"..bagi pembangunan, yang lebih penting daripada "investasi produktif"
adalah investasi human capital masyarakat miskin, terutama kesehatan dan
pendidikan anak-anak. Tanpa itu, berlaku "lingkaran setan". Peningkatan
tenaga kerja murah akan menurunkan pendapatan yang tidak memungkinkan
(anak-anak) orang miskin sehat dan pintar, Erhard Berner (2005) [1]

"Belajar(lah) ke Padangpanjang," tulis Editorial Singgalang, Rabu, 20 Juli
2011 menyoroti kebijakan Pemkot Padangpanjang yang mengratiskan pendidikan
12 tahun.

Mulai dari SD sampai SLTA tak peduli kaya atau miskin, gratis. Jika belajar
di sekolah swasta dibantu SPP Rp50ribu/orang/bulan. Untuk kuliah dibantu
uang pangkal Rp700 sampai Rp2,5 juta/orang.

Bahkan untuk 2011/2012 ini semua anak Padangpanjang sudah bisa masuk sekolah
negeri. Walikota Suir Syam mengeluarkan kebijakan mengharuskan sekolah
negeri menerima semua anak Padangpanjang.

Bahkan sepatu, pakaian seragam juga dibantu BAZDA setempat. Yang masuk PTN
dibantu Rp2,5 juta (PTN favorit) dan Rp750 ribu/orang untuk PTN non favorit.

Hebatnya lagi, anak-anak dari keluarga kurang mampu itu juga tak harus
menanggung beban seragam baru, sepatu dan buku. BAZ (Badan Amil Zakat),
partai politik, ormas dan pihak-pihak lainnya juga siap membantu mereka. BAZ
misalnya, badan tersebut punya program Padangpanjang Cerdas, yang fokusnya
untuk pendidikan.

(lengkapnya di:
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=7445)

Kita tahu Padangpanjang tidak hanya mengratiskan pendidikan 12 tahun, tetapi
juga merupakan pionir dalam mengasuransikan kesehatan seluruh penduduknya.
Di Sumatra Barat waktu ini hanya  di Kota Padangpanjang dan Kota Solok orang
miskin "boleh sakit".

Kayakah Kota Padangpanjang, tentu saja tidak.  Wikipedia tidak berlebihan
ketika mengatakan bahwa kota Serambi Makkah ini "termasuk kota yang
biasa-biasa saja tanpa memiliki potensi daerah yang signifikan"

Menurut padangmedia.com  16/11/2010, PAD Padangpanjang  hanya Rp26,3 miliar,
atau 7,6% dari anggaran pendapatan dalam tahun 2011 yang berjumlah Rp345,8
miliar. Dari data yang diangkat  padangmedia.com dapat disimpulkan Kota
Padangpanjang menganut kebijakan anggaran berimbang, Pendapatan = Belanja.

Dari anggaran belanja Rp345,8 miliar, sebanyak Rp188,1 miliar (54,4%)
digunakan untuk Belanja Operasi (pegawai dan biaya langsung lainnya) dan
Rp157,7 miliar (45,6%) untuk  Belanja Modal.  Angka  54,4% untuk untuk
Belanja Operasi cukup mencengangkan, karena mayoritas pemkab/kot di
Indonesia berada pada kisaran 70%. Dari sinilah berawal rencana pemerintah
untuk melakukan moratorium penerimaan PNS selama satu tahun.  Kota Padang
termasuk Pemkot yang kebesaran beban pegawai (70% belanja daerah).

Dengan kata lain, birokrasi di Pemkot Padangpanjang sangat sangkil
(efisien).

Belajarlah kepada Padangpanjang, kenapa tidak?

Di samping  pacak memanfaatkan sumber keuangan yang terbatas, Pemkot
Padangpanjang ternyata juga berhasil menggalang dukungan dana masyarakat,
antara lain,  melalui Badan Amil Zakat.

Tetapi apakah Pemkot Padangpanjang berhasil karena Padangpanjang hanya
sebuah kota kecil? 

Belajar kepada yang sudah, mengambil tuah kepada yang menang, Solo
penduduknya lebih dari 10 kali penduduk Padangpanjang, tetapi kota ini
berada di peringkat teratas dari 10 kota terbaik tahun 2010 menurut
penilaian Kemendagri yang dilakukan dengan memakai 173 indikator, antara
lain, penyusunan APBD tepat waktu, laporan keuangan daerah wajar tanpa
pengecualian, pelayanan publik, peningkatan daya saing, serta dan kepedulian
terhadap lingkungan hidup.  Artinya Padangpanjang sendiri masih harus
belajar ke Solo, Yogya dan kota-kota otonom yang dikelola dengan baik
lainnya di Indonesia.

Eniwe, apa yang telah dicapai Walikota Suir Syam dan jajarannya di
Padangpanjang tetap saja fenomenal, terutama pada saat pemerintah pusat,
provinsi dan kabupaten/kota----nyaris tanpa  kecuali---- dalam mengelola
kehidupan beberbangsa dan bernegara yang semakin jauh meninggalkan amanat
dan semangat konstitusi yang digariskan oleh para pendiri Republik, dan pada
saat bersamaan semakin khusuk mengamini (salah satu) 'mantra'
neoliberalisme: " pressuring the poorest people in a society to find
solutions to their lack of health care, education and social security all by
themselves -- then blaming them, if they fail, as "lazy." (Martinez dan
Garcia, 1996).

Suatu hal yang kasat mata dan sangat mudah ditemui saat ini, seperti
berlarust-larutnya pengesahan Rancangan Undang- Undang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS), serta semakin tidak murahnya biaya masuk sekolah
negeri dan supermahalnya biaya masuk perguruan tinggi negeri 'favorit'.

Tapi, siapa pulalah awak ini.  

 Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 68), asal Padangpanjang, suku Panyalai,
tinggal di Depok 

[1] seperti dikutip Ivan A Hadar, Kompas, Senin, 25 Juli 2011,
http://cetak.kompas.com/read/2011/07/25/03081684/janji.para.presiden

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke