A. Perbedaan Metode Dakwah 

Seringkali kita tercengang oleh lahirnya berbagai harakah da'wah. Dan, tidak 
jarang rasa 
heran ini kemudian melembaga dalam sanubari kita menjadi satu rasa khawatir 
yang 
berlebih-lebihan, seakan-akan lahirnya gerakan-gerakan da'wah menunjukkan 
terjadinya 
pengelompokan (firqah) dalam tatanan perjuangan yang menjunjung Islam dan kaum 
muslimin (izzul Islam wal-muslimin). Di hampir pelosok dunia, di mana ada 
kehidupan 
kaum muslimin, pastilah akan selalu tumbuh lembaga atau organisasi da'wah. Hal 
ini 
dikarenakan perintah Allah:
 
"Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, 
menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah 
orang-orang 
yang beruntung." (Ali Imran:104).
 
Lafal ummatun pada ayat tersebut menunjukkan jumlah yang banyak. Karena itu 
pula 
memberikan peluang kepada berbagai harakah da'wah yang beragam metodenya. Lagi 
pula kalau diperhatikan secara saksama, sighat jamak yang dipakai pada kata 
ummatun 
tersebut menunjukkan adanya kebolehan untuk terbentuknya berbagai organisasi 
atau 
harakah da'wah di dalam masyarakat Islam. Dengan demikian, lahirnya berbagai 
harakah 
da'wah janganlah ditafsirkan sebagai indikasi adanya perpecahan di dalam umat 
Islam. 
Akan tetapi, dengan kaca mata berpikir positif (husnuzhan), kita harus 
memperkaya 
khasanah da'wah Islamiyah. Selama harakah da'wah itu mempunyai cita-cita untuk 
menjayakan umat, memperbaiki akhlak dan tetap dalam satu struktur keislaman 
secara 
menyeluruh. Justru, inilah yang bisa kita tangkap pengertiannya sebagai suatu 
rahmat 
dalam pengertian pemerkayaan berpikir dalam tubuh umat Islam secara mondial 
(mendunia).
 
Orang yang menghakimi atau mengambil suatu kesimpulan bahwa dengan beragamnya 
gerakan da'wah tersebut adalah lahirnya firqah-firqah. Saya kira dikarenakan 
mereka 
dibayangi oleh obsesi persatuan umat manusia yang berlebih-lebihan, seakan-akan 
ingin 
umat manusia atau umat Islam pada khususnya bersatu dalam satu wadah harakah, 
bersatu dalam satu ummatan wahidah. Sebaliknya, harus kita pahami secara lebih 
bijaksana bahwa fenomena antropologis, sosiologis, dan kultural masyarakat yang 
beragam, membawa konsekuensi metode da'wah yang beragam pula. Bukankah 
Rasulullah sendiri telah bersabda, "Sampaikanlah da'wah ini sesuai dengan kadar 
akal 
mereka." (al-Hadits).
 
Hadits tersebut memperkuat satu pemikiran bahwa umat manusia ini beragam dan 
kerangka serta kadar akalnya berbeda satu sama lain. Konsekuensinya akan 
melahirkan 
harakah da'wah yang beragam pula.
 
Dengan demikian, munculnya berbagai harakah da'wah dengan memakai nama yang 
beragam pula, tidak serta-merta ditafsirkan sebagai firqah atau perpecahan 
dalam tubuh 
umat Islam. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:
 
"Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi 
mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat 
oleh 
Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka..." (Hud: 118-119).
 
"Dan jika Tuhanmu menghendaki; tentulah beriman semua orang di muka bumi 
seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka beriman 
semuanya?" (Yunus: 99).
 
Dengan firman tersebut, sadarlah bahwa tidak pernah kita akan menemukan satu 
masyarakat yang benar-benar mutlak bersatu secara "tatanan besar", tanpa di 
dalamnya 
ada perbedaan perbedaan. Kita harus menyadari bentang sejarah perkembangan 
da'wah 
Islamiyah bahwa sejak zaman Nabi sampai pada para sahabat Khulafa ar-Rasyidin, 
perbedaan itu selalu kita temukan dalam kuantitas dan kualitasnya 
sendiri-sendiri yang 
unik menurut zamannya. Moto "berbeda-beda namun tetap satu" (unity in 
diversity, e. 
pluribus unum, bhineka tunggal ika) seharusnya menjadi aspirasi bagi jamaah 
muslimin. 
Walaupun kita memiliki perbedaan-perbedaan kerangka metode atau fikih, tetapi 
seharusnya kita tetap bersatu dalam satu tatanan besar, yaitu akidah Islamiyah.
 
Dengan cara berpikir ini, kewajiban para anggota jamaah itu harus selalu 
berupaya untuk 
memperlebar jaringan silaturahmi, dan memperkuat tali persaudaraan diantara 
anggota 
harakah dakwah. Membuang fanatisme buta atau rasa kebanggaan (ashabiyah) yang 
bertentangan dengan semangat persaudaraan dan mengikis habis kilasan perasaan, 
seakan-akan kelompoknyalah yang terbaik atau organisasinyalah yang paling 
benar. 
Sikap sempit seperti ini, justru akan membuat tali persaudaraan diantara sesama 
pejuang 
da'wah bertambah jauh. Sehingga, mereka akan bekerja secara sporadis parsial 
(setengah-setengah). Total harus dijadikan satu kerangka berpikir seluruh 
harakah yang 
mengabdikan dirinya dalam lapangan perjuangan da'wah. Mereka menghindari 
berbantahan dalam hal metode, atau perbedaan taktis, karena hal tersebut akan 
memperlemah kekuatan atau potensi umat. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:
 
"... janganlah kamu berbantah-bantahan selisih yang menyebabkan kamu menjadi 
gentar 
dan hilang kekuatanmu...." (al-Anfal: 46)
 
Salah satu kelemahan kita saat ini, justru kita sering berbantahan dalam 
hal-hal yang 
berkaitan dengan khilafiah atau kerangka penafsiran syariat. Kemudian perbedaan 
ini 
merembes ke dalam hati sanubari umat dalam bentuk pemasangan "barikade" untuk 
mengulurkan tali ukhuwah. Bentuk inilah yang diisyaratkan oleh Allah sebagai 
suatu sikap 
yang akan memperlemah kekuatan umat Islam di hadapan musuh-musuhnya. 
Kebanggaan kultural atau kebangsaan seringkali membuahkan pula silang sengketa, 
karena rasa nasionalisme, etnik lebih dominan dibandingkan dengan rasa 
keislamannya. 
Maka setiap anggota jamaah yang berhimpun dalam harakah da'wah, apa pun nama 
gerakannya, harus mempunyai sikap toleran yang sangat tinggi terhadap sesama 
saudaranya yang lain. Toh, mereka masih melaksanakan shalat, masih menghadap ke 
kiblat, dan masih melafalkan dua kalimat syahadat
 
Pokoknya, siapa pun yang telah bersyahadat, dia adalah saudara kita. Kalau ada 
diantara 
Anda membantah, "Ya, dia mengaku Islam, tetapi perilakunya justru bertentangan 
dengan 
Islam." Maka untuk Anda yang mempunyai pendapat kecintaan yang besar pada Islam 
--
tentang ini, kami mengimbau bahwa tugas Andalah untuk mengislamkan teman Anda 
yang telah bersyahadat itu. Kita tidak bisa mengafirkan atau menghakimi saudara 
kita 
yang telah bersyahadat, sebagai kafir atau munafik, kecuali dengan sangat nyata 
mereka 
telah ingkar dari keislamannya. Kita harus memahami dan menyatakan syukur 
kepada 
Ilahi Rabbi bahwa ada saudara kita yang telah bersyahadat. Karena hal itu 
merupakan 
suatu aset Ilahiah yang harus kita kelola bersama. Kalau kita berlaku kasar, 
niscaya 
mereka akan lari dari tatanan Islam, dan akhirnya menambah persoalan yang baru.
 
Cobalah kita tafakur dengan sangat mendalam, apakah mungkin kita harus 
terkotak- 
kotak dan berpisah? Padahal Nabi kita sama, Kitab Suci kita sama, Kiblat kita 
pun sama, 
bahkan Tuhan serta syahadat kita merupakan dasar kesamaan yang paling hakiki. 
Berbagai perbedaan metode da'wah ataupun perbedaan paham dalam kaitan ibadah 
yang 
bersifat furu'iyah, tidak harus memisahkan persaudaraan diantara kita, apalagi 
saling 
mengafirkan satu dengan lainnya, merasa diri yang paling sunnah atau yang 
paling surga.
 
Ketahuilah bahwa perbedaan paham dalam bidang ibadah pun telah terjadi selama 
masa 
Rasulullah saw masih hidup. Diceritakan oleh Abu Sa'id al-Khudri bahwa ada dua 
orang 
sedang dalam perjalanan. Dan, ketika waktu shalat telah tiba, tetapi mereka 
tidak 
mendapatkan air, sehingga keduanya bertayamum untuk melaksanakan shalat. Ketika
mereka tiba di suatu tempat yang ada airnya dan waktu shalat masih ada, maka 
timbullah 
perbedaan. Orang yang pertama berwudhu, kemudian mengulangi shalatnya, 
sedangkan 
yang kedua tidak. Setelah kejadian itu, mereka melapor kepada Rasulullah, dan 
beliau 
bersabda kepada yang tidak mengulangi shalatnya, "Engkau telah berbuat sesuai 
dengan 
Sunnah dan shalatmu sudah cukup bagimu." Dan kepada yang mengulangi shalat 
(orang 
yang pertama) , beliau bersabda, "Bagimu pahala dua kali." (al-Hadits)
 
Masih banyak lagi bidang yang mengundang perbedaan dalam hal ibadah, berkaitan 
dengan tafsir, redaksional hadits, dan riwayatnya. Tentu saja, perbedaan 
pemahaman 
yang berkaitan erat dengan daya nalar seseorang yang seringkali dipengaruhi 
oleh 
kerangka berpikir dan kerangka pengalaman masing-masing. Untuk menghindari 
fanatisme kelompok yang bisa mengarah kepada kejumudan dan semangat ashabiyah, 
hendaknya para anggota jamaah melakukan tindakan yang aktual sebagai berikut:
 
1. Selalu berupaya untuk menjalin tali silaturahmi dengan berbagai kelompok 
da'wah 
tersebut. Masuklah ke dalam harakah mereka, simaklah dengan baik berbagai 
metode 
yang diperkenalkannya. Dengan cara seperti ini, kita tidak akan terjebak dalam 
fanatisme 
buta karena mampu mengambil hal-hal yang sama (convergen) dari seluruh kelompok.
 
2. Tawarkan satu program bersama yang dapat dilaksanakan secara gotong-royong 
oleh 
berbagai harakah dakwah tersebut, sehingga tanpa disadari akan terjadi 
kristalisasi, dan 
mungkin pemikiran-pemikiran yang cemerlang akibat adanya intensitas interaksi 
diantara 
organisasi atau kelompok da'wah tersebut
 
3. Upayakan agar terwujudnya pertemuan-pertemuan rutin diantara sesama kelompok 
harakah da'wah tersebut untuk membicarakan berbagai program lapangan yang bisa 
dilaksanakan secara gotong-royong, jauhkanlah satu perdebatan atau pembicaraan 
yang 
mengarah pada hal yang berkaitan dengan khilafiah.
 
Dengan kerangka berpikir seperti ini, maka sangat dianjurkan agar para anggota 
jamaah 
itu mau belajar dan mencari mutiara hikmah di berbagai kelompok harakah da'wah, 
yang 
kemudian secara gradual akan membentuk satu kepribadian yang lapang dada. 
Orientasi 
kita dalam makna total dakwah ini menjadi daya penggerak (dinamisator)

terhadap berbagai program da'wah yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh 
semua 
pihak dalam tubuh umat Islam. Kita jadikan setiap posisi dan peran sebagai alat 
untuk 
menjadi pelabuhan untuk menyeru umat kepada nilai-nilai persaudaraan yang 
hakiki 
melampaui batas-batas keyakinan yang berkaitan dengan khilafiah. Dengan 
demikian, 
sikap berpikir positif, serta berprasangka baik (khusnuzhan) terhadap sesama 
kelompok 
dakwah harus menjadi ciri dan cara pribadi muslim bermasyarakat.
 
Sebagaimana Allah memerintahkan kita semua agar menghindari sikap buruk sangka 
(suuzhan), penuh berpikiran negatif (negative thinking), dalam firman-Nya:
 
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya 
sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan 
orang 
lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain...." 
(al-Hujurat: 12)
 
Berpikiran sempit, apalagi ada prasangka, serta kecemburuan berdasarkan nafsu 
atas 
amal dan harakah sesama jamaah da'wah adalah penyakit yang harus "diamputasi". 
Demikian pula, sikap memperolok-olokan satu dengan lainnya, baik laki-laki 
maupun 
perempuan adalah sebuah perintah Allah yang harus dihindarkan dari batin kalbu 
setiap 
pribadi muslim --seperti termaktub pada surat al-Hujurat:11. Maka anggaplah 
lahirnya 
berbagai gerakan da'wah adalah bagaikan kolam-kolam kecil yang bening. Dan, 
kewajiban setiap anggota jamaah adalah mengalirkan airnya agar dapat berpadu 
dalam 
satu samudra amaliah dapat menimbulkan satu gerakan dinamika prestasi umat yang 
dahsyat.
 
Kewajiban kita adalah menyambung tali  persaudaraan dengan seluruh.harakah 
da'wah. Sehingga, seluruh semangat yang 
terpendam di dalam halaqah pertemuan da'wah --yang ada dapat teralirkan kepada 
satu 
visi dan misi yang sama, yaitu menuju kepada satu persatuan umat 
(ittihadul-ummah). 
Semangat ini harus ada di setiap relung kalbu anggota jamaah yang mempunyai 
tujuan 
yang sama serta sumber acuan yang sama, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah. Pada 
kelanjutannya, total da'wah menjadi satu kerangka acuan seluruh anggota jamaah, 
dimana seluruh gerakan kehidupannya selalu menuju pada pembebasan umat manusia 
dari penjara kekufuran yang menyesatkan. Sikap lapang dada (al-hanifiyyat 
al-samhah) 
untuk menyambung tali silaturahmi, serta mengambil hikmah kebenaran dari sudut 
kehidupan dari sesama harakah da'wah Islamiyah merupakan budi luhur yang harus 
ditegakkan oleh setiap pribadi muslim yang merindukan tumbuh berkembangnya 
nilai 
persaudaraan yang konkret dan aktual tersebut.
 
Lalu muncul pertanyaan, dari mana itu kita mulai? Setiap gagasan dan ajaran 
Islam selalu 
merujuk pada tanggung jawab pribadi terlebih dahulu, yakni memulainya secara 
konsekuen dari diri sendiri (ibda binafsika). Maka semangat berjamaah dengan 
segala 
artibutnya harus diawali dari diri kita masing-masing. Dengan kesadaran 
bahwasanya 
Allah hanya akan melimpahkan kekuatan dan pertolongan-Nya kepada setiap pribadi 
muslim, apabila kita berhimpun dalam tatanan jamaah. Terwujudnya jamaah 
Islamiyah 
hanya bisa direalisasikan apabila setiap anggota ingin dan sangat merindukan 
terbentuknya pembinaan pribadi yang kokoh dan selalu menjadikan agamanya 
sebagai 
tempat dia bertolak dan berlabuh.
 
Jamaah harus mampu memberikan efek yang mendalam terhadap pembinaan pribadi 
pada 
setiap anggotanya. Hal itu merupakan salah satu dasar fundamental dari lahirnya 
pribadi 
yang istiqamah, yaitu pribadi muslim yang terbina (binaa'al fardul-muslim). 
Setiap anggota 
jamaah harus selalu menjalankan peranannya, sebagaimana akhlaknya para pengikut 
Nabi pada awal lahirnya Islam ini, yaitu para pelopor awal 
(assabiqunal-awaalun). 
Kerinduan untuk mati syahid sama besarnya dengan rasa cinta pada kehidupan yang 
saleh. Hidup bersih, akal cerdas, dan beramal prestatif merupakan rangkaian 
akhlak yang 
menjalin kehidupan dalam semangat jihad untuk menundukkan dunia, mengubah 
kegelapan dengan cahaya iman. Dengan segala daya dan upayanya, walaupun terasa 
sangat berat, dia akan terus berjalan mendakwahkan Islam melalui keteladanan 
akhlak 
yang dia banggakan karena terlahir dari kecintaan yang mendalam kepada Ilahi 
Rabbi. 
Dalam tatanan pergaulan yang serba syubhat (tidak jelas) dan penuh dengan 
kehidupan 
yang materialistis ini, tidak perlu larut dalam budaya tersebut. Bahkan, dia 
tetap berdiri 
tegak dengan penuh simpati bagaikan mercu suar yang menjadi pemandu kapal yang 
mendermaga.
 
Dilatih dirinya bagaikan setiap saat ia akan menghadapi pertempuran yang amat 
dasyat. 
Tidak ada waktu terbuang sedikit pun yang akan membuat dirinya terlena dari 
visi dan misi 
pribadinya sebagai kalifah di bumi (khalifah' fil-ardhi) yang sangat gandrung 
untuk 
menebarkan amal saleh.
 
Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah saw,

"Hendaklah engkau bekerja untuk duniamu, seakan-akan engkau akan hidup selama-
lamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok." 
(al-
Hadits).
 
Sabda Rasulullah tersebut menggedor jiwa muslim untuk berontak pada segala 
kebatilan, 
menjebol segala penyakit wahan, dan kemalasan. Setiap saat dirinya selalu 
berfikir, apa 
yang harus ia berikan untuk orang lain? Apakah hidupnya sudah punya arti? Bekal 
apakah 
yang telah ia persiapkan untuk menempuh perjalanan yang amat panjang di akhirat 
nanti?
 
Sabda Rasulullah itu juga membuat dirinya gelisah. Dia mempunyai misi untuk 
menjadikan hidupnya sebagai ladang yang harus ditanami oleh tiap benih. Lalu, 
dia 
tebarkan benih tersebut,dan disiraminya dengan akhlak karimah agar membuahkan 
ridha 
Allah semata. Dia memandang hidup dan kehidupan sebagai satu amanat dan tugas 
yang 
amat berat. Tidak mungkin dia laksanakan amanat itu dengan bersantai-santai 
apalagi 
sampai terlupa dari dzikrullah.
 
Betapa hidup harus penuh dengan kesungguhan (jihad), sebab dia yakin bahwa 
akhirnya 
segala sesuatu yang bernyawa akan berakhir dalam kemusnahan. Betapa segala 
sesuatu 
yang dia alami akan punah, sedangkan hanya karunia Allah jugalah yang abadi.
 
Sebab itu, setiap anggota jamaah tidak pernah akan melupakan sebuah peristiwa 
yang 
disampaikan oleh sahabat Anas ra. yang mengatakan bahwa pada suatu hari 
Rasulullah 
saw berkhotbah yang sangat luar biasa, sehingga di mana saya belum pernah 
melihat 
Rasulullah berkhotbah semacam itu sebelumnya. Di antara isi khotbahnya itu, 
beliau 
bersabda, "Andaikan kamu mengetahui apa yang saya ketahui, niscaya kamu 
sekalian 
akan lebih banyak menangis dan akan sedikit sekali tertawa." Maka setelah 
ucapan itu, 
saya melihat para sahabat Nabi yang mendengarkan khotbah tersebut, semuanya 
menutup muka mereka dan terdengarlah suara tangis yang terisak isak dari 
mereka. (HR 
Bukhari dan Muslim).
 
Bergetarlah jiwa setiap anggota jamaah menyimak sabda Rasul tersebut. Itulah 
peringatan 
yang amat dahsyat tentang datangnya hari akhirat yang merenggut semua 
kenikmatan 
yang fana, serta memporak-porandakan segala impian kenikmatan khayalan dengan 
segala syahwatnya. Bertambahlah sikap tawadhunya para anggota jamaah itu; 
apabila 
mereka menyimak sabda Rasulullah saw:
 
"Tiada seorang pun dari kamu sekalian, kecuali akan berhadapan dan ditanya 
Allah di hari 
pengadilan kelak. Tidak ada juru bahasa yang akan membelanya, kecuali apabila 
ia 
melihat ke kanannya, dia hanya akan menyaksikan amal perbuatannya dan apabila 
dia 
pun menoleh ke kirinya, dia pun akan menyaksikan amal perbuatannya. Di hadapan 
mereka tiada terlihat sesuatu apa pun kecuali api yang menyala. Maka jagalah 
dirimu dari 
api neraka walau dengan memberikan sedekah separo biji kurma sekalipun." (HR 
Bukhari 
dan Muslim).
 
Rasa harap cemas menghadapi hari akhir merupakan salah satu keyakinan yang 
tidak 
pernah pupus walau sedetik pun dari ingatan dirinya. Perasaan yang kemudian 
melahirkan 
kewaspadaan dan hidup yang selalu ingin terpelihara dan dipelihara oleh amalan 
yang 
luhur dan terpuji. Setiap anggota jamaah adalah tipikal manusia yang melihat 
umur 
sebagai amanat Allah yang tidak syak lagi harus dia pelihara dengan penuh 
tanggung 
jawab. Dia sadar betul, betapa kematian merupakan takdir yang tidak tercelakan. 
Bahkan, 
apalah arti semua kehidupan ini bila dibandingkan dan ditafakuri dengan iman?
 
Ketahuilah bahwa hidup ini tidak lebih dari pada sekadar pengembaraan sementara 
untuk 
menyongsong kematian yang pasti. Hidup ini tidak lain daripada menanti mati. 
Oleh 
karena itu dalam kurun waktu penantiannya, dia hiasi seluruh penantiannya 
dengan karya, 
karsa, dan cipta yang bernuansa dan semerbak ridha llahi. Hal ini sebagaimana 
Allah 
berfirman:
 
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan kerugian, 
kecuali 
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, nasihat-menasihati supaya menaati 
kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran." (al-'Ashr:1-3).
 
Sebuah kerugian yang tidak bisa ditebus, manakala nyawa sudah di tenggorokan. 
Sebuah 
jeritan penyesalan yang sia-sia, takala sang malaikat maut pemusnah kenikmatan 
merenggut nyawa.
 
Kesadaran dan penghayatannya ini telah menyulut kesadaran dirinya untuk 
mengolah 
segala "aset" llahi yang telah dia terima untuk beramal saleh, lalu 
mempersiapkan segala 
sesuatunya untuk sesuatu jemputan yang pasti, kematian! Dia matikan segala 
nafsu 
rendah, dan dia hidupkan segala nafsu mutmainah. Dia padamkan segala kobaran 
kebatilan. Pada saat yang bersamaan, dia nyalakan pelita iman yang akan 
menerangi 
jalan kehidupannya yang panjang dengan tetap berucap, bersikap, dan berbuat 
atas satu 
garis yang pasti, "Laa Ilaha Illallah." Sebuah jalan yang senantiasa, setiap 
muslim 
meminta kepada Allah agar tidak menyimpang darinya (ihdinas sirathal mustaqim).
 
Pokoknya, dalam hal ibadah dan amalan saleh lainnya, dia tidak pernah sedikit 
pun 
mengendorkan semangat untuk segera mengisi hidupnya dengan prestasi. Hanya 
dengan 
niat yang tulus, iman yang penuh dan dipancarkan melalui gerak amal prestasi, 
barulah 
dia merasakan betapa hidup ini mempunyai arti.
 
Dia sadar bahwa Islam bukanlah hanya sekadar kata, tetapi harus punya makna. 
Bukan 
seperangkat keyakinan yang tersembunyi di semak belukar, tetapi dia harus 
menjadi 
pelita yang berbinar. Bukan pula hanya berhenti pada simbol-simbol kebendaan, 
tetapi 
harus memberikan substansi dan esensi keluhuran budi. Inilah kualitas setiap 
anggota 
jamaah muslimin yang ingin menekuni dan mengikatkan diri dalam sirah perjalanan 
kehidupan suci Rasulullah saw (minhajun-nabawiyah). Akhlakul karimah para Nabi, 
para 
sahabat, dan para wali Allah merupakan pantulan dari tapak sejarah yang menerpa 
seluruh relung dadanya. Di manapun dia berada, para anggota jamaah muslimin ini 
akan 
selalu memberikan bekas kesalehannya Tidak ada keraguan dalam batinnya akan 
limpahan karunia Allah. Karena dia yakin bahwa. siapa pun yang berjuang dalam 
jalan 
Allah, pastilah Allah akan memberikan jalan, sebagaimana firman Nya:
 
"Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang 
mereka nyatakan." (al-Qashash: 69).
 
Bersambung ke bab 5.1.3
 
Wassalam
 
St. Sinaro
 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke