Bab V Dakwah Persaudaraan (2) 

C. Tuduhan Eksklusif 
 
Seringkali kita mendengar adanya tuduhan kepada para jamaah Qur'ani sebagai 
eksklusif, 
dikarenakan para jamaah ini telah membuat garis tegas antara yang hak dan yang 
batil. 
Mereka tidak mungkin mengenal kompromi untuk membuat "benang putih" dicelup 
dengan 
budaya jahiliah yang hitam, sehingga kemurnian ajarannya menyimpang dari 
jalannya 
yang lurus. Karena penyimpangan atau mencoba mencari panduan lain yang tidak 
Qur'ani, 
hanyalah cara baru untuk mengampak umat agar terpecah belah dan lemah.
 
Memvonis anggota jamaah sebagai eksklusif, sebenarnya sangat bergantung kepada 
bagaimana "cara pandang" mereka terhadap penyebutan eksklusif tersebut. Ukuran 
dan 
norma mereka yang menuding sebagai eksklusif itu sudah tentu bukanlah ukuran 
berdasarkan iman dan keikhlasan Al-Qur'an. Hal ini sangat disadari oleh para 
pengikut 
Rasul bahwa ejekan dan tudingan kaum fasik itu tidak menjadikan dirinya goncang 
dan 
rnengubah dirinya menjadi manusia yang berambiguitas (menjadi tidak jelas 
arahnya). 
Karena bagi dirinya bahwa suara mayoritas tidaklah berarti secara otomatis 
harus 
mencerminkan kebenaran. Bahkan sebaliknya, apabila hanya memperturutkan suara 
mayoritas padahal bertentangan dengan hati nuraninya, apalagi menyimpang dari 
standar 
A1-Qur'an dan Sunnah, maka mereka merasa bahwa hidupnya sama sekali tidak punya 
nilai di hadapan Ilahi Rabbi. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:
 
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya 
mereka 
akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti 
persangkaan 
belaka, dan mereka tidak lain hanyalah pendusta (terhadap Allah)." (al-An'am: 
116).
 
Apabila para jahiliah berteriak dengan semboyan, "vox populi vox Dei", (suara 
rakyat, 
suara Tuhan), maka kaum mukminin akan berkata, "Al Haqqu min Rabbika, wala 
takunna 
minahnumtarin," (Kebenaran itu dari Tuhanmu, janganlah sekali-kali kamu 
termasuk 
orang-orang yang ragu) (al-Baqarah:147).
 
Mereka tidak bersedih hati untuk terisolasi dari mayoritas, karena kebahagiaan 
sejati 
bukan terletak dari pengakuan manusia, melainkan pengakuan dan harapan ridha 
dari 
Allah semata-mata.
 
Para pelopor awal (assabiqunal-awalun) tidak pernah merasa kecil walaupun 
jumlahnya 
sedikit. Dia tidak pernah merasa rendah diri, kendati dianggap hina oleh 
orang-orang 
awam, karena di dadanya sudah terhunjam dan terpatri keyakinan bahwasanya hanya 
Allah Yang Maha besar, selain Allah semuanya kecil. Dengan para anggota jamaah 
mukminin itu adalah "sajak-sajak" kecintaan akan kasih Allah semata-mata yang 
diwariskan kepada para mujahid muda, generasi penerus yang gagah dan istiqamah. 
Sebagaimana bait berikut:

Wahai mujahid muda 
Mengapa engkau harus gelisah 
Kalau di dada bersemayam iman 
Untuk apa keluh kesah itu 
Sedang Sang Kekasih selalu
setia memberikan lentera kehidupan
Kalau toh dunia ingin merenggut 
mencabik mencampakkan engkau 
katakan padanya
Engkau boleh hancurkan tubuhku 
tetapi tidak pernah imanku
Sia-sia engkau poles dirimu 
dengan segala hiasan palsu 
penuh tipu dan kepalsuan
Karena cintaku sudah tergadai 
kepada Dia Yang Maha Pengasih
Wahai mujahid muda 
Peluklah bumi dengan cinta 
Gubahlah dunia dengan prestasi 
Sekali hidup penuh arti
dan bolehlah bersiap untuk mati 
Kalau datang hari perjumpaan 
maka basahkan bibirmu 
dengan kalimat thayibah
Laa ilaha illallaah
 
Seakan-akan inilah dendang sajak-sajak yang ada di setiap kalbu para anggota 
jamaah 
Rasul itu, saat ini sudah mulai redup dan suaranya hampir tidak terdengar lagi. 
Alangkah 
berbeda dengan kehidupan jahiliah, di mana ikatan perkumpulannya sama sekali 
tidak 
dipandu oleh satu ajaran yang lurus, yaitu Al-Qur'an. Mereka berkumpul bukanlah 
karena 
kerinduan untuk beribadah, tetapi sekadar pencarian pemuasan batin dirinya.
 
Dalam bentuk atau skala yang lebih luas lagi, perkumpulan mereka kadang-kadang 
dibumbui dengan dorongan nafsu; ambisi, dan gengsi. Itulah sebabnya, ada orang 
yang 
merasa lebih bergaya apabila dia mampu menjadi anggota klub eksekutif ketimbang 
menjadi anggota satu harakah Islamiyah. Bagi para jahiliah yang dipelopori oleh 
Amr bin 
Hisyam seorang tokoh suku Bani Makhzum yang kemudian dikenal dengan julukan Abu 
Jahal --biangnya kejahilan-- bahwa popularitas, gengsi, dan kebanggaan kesukuan 
merupakan salah satu motivasi dirinya untuk tidak bergabung dengan jamaah 
Rasul, 
apalagi harus menerima kebenaran Al-Qur'an, walaupun dia sadar akan kebenaran 
yang 
terkandung di dalamya. Abu Jahal merasa bahwa ajaran Nabi Muhammad walaupun 
benar, tetapi akan menghambat kebebasan dirinya untuk mereguk nikmat dunia, 
bahkan 
bisa menggoncangkan tatanan kebudayaan, adat istiadat nenek moyang, serta 
gengsi 
keluarga Bani Makhzum.
 
Kejahilan seperti ini, sebenarnya akan terus berlangsung, tidak saja terjadi 
pada zaman 
jahiliah, tetapi sejak zaman Fir'aun yang serba duniawi, Kisra dan Imperium 
Roma, serta 
seterusnya. Sejarah selalu akan mencatat sebuah pertarungan moral antara 
kebenaran A1 
Qur'an dengan kebatilan kaum jahiliah.
 
Kata-kata yang biasa kita dengar, misalnya enjoy your life, nikmatilah hidupmu, 
carpe 
diem, reguklah nikmat dunia, coromemus nis tasis, cras enim moriemur, pakailah 
mahkota mawar karena hidup hanya satu kali) adalah kata-kata yang mengagungkan 
jahiliah-hedonis. Budaya hedonisme --yang diilhami oleh budaya epikurisme 
Roma--telah 
menjadikan manusia menjadi "hamba perut". Mereka menjatuhkan harga 
kemanusiaannya 
dengan memperturutkan hawa nafsunya semata-mata.
 
Bedanya mereka dengan binatang, hanyalah dalam kreativitas dirinya dalam 
memenuhi 
keinginannya. Kalau binatang adalah makhluk yang semata-mata dibekali nafsu dan 
insting sehingga bersifat pasif, maka kelompok jahiliah adalah makhluk cerdas 
yang 
mampu mengolah dan menjadikan akalnya sebagai senjata kreatif untuk memenuhi 
kebutuhan nafsu semata-mata. Itulah sebabnya bahwa pada hakikatnya manusia 
adalah 
makhluk yang lebih kejam dari binatang, apabila salah satu citra diri 
kemanusiaannya dia 
campakkan, yaitu berupa energi Illahiah yang paling luhur dan secara khas hanya 
dianugerahkan kepada manusia saja, yaitu akal dan perbuatan yang dipandu oleh 
cahaya 
iman.
 
Dengan sangat tajam, Al-Qur'an memberikan perumpamaan bagi para hedonis 
jahiliah ini 
sebagai orang yang mempunyai karakter seperti anjing, bahkan lebih sesat dari 
binatang 
apa pun, seperti dijelaskan pada surat al-A'raf: 179. Kelompok jamaah Rasul 
yang 
dadanya penuh berisi dengan kasih sayang itu tidak tega membiarkan sesamanya 
tersesat dalam jelaga hitam, menempuh jalan yang pendek, dan tergoda oleh 
fatamorgana. Para sahabat anggota jamaah Rasul ingin mengangkat derajat manusia 
sebagai khalifah fil-ardhi, yaitu menjadi subjek dunia. Bukan sebaliknya, dunia 
dijadikannya sebagai raja manusia. Dalam kurun waktu yang paling awal, kita 
bisa melihat 
betapa para anggota jamaah sangat tabah dan konsisten terhadap idealismenya 
yang 
berlumuran dengan cinta. Tidak ada rasa dendam ataupun sikap yang anarkis, 
bahkan 
mereka itu sangat besar perhatiannya terhadap penderitaan manusia.
 
Bagi para jamaah ini, penderitaan manusia tidak harus diidentikkan dengan 
kelaparan, 
kemiskinan belaka, tetapi ada lagi penderitaan yang sangat nista ialah 
kesesatan yang 
dialami kaum jahiliah. Lantas apakah dapat dikatakan sebagai eksklusif apabila 
ada 
sekelompok manusia yang sangat besar rasa kasihnya kepada manusia? Apakah bisa 
dikatakan sebagai pengganggu apabila ada jamaah yang sangat besar kerinduannya 
untuk memuliakan manusia? Lagi pula kalau yang dikatakan sebagai eksklusif itu 
hanyalah menurut takaran pengelompokan sesuai dengan hobi, lantas apakah yang 
mereka maksud? Kiranya bukan jamaah Rasul saja yang harus disebut sebagai 
eksklusif, 
namun kelompok lain pun yang berpadu karena adanya kesamaan atau hobi mereka, 
tentunya dapat dikatakan pula sebagai eksklusif.
 
Para anggota jamaah itu, justru adalah manusia bumi yang tidak pernah mau 
mengisolasi 
dirinya dari pergaulan dunia, apalah artinya dakwah apabila dia menghindar dari 
kehidupan, apa artinya rahmatan lil alamin, apabila dia tidak memberikan makna 
bagi 
lingkungannya. Bukan kemauan mereka mengisolasi diri, tetapi yang terjadi 
justru 
merekalah yang diisolasi dari pergaulan kehidupan yang ada. Sejarah telah 
mencatat 
betapa Bani Hasyim dan Bani Muthalib bersama sama dengan Rasulullah saw, para 
sahabat, dan keluarganya dikucilkan di kaki Gunung Syi'ib Bani Hasyim selama 
tiga 
tahun.
 
Mereka tidak boleh menerima kiriman makanan dari siapa pun, bahkan apabila ada 
pedagang yang akan mendatanginya, maka para jahiliah tersebut bergegas untuk 
memborong makanan tersebut, walau dengan harga yang mahal. Oleh karena perasaan 
benci yang membara mereka terhadap para jamaah tersebut. Penderitaan akibat 
isolasi 
ini, masya Allah sangat tidak terbayangkan oleh kita di zaman sekarang ini. 
Betapa 
mereka menderita kelaparan dan kehausan. Bahkan, diriwayatkan ada diantaranya 
yang 
harus makan sisa tulang dan sisa makanan mereka sendiri, begitu hebat rasa haus 
dan 
lapar mereka sehingga tidak sadar air seni yang tertampung di kulit binatang di 
masak 
kemudian diminumnya.
 
Dalam benak mereka tidak pernah sedikit pun terlintas untuk melakukan isolasi 
apalagi 
menjadi manusia yang eksklusif memisahkan diri dari pergaulan seraya membuat 
perbedaan kelas. Karena di samping itu bertentangan dengan Al-Qur'an, perbuatan 
seperti 
itu pun bertentangan secara manusiawi, di mana fitrah manusia selalu merujuk 
kepada 
kebersamaan dan pergaulan sosial yang adil dan penuh kasih sayang.
 
 Bersambung ke bab 5.2.2
 
Wassalam
 
St. Sinaro
 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke