Sanak Aryandi ... 

Bang Aswil puteranya alm. Nazir St Mudo - ada memberikan bukunya yang berjudul 
"AIR TAWAR", kepada saya. 

Di buku itu - bang Aswil banyak bercerita tentang tokoh Minang - pasca 
kemerdekaan. Jika kenal dengannya - silahkan minta langsung kepadanya. Pasti 
dengan senang hati ia berikan.

Apa hubungan Aryandi dengan bang Aswil  ?

Wassalam

 ~ 3vy Nizhamul~
(Kawasan Puspiptek, Kota Tangerang Selatan)

http: //bundokanduang.wordpress.com
http://hyvny.wordpress.com





________________________________
Dari: Aryandi Ilyas <[email protected]>
Kepada: rantaunet <[email protected]>
Terkirim: Kam, 21 Juli, 2011 15:18:15
Judul: [R@ntau-Net] 25 TH WAFATNYA AYAHANDA NAZIR ST MUDO


Andaikan sang waktu bisa diputar mundur, ingin rasanya saya  mengembalikannya 
ke 
momen  sebelum tanggal 21 Juli 1986, saat sebelum  ayahanda Nazir dipanggil 
kehadirat Sang Khalik di RS M. Jamil Padang.  Sebuah harapan yang sia-sia 
memang. Sama sia-sianya dengan penyesalan  diri, mengapa Tuhan tidak memberikan 
kesempatan bagi saya untuk berbakti  lebih lama kepada ayahanda? Mengapa saya 
lalai memanfaatkan waktu yang  diberikan-Nya untuk menimba ilmu pengetahuan dan 
informasi dari  perjalanan hidup almarhum selagi beliau masih ada? Sungguh ini 
semua  merupakan penyesalan yang tiada gunanya, sebagaimana ungkapan orang 
bijak 
tempo doeloe. 


Sejujurnya,  tidak banyak yang kami ketahui tentang detil masa kecil ayahanda 
dan  masa remajanya. Saya dan adik-adik hanya tahu bahwa beliau merantau ke  
Jakarta setelah lulus dari MULO di Bukittinggi sekitar tahun 1934,  menyusul 
kakak tertuanya, dr. A. Halim.
Setelah lulus dari AMS  (SMA sekarang), ayahanda melanjutkan pendidikannya ke 
THS (kini Institut  Teknologi Bandung) jurusan Kimia. Namun kuliahnya terhenti 
di tengah  jalan karena pendudukan Jepang di tahun 1942. Beliau pun kembali ke  
Jakarta dan mengawali karir profesinya sebagai Asisten Kimia pada  Sekolah 
Tinggi Kedokteran di tahun yang sama (1942).
 
Ringkasan  perjalanan hidup ayahanda setelah tahun 1942 sedikit terkuak sekitar 
2  bulan  sebelum wafatnya, 21 Juli 1986. Seakan mempunyai firasat, ketika  itu 
beliau yang kesehatannya mulai merosot, sempat menasehati adik saya,  Iwai 
(Amriswal) yang sedang bimbang setelah diterima di jurusan teknik  mesin via 
PMDK, untuk mengambil saja pilihan itu. ”Nanti kan bisa melanjutkan S2 ke 
Jerman,”  begitu nasehat beliau. Lalu Iwai dimintanya  mengambil kertas untuk  
mencatat riwayat hidup yang akan didiktekannya. Iwai yang didampingi  Cece 
(kakaknya) sempat ogah-ogahan dan mengomel, ”kok papa ini ada-ada saja, seperti 
menyuruh tulis testamen?”
Namun  demikian Iwai dengan patuh mencatat biodata yang didiktekan ayahanda,  
walaupun apa yang dicatat hanya bermula dari tahun 1942, saat beliau  mulai 
bekerja.
 
Menurut kisahnya, menjelang revolusi  kemerdekaan di tahun 1944, beliau turut 
bergabung dalam barisan pelopor  dan menjadi wakil ketua untuk wilayah Menteng 
Pulo di Jakarta. Dan di  tahun 1945 ikut menghadiri upacara proklamasi 
Kemerdekaan RI di  Pegangsaan Timur dan Rapat Raksasa di Lapangan IKADA 
Jakarta. 
Beliau pun  turut membantu penjagaan rumah kediaman Soekarno pada permulaan  
proklamasi bersama pemuda-pemuda yang pos perjuangannya di rumah  Soeprapto 
(eks 
Jaksa Agung pertama RI).
 
EPISODE YOGYAKARTA- KLATEN
Catatan  berikutnya menyebutkan bahwa pada tanggal 4 Desember 1945 ayahanda  
dijemput oleh Prof. Moeljono ke Yogyakarta untuk membantu Prof. Johannes  
sebagai ahli kimia pada laboratorium persenjataan, dan diangkat sebagai  wakil 
ketua bagian persenjataan. Lalu di tahun 1947 membantu mengajar  pada berbagai 
sekolah tanpa SK, seperti SMA, SGKP dan Sekolah Guru  Tinggi. Kemudian mendapat 
tugas mengajar pada Perguruan Tinggi  Kedokteran dan Pertanian di Klaten. Di 
kurun tahun 1948-1949 sempat  menjadi Direktur  SMA B Yogyakarta.
 
Membaca episode  Yogyakarta dan Klaten diatas, saya jadi teringat bahwa 
almarhum 
sekilas  pernah cerita soal keikut sertaannya dalam penyusunan ”Nomenklatur 
Klaten”  pasca proklamasi kemerdekaan RI. Saat itu saya menjadi pendengar yang  
baik saja karena sama sekali tidak paham tentang Nomenklatur Klaten  tersebut.
 
Seperti yang pernah saya ungkapkan dalam tulisan  terpisah mengenai perjalanan 
napak tilas ke Yogyakarta dan Klaten di  tahun 2010, informasi tentang 
Nomenklatur Klaten di Internet sangat minim. Saya hanya menemui satu artikel 
tulisan Prof. Sutarman (guru besar ilmu Faal FKUI) berjudul Sekadar Riwayat 
Pembentukan Bahasa Ilmiah Dalam Dasawarsa Permulaan Penggunaan Bahasa Indonesia 
Dalam Percaturan Ilmiah (1942-1952)“.
Dari  artikel ini saya memperoleh jawaban mengenai latar belakang lahirnya  
Nomenklatur Klaten yang disebut-sebut almarhum tempo hari.
 
Menurut  Prof. Sutarman, di awal masa pasca kemerdekaan banyak tata bahasa  
(gramatika) Indonesia yang belum dibakukan, sementara perbendaharaan  
istilah-istilah teknik dan ilmiah masih sangat kecil. Inipun merupakan  
kata-kata serapan dari bahasa asing, yang dieja sesuai pelafalan  Indonesia. 
Dengan sejarah yang melampaui tiga jaman perdagangan dan  penjajahan asing, 
dapat di mengerti bahwa dalam bahasa Indonesia  terdapat berbagai kata-kata 
yang 
bersumber berbagai bahasa asing, yang  sudah mendarah daging dalam bahasa 
Indonesia sehingga keasingannya tidak  lagi disadari oleh bangsa Indonesia.
 
Dalam catatannya,  Prof. Sutarman menyebutkan beberapa kendala yang dialaminya 
ketika ikut  mengembangkan bahasa ilmiah, khusus dalam bidang kimia dan 
ilmu-ilmu  yang terkait, untuk dijadikan wahana komunikasi dalam pendidikan,  
pengajaran dan penelitian. Sementara itu pakar ilmu kimia dan ilmu-ilmu  
terkait 
serta perpustakaan yang dapat dijadikan sumber rujukan pada masa  tersebut 
masih 
sangat langka.Masih menurut Prof. Sutarman, istilah   KIMIA yang merupakan 
padanan untuk Chemistry dirujuk dari kata Arab: Al Kimiah (kata yang menurunkan 
kata chemistry, melalui kata Perancis chimique).
 
Dalam  tahun 1946 – 47 Prof. Sutarman beserta beberapa aktivis dalam kimia  
(tampaknya ayahanda, Nazir bergabung disini), berkumpul di Klaten,  merumuskan 
sebuah Nomenklatur kimia, sebagai pedoman untuk secara  sistematik membentuk 
nama bagi atom dan senyawa kimia organik dan  anorganik (nomenklatur), yang 
diterbitkan sebagai stensilan dengan nama Nomenklatur Klaten. 

 
Di  tahun 1947 itu ayahanda turut mengajar Kimia di Perguruan Tinggi  
Kedokteran 
(sebelum lahirnya fakultas kedokteran UGM) yang menggunakan  rumah sakit Dr. 
Suradji Klaten sebagai tempat kuliah dan praktek  mahasiswanya.
 
Berada di perantauan di tanah Jawa tidaklah  membuat ayahanda merasa jauh dari 
sanak saudara, karena cukup banyak  pemuda Minangkabau yang berada di tanah 
rantau. Apalagi dalam kurun  waktu 1949 hingga 1950, pada masa Republik 
Indonesia Serikat (RIS),   pemerintahan Republik Indonesia (RI) yang berada di 
Yogyakarta dipegang  oleh Mr. Assaat (paman beliau) sebagai Acting Presiden RI 
dan dr. A.  Halim (kakak tertua beliau) sebagai Perdana Menteri RI.
Pada masa  RIS, ayahanda tinggal bersama dr. Halim di rumah milik Bung Hatta di 
 
jalan kecil seberang Gedung Agung, Jogja. Ini menurut penuturan Prof.  Arma 
Abdullah M.Sc (mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta  1978-1991) yang 
juga 
keponakan dari Mr. Assaat. Ketika itu Prof. Arma  baru mulai kuliah di UGM dan 
bercerita bahwa setiap minggu rutin bermain  tenis di samping Gedung Agung 
bersama ayahanda, Mr. Assaat dan dr.  Halim.
 
EPISODE BUKITTINGGI  DAN JAKARTA
Pada  tahun 1950 ayahanda memperoleh beasiswa (pampasan perang dari Belanda)  
untuk studi Opracht Depkes-PPK ke Den Haag, Belanda. Namun sayang, studi  
tersebut tidak dapat diselesaikan karena beliau menderita sakit,  disamping 
alasan faktor cuaca dan makanan yang tidak cocok. Akhirnya di  tahun 1951 
beliau 
kembali ke Jakarta, dan beberapa bulan kemudian   diangkat menjadi Direktur SMA 
Negeri di Bukittinggi. Selama di  Bukittinggi, beliau ikut mendirikan, membina 
dan mengajar SMA PSM dan  SMA Dharmapala.
 
Momen penting dalam kehidupan ayahanda  terjadi pada bulan Juli 1954, ketika 
beliau secara mengejutkan  menyunting salah satu siswinya di kelas I SMA, Reno 
Gadis yang kini  merupakan ibunda kami, anak-anaknya.
 
Foto perpisahan pelajar SMA A, B dan C Bukittinggi dengan Nazir St. Mudo, 17 
Agustus 1954 (foto koleksi mamanda Ir. H. Amrin Kahar Mantari Rajo)
 
Setelah  pernikahan, kedua mempelai langsung pindah ke Jakarta untuk memulai  
kehidupan baru di rumah mungil di kawasan Menteng. Ayahanda Nazir yang  belum 
sempat menyelesaikan studi sarjananya diangkat menjadi dosen Kimia  Anorganik 
di 
FKUI dan dosen luar biasa pada Universitas Nasional dan  Sekolah Tinggi 
Kedokteran Gigi dr. Moestopo.
Rumah kecil di jalan  Jambu no. 6 Pav Menteng itu merupakan tonggak sejarah 
bagi 
keluarga  Nazir karena disitulah tempat dibesarkannya empat anak almarhum, 
yaitu  
Aswil, Yanti, Rini dan Linda.
 
Foto  ketika acara resepsi sederhana untuk kerabat dekat di rumah dr. A.  
Halim, 
jalan Tjiandjur no. 24 Jakarta, akhir Agustus 1954. Tampak dalam  foto: Nizar 
(kakak no-2, paling kiri), Julius (adik, ketiga dari kiri),  Budiono (eks Gub 
Jateng, ke-4 dari kiri), A. Halim (kakak tertua, ke-5  dari kiri). 
Berturut-turut ke kanan, Suprapto (Jaksa Agung Pertama RI),  Nazir, Reno, Sri 
Sultan HB IX, TB. Simatupang (eks Kepala Staf APRI),  Mr. Assaat (paman dari 
Nazir dan Halim). Saat ini hanya ibunda Reno yang  masih ada, lainnya telah 
almarhum.
 
BERBAKTI  DI  KAMPUNG  HALAMAN
Pengabdian  ayahanda di FKUI rupanya harus berakhir di penghujung tahun 1962 
ketika  beliau memutuskan untuk menerima tawaran Prof. Dr. Roesma, Rektor  
Universitas Andalas Padang untuk bersama-sama membesarkan perguruan  tinggi di 
kampung halaman. Sebuah keputusan yang berat, namun tekad  ayahanda sudah bulat.
 
Agaknya tekad kuat, komitmen dan  dukungan keluarga merupakan faktor kunci bagi 
sebuah keberhasilan dalam  meraih cita-cita. Ayahanda Nazir berhasil menunaikan 
misinya mengemong  dan membesarkan jurusan Kimia di Fakultas Kedokteran dan 
FIPIA (kini  FMIPA) UNAND. Mengingat bahwa dosen Kimia masih langka pada masa  
tersebut, tenaga beliau juga dipakai di berbagai fakultas lain, termasuk  IKIP. 
Bahkan SMA Negeri 2 Padang belakangan (antara tahun 1971-1974)  sempat meminta 
bantuan ayahanda untuk mengajar mata ajaran Kimia di  kelas III.
 
Kegiatan mengajar ini sempat terhenti dan  dikurangi setelah beliau mendapat 
gangguan jantung di bulan Agustus  1974, persis menjelang lahirnya adik saya 
yang paling bungsu, Alwis.  Beliau memang terkenal sebagai seorang perokok 
berat. Sejumlah mahasiswa  dan murid beliau sering berseloroh bahwa ukuran 
waktu 
pelajaran Kimia  yang diberikan beliau adalah sebanyak isapan 7 batang rokok. 
Artinya,  setiap kali mengajar beliau menghabiskan 7 batang rokok. Bisa  
dibayangkan kalau dalam sehari beliau mengajar di empat kelas, ada 28  batang 
rokok yang habis diisap. Menurut pengamatan saya sebelum beliau  sakit, dalam 
sehari ada sekitar 3-4 bungkus rokok yang dihabiskannya.  Ini memang jumlah 
yang 
berlebihan. Dan  menurut pengakuan Prof. Arma  Abdullah, ayahanda telah aktif 
merokok sejak berdomisili di Yogyakarta  tahun 1946.
 
Disamping aktif mengajar Kimia di berbagai  fakultas dan SMA, sejak tahun 1973 
ayahanda cukup banyak menghabiskan  waktunya untuk kegiatan pembangunan masjid 
Al Azhar di kampus Air Tawar.  Beliau tidak segan-segan untuk ”memohon” kepada 
bekas murid-muridnya di  SMA yang sudah jadi tokoh, seperti Azwar Anas, Hasan 
Basri Durin dll  untuk memberikan sumbangan bagi pembangunan masjid. Di tahun 
1975 beliau  sebagai Ketua Yayasan Pembangunan Masjid diundang ke Jakarta untuk 
 
menerima dana dari pemerintah Saudi yang disalurkan melalui bapak M.  Natsir.
 
Penghargaan dari alumni Kimia FMIPA UNAND diserahkan oleh alumni senior, bapak 
Dasril Noerdin kepada ibunda Reno.Kini  25 tahun telah berlalu sejak 
meninggalnya ayahanda. Masjid Al Azhar  yang menjadi ikon kampus Air Tawar 
selama ini, terancam di gusur karena  Universitas Negeri Padang tengah 
membangun 
masjid baru penggantinya yang  lebih besar, tidak jauh dari lokasi masjid Al 
Azhar.
 
Nazir  St. Mudo yang sepanjang hayatnya tetap setia dengan profesi dan  
kepakarannya, ilmu Kimia, kini telah menjadi bagian dari sejarah  walaupun 
diktat Kimia bikinannya konon masih digunakan mahasiswa hingga  sekarang.
Tampaknya karena alasan itulah, alumni Kimia FMIPA UNAND  ketika melakukan 
reuni 
di Gedung Serba Guna DPR-RI Kalibata, Jakarta  Selatan pada tanggal 10 Juli 
2011, menganugerahkan Alumni Kimia UA Award kepada alm. Nazir St. Mudo sebagai 
penghargaan atas pengabdiannya bagi  jurusan Kimia FMIPA UNAND. Penghargaan ini 
sungguh merupakan kado yang  indah bagi keluarga almarhum, tepat seperempat 
abad 
setelah beliau  berpulang kerahmatullah.  
 
 
 
 
PENUTUP
Nazir  St. Mudo dalam pandangan kerabat, sanak famili, murid maupun keluarga  
dianggap sebagai sosok yang pendiam, khususnya untuk hal-hal yang  bersifat 
pribadi. Tetapi beliau bisa bersemangat jika berdiskusi tentang  topik yang 
menjadi interest-nya, seperti olahraga badminton dan bola.  Beliau adalah tipe 
pekerja, ringan tangan dan ”action oriented”.
 
Saya  sebagai anak tertua, tanpa disadari sejak kecil telah memposisikan  
ayahanda sebagai mitra diskusi dan tempat bertanya jika mengalami  kesulitan 
baik dalam pelajaran ataupun kegiatan ekstra kurikuler di  sekolah.
Misalnya, di awal tahun 70-an kami berdua bisa asyik  menyimak penyiar RRI di 
Minggu pagi yang mendiktekan lirik lagu-lagu pop  Indonesia yang sedang ”tren”.
 
Di lain kesempatan, saya pernah meminta ayahanda untuk menterjemahkan artikel 
musik pop CCR (Creedence Clearwater Revival)  dari majalah musik berbahasa 
Belanda, POPFOTO. Pasalnya, saya ingin  memasukkan artikel tersebut ke buletin 
sekolah di SMA. Beliau dengan  senang hati menterjemahkannya buat saya.
Ketika saya menjadi Ketua  Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK) di SMA, ada 
kejadian yang membuat  siswa heboh. Mendadak diketahui ada pekerjaan konstruksi 
di samping  halaman sekolah kami yang ternyata untuk membangun gedung SAKMA 
(Sekolah  Analis Kimia). Direktur kami, bapak Djoko Oentoeng (almarhum) 
ternyata  
juga tidak tahu menahu, sehingga organisasi siswa berniat melakukan  protes. 
Saya bingung, bagaimana bentuk protes yang harus dilakukan?  Akhirnya di rumah 
saya konsultasi dengan ayahanda. Beliau dengan enteng  bilang, kirim saja surat 
protes ke PDK dan DPRD. Saya masih bingung,  bikin suratnya seperti apa? 
Mungkin 
karena tidak tega melihat saya  uring-uringan, beliau membuatkan draft surat 
protes tersebut. Saya pun  lega dan mengetik surat resminya untuk diantar 
sendiri ke  lembaga-lembaga itu.
 
Lucunya, Ketua DPRD Sumbar saat itu adalah mamanda saya, Djohari Kahar SH 
(kakak 
kandung ibunda Reno). Hingga kini beliau tidak pernah tahu bahwa  otak 
pembuatan 
surat protes siswa SMAN 2 Padang itu adalah suami adik  kandungnya sendiri. 
 
Demikianlah sekelumit penggalan kisah  kehidupan serta karir ayahanda Nazir St. 
Mudo yang masih dapat kami  telusuri. Beliau adalah seorang dosen yang tidak 
punya titel  kesarjanaan, tidak bertaburan bintang jasa, apalagi bergelar 
pahlawan.  Namun bagi  anak-anaknya,  almarhum adalah guru dan pahlawan yang  
sesungguhnya, yang senantiasa mengajarkan bahwa moral dan kejujuran  diatas 
segala-galanya. Bagi saya, My Father My Hero.
Semoga almarhum diberikan kelapangan dan tempat yang layak disisi-Nya.
 
Ciputat, 21 Juli 2011.
Sumber: 
http://www.facebook.com/notes/aswil-nazir/25-th-wafatnya-ayahanda-nazir-st-mudo-my-father-my-hero/10150251415328549?ref=notif&notif_t=note_tag


-- 
Wassalammu'alaikum wr. wb
Aryandi, 37th+, ciledug, tangerang
Tingkatkan Integritas Diri, Jalin Silahturrahim, Mari Bersinergi, Ayo Jemput 
Rezeki, Bantu Anak Negeri  



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib 
mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke