Assalamu'alaikum wr. wb.,

Sebuah artikel Ketua Program MM-UI, Prof. Rhenald Kasali. Semoga tergugah.

Wassalamu'alikum wr. wb.,

Andri

Sekolah untuk Apa?

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak

mencari sekolah.Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati.

Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata

banyak yang “salah kamar”.

Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam

perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan

yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN)

masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di

mana saja.

Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi

sarjana, bahkan masuk program S-2. Jadi birokrat atau jenderal pun

sekarang banyak yang ingin punya gelar S- 3. Persoalan seperti itu

saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi

masalah hari ini.

Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal

memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja lantaran pindah rumah

biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang

kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan

tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.

Lengkap sudah masalah kita. Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan

untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat

sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk

apa di negeri yang serbasulit ini?

Kesadaran Membangun SDM

Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, Perdana Menteri (PM)

Malaysia Mahathir Mohamad sadar betul pentingnya pembangunan sumber

daya

manusia (SDM). Dia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar

S-2 dan S-3 ke berbagai negara maju.

Hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai 10 tahun,lulusan terbaik

itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya Anda bisa lihat

sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula

perusahaan swasta dan birokrasinya. Perubahan bukan hanya sampai di

situ.

Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform

sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old

ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis,serta

peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai

ditinggalkan.

Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan

seterusnya.Tak mengherankan kalau sekolahsekolah di berbagai belahan

dunia pun mulai berubah. Di negeri Belanda saya sempat

terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal

Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa.

“Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak,

jadi mereka yang mendaftar harus kami terima,” ujar seorang dekan di

Erasmus.

Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk

mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik.

Seleksinya sangat ketat. Lantas bagaimana membangun bangsa dari

lulusan yang asal masuk ini? “Mudah saja,” ujar dekan itu. “Kita

potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi

sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua

orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan

berbeda,”ujarnya.

Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di Selandia Baru. Meski

murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA,

angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi.Mereka pindah ke

politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah. Yang lebih mengejutkan

saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di tingkat SLTA di

Selandia Baru.

Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam 10

besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan

waktu beberapa hari untuk mewawancarai lulusan sekolah itu

masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan

mengintip bagaimana pelajaran diajarkan.

Di luar dugaan saya,pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.

Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah

kita yang terlalu kognitif, dengan guruguru yang merasa hebat kalau

muridnya bisa dapat nilai ratarata di atas 80 (betapapun stresnya

mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif, namun

tak menguasai semua subjek.

Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan

kemampuan mengopi isi buku dan catatan. Entah di mana keguruan itu

muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita

mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan

bebek-bebek dogmatik.

Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar

negeri,mungkin guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus.

Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta

transkrip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah

terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang

baik di luar negeri.

Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? “Undang-undang menjamin

semua orang punya hak yang sama untuk belajar,” ujar seorang guru di

Selandia Baru. Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan input-nya?

“Itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya,” ujar putra sulung saya

yang kuliah di Auckland University tahun ketiga.

Maksudnya,tes masuk tetap ada,tetapi hanya dipakai untuk penempatan

dan kualifikasi. Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil

dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu Matematika dan Bahasa

Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori:

akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan.

Sekolah dilarang hanya menerima anakanak bernilai akademik tinggi

karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak,

khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati.

Mereka hanya super di kedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur.

Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya

diberikan secara kognitif. Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran

pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masingmasing.

Bagi mereka yang bercita- cita menjadi dokter, biologi dan ilmu kimia

wajib dikuasai.

Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia.

Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting,

statistik,dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu

belajar biologi dan fisika. Beda benar dengan anak-anak kita yang

harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan

semuanya diwajibkan lulus di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Bayangkan, bukankah citacita pembuat kurikulum itu orangnya hebat

sekali? Mungkin dia manusia super.Seorang lulusan SLTA tahun pertama

harus menguasai empat bidang sains (biologi,ilmu kimia, fisika, dan

matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris, dan satu

bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama,

geografi, kesenian, olahraga, dan komputer.

Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat

menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek,

dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Seperti

kurikulum program S-1 20 tahun lalu yang sejajar dengan program S-1

yang digabung hingga S-3 di Amerika.

Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga

tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor

menyelesaikan di atas 100 SKS, sehingga hampir tak ada yang lulus.

Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun. Anda bisa saja

mengatakan, dulu kita juga demikian, tapi tak ada masalah kok!

Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah.

Teknologi telah mengubah banyak hal, anakanak kita dikepung informasi

yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, tapi datang dengan

lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, melainkan dari

segala resources.

Ilmu belajar menjadi lebih penting dari apa yang dipelajari itu

sendiri,sehingga diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu

pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk

dihafalkan, tetapi

guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, lifelong learning.

Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West

Lake Boys School di Auckland mengatakan, “Kami sudah meninggalkan old

ways teaching sejak 10 tahun lalu. Maka itu, sekolah sekarang harus

memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi

banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah,metode

diperbarui,fasilitas baru dibangun,” ujar seorang guru.

Masih banyak yang ingin saya diskusikan,tapi sampai di sini ada

baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah

dan untuk apa kita bersekolah? Mudahmudahan kita bisa mendiskusikan

lebih dalam minggu depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa

depan yang lebih

baik.

RHENALD KASALI Ketua Program MM UI

http://www.seputar-indonesia.c​om/edisicetak/content/view/411

​134/

 

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke