D. Memilih Sahabat 
 
Program utama dan pertama setiap pribadi muslim adalah mengikat tali 
persaudaraan. 
Program kedua adalah persaudaraan, program ketiga adalah persaudaraan, dan 
program 
selanjutnya tiada lain adalah segala bukti kemaslahatan atas semangat 
persaudaraan. 
Maka, arahkan mata batinmu dan seruan dakwahmu untuk mendapatkan saf para 
sahabat 
seikhwan dengan memantapkan beberapa ciri khas, yaitu sebagai berikut:
 
l. Wujudkan Keimanan Melalui Cinta

Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah engkau beriman sehingga engkau mencintai 
sesama 
saudaramu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri." (al-Hadits)
 
Abu Sulaiman ad-Darami rahimahullah berkata, "Jangan sekali-kali engkau 
bersahabat, 
melainkan salah satu dari dua macam orang ini. Pertama ialah orang yang dapat 
engkau 
ajak bersahabat dalam urusan duniamu dengan jujur, dan kedua ialah orang yang 
karena 
bersahabat dengannya engkau memperoleh kemanfaatan dirimu untuk urusan 
akhiratmu."
 
Sayidina Ali ra berkata, "Saudaramu yang sebenar-benarnya ialah orang yang mau 
menerjunkan dirinya sendiri dalam bahaya demi keselamatanmu dan mereka itu 
tidak 
segan-segan menegurmu apabila engkau bertindak salah."
 
Refleksi cinta bukan hanya dalam sikapnya untuk selalu membela diri sesama 
saudaranya, tetapi tampak pula dari tutur katanya yang lemah lembut. Caranya 
berbicara 
yang sangat waspada, takut apabila ada orang lain tersakiti hatinya karena 
lidahnya, 
walau dalam bercanda atau senda gurau sekalipun.
 
Lihatlah tanda-tanda persaudaraan itu yang diantaranya tampak ketika engkau 
memberi 
sesuatu, maka dia akan menerimanya dengan rasa haru. ketika engkau dalam 
kesulitan 
dialah orang pertama yang menawarkan diri untuk meringankan bebanmu. Ketika 
engkau 
kegelapan, dialah manusia yang paling merasa bersalah karena merasa tidak 
memberikan 
pelita.
 
2. Tausyiah dalam Hak dan Kesabaran

Sahabat seiman adalah dia yang selalu membayangi dirimu, menjaga, dan 
memeliharamu 
dalam kebenaran. Membela dan menegurmu dengan kesabaran. Maka anggota ikhwan 
adalah tipe manusia yang selalu merasa bahagia apabila dirinya mempunyai arti 
bagi 
sesama saudaranya seiman. Sahabat seiman dalam satu saf, satu misi dan visi, 
lebih 
berarti dan lebih berpotensi ketimbang ratusan manusia yang berkumpul tanpa 
ikatan hati.
 
3. Saling Menjaga Amanat

Hancurnya sesuatu karena pengkhianatan. Menyadari hal ini, maka salah satu ciri 
kepribadian ikhwan adalah kuatnya menjaga amanat dan menjaga rahasia sesama 
saudaranya. Di hadapan orang luar, mereka saling membela dan saling menutupi, 
tetapi 
ke dalam mereka saling memberikan nasihat yang indah dan menyejukkan. 
Rasulullah 
bersabda, "Barangsiapa yang menutupi aurat (kejelekan) saudaranya, maka dia 
akan 
dilindungi Allah SWT." (al-Hadits).
 
Maka menjaga kehormatan saudaranya karena iman, lebih patut dibela ketimbang 
mempertahankan benda apa pun di muka bumi ini. Mulutnya sangat terjaga dan 
tidak 
gampang membuka rahasia kepada pihak lain, walau karena alasan kasih sayang 
sekalipun, karena sekali amanat adalah amanat, seperti termaktub pada surat al-
Mumtahanah: l.
 
4. Menuju Pada Kesatuan Umat (Wahdatul-Ummah) 

Dari pemaparan tadi, hendaknya visi dan misi setiap pribadi muslim lebih 
menekankan 
pada titik persamaan (kalimatus-sawa) diantara sesama muslim. Tidak perlu 
perbedaan 
paham yang seringkali diawali dari semangat hukum syariat (fikih) menyebabkan 
kita 
menjadi dua kutub yang berbeda. Perbedaan bahkan perpecahan di kalangan umat 
Islam 
telah menyejarah, bukan karena perbedaan dalam hal tauhid, tetapi lebih banyak 
dikarenakan perbedaan pemahaman pemikiran yang berkaitan dengan kekuasaan, 
ideologi, dan politis. Sebagaimana perpecahan yang kemudian menjadi sebuah 
fitnah 
besar (al-fitnatul-kubra), sejak terbunuhnya Utsman, peperangan Ali dan 
Muawiyah; serta 
Perang Shiffin antara Ali dan mertuanya sendiri. Dan terakhir pengejaran 
terhadap para 
keturunan Umayah oleh keturunan Abasiyah. Kemudian setelah itu, lahirlah 
berbagai 
paham pemikiran yang dilatarbelakangi politik, seperti Muktazilah yang 
dipelopori oleh 
Wasil bin Atha' sebagai paham yang menyisihkan diri --i'tazala, artinya 
memisahkan diri-- 
tidak mau terlibat dari pertikaian paham syiah Ali, maupun kaum Rafidhah 
(pembangkang).
 
Sejarah perpecahan umat terlahir karena nafsu kekuasaan diantara sesama muslim 
sendiri dan bukan dikarenakan Islamnya. Dengan demikian, upaya kita semua 
adalah 
mencoba untuk menghayati kembali berbagai pekerjaan yang besar, di mana titik 
persamaan bisa dijalin diantara kelompok-kelompok dakwah yang ada. Prinsip 
musyawarah kemudian harus menjadi panji paling utama untuk kita kibarkan. 
Karena itu 
adalah mustahil membangun satu kepemimpinan (imamah) dan jamaah yang bersifat 
formalistis. Mengingat, keragaman budaya, latar belakang sejarah, dan 
problematika umat 
Islam mempunyai keragamannya sendiri.
 
Perhatian umat harus lebih ditekankan kepada aspek intelektual, sehingga mereka 
mampu melakukan pendekatan permasalahan dengan sikap objektif dan terbuka. 
Alangkah lucunya apabila kita masih terperangkap oleh perbedaan kelompok hanya 
karena fanatisme terhadap masalah-masalah fikih. Sebatas perbedaan penafsiran 
akan 
shalat, qunut, bedug, dan tahlil. Satu kelompok anti tarawih berjamaah karena 
di zaman 
Rasulullah saw, tarawih dilakukan sendiri-sendiri di rumah masing-masing. 
Padahal di 
zaman Umar bin Khaththab ra, shalat tarawih diorganisasikan secara berjamaah 
sebagai 
satu syiar. Alangkah naifnya apabila perbedaan dalam hal azan saja menyebabkan 
hati 
kita berpisah. Ada orang yang menganggap azan dua kali adalah bid'ah, dengan 
alasan 
hal itu tidak dilakukan oleh Rasulullah saw, padahal di zaman Utsman, azan dua 
kali 
dilakukannya. Lantas, apakah Umar dan Utsman bisa kita kategorikan sebagai ahli 
bid'ah?
 
Dengan demikian, semangat formalistik harus dikembangkan dengan kemampuan untuk 
mengembangkan aspek intelektual, etos keilmuan yang telah menjayakan umat Islam 
sepanjang sejarah di masa lalu. Keterbukaan dan sikap toleran (tasamuh) harus 
menjadi 
panji-panji akhlak setiap anggota jamaah dakwah, bagaimanapun bentuk dan metode 
dakwahnya, jangan sampai mengorbankan tali ukhuwah. Janganlah kita mengulangi 
sejarah yang pahit dari al-fitnatul-kubra (fitnah besar) di masa lalu, yang 
telah mengharu-
birukan perpecahan umat dikarenakan fanatisme akan ideologis kekuasaan diantara 
sesama muslim. Antarkanlah perasaan bahagia setiap mereka yang mengaku muslim 
itu 
berjaya. Inilah yang kita maksudkan dengan ukhuwah, sebuah keterbukaan yang 
dilandasi 
nilai keikhlasan untuk membahagiakan sesama saudara seiman.
 
Sifat formalistik yang memaksakan diri agar seluruh umat ber tahkim pada iman, 
masih 
jauh dari harapan kita bersama. Mengingat latar belakang kelahiran jamaah yang 
ada 
seringkali dipengaruhi oleh berbagai problematikanya sendiri baik secara 
geografis, politis, 
maupun antropologis. Maka visi dan misi kita dalam hal kesatuan dan persatuan 
tidaklah 
merujuk pada satu sikap yang formalistik, tetapi lebih menekankan kepada yang 
berwawasan makro, yaitu sejauh mana umat Islam mampu memberikan nilai dan 
pengaruh pada dunia. Berkaitan dengan ini, semangat berlomba-lomba dalam 
kebaikan 
(al-ghiratul fastabiqul khairat) harus menjadi kerangka acuan seluruh jamaah 
yang ada di 
muka bumi ini agar kembali kepada panji Islam, lalu ditancapkan dalam bumi 
kedamaian. 
Harus kita waspadai bahwa cepat atau lambat Islam akan dijadikan musuh bersama 
oleh 
seluruh agama yang non-Islam, sehingga berbagai pekerjaan yang berupa benturan 
perbedaan fikih, mazhab, hanyalah akan melelahkan kita semua, dan kemudian 
membuat 
diri kita.lemah karena saling berbantah-bantahan.
 
Apakah tidak cukup menjadi perhatian dan rasa prihatin kita bersama, melihat 
umat Islam 
minoritas di setiap negara menjadi objek pembantaian, dikejar, dan dinistakan, 
seakan-
akan Islam adalah sebuah monster kejahatan yang lebih jahat dari setan? 
Tidakkah 
tergetar jiwa kita, dimana hampir seluruh negara yang penduduknya muslim, 
terpuruk 
dalam kebodohan dan kemiskinan yang kemudian menjadi contoh paling murah untuk 
ditayangkan di semua media massa, sehingga generasi kita merasa minder karena 
menyaksikan kelemahan dan kehinaan umat?
 
Maka kunci sukses agar Islam mampu memberikan cahaya kedamaian dan kemuliaan 
bagi peradaban manusia, terletak pada rasa tanggung jawab bersama akan 
kehormatan 
Islam. Siapa pun yang menjadi masalah, bahkan kita harus ikut memberikan 
dorongan 
untuk memajukannya. Melepaskan baju kelompok, taklid dan kesempitan wawasan 
berpikir. Inilah kuncinya.

Bersambung ke bab 5.2.3
 
Wassalam
 
St. Sinaro
 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke