka untuk Anda yang mempunyai pendapat kecintaan yang besar pada Islam -- tentang ini, kami mengimbau bahwa tugas Andalah untuk mengislamkan teman Anda yang telah bersyahadat itu. Kita tidak bisa mengafirkan atau menghakimi saudara kita yang telah bersyahadat, sebagai kafir atau munafik, kecuali dengan sangat nyata mereka telah ingkar dari keislamannya. Kita harus memahami dan menyatakan syukur kepada Ilahi Rabbi bahwa ada saudara kita yang telah bersyahadat. Karena hal itu merupakan suatu aset Ilahiah yang harus kita kelola bersama. Kalau kita berlaku kasar, niscaya mereka akan lari dari tatanan Islam, dan akhirnya menambah persoalan yang baru. Cobalah kita tafakur dengan sangat mendalam, apakah mungkin kita harus terkotak- kotak dan berpisah? Padahal Nabi kita sama, Kitab Suci kita sama, Kiblat kita pun sama, bahkan Tuhan serta syahadat kita merupakan dasar kesamaan yang paling hakiki. Berbagai perbedaan metode da'wah ataupun perbedaan paham dalam kaitan ibadah yang bersifat furu'iyah, tidak harus memisahkan persaudaraan diantara kita, apalagi saling mengafirkan satu dengan lainnya, merasa diri yang paling sunnah atau yang paling surga. Ketahuilah bahwa perbedaan paham dalam bidang ibadah pun telah terjadi selama masa Rasulullah saw masih hidup. Diceritakan oleh Abu Sa'id al-Khudri bahwa ada dua orang sedang dalam perjalanan. Dan, ketika waktu shalat telah tiba, tetapi mereka tidak mendapatkan air, sehingga keduanya bertayamum untuk melaksanakan shalat. Ketika mereka tiba di suatu tempat yang ada airnya dan waktu shalat masih ada, maka timbullah perbedaan. Orang yang pertama berwudhu, kemudian mengulangi shalatnya, sedangkan yang kedua tidak. Setelah kejadian itu, mereka melapor kepada Rasulullah, dan beliau bersabda kepada yang tidak mengulangi shalatnya, "Engkau telah berbuat sesuai dengan Sunnah dan shalatmu sudah cukup bagimu." Dan kepada yang mengulangi shalat (orang yang pertama) , beliau bersabda, "Bagimu pahala dua kali." (al-Hadits) Masih banyak lagi bidang yang mengundang perbedaan dalam hal ibadah, berkaitan dengan tafsir, redaksional hadits, dan riwayatnya. Tentu saja, perbedaan pemahaman yang berkaitan erat dengan daya nalar seseorang yang seringkali dipengaruhi oleh kerangka berpikir dan kerangka pengalaman masing-masing. Untuk menghindari fanatisme kelompok yang bisa mengarah kepada kejumudan dan semangat ashabiyah, hendaknya para anggota jamaah melakukan tindakan yang aktual sebagai berikut: 1. Selalu berupaya untuk menjalin tali silaturahmi dengan berbagai kelompok da'wah tersebut. Masuklah ke dalam harakah mereka, simaklah dengan baik berbagai metode yang diperkenalkannya. Dengan cara seperti ini, kita tidak akan terjebak dalam fanatisme buta karena mampu mengambil hal-hal yang sama (convergen) dari seluruh kelompok. 2. Tawarkan satu program bersama yang dapat dilaksanakan secara gotong-royong oleh berbagai harakah dakwah tersebut, sehingga tanpa disadari akan terjadi kristalisasi, dan mungkin pemikiran-pemikiran yang cemerlang akibat adanya intensitas interaksi diantara organisasi atau kelompok da'wah tersebut 3. Upayakan agar terwujudnya pertemuan-pertemuan rutin diantara sesama kelompok harakah da'wah tersebut untuk membicarakan berbagai program lapangan yang bisa dilaksanakan secara gotong-royong, jauhkanlah satu perdebatan atau pembicaraan yang mengarah pada hal yang berkaitan dengan khilafiah. Dengan kerangka berpikir seperti ini, maka sangat dianjurkan agar para anggota jamaah itu mau belajar dan mencari mutiara hikmah di berbagai kelompok harakah da'wah, yang kemudian secara gradual akan membentuk satu kepribadian yang lapang dada. Orientasi kita dalam makna total dakwah ini menjadi daya penggerak (dinamisator)
terhadap berbagai program da'wah yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh semua pihak dalam tubuh umat Islam. Kita jadikan setiap posisi dan peran sebagai alat untuk menjadi pelabuhan untuk menyeru umat kepada nilai-nilai persaudaraan yang hakiki melampaui batas-batas keyakinan yang berkaitan dengan khilafiah. Dengan demikian, sikap berpikir positif, serta berprasangka baik (khusnuzhan) terhadap sesama kelompok dakwah harus menjadi ciri dan cara pribadi muslim bermasyarakat. Sebagaimana Allah memerintahkan kita semua agar menghindari sikap buruk sangka (suuzhan), penuh berpikiran negatif (negative thinking), dalam firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain...." (al-Hujurat: 12) Berpikiran sempit, apalagi ada prasangka, serta kecemburuan berdasarkan nafsu atas amal dan harakah sesama jamaah da'wah adalah penyakit yang harus "diamputasi". Demikian pula, sikap memperolok-olokan satu dengan lainnya, baik laki-laki maupun perempuan adalah sebuah perintah Allah yang harus dihindarkan dari batin kalbu setiap pribadi muslim --seperti termaktub pada surat al-Hujurat:11. Maka anggaplah lahirnya berbagai gerakan da'wah adalah bagaikan kolam-kolam kecil yang bening. Dan, kewajiban setiap anggota jamaah adalah mengalirkan airnya agar dapat berpadu dalam satu samudra amaliah dapat menimbulkan satu gerakan dinamika prestasi umat yang dahsyat. Kewajiban kita adalah menyambung tali persaudaraan dengan seluruh.harakah da'wah. Sehingga, seluruh semangat yang terpendam di dalam halaqah pertemuan da'wah --yang ada dapat teralirkan kepada satu visi dan misi yang sama, yaitu menuju kepada satu persatuan umat (ittihadul-ummah). Semangat ini harus ada di setiap relung kalbu anggota jamaah yang mempunyai tujuan yang sama serta sumber acuan yang sama, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah. Pada kelanjutannya, total da'wah menjadi satu kerangka acuan seluruh anggota jamaah, dimana seluruh gerakan kehidupannya selalu menuju pada pembebasan umat manusia dari penjara kekufuran yang menyesatkan. Sikap lapang dada (al-hanifiyyat al-samhah) untuk menyambung tali silaturahmi, serta mengambil hikmah kebenaran dari sudut kehidupan dari sesama harakah da'wah Islamiyah merupakan budi luhur yang harus ditegakkan oleh setiap pribadi muslim yang merindukan tumbuh berkembangnya nilai persaudaraan yang konkret dan aktual tersebut. Lalu muncul pertanyaan, dari mana itu kita mulai? Setiap gagasan dan ajaran Islam selalu merujuk pada tanggung jawab pribadi terlebih dahulu, yakni memulainya secara konsekuen dari diri sendiri (ibda binafsika). Maka semangat berjamaah dengan segala artibutnya harus diawali dari diri kita masing-masing. Dengan kesadaran bahwasanya Allah hanya akan melimpahkan kekuatan dan pertolongan-Nya kepada setiap pribadi muslim, apabila kita berhimpun dalam tatanan jamaah. Terwujudnya jamaah Islamiyah hanya bisa direalisasikan apabila setiap anggota ingin dan sangat merindukan terbentuknya pembinaan pribadi yang kokoh dan selalu menjadikan agamanya sebagai tempat dia bertolak dan berlabuh. Jamaah harus mampu memberikan efek yang mendalam terhadap pembinaan pribadi pada setiap anggotanya. Hal itu merupakan salah satu dasar fundamental dari lahirnya pribadi yang istiqamah, yaitu pribadi muslim yang terbina (binaa'al fardul-muslim). Setiap anggota jamaah harus selalu menjalankan peranannya, sebagaimana akhlaknya para pengikut Nabi pada awal lahirnya Islam ini, yaitu para pelopor awal (assabiqunal-awaalun). Kerinduan untuk mati syahid sama besarnya dengan rasa cinta pada kehidupan yang saleh. Hidup bersih, akal cerdas, dan beramal prestatif merupakan rangkaian akhlak yang menjalin kehidupan dalam semangat jihad untuk menundukkan dunia, mengubah kegelapan dengan cahaya iman. Dengan segala daya dan upayanya, walaupun terasa sangat berat, dia akan terus berjalan mendakwahkan Islam melalui keteladanan akhlak yang dia banggakan karena terlahir dari kecintaan yang mendalam kepada Ilahi Rabbi. Dalam tatanan pergaulan yang serba syubhat (tidak jelas) dan penuh dengan kehidupan yang materialistis ini, tidak perlu larut dalam budaya tersebut. Bahkan, dia tetap berdiri tegak dengan penuh simpati bagaikan mercu suar yang menjadi pemandu kapal yang mendermaga. Dilatih dirinya bagaikan setiap saat ia akan menghadapi pertempuran yang amat dasyat. Tidak ada waktu terbuang sedikit pun yang akan membuat dirinya terlena dari visi dan misi pribadinya sebagai kalifah di bumi (khalifah' fil-ardhi) yang sangat gandrung untuk menebarkan amal saleh. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah saw, "Hendaklah engkau bekerja untuk duniamu, seakan-akan engkau akan hidup selama- lamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok." (al- Hadits). Sabda Rasulullah tersebut menggedor jiwa muslim untuk berontak pada segala kebatilan, menjebol segala penyakit wahan, dan kemalasan. Setiap saat dirinya selalu berfikir, apa yang harus ia berikan untuk orang lain? Apakah hidupnya sudah punya arti? Bekal apakah yang telah ia persiapkan untuk menempuh perjalanan yang amat panjang di akhirat nanti? Sabda Rasulullah itu juga membuat dirinya gelisah. Dia mempunyai misi untuk menjadikan hidupnya sebagai ladang yang harus ditanami oleh tiap benih. Lalu, dia tebarkan benih tersebut,dan disiraminya dengan akhlak karimah agar membuahkan ridha Allah semata. Dia memandang hidup dan kehidupan sebagai satu amanat dan tugas yang amat berat. Tidak mungkin dia laksanakan amanat itu dengan bersantai-santai apalagi sampai terlupa dari dzikrullah. Betapa hidup harus penuh dengan kesungguhan (jihad), sebab dia yakin bahwa akhirnya segala sesuatu yang bernyawa akan berakhir dalam kemusnahan. Betapa segala sesuatu yang dia alami akan punah, sedangkan hanya karunia Allah jugalah yang abadi. Sebab itu, setiap anggota jamaah tidak pernah akan melupakan sebuah peristiwa yang disampaikan oleh sahabat Anas ra. yang mengatakan bahwa pada suatu hari Rasulullah saw berkhotbah yang sangat luar biasa, sehingga di mana saya belum pernah melihat Rasulullah berkhotbah semacam itu sebelumnya. Di antara isi khotbahnya itu, beliau bersabda, "Andaikan kamu mengetahui apa yang saya ketahui, niscaya kamu sekalian akan lebih banyak menangis dan akan sedikit sekali tertawa." Maka setelah ucapan itu, saya melihat para sahabat Nabi yang mendengarkan khotbah tersebut, semuanya menutup muka mereka dan terdengarlah suara tangis yang terisak isak dari mereka. (HR Bukhari dan Muslim). Bergetarlah jiwa setiap anggota jamaah menyimak sabda Rasul tersebut. Itulah peringatan yang amat dahsyat tentang datangnya hari akhirat yang merenggut semua kenikmatan yang fana, serta memporak-porandakan segala impian kenikmatan khayalan dengan segala syahwatnya. Bertambahlah sikap tawadhunya para anggota jamaah itu; apabila mereka menyimak sabda Rasulullah saw: "Tiada seorang pun dari kamu sekalian, kecuali akan berhadapan dan ditanya Allah di hari pengadilan kelak. Tidak ada juru bahasa yang akan membelanya, kecuali apabila ia melihat ke kanannya, dia hanya akan menyaksikan amal perbuatannya dan apabila dia pun menoleh ke kirinya, dia pun akan menyaksikan amal perbuatannya. Di hadapan mereka tiada terlihat sesuatu apa pun kecuali api yang menyala. Maka jagalah dirimu dari api neraka walau dengan memberikan sedekah separo biji kurma sekalipun." (HR Bukhari dan Muslim). Rasa harap cemas menghadapi hari akhir merupakan salah satu keyakinan yang tidak pernah pupus walau sedetik pun dari ingatan dirinya. Perasaan yang kemudian melahirkan kewaspadaan dan hidup yang selalu ingin terpelihara dan dipelihara oleh amalan yang luhur dan terpuji. Setiap anggota jamaah adalah tipikal manusia yang melihat umur sebagai amanat Allah yang tidak syak lagi harus dia pelihara dengan penuh tanggung jawab. Dia sadar betul, betapa kematian merupakan takdir yang tidak tercelakan. Bahkan, apalah arti semua kehidupan ini bila dibandingkan dan ditafakuri dengan iman? Ketahuilah bahwa hidup ini tidak lebih dari pada sekadar pengembaraan sementara untuk menyongsong kematian yang pasti. Hidup ini tidak lain daripada menanti mati. Oleh karena itu dalam kurun waktu penantiannya, dia hiasi seluruh penantiannya dengan karya, karsa, dan cipta yang bernuansa dan semerbak ridha llahi. Hal ini sebagaimana Allah berfirman: "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran." (al-'Ashr:1-3). Sebuah kerugian yang tidak bisa ditebus, manakala nyawa sudah di tenggorokan. Sebuah jeritan penyesalan yang sia-sia, takala sang malaikat maut pemusnah kenikmatan merenggut nyawa. Kesadaran dan penghayatannya ini telah menyulut kesadaran dirinya untuk mengolah segala "aset" llahi yang telah dia terima untuk beramal saleh, lalu mempersiapkan segala sesuatunya untuk sesuatu jemputan yang pasti, kematian! Dia matikan segala nafsu rendah, dan dia hidupkan segala nafsu mutmainah. Dia padamkan segala kobaran kebatilan. Pada saat yang bersamaan, dia nyalakan pelita iman yang akan menerangi jalan kehidupannya yang panjang dengan tetap berucap, bersikap, dan berbuat atas satu garis yang pasti, "Laa Ilaha Illallah." Sebuah jalan yang senantiasa, setiap muslim meminta kepada Allah agar tidak menyimpang darinya (ihdinas sirathal mustaqim). Pokoknya, dalam hal ibadah dan amalan saleh lainnya, dia tidak pernah sedikit pun mengendorkan semangat untuk segera mengisi hidupnya dengan prestasi. Hanya dengan niat yang tulus, iman yang penuh dan dipancarkan melalui gerak amal prestasi, barulah dia merasakan betapa hidup ini mempunyai arti. Dia sadar bahwa Islam bukanlah hanya sekadar kata, tetapi harus punya makna. Bukan seperangkat keyakinan yang tersembunyi di semak belukar, tetapi dia harus menjadi pelita yang berbinar. Bukan pula hanya berhenti pada simbol-simbol kebendaan, tetapi harus memberikan substansi dan esensi keluhuran budi. Inilah kualitas setiap anggota jamaah muslimin yang ingin menekuni dan mengikatkan diri dalam sirah perjalanan kehidupan suci Rasulullah saw (minhajun-nabawiyah). Akhlakul karimah para Nabi, para sahabat, dan para wali Allah merupakan pantulan dari tapak sejarah yang menerpa seluruh relung dadanya. Di manapun dia berada, para anggota jamaah muslimin ini akan selalu memberikan bekas kesalehannya Tidak ada keraguan dalam batinnya akan limpahan karunia Allah. Karena dia yakin bahwa. siapa pun yang berjuang dalam jalan Allah, pastilah Allah akan memberikan jalan, sebagaimana firman Nya: "Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan." (al-Qashash: 69). Bersambung ke bab 5.1.3 Wassalam St. Sinaro -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
